Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Dosen Pembimbing Baru


__ADS_3

Tiara berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan harapan mama tirinya tidak mengetahui bahwa dirinya semalam kabur dari rumah.


Dengan ragu Tiara berjalan melewati sang mama yang sedang berada di ruang tengah saat itu.


Namun sampai Tiara menaiki tangga, mama tirinya hanya diam seolah tidak mempedulikan Tiara, membuat Tiara bisa bernafas lega.


"sepertinya mama tidak tahu tentang kejadian semalam," ucap Tiara dalam hati lalu masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


"Aaahhh rasanya aku sangat merindukan ranjang ini, padahal baru saja aku meninggalkannya," ucap Tiara sambil berguling guling di atas ranjangnya.


"Padahal aku keluar dari rumah hanya semalam tapi sudah banyak kejadian menyebalkan yang terjadi, lalu apalagi yang akan terjadi jika aku benar-benar kabur dari rumah untuk selamanya?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Baru saja Tiara hendak memejamkan matanya, sebuah panggilan membuat Tiara segera mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.


Tanpa ragu Tiara segera menggeser tanda panah hijau dan menerima panggilan itu


"Selamat pagi Bu, Tiara siap untuk bimbingan skripsi hari ini," ucap Tiara penuh semangat.


"Baiklah kalau begitu, cepat datang ke kampus sekarang juga, saya ingin memperkenalkanmu dengan dosen baru yang akan menjadi pengganti saya!" ucap dosen pembimbing Tiara.


"Sekarang Bu?" tanya Tiara memastikan.


"Saya akan memberi waktu 30 menit, jika kau terlambat jangan salahkan saya jika kau tidak akan bisa bertemu dengan dosen pembimbingmu!"


"Baik bu, saya segera berangkat sekarang juga!" ucap Tiara lalu segera beranjak dari ranjangnya.


"Sepertinya aku tidak perlu mandi," ucap Tiara lalu masuk ke kamar mandi hanya untuk menggosok gigi dan membasuh wajahnya.


Setelah berganti pakaian dan memakai make up tipis, Tiarapun segera meraih tasnya lalu keluar dari rumah untuk menunggu bus di halte.


Tepat pada jam 8 pagi Tiara sudah sampai di kampusnya, iapun mencari dosen pembimbingnya yang akan memperkenalkannya pada dosen pembimbing barunya.


"Padahal Tiara sudah berusaha untuk tidak terlambat loh bu, tapi dosen pembimbing pengganti ibu malah terlambat, bukankah dia tidak profesional?" protes Tiara.


"Jangan banyak protes Ra, dosen pembimbingmu kali ini mungkin akan lebih tegas daripada saya!"

__ADS_1


Tiara hanya mengganggu-anggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, tak lama kemudian seorang laki laki datang dan berjalan ke arahnya.


"Kau.... laki laki mesum, apa yang kau lakukan disini?" tanya Tiara yang segera beranjak dari duduknya, membuat dosen pembimbingnya segera menarik tangan Tiara agar kembali duduk.


"Kau ini mahasiswa Tiara, dimana sopan santunmu?" ucap dosen pembimbing Tiara.


"Maafkan saya bu, tapi laki-laki mesum ini....."


"Apa maksudmu Ra, beliau ini adalah dosen pembimbing pengganti yang kau tunggu!"


Seketika Tiara terdiam tanpa mampu mengatakan apapun, jika saja bisa ia ingin segera menghilang dari tempat itu saat itu juga.


"Maafkan Tiara pak, dia memang sedikit ceroboh tapi sebenarnya dia cukup pintar, hanya saja dia mudah kehilangan konsentrasinya," ucap dosen pembimbingnya pada laki-laki yang berdiri di sampingnya.


"Tidak apa bu, saya mengerti," balasnya lalu duduk di hadapan Tiara.


"Baik kalau begitu pak, saya permisi."


Sekarang hanya ada Tiara bersama dosen yang sudah dipanggilnya laki-laki mesum beberapa saat yang lalu. Menyadari kesalahannya Tiara hanya terdiam dengan menundukkan kepalanya tanpa berani menatap dosen muda di hadapannya.


"Tiara Anastasia, jurusan manajemen fakultas ekonomi dan bisnis, baiklah mari kita mulai dengan perkenalan singkat, nama saya Rafa Yudistira, terserah kamu mau memanggil saya seperti apa asalkan jangan memanggil saya laki-laki mesum karena itu sangat menjatuhkan harga diri saya!" ucap Rafa dengan penuh ketegasan di setiap kalimatnya.


"Sepertinya ada beberapa hal yang harus kita luruskan sebelum kita memulai bimbingan," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Karena kau sudah memasuki mobil saya tanpa izin sepertinya saya akan membawamu ke kantor polisi," ucap Rafa yang membuat Tiara segera mengangkat kepalanya.


"Ke kantor polisi?" tanya Tiara mengulangi ucapan Rafa.


Rafa hanya tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya, membuat Tiara mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan sikap Rafa.


"Saya hanya bercanda, saya hanya tidak ingin kau terus menundukkan kepalamu di depan saya," ucap Rafa.


"Saya minta maaf Pak, malam itu saya benar-benar tidak sengaja memasuki mobil Pak Rafa dan saya tertidur disana sampai pak Rafa sampai di rumah, saya juga tidak bermaksud untuk menyebut Pak Rafa laki-laki..... mesum," ucap Tiara dengan memelankan suaranya di akhir kalimatnya.


"Baiklah saya menerima permintaan maafmu, tapi apa yang kau lakukan di kafe dari malam sampai pagi? bukankah pegawai kafe itu sudah memintamu pergi?"


"Maaf Pak itu masalah pribadi saya dan sepertinya bapak tidak berhak untuk menanyakan hal itu pada saya," ucap Tiara tanpa menjawab pertanyaan Rafa.

__ADS_1


"Oke baiklah, mari kita mulai bimbingan hari ini."


Tiara menganggukkan kepalanya lalu mengeluarkan semua yang ia butuhkan untuk bimbingan skripsinya.


Waktupun berlalu, sesi bimbingan skripsipun sudah selesai.


"Saya akan menghubungimu untuk jadwal selanjutnya, sekarang pergilah!" ucap Rafa pada Tiara.


"Apa Pak Rafa mempunyai nomor HP saya?" tanya Tiara.


"Tentu saja, saya bahkan bisa dengan mudah mengetahui dimana tempat tinggalmu," jawab Rafa yang sibuk dengan laptop di hadapannya.


"Ciiihhh, sombong sekali," batin Tiara dalam hati lalu segera beranjak dari duduknya.


"Saya bisa mengetahuinya karena saya dosen disini bukan karena saya sombong," ucap Rafa yang membuat Tiara membelakakan matanya tak percaya karena Rafa bisa mendengar suara hatinya.


Tiarapun segera berlari pergi meninggalkan Rafa yang hanya tersenyum tipis melihat sikap Tiara.


Baru saja Tiara berjalan beberapa langkah tiba-tiba seseorang menarik tangannya dengan kasar dan membawanya berjalan cepat menaiki tangga ke arah rooftop.


"Kak Bima, lepaskan kak!" ucap Tiara sambil berusaha melepaskan tangannya dari Bima.


"Apa yang kau lakukan semalam Ra? kemana kau pergi? kenapa kau tidak menerima panggilanku?" tanya Bima yang tampak sedang emosi saat itu.


"Jika kak Bima terus seperti ini maka Tiara akan benar-benar pergi dari rumah dan tidak akan kembali ke rumah itu!" ucap Tiara dengan tegas.


"Kau tidak bisa pergi begitu saja Tiara, kau......"


"Tiara!" panggil Rafa yang membuat Tiara dan Bima segera membawa pandangan mereka ke arah Rafa yang berada di bawah tangga.


"Sepertinya kau menjatuhkannya lagi," ucap Rafa sambil memamerkan dompet milik Tiara yang ada di tangannya.


Melihat dompetnya yang ada di tangan Rafa, Tiarapun segera menuruni tangga meninggalkan Bima begitu saja.


"Aahh iya ini milik saya, terima kasih Pak," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Rafa.


"Ikut saya sebentar, saya akan memberikan beberapa list buku yang harus kau baca!" ucap Rafa lalu berjalan pergi bersama Tiara.

__ADS_1


Sedangkan Bima hanya terdiam di tempatnya berdiri melihat Tiara yang pergi bersama Rafa.


__ADS_2