Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Apakah Cinta?


__ADS_3

Rafa baru saja sampai di rumah sakit bersama Tiara yang segera dilarikan ke UGD. Setelah beberapa lama menunggu, dokterpun keluar dari ruang UGD untuk menjelaskan keadaan Tiara pada Rafa.


"Pasien baik-baik saja sekarang, kemungkinan pasien pingsan karena tekanan darahnya yang menurun, sepertinya dia kelelahan dan harus lebih banyak beristirahat serta makan makanan yang sehat dan menghindari minuman berkafein," ucap dokter menjelaskan.


"Baik dok, terima kasih," ucap Rafa.


Setelah Tiara dipindahkan ke ruangan rawat, Rafapun segera menghampiri Tiara yang saat itu sudah sadar dari pingsannya.


"Kenapa kak Rafa ada disini? apa kak Rafa yang mengantar Tiara kesini?" tanya Tiara pada Rafa.


"Jangan banyak bertanya, sepulang dari rumah sakit kau tidak aku perbolehkan bekerja selama satu minggu penuh," ucap Rafa tanpa menjawab pertanyaan Tiara.


"Satu minggu? apa kak Rafa mau memecat Tiara?" tanya Tiara terkejut.


"Jika aku memecatmu tentu aku memintamu untuk tidak pernah datang lagi ke kafe," balas Rafa.


"Tapi kenapa....."


"Sudah kubilang jangan banyak bertanya Tiara, apa begitu susah kau menurut saja padaku!" ucap Rafa memotong ucapan Tiara.


Tiara menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya dari Rafa dengan kesal.


"sebenarnya apa kesalahanku? kenapa kak Rafa selalu memarahiku?" tanya Tiara dalam hati.


"Jangan berpikir aku sedang memarahimu Tiara, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu, jika itu terjadi tidak hanya aku tapi juga teman-temanmu yang akan merasa kesusahan di kafe," ucap Rafa yang seolah mengerti isi pikiran Tiara.


"Tiara pingsan karena Tiara tidak sengaja minum kopi, hanya itu saja, kenapa Tiara harus libur selama satu minggu, kak Rafa berlebihan sekali!" ucap Tiara.


"Hari ini kau sudah dua kali pingsan Tiara, apa kau lupa?" balas Rafa yang sedikit kesal dengan Tiara yang keras kepala.


"Tiara ingat kak, tapi....."


"Dokter memintamu untuk beristirahat dan jangan pernah lagi mengkonsumsi minuman berkafein atau aku akan benar-benar mengabaikanmu jika kau pingsan di depanku!" ucap Rafa yang lagi lagi memotong ucapan Tiara.


Lagi lagi Tiara menghela nafasnya kasar, entah kenapa ia menjadi sangat kesal pada Rafa.


"Aku tahu kau sangat mempersiapkan dirimu untuk masuk ke perusahaan yang kau inginkan, sampai kau tidak sadar jika kau sudah mengabaikan kesehatanmu, apa kau tidak berpikir jika kesehatanmu lebih penting dari semua buku-buku yang kau baca itu?" ucap Rafa sekaligus bertanya.


"Bahkan mungkin buku-buku itu tidak cukup untuk membuat Tiara berhasil menjadi bagian dari perusahaan itu," balas Tiara.


"Tidak hanya dari buku-buku itu kau bisa menjadi bagian dari perusahaan itu, pengalaman, kerja keras dan banyak hal lainnya juga sangat berpengaruh agar kau bisa menjadi bagian dari perusahaan itu, terutama kesehatanmu, perusahaan tidak akan mempekerjakan karyawan yang bahkan tidak bisa bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri," ucap Rafa.


Tiara terdiam, ucapan Rafa seolah menampar keras kepala dalam dirinya. Ia yang selalu mengabaikan kesehatannya demi belajar dengan giat sama saja dengan tidak bertanggung jawab dengan dirinya sendiri, sama saja dengan mengabaikan hal penting yang menjadi bagian dari dirinya sendiri.


Lalu bagaimana ia akan bertanggung jawab pada pekerjaannya jika ia tidak bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri, pikir Tiara setelah ia mendengar ucapan Rafa.


"Kesehatanmu jauh lebih penting daripada mimpimu Tiara, kau tidak akan mendapatkan apa yang kau impikan jika kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri dengan baik," ucap Rafa.


"Tapi apa harus Tiara libur satu minggu? rasanya tidak adil untuk teman-teman yang lain," tanya Tiara yang mulai melunak.


"Mereka akan tetap memiliki hari libur seperti biasanya, jadi jangan khawatirkan mereka," jawab Rafa.


"Bagaimana dengan seminar? Tiara harus mengikuti seminar setiap hari Minggu," tanya Tiara.


"Kau bisa mengikuti seminar di Minggu selanjutnya bukan?" balas Rafa.


"Tapi bagaimana jika ada hal penting yang disampaikan saat seminar minggu besok? Tiara benar-benar sangat rugi jika Tiara tidak datang!"


"Terserah padamu saja, kau bisa mendatangi seminar itu minggu depan jika kau ingin libur dari kafe lebih lama lagi," ucap Rafa yang membuat Tiara memanyunkan bibirnya kesal.


Rafa hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya.


"Istirahatlah, besok pagi aku akan menjemputmu," ucap Rafa sambil menepuk pelan kepala Tiara.

__ADS_1


"Apa kak Rafa akan pulang?" tanya Tiara yang seolah tidak ingin Rafa meninggalkannya sendirian di rumah sakit.


"Apa kau ingin aku menemanimu disini?" tanya Rafa sambil melihat sekelilingnya yang terdapat beberapa ranjang pasien lain yang berada satu ruangan dengan Tiara.


"Mmmm.... tidak juga, Tiara....."


"Jika kau tidak merasa nyaman disini aku akan meminta perawat untuk memindahkanmu ke ruangan lain," ucap Rafa yang seolah melihat ketidaknyamanan pada raut wajah Tiara.


"Tidak perlu, Tiara disini saja, kak Rafa bisa pergi sekarang," balas Tiara.


"Apa kau yakin?" tanya Rafa memastikan.


"Tentu saja, Tiara tidak semanja itu untuk meminta kak Rafa menemani Tiara disini," balas Tiara percaya diri yang membuat Rafa tersenyum tipis.


"Baiklah aku pulang dulu, kau cepat tidur dan beristirahat agar besok dokter sudah memperbolehkanmu pulang jika keadaanmu sudah membaik," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Rafa kemudian berjalan meninggalkan Tiara. Saat ia sudah berada di mobil ia tidak segera menyalakan mesin mobilnya. Dalam hatinya ia merasa enggan untuk meninggalkan Tiara seorang diri di rumah sakit, namun tidak ada yang bisa ia lakukan karena ia tidak diperbolehkan untuk menunggu Tiara semalaman dan Tiarapun tidak ingin dipindahkan ke ruangan lain yang lebih privat.


Rafa memijit keningnya, lalu tanpa sengaja ia melihat gantungan boneka pinguin kecil yang ada di mobilnya. Ia teringat gantungan boneka pinguin kecil itu adalah salah satu benda yang ia berikan pada Tiara saat ulang tahun Tiara.


Rafa kemudian melepaskan gantungan itu dari mobilnya lalu segera membawanya berlari ke ruangan Tiara.


Dengan langkah yang sangat pelan Rafa memasuki ruangan dimana Tiara terbaring bersama beberapa pasien lain di kanan dan kiri ranjang Tiara.


"Kak Rafa!" panggil Tiara yang terkejut dengan kedatangan Rafa.


"Ssssttt!" Rafa menempelkan jari telunjuk nya di bibirnya sebagai kode agar Tiara mengecilkan volume suaranya.


"Kenapa kak Rafa kembali lagi?" tanya Tiara berbisik.


"Aku hanya ingin memberikan ini agar kau tidak merasa kesepian," jawab Rafa sambil memberikan gantungan berbentuk boneka pinguin kecil pada Tiara.


"Waahhh lucu sekali," ucap Tiara gemas menerima gantungan penguin kecil dari Rafa.


Tiara tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan. Entah kenapa apa yang Rafa lakukan baru saja membuat dadanya berdebar.


"Sepertinya efek kopi yang aku minum belum hilang," ucap tiara dalam hati sambil memegang dadanya yang masih berdebar.


Tiara kemudian memejamkan matanya sambil menggenggam gantungan penguin kecil di tangannya.


"lupakan Tiara, itu hanya hal kecil yang tidak ada artinya," ucap Tiara dalam hati.


**


Di sisi lain Rafa mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit bukan untuk pulang ke rumahnya, melainkan pergi ke kafe pertama untuk mengambil beberapa berkas yang harus ia kerjakan di rumah.


Saat ia sudah mengambil berkas yang ia butuhkan, iapun keluar dari kafe. Namun saat ia akan masuk ke dalam mobil, seseorang memanggilnya, membuat Rafa segera membalikkan badannya untuk melihat pemilik suara yang memanggil namanya.


"Bima, kenapa kau ada disini?" tanya Rafa yang terkejut melihat keberadaan Bima disana.


"Aku kesini untuk mencari Tiara, tetapi sepertinya dia sudah tidak bekerja disini, apa kau bisa memberitahuku dimana dia sekarang?" jawab Bima sekaligus bertanya.


Rafa tersenyum tipis sebelum ia menjawab pertanyaan Bima. Ia tidak mengerti apa yang membuat Bima dengan percaya diri menanyakan keberadaan Tiara padanya setelah apa yang Bima lakukan pada Tiara.


"Ada apa lagi kau mencarinya? apa kau tidak puas menyakitinya atau mertua dan orang tuamu yang memaksamu untuk mencari Tiara?" balas Rafa bertanya.


"Tidak.... ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mama mertua ataupun orang tuaku, aku benar-benar ingin bertemu Tiara karena keinginanku sendiri," jawab Bima.


"Lupakan Tiara, kau tidak pantas untuknya," ucap Rafa lalu hendak membuka pintu mobilnya namun Bima segera mendorong pintu mobil Rafa agar cepat tertutup sebelum Rafa masuk.


"Aku menyesal Rafa, aku hanya ingin meminta maaf pada Tiara, aku ingin menjelaskan semuanya padanya, jadi aku mohon beri tahu aku dimana dia sekarang!" ucap Bima memohon pada Rafa.


"Setelah semua yang kau lakukan pada Tiara, apa kau berpikir bahwa dia masih mau menemuimu?" tanya Rafa.

__ADS_1


"Aku yakin dia akan memberikan kesempatan untukku, aku yakin dia masih mencintaiku seperti dulu, aku....."


"Jangan terlalu yakin Bima, luka yang kau berikan padanya jauh lebih besar daripada rasa cintanya padamu yang hanya sebatas cinta monyet," ucap Rafa memotong ucapan Bima.


"Tidak, aku tahu sebesar apa cintanya untukku," ucap Bima percaya diri.


Rafa menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya pelan lalu menatap kedua mata Bima dengan tajam.


"Dengarkan aku baik-baik Bima, mungkin Tiara memang pernah mencintaimu tapi itu dulu sebelum dia tahu dan sadar bahwa kau bukanlah laki-laki yang baik untuknya, sekarang tinggalkan dia, lupakan dia dan jangan pernah mengganggunya, kedatanganmu hanya akan membuka kembali luka yang sudah berusaha dia sembuhkan sendiri," ucap Rafa pada Bima.


"Aku tidak mengharapkan apapun lagi padanya, aku ingin menemuinya hanya karena aku ingin meminta maaf padanya," ucap Bima.


"Tidak perlu, Tiara tidak membutuhkan permintaan maaf ataupun penyesalan darimu, yang dia butuhkan hanya pergi jauh dari masa lalu yang sudah menyakitinya terlalu dalam dan masa lalu itu adalah kau, jadi aku harap kau tidak pernah lagi menampakkan batang hidungmu di depan Tiara, jika kau memang ingin Tiara menjalani hidupnya dengan bahagia tanpa mengingat kembali luka yang sudah kau buat untuknya," balas Rafa lalu kembali hendak membuka pintu mobilnya.


"Apa kau mencintainya?" tanya Bima yang membuat Rafa menghentikan langkahnya saat ia akan memasuki mobilnya.


"Apa dia tahu tentang perasaanmu?" lanjut Bima bertanya namun tidak ada jawaban apapun dari Rafa yang hanya terdiam mendengar pertanyaan Bima yang tiba-tiba.


"Dia memang terlihat ceria dan dewasa, tapi sebenarnya dia masih kekanak-kanakan dan sangat polos," ucap Bima lalu berjalan meninggalkan Rafa begitu saja.


Rafa yang masih terdiam segera membawa langkahnya masuk ke dalam mobilnya. Meski ia tidak menjawab pertanyaan Bima bukan berarti ia mengabaikannya, pada kenyataannya Rafa masih memikirkan pertanyaan dan ucapan Bima padanya.


"jika memang iya, bolehkah aku mencintainya? sedangkan aku sendiri tidak bisa bertanggung jawab pada hubunganku dengan Maya, lalu bagaimana aku bisa bertanggung jawab pada hubunganku dengan Tiara nantinya?" batin Rafa dalam hati.


Rafa menghela nafasnya panjang lalu menggelengkan kepalanya pelan. Ia tersenyum tipis mengingat senyum dan tawa ceria Tiara yang kembali setelah badai besar yang menenggelamkan senyum dan keceriaannya.


Rafa tidak ingin senyum dan keceriaan itu kembali menghilang terlebih jika badai besar itu datang karenanya.


"Aku tidak boleh egois, setidaknya aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai dengan Maya, entah sampai kapan dan entah bagaimana caranya," ucap Rafa dalam hati.


Saat mobil Rafa sudah mendekati rumahnya, ia sedikit terkejut karena sebuah mobil berhenti di depan rumahnya dan tak lama kemudian Maya keluar dari mobil itu bersama seorang laki-laki.


Laki-laki itu memeluk Maya untuk beberapa saat sebelum ia kembali masuk ke dalam mobil dan pergi begitu saja.


Rafa hanya tersenyum tipis sambil mengendarai mobilnya dengan pelan memasuki rumahnya.


Setelah memasukkan mobilnya ke dalam garasi, Rafapun membawa langkahnya masuk ke dalam rumah tanpa mempertanyakan tentang siapa laki-laki yang baru saja mengantar Maya pulang.


Rafa benar-benar tidak peduli dengan kehidupan Maya karena ia sama sekali tidak menganggap pernikahan di antara mereka benar-benar terjadi.


Meskipun begitu, setiap bulannya ia selalu mentransfer beberapa persen dari penghasilannya ke rekening Maya. Entah Maya menggunakannya atau tidak tapi Rafa selalu melakukan hal yang sama sejak mereka sah menjadi suami istri.


Rafa kemudian masuk ke kamarnya, melepas pakaiannya dan segera mengguyur badannya dengan tetesan shower di kamar mandi.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian Rafa mulai mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Tiba-tiba ia menjatuhkan pandangannya pada rak yang ada di sudut kamarnya, rak yang baru ia beli untuk menaruh beberapa barang printilan yang berkaitan dengan EXO.


"Sepertinya aku harus memberikannya satu persatu," ucap Rafa dengan tersenyum.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Rafapun segera menutup laptopnya dan membaringkan badannya di atas ranjang.


Saat ia baru saja terpejam, ia teringat pertanyaan dan ucapan Bima padanya.


"Apa kau mencintainya?"


"Apa dia tahu tentang perasaanmu?"


"Dia memang terlihat ceria dan dewasa tapi sebenarnya dia masih kekanak-kanakan dan sangat polos."


"Apa aku mencintainya?" tanya Rafa pada dirinya sendiri dengan kedua mata menatap langit-langit kamarnya.


"Tidak masalah cinta atau tidak, yang pasti aku ingin selalu melihat dia tertawa bahagia bukan berpura-pura bahagia dan aku akan menjadi salah satu alasan untuknya benar-benar bahagia," ucap Rafa dalam hati dengan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


__ADS_2