
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat Tiara baru saja sampai di rumahnya bersama Rafa.
Menghabiskan waktu selama 5 hari di negara orang membuat Tiara cukup lelah namun juga sangat bahagia. Baginya itu adalah pengalaman pertama yang tidak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya.
"Masuklah, kau harus segera beristirahat, tidak perlu bekerja jika kau merasa masih sangat lelah," ucap Rafa pada Tiara.
"Terima kasih untuk 5 hari yang menyenangkan kak, Tiara tidak akan pernah melupakannya," ucap Tiara.
"Apapun akan aku lakukan untuk membuatmu bahagia Tiara," balas Rafa yang membuat Tiara tersipu.
Rafa membelai lembut rambut Tiara sebelum ia masuk ke dalam mobilnya. Setelah mobil Rafa menjauh, Tiarapun masuk ke dalam rumahnya.
Ia segera mandi dan berganti pakaian sebelum akhirnya menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya.
"Bolehkah aku sebahagia ini? rasanya 5 hari kemarin seperti mimpi bagiku!"
Tiara kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Kevin. Ia ingin bertemu dengan Kevin untuk memberikan oleh oleh yang sudah dia beli.
"Aku ingin bertemu denganmu besok," ucap Tiara setelah Kevin menerima panggilannya.
"Baiklah, dimana kita akan bertemu?" balas Kevin bertanya.
"Di kafe yang ada di dekat kantorku saja, aku akan menunggumu disana sepulang kerja," jawab Tiara.
"Oke baiklah," ucap Kevin.
Setelah panggilan berakhir Tiara membuka galeri ponselnya untuk melihat foto dan video yang sudah ia ambil saat ia berada di Tokyo.
Ada satu foto yang membuatnya tersenyum sendiri, yaitu foto saat Rafa sedang menggoyangkan pohon agar daun daun keringnya berjatuhan.
Tiara ingat, ia yang meminta Rafa melakukan hal itu dan tanpa banyak bertanya Rafapun melakukannya.
"Kak Rafa mencintaiku, benarkah? cinta seperti apa yang dimiliki kak Rafa untukku? apakah aku akan bahagia dengan cinta itu? atau aku akan kembali terluka karenanya?" batin Tiara bertanya dalam hati sambil menatap foto Rafa di ponselnya.
Tiara menghela nafasnya panjang, meraih selimutnya lalu menutup seluruh tubuhnya dengan menggunakan selimut.
Saat ia baru saja memejamkan matanya, tiba tiba sebuah memori singkatnya kembali mengulas tentang kejadian saat ia mabuk.
Dengan jelas memorinya memutar ulang saat dirinya dan Rafa tengah berciuman dengan hangat. Tiara seketika membuka matanya lebar lebar dan segera membuka selimutnya.
"Apa itu tadi? apa aku bermimpi?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.
Saat Tiara berusaha mengingat kejadian malam itu, memorinya dengan jelas mengulas semua yang terjadi. Mulai dari dirinya yang memeluk Rafa sampai ia yang pertama kali mencium pipi Rafa hingga akhirnya mereka saling bertaut untuk beberapa lama sampai akhirnya tertidur.
Semua kejadian itu seolah terulang kembali di depan mata Tiara, membuat Tiara terdiam tak percaya dengan semua ingatannya sendiri.
Tiara segera beranjak dari ranjangnya lalu menatap pantulan dirinya yang ada di cermin.
"Apa yang sudah aku lakukan?" tanya Tiara sambil menyentuh bibirnya sendiri.
Tiara menggigit bibir bawahnya, ia seolah bisa merasakan hangat sentuhan Rafa pada bibirnya.
"Aaarrrghhhh gila..... aku benar benar gila, ciuman pertamaku......."
Tiara kembali menjatuhkan dirinya di atas ranjang sambil berguling ke kanan dan ke kiri. Ia tidak menyangka akan terjadi hal yang tidak diinginkan olehnya, terlebih dia yang memulainya lebih dulu.
"Ternyata kak Rafa berbohong, kenapa.... kenapa kak Rafa berbohong padaku? menyebalkan sekali.... apa yang harus aku lakukan sekarang? pasti rasanya sangat canggung saat bertemu kak Rafa besok, aaarrghhh aku benar benar bodoh, aku tidak akan mau lagi meminum minuman laknat itu!"
**
Waktupun berlalu, pagi telah tiba. Tiara sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia sedang memoles make up tipisnya di depan meja riasnya.
Saat akan mengusapkan lipstik ke bibirnya, tiba tiba ia teringat apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Rafa saat malam terakhir di Tokyo.
Seketika Tiara segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia berusaha untuk melupakan kejadian itu, meskipun ia tau mustahil baginya untuk melupakan hal itu.
"Lupakan Tiara, itu adalah kekhilafahan terbodoh yang pernah kau lakukan, jadi lupakan!" ucap Tiara pada dirinya sendiri.
Setelah mempersiapkan diri dengan baik, Tiarapun meninggalkan rumahnya untuk berangkat ke kantor.
Sesampainya di kantor sudah ada Putra yang menunggunya. Putra yang melihat Tiara datang segera membawa langkahnya mengikuti Tiara.
"Kau cuti selama 5 hari?" tanya Putra pada Tiara tanpa basa basi.
"Iya pak," jawab Tiara.
"Kebetulan sekali Rafa juga cuti selama 5 hari, apa kalian pergi bersama?" tanya Putra yang membuat Tiara menghentikan langkahnya.
"Katakan padaku bahwa kau tidak pergi ke luar negeri bersama Rafa bukan?" tanya Putra memastikan.
"Maaf pak, itu privasi Tiara yang tidak bisa Tiara bicarakan disini, Tiara permisi," ucap Tiara tanpa menjawab pertanyaan Putra lalu berlari kecil meninggalkan Putra.
Tepat saat Tiara baru saja pergi, Rafapun datang dan Putra segera menghampiri Rafa.
"Aku rasa kau sudah melewati batas Rafa!" ucap Putra pada Rafa.
"Soal apa?" balas Rafa bertanya.
__ADS_1
"Kau pergi ke luar negeri bersama Tiara, padahal kau....."
Putra menghentikan ucapannya saat tiba tiba Rafa menarik tangan Putra, membawa Putra berjalan ke arah tempat yang lebih sepi.
"Apa maksudmu? kenapa kau mencampuri urusanku dengan Tiara? bukankah aku sudah tidak melarangmu untuk mendekatinya?" tanya Rafa.
"Tapi bukan berarti kau bebas melakukan apapun dengannya Rafa, kau adalah laki laki beristri, ingat itu!"
"Kau juga harus ingat jika pernikahanku dengan Maya hanya pura pura," balas Rafa.
"Tapi...."
"Aku tidak melarangmu untuk mendekatinya Putra, kau bisa melakukan apapun sesukamu aku tidak peduli, tapi jangan pernah mencampuri urusanku sedikitpun!" ucap Rafa lalu berjalan pergi meninggalkan Putra begitu saja.
Putrapun hanya terdiam di tempatnya. Ia memang sudah kalah sejak awal, namun ia tidak akan menyerah. Sebelum ada kepastian antara Tiara dan Rafa, ia akan tetap mendekati Tiara.
Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Tiara sedang berada di kantin bersama teman temannya.
Tiba tiba teman teman Tiara membicarakan tentang ciuman pertama mereka. Banyak dari mereka yang sudah melakukannya sejak mereka masih sekolah.
"Bagaimana denganmu Tiara?" tanya teman Tiara membuyarkan lamunan Tiara, karena sejak tadi Tiara kembali memikirkan tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Rafa saat di Tokyo.
"Aaahhh Tiara.... Tiara.... belum pernah," jawab Tiara berbohong.
"Sungguh? sepertinya tidak mungkin, aku tidak mempercayainya hahaha....."
"Kenapa?" tanya Tiara.
"Sepertinya kau terlihat sudah pernah melakukannya," jawab teman Tiara.
"Jangan samakan Tiara denganmu, dia memang cantik dan mudah bergaul tapi dia tidak murahan sepertimu hahaha...." balas teman Tiara yang lain.
Tiarapun hanya tersenyum canggung. Ingin rasanya ia segera pergi dari tempat itu. Menunggu jam makan siang selesai tiba tiba terasa begitu lama bagi Tiara.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Tiara segera merapikan meja kerjanya. Ia ingin segera pergi, meninggalkan teman temannya yang masih membahas tentang hal yang sama seperti saat di kantin dan itu membuat Tiara tidak nyaman.
"Kenapa kau buru buru sekali Tiara? apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya teman Tiara.
"Sudah kak, Tiara harus pulang sekarang karena ada janji untuk bertemu dengan teman," jawab Tiara.
"Baiklah kalau begitu, hati hati di jalan!"
Tiara menganggukan kepalanya dengan tersenyum lalu segera berjalan pergi meninggalkan meja kerjanya.
Saat Tiara tengah berjalan di lobby, seseorang menghentikan langkahnya.
"Kau sudah pulang?" tanya Putra.
"Kemana kau akan pergi? aku akan mengantarmu jika...."
"Terima kasih pak, maaf Tiara buru buru, permisi," ucap Tiara memotong ucapan Putra lalu berlari kecil meninggalkan Putra.
Putra hanya menghela nafasnya, membiarkan Tiara pergi begitu saja.
Di sisi lain, Tiara segera mendatangi kafe tempat ia akan bertemu dengan Kevin. Setelah hampir 10 menit menunggu, Kevinpun datang.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Kevin yang sudah duduk di depan Tiara
"Belum, bagaimana kabarmu? sepertinya kau semakin sibuk sekarang!"
"Begitulah, mengelola studio foto ternyata tidak semudah yang aku bayangkan," jawab Kevin.
"Tapi menyenangkan bukan?"
"Tentu saja, itu adalah hobiku, jadi aku menikmatinya walaupun terkadang melelahkan," jawab Kevin.
"Bagaimana dengan Bella? apa dia sudah yakin untuk melanjutkan S2nya?"
"Belum, dia masih ragu, padahal aku sudah meyakinkan dia jika hubungan kita akan baik baik saja walaupun dia melanjutkan kuliahnya di luar negeri, tapi dia tetap saja ragu," jawab Kevin menjelaskan.
"Bagaimana denganmu? menyenangkan bekerja di perusahaan impianmu?"
"Tentu saja, aku mengajakmu bertemu untuk memberikan ini, aku sengaja membeli dua untukmu dan Bella," ucap Tiara sambil memberikan sebuah paper bag yang berisi Maneki Neko.
"Waahh apa ini, apa kau baru saja berlibur?" tanya Kevin yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Ke Jepang?" terka Kevin yang kembali dibalas anggukan kepala Tiara.
"Waaahh.... kau pergi ke Jepang tanpa aku, kau tidak sendirian bukan?"
"Tentu saja tidak, aku pergi ke Jepang bersama kak Rafa," jawab Tiara.
"Pak Rafa? bagaimana bisa?" tanya Kevin terkejut.
Tiarapun menjelaskan alasan kenapa dia bisa pergi ke Jepang bersama Rafa, tentang janji yang sudah lama Rafa buat jika Tiara berhasil masuk ke perusahaan yang dia inginkan.
"Waaahhh kau beruntung sekali Tiara, pak Rafa yang dulu adalah dosen pembimbingmu dan atasanmu di kafe, sekarang menjadi atasanmu di kantor, kau bahkan pergi ke Jepang bersama pak Rafa, sepertinya satu per satu impianmu akan terwujud bersama pak Rafa," ucap Kevin.
__ADS_1
"Tapi kalian tidak tidur satu kamar bukan?" lanjut Kevin bertanya yang membuat Tiara cukup terkejut.
"Tentu saja tidak, apa kau pikir kak Rafa tidak mampu memesan dua kamar?"
"Hahaha..... 5 hari di Jepang pasti banyak hal yang sudah terjadi di antara kalian berdua bukan? cepat ceritakan padaku!"
"Semuanya menyenangkan, itu saja," balas Tiara.
Kevin tersenyum dengan memperhatikan Tiara. Ia senang karena sahabatnya tampak begitu bahagia.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu? apa yang kau pikirkan?" tanya Tiara yang melihat Kevin hanya tersenyum.
"Aku senang karena melihatmu bahagia, aku harap kau bisa menjaga dirimu dengan baik Tiara, aku ingin selalu melihat senyum itu di wajahmu," ucap Kevin yang masih menatap sahabat cantiknya itu.
"Berhentilah menatapku seperti itu, jika Bella melihatnya dia akan sangat marah padaku," ucap Tiara yang membuat Kevin terkekeh.
Setelah beberapa lama mengobrol, Kevinpun mengantar Tiara pulang ke rumahnya.
"Jadi disini kau tinggal? sepertinya sangat nyaman tinggal disini!" ucap Kevin memperhatikan rumah tempat tinggal Tiara.
"Kau benar, memang sangat nyaman tinggal disini, jika bukan karena kak Rafa aku mungkin tidak akan bisa tinggal disini," balas Tiara.
"Kau beruntung Tiara, kalau begitu aku pulang dulu, terima kasih oleh olehnya," ucap Kevin.
"Sama sama Kevin, hati hati," balas Tiara.
Setelah Kevin pergi, Tiarapun masuk dan mengunci pagar rumahnya. Belum sampai Tiara meninggalkan pagar, sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.
Tiara tersenyum senang saat melihat siapa pemilik mobil itu, namun tiba tiba raut wajah senangnya berubah saat ia teringat tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Rafa saat di Jepang.
Seketika Tiara menggelengkan kepalanya dan memukul kepalanya pelan.
"Ada apa denganmu? apa kau sakit?" tanya Rafa yang melihat Tiara memukul mukul kepalanya sendiri.
"Tiii..... tidak, kenapa kak Rafa kesini?" jawab Tiara sekaligus bertanya.
"Apa aku tidak boleh masuk?"
"Aaahh iya...."
Tiarapun kembali membuka pagar rumahnya, membiarkan Rafa masuk. Mereka kemudian duduk di teras rumah seperti biasa.
"Aku melihatmu bersama Kevin tadi," ucap Rafa.
"Iya.... Tiara baru bertemu dengannya," balas Tiara.
Untuk beberapa saat suasana terasa canggung karena Tiara hanya diam dan Rafa yang juga diam memikirkan diamnya Tiara.
"Ada denganmu Ra? kenapa kau hanya diam? apa aku melakukan kesalahan?" tanya Rafa.
"Tidak.... tidak ada yang salah," jawab Tiara gugup.
"Lalu kenapa kau hanya diam? apa yang kau pikirkan?"
Tiara terdiam, ia ragu untuk menjawab pertanyaan Rafa.
"Tiara, katakan padaku apa yang terjadi padamu?" tanya Rafa sambil memegang kedua bahu Tiara, membuat Tiara semakin gugup.
Tiarapun segera melepaskan kedua tangan Rafa dari bahunya dan membawa pandangannya ke arah lain.
"Mmmm..... kak Rafa berbohong pada Tiara bukan?" tanya Tiara.
"Berbohong soal apa?" balas Rafa bertanya.
"Tentang..... tentang kejadian di hotel," jawab Tiara dengan suara yang sangat pelan namun bisa dengan jelas di dengar oleh Rafa.
"Kejadian di hotel apa maksudmu Ra? berbicaralah yang jelas agar aku mengerti apa kesalahanku!"
"Tentang malam terakhir di hotel," ucap Tiara kesal, namun tidak berani menatap Rafa.
Mendengar hal itu Rafapun hanya diam menahan tawanya.
"Jadi kau mengingatnya?" tanya Rafa.
"Kenapa kak Rafa bertanya? apa itu lucu untuk kak Rafa?" balas Tiara yang semakin kesal lalu segera beranjak dari duduknya.
Rafapun ikut beranjak dan kembali memegang kedua bahu Tiara.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud bohong padamu, aku hanya tidak ingin ada kecanggungan di antara kita jika kau mengingatnya," ucap Rafa berusaha menenangkan kekesalan Tiara.
"Tetap saja tidak seharusnya kakak berbohong pada Tiara!"
"Aku tau aku salah, maafkan aku," ucap Rafa bersungguh-sungguh.
"Maaf karena sudah melakukannya tanpa izinmu, mungkin karena pengaruh alkohol yang kita minum sebelumnya membuatku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, seharusnya aku melakukannya dengan hati hati karena itu adalah yang pertama bagiku," lanjut Rafa yang membuat Tiara begitu terkejut.
"Yang pertama?" tanya Tiara mengulang ucapan Rafa.
__ADS_1
"Iya, you are my first kiss," jawab Rafa dengan berbisik di telinga Tiara.
Mendengar hal itu Tiara hanya tersenyum dengan degup jantung yang tiba tiba berdetak kencang.