
Hari itu adalah hari spesial untuk Tiara, karena itu adalah hari wisudanya, Rafa mengizinkan Tiara untuk libur meskipun tidak pada hari Minggu.
Diiringi dengan sinar jingga mentari yang bersiap untuk kembali pulang, Tiara membawa langkahnya ke kafe untuk menemui teman temannya.
Disana, Rafa dan teman teman Tiara sudah menyiapkan pesta kecil untuk merayakan wisuda Tiara dengan predikat cumlaude yang sangat membanggakan.
Sesampainya Tiara di kafe, ia segera membawa langkahnya ke arah bangku yang ada di salah satu sudut, dimana teman teman Tiara tampak sedang menata makanan dan beberapa minuman di mejanya.
Saat Tiara datang, merekapun menyambut Tiara dan memeluk Tiara satu per satu. Ucapan selamat dan rasa bangga mereka sampaikan pada Tiara tanpa terkecuali, membuat Tiara semakin bahagia atas pencapaiannya saat itu.
"Pak Rafa dimana?" tanya Tiara yang tidak melihat Rafa.
"Mungkin sebentar lagi akan datang, duduklah," jawab Chika yang saat itu sedang bekerja, tetapi menyempatkan waktunya untuk merayakan hari wisuda Tiara bersama teman teman yang lain.
"Bersabarlah Tiara, apa kau sudah merindukan pak Rafa?" tanya Ana yang saat itu juga sedang bekerja.
"Jaga ucapanmu Ana, jangan membuat gosip," ucap Tiara yang membuat mereka semua tertawa.
Meskipun beberapa dari mereka sedang bekerja, tetapi Rafa memberikan kelonggaran waktu untuk mereka melakukan pesta kecil itu asalkan mereka tidak lalai pada pekerjaan dan pelanggan yang datang ke kafe.
Setelah beberapa lama menunggu, Rafapun datang dengan membawa sebuah kue dan paper bag yang berisi lightstick serta beberapa photocard EXO yang diambilnya dari rak di kamarnya.
"Maaf saya terlambat, selamat atas wisuda dan predikat cumlaude yang berhasil kau capai Ra, semoga ini menjadi jalan untukmu bisa mencapai cita citamu," ucap Rafa sambil memberikan paper bag yang dibawanya pada Tiara.
"Terima kasih pak," ucap Tiara yang hanya dibalas senyum oleh Rafa.
"Ayo Ra, potong kuenya!" sahut Chika.
Tiara menganggukkan kepalanya lalu mengambil pisau pemotong kue kemudian memotong kue di hadapannya. Namun ia ragu, pada siapa ia harus memberikan potongan kue pertamanya.
Ia sadar bahwa Rafa lah yang sudah banyak membantunya, tidak hanya untuk mengerjakan skripsi, tapi juga berkat bantuan Rafa, Tiara bisa melanjutkan kuliahnya.
Namun ia ragu untuk memberikan potongan kue itu pada Rafa karena ia takut akan terjadi kesalahpahaman diantara teman temannya.
"Ayo Ra, berikan kue pertamamu pada seseorang yang istimewa dalam hidupmu," ucap Ana yang sudah tidak sabar.
Tiara tersenyum lalu mengambil sendok dan memakan sendiri potongan kue pertamanya, membuat teman temannya menggerutu kesal karena mereka pikir Tiara akan memberikannya pada Rafa.
"Kenapa kau memakannya sendiri Ra?" tanya Chika kesal.
"Aku juga perlu mengapresiasi diriku sendiri Chika, aku juga harus berterima kasih pada diriku sendiri yang sudah mampu bertahan dan berjuang selama ini, benar begitu kan pak Rafa?" balas Tiara sambil membawa pandangannya pada Rafa di akhir kalimatnya.
"Benar sekali, kau sudah banyak belajar rupanya," balas Rafa lalu menyendok potongan kue pertama yang ada di tangan Tiara dan memakannya.
Mereka semuapun akhirnya memotong sendiri kue yang Rafa bawa lalu menikmatinya bersama sama.
"Aku tidak bisa berlama lama disini Ra, aku harus menemui seseorang untuk membicarakan kafe baru, kau tidak keberatan bukan?" ucap Rafa sekaligus bertanya pada Tiara.
"Tidak apa, pak Rafa pergi saja, Tiara juga harus menemui seseorang nanti malam," balas Tiara.
"Seseorang? siapa?" tanya Rafa.
"Kenapa pak Rafa kepo sekali?" balas Tiara bertanya yang membuat teman teman Tiara menahan tawa mereka.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, saya pergi dulu, setelah membereskan semua ini kalian harus melanjutkan pekerjaan kalian!" ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya.
"Siap pak Rafa," balas semua yang ada disana dengan kompak.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat teman teman Tiara sudah kembali pada kesibukan pekerjaan mereka sedangkan yang lainnya keluar dari kafe untuk melakukan aktivitas mereka di luar kafe.
Sedangkan Tiara memilih untuk duduk di bangku outdoor kafe setelah memesan dua cup minuman dan makanan ringan.
15 menit berlalu, namun seseorang yang Tiara tunggu belum juga datang. Hingga hampir 30 menit menunggu akhirnya wanita cantik yang Tiara tunggupun mulai menampakkan batang hidungnya.
"Maaf saya terlambat, ada hal lain yang mendesak dan harus segera saya selesaikan," ucap Maya yang sudah duduk di depan Tiara.
"Tidak apa, saya sudah memesankan minuman hangat, tapi sepertinya sudah dingin, apa mau diganti?"
"Tidak perlu, terima kasih," balas Maya.
"Sebelumnya apa kita bisa berbicara santai saja agar kita bisa lebih akrab," lanjut Maya yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Baiklah, sekedar informasi Pak Ardi, papamu, sudah mengenalku cukup lama, itu kenapa beliau mempercayakan wasiat dan pembagian warisannya padaku, beliau sudah menceritakan semuanya padaku tentang keadaan keluarganya, tentang istri pertamanya yang meninggal, tentang ibu Laras dan Gita yang merupakan istri kedua sekaligus anak tirinya dan tentangmu yang merupakan anak pertama kesayangan beliau," ucap Maya panjang.
"Tapi kenapa, Bu.... mmmm.... kak..... bagaimana seharusnya saya memanggil?" tanya Tiara ragu.
"Bukankah kita sudah sepakat untuk berbicara santai?" balas Maya bertanya.
"Baiklah kak Maya, kenapa kak Maya menemui Tiara? bukankah seharusnya kak Maya menemui mama Laras?" tanya Tiara.
"Aku sudah mendatangi rumahmu beberapa kali Tiara, tidak hanya untuk bertemu ibu Laras, tapi juga bertemu denganmu, karena sesuai dengan perintah mendiang papamu, aku harus menjelaskannya padamu terlebih dahulu, tapi sayangnya setiap aku datang ke rumahmu aku tidak pernah bertemu denganmu," jawab Maya menjelaskan.
"Apa kau sudah tidak tinggal di rumah itu lagi?" lanjut Maya bertanya.
"Tolong jawablah dengan jujur Tiara, kau harus percaya dan terbuka padaku, karena pembagian warisan papamu sangat bergantung pada keadaanmu saat ini," ucap Maya yang bisa membaca keraguan Tiara.
"Apa maksudnya?" tanya Tiara tak mengerti.
"Semua aset yang ditinggalkan oleh papamu masih atas nama pak Ardi sendiri, setelah memastikan kau selesai wisuda barulah semua aset itu akan dibagi, tapi..... ada syarat agar ibu Laras dan Gita bisa mendapatkan bagian dari aset pak Ardi yang ditinggalkan," ucap Maya.
"Syarat? syarat apa?"
"Aku harus memastikan bahwa kau tetap tinggal di rumah itu sampai kau wisuda dan ibu Laras serta Gita memperlakukanmu dengan baik layaknya keluarga hangat yang harmonis, jika kau pergi dari rumah itu sebelum kau wisuda atau mereka tidak bersikap baik padamu, maka mereka tidak akan mendapatkan apapun dari aset yang ditinggalkan oleh mendiang papamu," jawab Maya menjelaskan.
"Bukankah Mama Laras sudah mendapatkan hak sepenuhnya atas semua aset yang papa tinggalkan? mama Laras juga yang mengurus semua usaha papa sejak papa meninggal, bagaimana mungkin papa tidak memberikan apapun pada mama Laras dan kak Gita?"
"Kau benar, mama tirimu memang mengurus usaha yang mendiang papamu tinggalkan, tapi dia tidak benar benar mengerjakan pekerjaannya karena papamu sudah memilih beberapa orang kepercayaannya untuk menjalankan apa yang ditinggalkannya dan tentang hak atas semua aset itu masih menjadi milik mendiang papamu seutuhnya dan akan diberikan padamu seluruhnya jika ibu Laras dan Gita tidak bisa menjaga dan menyayangimu dengan baik sebagai keluarga," jawab Maya menjelaskan.
Tiara terdiam beberapa saat, berusaha untuk mencerna dengan baik setiap penjelasan yang Maya berikan padanya.
"Kau jangan khawatir Tiara, aku berada di pihakmu, katakan saja yang sejujurnya padaku agar aku tau bagaimana harus mengambil keputusan tentang aset yang pak Ardi tinggalkan," ucap Maya.
"Bagaimana dengan rumah? papa tidak mungkin mengusir mama Laras dan kak Gita bukan?" tanya Tiara.
"Itu tergantung bagaimana keadaanmu yang sebenarnya Tiara, jika memang kau masih tinggal disana dan menjalani kehidupanmu dengan baik baik saja di rumah itu tentu ibu Laras dan Gita masih bisa tinggal disana, tetapi jika kau sudah tidak tinggal di rumah itu dan mereka memperlakukanmu dengan tidak baik maka mereka harus angkat kaki dari rumah itu, pak Ardi benar benar tidak akan memberikan sedikitpun hartanya pada mereka yang tidak bisa menyayangimu," jelas Maya.
"kenapa papa membuat keputusan seperti itu? apa papa sebenarnya tau jika mama Laras selama ini tidak pernah menyayangiku? tapi tidak mungkin aku membiarkan mama Laras dan kak Gita meninggalkan rumah itu, mereka bahkan tidak mempunyai siapapun, apa lagi tempat tinggal," batin Tiara dalam hati.
__ADS_1
"Apa ada hal lain yang papa katakan tentang semua aset yang papa tinggalkan? rasanya tidak adil jika mama Laras dan Gita harus pergi dari rumah itu dan tidak mendapatkan apapun dari papa," tanya Tiara.
"Kenapa kau berkata seperti itu? apa benar mereka tidak memperlakukanmu dengan baik?" balas Maya bertanya yang membuat Tiara seketika terdiam, ia merasa sudah salah berbicara.
"Jujur saja Tiara, bagaimana sebenernya sikap mereka padamu!" ucap Maya.
"Tolong jawab saja pertanyaan Tiara, apa ada hal lain yang papa katakan tentang aset yang papa tinggalkan? bagiamanapun juga masalah warisan sangat sensitif bagi keluarga yang ditinggalkan," balas Tiara.
"Karena pak Ardi tau kau tidak tertarik dengan usaha kuliner, maka pak Ardi tidak memintamu untuk melanjutkan usaha itu, beberapa cabang rumah makan milik papamu sudah dipegang oleh orang orang kepercayaan papamu, jika memang ibu Laras dan Gita memperlakukanmu dengan baik, setengah dari jumlah cabang rumah makan akan diberikan sepenuhnya pada ibu Laras dan sisanya akan tetap dikelola oleh orang kepercayaan papamu dibawah tanggung jawabmu, sedangkan rumah yang kalian tempati akan menjadi hakmu sepenuhnya," ucap Maya menjelaskan.
"Tapi.... jika ibu Laras dan Gita tidak memperlakukanmu dengan baik maka mereka benar benar tidak akan mendapatkan apapun dan harus pergi dari rumah itu, semua cabang rumah makan akan dikelola oleh orang orang kepercayaan papamu dengan hak milik ada padamu sepenuhnya, kau hanya perlu melanjutkan cita citamu dan menerima hasil tanpa perlu kau turun tangan secara langsung," lanjut Maya.
Tiara seketika terdiam, ia teringat ucapan Gita yang mengatakan jika sang papa hanya menyayanginya dan memberikan seluruh warisannya pada Tiara.
Dalam hatinya ia bertanya tanya tentang sebenarnya maksud dari sang papa merencanakan semua itu yang seolah tau jika ada kemungkinan dirinya tidak akan diperlakukan dengan baik oleh mama tiri dan saudara tirinya.
"Aku sudah beberapa kali bertemu mama tirimu Tiara dan aku berpikir bahwa mama tirimu tidak memperlakukanmu dengan baik, apa benar seperti itu?" tanya Maya membuyarkan lamunan Tiara.
Tiara masih terdiam, ia bimbang harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Ia tidak ingin apa yang akan ia katakan akan menyisakan penyesalan dalam hidupnya karena sudah membuat Mama Laras dan Gita terusir dari rumah.
"Aku hanya ingin tau yang sebenarnya terjadi Tiara, apakah kau masih tinggal di rumah itu atau tidak, apakah mereka memperlakukanmu dengan baik atau tidak, karena kau sudah selesai wisuda jadi sekaranglah aku harus memutuskan bagaimana pembagian warisan pak Ardi nantinya," ucap Maya.
"Kenapa bukan Tiara saja yang memutuskannya? Tiara kan anak kandung papa," tanya Tiara yang merasa keberatan jika Maya yang harus memutuskan.
"Karena aku akan memutuskan sesuai dengan perintah pak Ardi, sesuai dengan wasiat yang beliau tinggalkan padaku selaku pengacara kepercayaannya," jawab Maya dengan tegas.
"Mmmm.... baiklah, tapi apa bisa kita melanjutkan pembicaraan ini lain kali, banyak hal yang harus Tiara pikirkan karena semua ini terlalu tiba tiba untuk Tiara," ucap Tiara berusaha mengulur waktu agar ia bisa berpikir lebih panjang.
"Aku mengerti, tapi aku tidak bisa memberimu banyak waktu Tiara, aku akan menunggumu sampai Minggu depan dan kau harus memberikan jawabanmu padaku, aku harap kau bisa berterus terang dan jujur padaku," balas Maya.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun.
"Tiara permisi pergi, Tiara akan segera menghubungi kak Maya setelah Tiara memikirkannya," ucap Tiara.
"Baiklah," balas Maya.
Tiara kemudian beranjak dari duduknya lalu berjalan pergi meninggalkan Maya yang masih duduk di tempatnya.
"aku harus memikirkannya dengan baik, aku tidak ingin keputusanku nanti membuatku menyesal," ucap Tiara dalam hati sambil membawa langkahnya pulang.
Sedangkan Maya masih berada di tempat duduknya sambil menyeruput minuman yang sudah Tiara pesankan untuknya.
"aku bisa memahami jika dia meminta waktu, tetapi dengan dia tidak menjawab pertanyaanku tentang dimana dia sekarang tinggal membuatku yakin jika dia memang tidak diperlakukan dengan baik oleh mama dan saudara tirinya," ucap Maya dalam hati.
"aku harap kau bisa jujur padaku Tiara, aku akan membantumu mengatasi masalahmu," lanjut Maya dengan mengangguk anggukan kepalanya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rafa yang baru saja datang dan begitu terkejut saat melihat keberadaan Maya disana.
"Aku baru saja bertemu klienku, kenapa? apa aku tidak boleh bertemu klienku disini?" balas Maya.
"Pergilah, jangan membuat keributan!" ucap Rafa.
"Aku memang akan pergi, jika bukan karena klienku yang mengajakku bertemu disini, aku tidak akan mungkin menginjakkan kakiku disini," balas Maya lalu beranjak dari duduknya dan berjalan pergi begitu saja.
__ADS_1
"Sombong sekali, padahal ini hanya kafe kecil yang bisa dengan mudah aku beli," gerutu Maya kesal lalu mengendarai mobilnya meninggalkan kafe Rafa.