Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Menyerah?


__ADS_3

Kevin masih terdiam tak percaya mendengar apa yang baru saja Tiara katakan. Bagaimana mungkin selama ini ia dan Tiara tidak tahu jika Rafa ternyata sudah memiliki istri.


"Kau sungguh tau tentang hal itu Tiara? mungkin kau hanya salah paham, mungkin....."


"Aku sudah bertemu dengan istrinya Kevin, aku sudah bertemu dengan orang tua kak Rafa dan bahkan aku mengenal baik istri kak Rafa," ucap Tiara memotong ucapan Kevin.


"Kau mengenalnya? siapa dia?" tanya Kevin.


"Kak Maya, pengacara yang membantuku menyelesaikan masalahku dengan mama Laras," jawab Tiara sambil mengusap air mata yang sudah sempat menetes di pipinya.


Kevin terdiam, ia tidak menyangka atas apa yang baru saja dia dengar dari Tiara. Rafa yang selama ini begitu baik dan perhatian pada Tiara ternyata sudah memiliki istri, bahkan istri Rafa adalah pengacara yang sudah membantu menyelesaikan masalah Tiara.


"Apa yang pak Rafa katakan padamu setelah kau mengetahuinya Tiara?" tanya Kevin.


"Entahlah, aku masih menghindar dari kak Rafa sekarang, itu kenapa aku tidak pergi ke kantor hari ini, kau bisa memakiku karena aku tidak profesional, tapi berangkat ke kantorpun akan percuma karena aku sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaanku," ucap Tiara.


"Aku mengerti posisimu saat ini Tiara, aku tidak akan menyalahkanmu, tapi aku harap kau tidak akan berlama lama seperti ini," balas Kevin.


"Sebenarnya sudah sejauh apa hubunganmu dengan pak Rafa, Ra? apa kalian sudah memiliki hubungan khusus?" lanjut Kevin bertanya yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Kak Rafa memang pernah menyatakan perasaannya padaku, tapi aku memintanya untuk menunggu dan sekarang aku mengerti kenapa ada rasa ragu dalam hatiku meskipun aku tau aku selalu bahagia setiap bersama kak Rafa, keraguanku akhirnya memberikan jawaban yang terlalu mengejutkanku Kevin," ucap Tiara menjelaskan.


"Kau sangat mencintainya Ra?" tanya Kevin.


Seketika tetes air mata kembali membasahi pipi Tiara, membuat Tiara segera menghapusnya dengan kasar.


"Apa aku akan terluka jika aku tidak mencintai kak Rafa? apa aku akan sesakit ini jika aku tidak mencintainya, Kevin? aku bahkan sudah kehilangan arah sekarang, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang, semua ini terlalu tiba tiba dan membuatku bingung," ucap Tiara yang sudah tidak bisa menahan air matanya.


Tiarapun menundukkan kepalanya, menutup wajah dengan kedua tangannya, berusaha untuk menghentikan air mata yang seolah enggan untuk berhenti menetes.


Kevin menghela nafasnya, ia menepuk nepuk pelan bahu Tiara, berusaha untuk menenangkan Tiara.


"Aku mengerti bagaimana sakit yang kau rasakan sekarang Tiara, tetapi jangan terlalu lama meratapinya, kau tetap harus melanjutkan hidupmu, tanpa pak Rafa dan tanpa laki laki lain yang berusaha mendekatimu, untuk sementara biarkan dirimu sibuk dengan impianmu, aku yakin perlahan kau akan bisa melupakan pak Rafa," ucap Kevin.


"Apa yang aku rasakan saat ini berbeda dengan yang aku rasakan saat aku terluka karena kak Bima, saat aku yakin aku sudah melupakan kak Bima dan membiarkan kak Rafa masuk dalam hidupku, tiba tiba saja aku harus dipaksa mundur oleh takdir yang memuakkan ini, saat aku sudah jatuh cinta pada kak Rafa, tiba tiba saja cinta itu berubah menjadi pedang yang sangat tajam, kali ini aku menyerah Kevin, aku sudah tidak bisa melanjutkan mimpiku lagi," ucap Tiara dengan suara bergetar dan air mata yang terus membasahi pipinya.


"Tapi kau tidak akan melanjutkan hubunganmu dengan pak Rafa bukan?" tanya Kevin memastikan, khawatir jika Tiara akan melakukan kesalahan untuk yang kedua kali.


"Aku sudah melakukan kesalahan pertamaku dengan kak Bima, aku terlalu egois dengan memaksakan perasaanku sendiri meskipun aku tau takdir sudah memintaku untuk pergi dan sekarang aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama Kevin," jawab Tiara.


"Kak Maya sangat baik padaku, bagiamana mungkin aku tega menyakitinya," lanjut Tiara.


"Lalu apa yang akan kau lakukan setelah ini Ra? sepertinya pak Rafa tidak akan melepaskanmu dengan mudah mengingat bagaimana sikap pak Rafa padamu selama ini!"


"Jika kak Rafa tidak bisa melepaskanku, maka aku yang akan melepaskannya, aku yang akan menjauh dan pergi sejauh yang aku bisa," balas Tiara.


"Aku akan resign dari kantor," lanjut Tiara yang membuat Kevin terkejut.


"Apa kau yakin Ra? kau sudah berusaha sangat keras untuk bisa menjadi bagian dari perusahaan itu Tiara, tolong pikirkan lagi keputusanmu ini!" ucap Kevin mengingatkan.


"Aku tidak punya pilihan lain Kevin, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk melupakan kak Rafa," ucap Tiara.


"Tapi....."


"Aku akan berusaha untuk berpikir lebih jernih lagi, tapi aku tidak yakin akan mendapatkan jawaban lain selain resign dari kantor," ucap Tiara memotong ucapan Kevin.


"Baiklah, apapun keputusanmu nanti, aku harap itu yang terbaik untukmu, aku harap kau bisa memutuskannya dengan pikiran yang jernih," ucap Kevin.


Kevin kemudian menyalakan mesin mobilnya, mengendarai mobilnya ke arah rumah tempat tinggal Tiara.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang Kevin," ucap Tiara saat Kevin sudah menghentikan mobilnya di depan rumah Tiara.


Kevin hanya menganggukkan kepalanya. Tiarapun keluar dari mobil Kevin, namun saat Tiara akan membuka gerbangnya, Kevin tiba tiba menghampirinya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Tiara.


Kevin hanya diam, ia membawa langkahnya mendekati Tiara lalu memeluk Tiara begitu saja.


"Aku yakin kau bisa melewati semua ini Tiara, percayalah akan ada hal yang jauh lebih indah dibalik rasa sakit yang kau rasakan saat ini," ucap Kevin dengan erat memeluk Tiara.


Tiarapun hanya diam dengan kedua mata yang kembali berkaca-kaca. Di tengah rasa sakit yang sedang hatinya rasakan saat itu, ada sebuah rasa syukur karena memiliki Kevin sebagai sahabat baiknya.


Meskipun sama sama sibuk dengan pekerjaan masing masing, tetapi Kevin selalu menyempatkan waktunya kapanpun Tiara membutuhkannya.


Kevin kemudian melepaskan pelukannya pada Tiara, ia memegang kedua bahu Tiara dan menatap ke dalam mata Tiara.


"Tiara yang aku kenal selalu bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik, meskipun menyakitkan, tapi dia tidak akan mudah menyerah," ucap Kevin dengan tersenyum, berusaha memberikan semangat untuk sahabatnya yang tengah bersedih saat itu.


Tiara menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis, senyum yang ia paksakan demi sahabat yang selalu ada untuknya.


"Pergilah, terima kasih untuk hari ini," ucap Tiara.


Kevin kemudian masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya meninggalkan Tiara. Sedangkan Tiara segera masuk ke dalam rumah setelah ia mengunci gerbang rumahnya.


Tiara membuka laptop miliknya, berniat untuk menulis surat pengunduran dirinya. Namun sampai beberapa lama Tiara hanya memandang layar kosong di hadapannya.


Ia ragu untuk melepaskan mimpi yang sudah ada dalam genggamannya.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Maya sedang berada di sebuah kafe bersama Bagas. Ia berniat untuk mengakhiri hubungannya dengan Bagas saat itu.


"Kenapa kau tiba tiba menghilang? aku bahkan tidak bisa menghubungimu sejak beberapa hari ini!" tanya Bagas pada Maya.


"Aku minta maaf, sebenarnya aku memintamu untuk datang kesini karena ada yang ingin aku katakan padamu, ini tentang hubungan kita," ucap Maya.


"Ada apa dengan hubungan kita? apa kau sudah mulai bosan padaku?" tanya Bagas.


"Sebenarnya aku berbohong padamu," jawab Maya.


Maya kemudian menceritakan tentang siapa sebenarnya dirinya dan apa hubungannya dengan Rafa. Bagas yang mendengar hal itupun begitu terkejut. Ia tidak menyangka jika ia sudah berhubungan dengan istri dari CEO tempat ia bekerja.


"Waahh kau benar benar gila, apa yang akan dilakukan pak Rafa padaku jika dia tau aku berpacaran dengan istrinya? dia pasti akan membunuhku saat itu juga!"


"Itu tidak akan terjadi, kau hanya perlu diam saja dan jangan menceritakan hal ini pada orang lain, aku yakin Rafa tidak akan mengenalimu!" ucap Maya.


"Tapi apa yang kita lakukan sudah sangat jauh Maya, kita bahkan sudah......"


"Lupakan saja, itu adalah kekhilafanku untuk sesaat," ucap Maya memotong ucapan Bagas.


"Tidak akan ada hal buruk yang terjadi padamu jika kau tetap diam dan mau mengakhiri hubungan kita sekarang juga," lanjut Maya.


"Baiklah, aku juga tidak segila itu untuk tetap berhubungan dengan istri CEO di kantorku," balas Bagas.


Setelah mendapatkan kesepakatan yang dia inginkan, Mayapun pergi meninggalkan Bagas. Ia mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam namun Rafa belum juga pulang. Maya ingin menghubungi Rafa tetapi ia ragu karena ia tidak memiliki alasan yang tepat untuk menghubungi Rafa.


Tanpa Maya tau, Rafa sedang berada di rumah Tiara saat itu. Rafa sedang memohon agar Tiara mau menemuinya. Namun sama seperti sebelumnya, Tiara masih enggan untuk bertemu dengan Rafa.


Malampun semakin larut, satpam yang sedang berpatrolipun melihat mobil Rafa yang sedari tadi berada di depan rumah Tiara.


Saat melihat Rafa yang tengah duduk di dekat jendela kamar Tiara, satpam itupun segera menegur Rafa dan meminta Rafa untuk segera pergi.


Alhasil, Rafapun meninggalkan rumah Tiara dan pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Rafa segera disambut oleh Maya.


"Kau baru pulang? apa ada masalah di kantor?" tanya Maya yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Rafa.

__ADS_1


"Jika ada masalah ceritalah padaku, aku pasti akan membantumu," ucap Maya.


"Tidak ada," balas Rafa singkat sambil masuk ke kamarnya lalu menutup pintu kamarnya.


Mayapun hanya terdiam melihat sikap Rafa yang kembali dingin padanya.


"Sebenarnya ada apa dengannya? kenapa dia bersikap dingin padaku? apa aku melakukan kesalahan?" batin Maya bertanya dalam hati.


**


Malam yang panjang telah berlalu, Maya yang baru keluar dari kamarnya begitu terkejut saat melihat Rafa yang tengah tertidur di ruang tengah.


Mayapun segera menghampiri Rafa, berniat untuk membangunkan Rafa. Namun saat melihat ponsel Rafa yang tergeletak di meja, membuat rasa penasaran Maya memuncak.


Dengan pelan Mayapun mengambil ponsel itu. Ia mendekatkan ponsel itu ke arah jari Rafa agar ia bisa membuka layar kuncinya.


Maya kemudian membuka riwayat panggilan yang ada di ponsel Rafa dan menemukan ada banyak sekali panggilan keluar untuk nomor yang sama.


Nomor itu hanya disimpan dengan emoticon hati berwarna merah, tanpa nama. Karena penasaran, Mayapun mencatat nomor itu.


Maya kemudian membuka galeri di ponsel Rafa dan menemukan banyak foto pemandangan musim gugur yang bisa Maya terka jika foto foto itu diambil saat Rafa berlibur ke luar negeri beberapa hari yang lalu.


Namun tiba tiba raut wajah Maya tampak menegang saat ia melihat foto seorang gadis yang ada di galeri ponsel Rafa.


Gadis itu tampak sedang berfoto dengan latar pohon pohon yang daunnya sudah menguning dan berserakan di bagian bawahnya.


Yang membuat Maya terkejut adalah Maya mengenali siapa gadis yang ada di foto itu.


"Tiara..... kenapa Rafa menyimpan foto Tiara?" batin Maya bertanya dalam hati.


Maya kemudian membuka rincian foto itu dan mendapati tanggal foto itu diambil.


"Ini adalah tanggal saat Rafa pergi ke luar negeri kemarin, apa ini artinya..... Rafa dan Tiara...."


Maya kemudian membawa pandangannya pada Rafa yang baru saja menggeliat. Mayapun menaruh ponsel Rafa di tempatnya lalu segera berjalan masuk ke kamar Rafa setelah ia memastikan jika Rafa masih tertidur dengan pulas.


"Pasti ada sesuatu di kamar ini," ucap Maya sambil membuka satu per satu laci yang ada di kamar Rafa.


Hingga akhirnya Maya menemukan sebuah map yang berisi sertifikat rumah.


"Rafa membeli rumah baru? untuk apa?" batin Maya bertanya.


Saat tengah memikirkan tentang sertifikat rumah itu, kedua mata Maya menatap rak yang berisi perintilan EXO yang ada di sudut kamar Rafa.


"Ini bukan sebuah kebetulan, Tiara menyukai EXO dan Rafa tiba tiba menyimpan semua benda ini di kamarnya, tidak mungkin ada foto Tiara di ponsel Rafa jika memang tidak ada sesuatu di antara mereka berdua, mereka bahkan sudah pergi ke luar negeri berdua, sejauh apa hubungan mereka sebenarnya? apa mungkin rumah yang Rafa beli ini untuk Tiara?" batin Maya bertanya dalam hati.


"Aaahh, nomor ponsel itu," ucap Maya lalu segera keluar dari kamar Rafa.


Maya segera kembali ke kamarnya, mengambil ponselnya untuk mencocokkan nomor yang ada di ponsel Rafa yang disimpan dengan emoticon hati berwarna merah dengan nomor Tiara yang Maya simpan di ponselnya.


Benar saja, itu adalah nomor yang sama. Artinya, Rafa menyimpan nomor Tiara di ponselnya dengan emoticon hati berwarna merah.


Seketika Maya terdiam. Ia tidak menyangka jika perempuan yang selalu Rafa banggakan adalah Tiara, gadis yang merupakan anak salah satu kliennya yang sudah meninggal.


"Seharusnya aku tau sejak melihat mereka bertemu, Tiara yang tiba tiba menjadi pendiam saat Rafa datang, wajahnya yang tiba tiba pucat dan Rafa...... Rafa menatap Tiara dengan sangat dalam, itu bukan tatapan seseorang yang baru bertemu, itu adalah tatapan sebuah cinta dan penyesalan!"


Maya menghela nafasnya panjang. Kini ia sudah yakin jika perempuan yang berhasil membuat Rafa jatuh cinta adalah Tiara, sudah tidak ada keraguan lagi dalam hatinya.


"Aku harus bertemu dengannya," ucap Maya lalu menghubungi Tiara.


Di sisi lain, Tiara masih merasa enggan untuk berangkat ke kantor. Ia sudah tidak peduli lagi pada hukuman yang akan ia dapatkan jika ia tidak masuk ke kantor tanpa alasan.


Saat Tiara baru saja mengaktifkan ponselnya, tiba tiba sebuah pesan masuk dari Maya. Tiarapun begitu terkejut dan segera membuka pesan itu.

__ADS_1


"Aku sudah menghubungimu beberapa kali tetapi tidak tersambung, tolong balas jika kau sudah membaca pesan ini, aku ingin bertemu denganmu Tiara, ada yang harus kita bicarakan!"


Tiara terdiam, ia ragu apakah dia harus menemui Maya atau tidak.


__ADS_2