
Tiara turun dari mobil Rafa ketika mereka sudah sampai di depan rumah tempat tinggal Tiara.
"Terima kasih sudah mengantar Tiara kak, terima kasih juga sudah meminjamkan buku ini pada Tiara," ucap Tiara pada Rafa saat ia baru saja turun dari mobil Rafa.
Rafa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu mengendarai mobilnya meninggalkan Tiara.
Setelah beberapa lama berkendara Rafapun mulai memperlambat laju mobilnya dan memasuki sebuah rumah dengan gerbang besar yang otomatis terbuka saat mobil anggota keluarga dari rumah itu datang.
Rafa kemudian turun dari mobilnya, membawa langkahnya masuk ke dalam rumah yang segera disambut oleh wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik.
"Akhirnya kau pulang sayang, dimana Maya? apa kau pulang sendirian?" tanya wanita cantik yang ternyata adalah Mama Rafa, Rosa Mahendra.
"Rafa sendirian ma," jawab Rafa lalu membawa langkahnya duduk di sofa.
"Kenapa kau selalu pulang sendirian Rafa? apa kau tidak mengajak Maya untuk ikut bersamamu?" tanya sang mama yang sudah duduk di samping Rafa.
"Dia sedang sibuk ma, banyak kasus yang harus dia tangani," jawab Rafa beralasan.
"Bagaimana hubungan kalian berdua? kenapa Mama belum juga mendapatkan kabar gembira dari kalian berdua?" tanya Mama Rafa.
"Sepertinya kedatangan Rafa kesini tidak membuat Mama gembira, apa Rafa harus pergi sekarang?" ucap Rafa tanpa menjawab pertanyaan sang mama.
"Sudahlah ma, jangan terlalu membebani Rafa, toh mereka juga belum terlalu lama menikah, biarkan mereka berdua bersenang-senang dulu sebelum mereka mempunyai anak," sahut papa Rafa yang tiba-tiba datang.
"Tapi bukankah lebih cepat lebih baik, Mama ingin segera menimang bayi lucu Rafa," ucap Mama Rafa.
"Kalau mama memang ingin menimang bayi lucu kenapa tidak Mama saja yang hamil," balas Rafa yang membuat mama Rafa segera
memukul lengan Rafa.
"Waahh itu ide yang bagus, papa setuju hahaha....." sahut papa Rafa yang membuat Mama Rafa tampak kesal pada dua laki-laki di kanan dan kirinya.
"Jangan terlalu mendesak mereka ma, Maya juga pasti memikirkan karirnya saat ini, biarkan mereka memilih jalan mereka sendiri, kita sebagai orang tua tidak perlu terlalu ikut campur," ucap papa Rafa.
"Baiklah terserah kau saja, mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu Rafa," ucap Mama Rafa lalu beranjak dari duduknya.
"Sepertinya sekarang kau memiliki banyak waktu luang," ucap sang papa pada Rafa.
"Apa papa sudah mengetahuinya?" tanya Rafa.
"Tentu saja, papa hanya tidak menyangka jika berita itu menjadi besar, seperti ada seseorang yang sengaja menggiring opini negatif untuk menyerangmu," jawab papa Rafa.
"Rafa tidak terlalu memikirkannya pa, lagi pula apapun yang terjadi Rafa akan tetap dikeluarkan dari kampus," ucap Rafa.
"Setidaknya kau harus tahu siapa dan apa motifnya menggiring opini negatif untuk membuatmu dikeluarkan dari kampus!" ucap papa Rafa.
"Rafa tidak mau memikirkannya lagi pa, lagi pula saat itu Rafa memang hanya berniat untuk membantu mahasiswa yang pingsan di kelas," balas Rafa.
"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini? papa akan selalu siap kapanpun kau berubah pikiran untuk masuk ke perusahaan!"
"Papa jangan berharap Rafa akan masuk ke perusahaan hanya karena masalah kecil itu, Rafa bahkan sedang memikirkan untuk membuka kafe baru di daerah lain," balas Rafa.
"Kau memang sangat keras kepala Rafa, padahal kau sudah menghabiskan banyak waktumu untuk kuliah di luar negeri tetapi kau malah menggunakan semua itu hanya untuk memulai bisnis kecil!"
"Ini adalah keinginan Rafa sejak lama pa, bukankah papa tahu itu?"
"Iya papa tahu, papa menghargai semua keputusanmu Rafa," balas sang papa sambil menepuk-nepuk bahu Rafa.
Rafa memang terlahir di keluarga kaya. Papanya, Adam Mahendra dan sang ibu, Rosa Mahendra sama-sama berasal dari keluarga kaya, namun keduanya menjalankan bisnis mereka sendiri sehingga menjadi perusahaan besar yang kini dikelola oleh Adam Mahendra.
__ADS_1
Mereka memiliki Rafa sebagai anak tunggal mereka dan mendidik Rafa dengan ilmu bisnis sejak Rafa masih kecil.
Darah pebisnis memang sudah mengalir dalam diri Rafa, menjadikan Rafa menjadi salah satu mahasiswa berprestasi di Universitas ternama di luar negeri.
Dengan pendidikan dan prestasi yang dimilikinya tidak membuat Rafa menginginkan menjadi penerus perusahaan kedua orang tuanya, justru hal itu membuat Rafa ingin memulai bisnisnya sendiri seperti yang dilakukan mama dan papanya dulu.
Meskipun Adam Mahendra sangat ingin Rafa masuk ke perusahaannya, tetapi sebagai orang tua yang baik ia tidak memaksakan kehendaknya pada Rafa dan membiarkan Rafa menjalani pilihannya sendiri.
Jika sang papa selalu memberikan kebebasan pada Rafa, lain halnya dengan sang mama yang selalu menganggap bahwa Rafa adalah anak kecilnya yang harus selalu mengikuti semua ucapannya.
Seperti pernikahan yang terjadi antara dirinya dengan Maya, semua itu terjadi tidak lain karena paksaan sang mama, Rossa Mahendra.
Sejak awal mama Rosa memang menginginkan Rafa untuk menikah dengan Maya, tapi ia tahu tidak akan mudah untuk memaksa Rafa menuruti kemauannya itu.
Rossapun meminta kakek Rafa untuk memaksa Rafa menikahi Maya. Meski pada awalnya menolak, akhirnya Rafa mengiyakan permintaan kakeknya di saat-saat terakhir kakeknya yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan kritis.
Rafa yang sangat menyayangi kakeknyapun tidak bisa lagi menolak pernikahan itu karena ia merasa pernikahannya dengan Maya adalah permintaan terakhir dari kakeknya.
Hingga akhirnya terjadilah pernikahan yang tidak Rafa inginkan. Rafa yang sama sekali tidak mengenal Maya harus menerima takdirnya sebagai suami dari wanita karir yang selalu mengutamakan dunia kerjanya dibanding hal lain dalam hidupnya.
Di sisi lain Mayapun menerima pernikahannya dengan Rafa karena terpaksa. Maya yang sudah maniak dengan bekerja membuat orang tuanya khawatir jika Maya akan menjadi perawan tua karena terlalu sibuk bekerja.
Orang tua Mayapun menjanjikan sebuah firma hukum besar yang akan menjadi milik Maya jika Maya bersedia menikah dengan Rafa dan tanpa berpikir panjang Mayapun menyetujui hal itu meski ia tidak mengenal Rafa sama sekali.
Maya hanya menganggap pernikahannya dengan Rafa sebagai formalitas agar ia mendapatkan firma hukum yang dijanjikan oleh orang tuanya.
Alhasil tidak pernah ada kebahagiaan dalam rumah tangga Rafa dan Maya, mereka memang sudah sah menjadi suami istri mereka juga sudah tinggal satu atap tetapi mereka menjalani kehidupan mereka masing-masing tanpa saling peduli satu sama lain.
Mereka seperti orang asing yang dipaksa untuk tinggal satu atap. Itu kenapa tidak ada satupun foto pernikahan yang mereka pajang di rumah, bahkan mereka tidur di kamar yang terpisah sejak hari pertama mereka menempati rumah mereka.
Mereka sama sekali tidak peduli satu sama lain, bahkan Maya selalu meremehkan Rafa yang bekerja sebagai dosen dan pemilik kafe kecil. Rafapun hanya mengabaikan ucapan Maya yang selalu meremehkannya, ia juga tidak peduli pada Maya yang jarang pulang karena kesibukannya bekerja sebagai pengacara sekaligus pemilik firma hukum dengan nama yang cukup besar.
Meskipun begitu Rafa dan Maya bersepakat untuk tidak memberitahukan kehidupan rumah tangga mereka pada orang tua mereka masing-masing.
Maya tidak ingin kedua orang tuanya mengambil kembali apa yang sudah Maya miliki, sedangkan Rafa tidak ingin membuat sang Mama kecewa dengan apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahannya dengan Maya.
Karena selama ini tidak ada satu perempuanpun yang berhasil membuat Rafa jatuh cinta, hal itulah yang membuat Rafa bertahan dengan pernikahannya karena tidak ada seseorang yang harus ia perjuangkan, jadi ia lebih memilih untuk menjalani pernikahan palsunya dengan Maya sampai saat itu.
Setelah lama mengobrol dengan mama dan papanya Rafapun meninggalkan rumah orang tuanya.
Rafa mengendarai mobilnya ke tempat ia akan bertemu dengan seseorang yang akan membantunya untuk membuka kafe baru di tempat lain.
**
Di sisi lain Tiara, baru saja keluar dari rumah bersama Kevin. Mereka sengaja menghabiskan Minggu mereka untuk sekedar berjalan-jalan di mall sembari melepas penat yang Tiara rasakan karena sibuk dengan pekerjaan dan skripsinya.
"Jika Bella melihat kita saat ini dia pasti akan langsung menyerangku," ucap Tiara pada Kevin.
"Jangan terlalu mempedulikannya, bukankah kau tahu dia memang seperti itu!" balas Kevin.
"Tapi bukankah wajar jika dia cemburu, mungkin pertemanan kita cukup berlebihan di matanya," ucap Tiara.
"Dia marah padamu bukan karena dia cemburu dia hanya kesal karena melihatku bersamamu, lagi pula aku dan Bella memang tidak sering menghabiskan waktu bersama karena kesibukannya, bukan karena aku yang tidak mempunyai waktu untuknya," ucap Kevin.
"Apa kalian tidak pernah bertengkar karena hal itu?" tanya Tiara.
"Tidak, aku memberinya kebebasan untuk melakukan apapun yang dia inginkan, diapun juga tidak terlalu mempermasalahkan jika kita tidak sering bertemu, tapi aku juga tidak tahu kenapa sepertinya dia sangat sensitif terhadapmu!"
"Itu karena dia cemburu Kevin, mungkin sepertinya aku harus menjauhimu," ucap Tiara yang membuat Kevin segera menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu Tiara, kita sudah berteman cukup lama, apa hanya karena hal ini kau menjauhiku?"
"Aku hanya berusaha menempatkan diriku di posisi Bella, sepertinya akupun akan cemburu jika pacarku terlalu dekat dengan perempuan lain," balas Tiara.
"Bella hanya marah sesaat padamu Tiara, bukankah kau tahu Bella tidak benar-benar membencimu selama ini, aku juga tidak pernah bermasalah dengan Bella karena hal itu!" ucap Kevin.
"Hubunganku dengan Bella memang berbeda dengan hubungan orang lain, kita memang berpacaran tetapi kita tidak sering menghabiskan waktu bersama, kita juga tidak terlihat romantis seperti pasangan yang lain tetapi kita saling menyayangi dengan cara kita sendiri," lanjut Kevin.
"Apa kau sangat menyayanginya?" tanya Tiara.
"Tentu saja, jika aku tidak menyayanginya tidak mungkin aku mempertahankan hubunganku dengannya," jawab Kevin yang membuat Tiara mengangguk menganggukkan kepalanya pelan.
"Hubungan kalian memang unik," ucap Tiara.
"Walaupun terkadang aku sangat kesal padanya tapi aku tidak bisa benar-benar marah padanya, diapun begitu padaku, walaupun dia sering kesel karena melihatku bersamamu tetapi dia tidak benar-benar marah karena hal itu, tidak butuh waktu lama untuk membuatnya kembali bersikap manja padaku!"
"Tapi sepertinya kau tidak pernah memanjakannya," ucap Tiara mencibir.
"Hahah... kau benar aku memang terlihat sangat cuek dan tidak peduli padanya, tapi dia tahu bahwa aku sangat menyayanginya, aku hanya bisa menunjukkan rasa sayangku itu dengan caraku sendiri dan diapun tidak mempermasalahkan hal itu," balas Kevin.
"Kalian berdua memang sangat aneh," ucap Tiara dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tentang videomu dengan Pak Rafa sepertinya anak-anak masih membicarakannya, aku harap kau tidak terlalu memikirkannya," ucap Kevin.
"Kau sangat mengenal aku bukan, aku tidak pernah memikirkan hal lain yang tidak penting seperti itu, sekarang yang aku pikirkan hanyalah fokus mengerjakan skripsi dan bekerja dengan baik," balas Tiara yang segera mendapat acungan jempol dari Kevin.
Tak lama kemudian Tiara terdiam saat melihat Kevin dan Gita yang sedang bersama saat itu, saat Tiara akan membawa langkahnya pergi tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya membuatnya urung untuk meninggalkan tempat itu.
Ternyata yang memanggil Tiara adalah mama Bima. Kedua orang tua Bima sedang bersama Bima dan Gita saat itu. Merekapun meminta Tiara dan Kevin untuk ikut makan siang bersama Bima dan Gita.
Karena tidak punya alasan untuk menolak, Tiara dan Kevinpun menerima ajakan makan siang itu.
Hingga akhirnya merekapun sampai di restoran.
"Bagaimana kabarmu Tiara? tante dengar kau sedang mengerjakan skripsi?" tanya Mama Bima pada Tiara.
"Kabar Tiara baik tante, Tiara sedang sibuk mengerjakan skripsi sekarang," jawab Tiara.
"Sepertinya kalian berdua sering terlihat bersama, apa kalian berpacaran?" tanya papa Bima pada Tiara dan Kevin.
"Tidak Om, kita hanya berteman," jawab Kevin jujur.
"Benarkah seperti itu Tiara? sepertinya Om rasa tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan!"
"Tiara dan Kevin memang hanya berteman Om, lagi pula Kevin sudah memiliki pacar," jawab Tiara.
"Lalu kenapa kalian hanya berdua disini? kau tidak berniat untuk merebut Kevin dari pacarnya bukan?" tanya Gita pada Tiara yang membuat semua mata tertuju pada Gita.
"Kenapa kau bertanya seperti itu Gita? kau bisa membuat Tiara dan Kevin salah paham," ucap Mama Bima pada Gita.
"Gita hanya bercanda ma, kita sudah terbiasa seperti itu di rumah, benar kan Tiara?" balas Gita dengan membawa pandangannya pada Tiara di akhir kalimatnya.
"Iya benar, sebelum Tiara keluar dari rumah," jawab Tiara yang membuat mama dan papa Bima begitu terkejut karena mereka baru mengetahui jika Tiara keluar dari rumah.
"Keluar dari rumah? apa maksudmu Tiara?" tanya papa Bima.
"Aahh iya, sepertinya kak Bima dan kak Gita belum memberitahu tante dan om bahwa Tiara sudah lama keluar dari rumah, jadi Tiara sudah tidak tinggal lagi di rumah itu," jawab Tiara dengan tersenyum yang membuat mama dan papa Bima saling pandang lalu menatap Bima dengan tatapan tajam.
Bimapun hanya bisa terdiam dengan menyeruput minuman di hadapannya yang terasa begitu sulit untuk masuk ke tenggorokannya.
__ADS_1