
Melihat raut wajah Rafa yang tampak kesal saat itu, Tiarapun berniat untuk pergi namun saat ia baru saja beranjak dari duduknya Rafa menahan tangan Tiara membuat Tiara kembali duduk.
"Duduklah Ra kau pasti sangat lelah," ucap Rafa lalu meletakkan ponselnya di atas meja yang ada di samping ranjangnya.
"Sepertinya suasana hati kak Rafa sedang buruk, jadi Tiara tidak ingin mengganggu kak Rafa," ucap Tiara
"Kau sama sekali tidak menggangguku, justru aku senang jika kau disini karena dari tadi aku sangat bosan membaca buku ini," balas Rafa.
"Dari mana kak Rafa mendapatkan buku itu? apa sudah ada seseorang yang menjenguk kak Raka?"
"Tidak ada, aku sengaja meminta buku pada temanku yang bekerja sebagai dokter disini," jawab Rafa.
"Waaahh kak Rafa rajin sekali, padahal kak Rafa sedang sakit tetapi masih sempat membaca buku," ucap Tiara.
"Membaca buku adalah hobiku Ra, jadi daripada aku hanya berdiam diri disini lebih baik aku membaca buku," balas Rafa.
"Aaahh ya tentang perempuan yang mencari kak Rafa di kafe, apa kak Rafa tidak ingin menghubunginya terlebih dahulu? siapa tahu ada sesuatu yang penting!"
"Aku akan menghubunginya besok," balas Rafa.
"Chika bilang perempuan itu tampak sangat marah ketika pak Rafa tidak ada di kafe, apa sebelumnya pak Rafa sudah ada janji dengan perempuan itu?" tanya Tiara.
"Tidak aku tidak ada janji dengan siapapun," balas Rafa yang seolah enggan untuk menanggapi pertanyaan Tiara tentang perempuan yang merupakan istrinya itu.
"Tiara tidak menyangka akan menjadi banyak masalah karena Tiara meminta tolong kak Rafa kemarin siang," ucap Tiara yang merasa bersalah.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Ra, ini semua bukan kesalahanmu!"
"Tapi ......"
"Justru aku senang bisa menghabiskan waktu yang lama bersamamu," ucap Rafa memotong ucapan Tiara.
"Kenapa? bukankah seharusnya kak Rafa kemarin melakukan survei di kafe baru?" tanya Tiara.
"Entahlah rasanya menyenangkan menghabiskan waktu di tepi danau bersamamu dan menikmati makanan di pinggir jalan yang sebelumnya tidak pernah aku makan," jawab Rafa.
"Dan akhirnya kak Rafa harus berada di rumah sakit seperti ini karena makanan itu," ucap Tiara.
"Apa kau akan mengajakku makan di tempat seperti itu lagi?" tanya Rafa yang segera dibalas gelengan kepala oleh Tiara.
"Sepertinya Tiara harus menabung lebih banyak jika ingin mengajak Pak Rafa makan di luar," balas Tiara yang membuat Rafa terkekeh.
"Simpan saja uangmu untuk kebutuhanmu Tiara, kau harus ingat bahwa gajimu akan aku potong beberapa persen untuk membayar biaya kuliahmu," ucap Rafa mengingatkan.
"Iya Tiara ingat, Tiara juga bukan tipe perempuan yang suka menghambur-hamburkan uang, apalagi dengan kesibukan Tiara yang seperti sekarang Tiara tidak akan mempunyai cukup banyak waktu untuk berfoya-foya," balas Tiara.
"Baguslah kalau begitu," ucap Rafa dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kak Rafa harus beristirahat, jadi lebih baik Tiara pulang sekarang," ucap Tiara.
"Kalau begitu aku akan memesan taksi untukmu," ucap Rafa lalu kembali mengambil ponselnya dan memesankan taksi untuk Tiara.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya lalu segera meninggalkan Rafa saat taksi yang dipesan Rafa sudah semakin dekat.
Sesampainya di rumah, Tiara segera membawa langkahnya masuk ke dalam kamarnya lalu merebahkan badannya di atas ranjang.
"Hari yang cukup melelahkan," ucap Tiara lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh dan kepalanya.
**
Hari telah berganti, Tiara sudah memutuskan untuk mendatangi acara resepsi pernikahan Gita dan Bima.
Tiarapun meminta izin pada Rafa untuk menghadiri acara yang diselenggarakan pada pagi hari itu.
Tepat jam 08.00 pagi Tiara sudah selesai mempersiapkan dirinya.
"Sepertinya ada yang akan menghadiri pesta," ucap Chika yang berdiri di depan pintu kamar Tiara yang terbuka.
"Iya, aku akan menghadiri acara resepsi pernikahan bersama temanku," balas Tiara.
"Pakaianmu sudah sangat cantik tetapi sepertinya aku harus melakukan sesuatu pada rambutmu," ucap Chika.
"Apa aku harus mengikat rambutku?" tanya Tiara yang segera dibalas gelengan kepala oleh Chika.
__ADS_1
"Apa aku boleh masuk? aku ingin menata rambutmu!"
"Tentu saja, masuklah," balas Tiara.
Chikapun masuk lalu berdiri di belakang Tiara. Chika mulai menyisir dengan pelan rambut panjang Tiara lalu mengambil beberapa ikat rambut kecil dan penjepit rambut.
"Semua mata pasti akan tertuju padamu pagi ini," ucap Chika sambil menata rambut Tiara menjadi sangat indah.
"Sepertinya kau berbakat menjadi hair stylist," ucap Tiara yang membuat Chika terkekeh.
Tak berapa lama kemudian Chikapun selesai menata rambut Tiara lalu mengambil foto bagian belakang rambut Tiara dan menunjukkannya pada Tiara.
"Waahh bagus sekali, dari depan juga terlihat sangat rapi, kau memang berbakat Chika," ucap Tiara memuji.
"Kau berlebihan sekali, sudah cepat keluar sebentar lagi temanmu pasti akan datang!" ucap Chika yang dibalas anggukan kepala Tiara.
Chika dan Tiarapun keluar dan menunggu di teras. Tak berapa lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah tempat tinggal Tiara dan Chika.
Melihat Kevin yang keluar dari mobil, Tiara pun segera menghampiri Kevin.
"Waahh..... kau benar-benar terlihat sangat cantik," ucap Kevin memuji kecantikan sahabatnya.
"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Tiara yang dibalas gelengan kepala oleh Kevin.
"Tentu saja tidak, kau masih tetap menjadi Tiara yang sederhana tetapi kali ini lebih cantik," jawab Kevin dengan mengedipkan satu matanya, membuat Tiara segera memukul lengan Kevin.
"Ayo masuklah, Tuan Putri tidak boleh terlalu lama berada di bawah sinar matahari," ucap Kevin sambil membuka pintu mobilnya.
Tiara hanya terkekeh lalu masuk ke dalam mobil.
"Apa ini mobil barumu?" tanya Tiara pada Kevin yang sudah duduk di belakang kemudi.
"Tentu saja, aku baru membelinya beberapa bulan yang lalu," jawab Kevin.
"Kau sudah berhasil membeli mobil sendiri Kevin, waaahhh kau benar-benar hebat," ucap Tiara dengan bertepuk tangan kecil.
"Kau tahu kenapa aku membeli mobil ini?" tanya Kevin yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.
"Karena Bella tidak pernah mau menaiki motor bersamaku, dia selalu bilang bahwa rambutnya akan berantakan dan bau asap jika dia menaiki motor," ucap Kevin.
"Iya, kau tahu bukan aku sudah memiliki tabungan dari hasil fotografiku!"
"Iya aku tahu, kau memang sangat hebat dalam hal fotografi dan kau hanya mengikuti perintah orang tuamu untuk kuliah di fakultas bisnis, benar bukan?"
"Benar sekali," balas Kevin dengan mengacungkan jempolnya pada Tiara.
"Apa kau tidak gugup Ra?" lanjut Kevin bertanya.
"Sedikit, aku takut akan mengacaukan pesta kak Gita," jawab Tiara.
"Lalu kenapa kau memutuskan untuk datang ke acara ini?" tanya Kevin.
"Aku harus mengembalikan barang pemberian kak Gita karena aku tidak ingin berhutang apapun pada kak Gita," jawab Tiara sambil menunjukkan sebuah paper bag yang ia bawa.
"Kau tidak keberatan bukan jika kita segera pulang setelah aku menyerahkan barang ini pada kak Gita?" lanjut Tiara bertanya pada Kevin.
"Tentu saja tidak, aku akan siap kapanpun kau membutuhkanku," balas Kevin.
"Kau memang teman yang baik Kevin," ucap Tiara yang hanya dibalas senyum tipis oleh Kevin.
Setelah beberapa lama berkendara, Kevin dan Tiara pun sampai di gedung di mana acara resepsi pernikahan Gita dan Bima dilaksanakan.
Dengan ragu Tiara membawa langkahnya menuju ke arah pintu besar salah satu ruangan yang ada di gedung itu.
"aku sudah memutuskan untuk kesini, entah apa yang akan terjadi di depan nanti aku tidak peduli lagi, semangat Tiara ini adalah kali terakhirnya kau bertemu dengan mereka," ucap Tiara dalam hati berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Kevin dan Tiara kemudian memasuki salah satu ruangan yang sangat luas itu dan melihat sudah banyak tamu undangan yang datang.
Tiara segera membawa pandangannya ke arah pelaminan, tempat Gita dan Bima berdiri menyambut tamu-tamu yang menyapa mereka.
Saat Tiara akan membawa langkahnya ke arah pelaminan tiba-tiba seseorang menarik tangan Tiara.
"Mama Laras!" ucap Tiara terkejut.
__ADS_1
"Ikut mama," ucap Mama Laras sambil menarik tangan Tiara menjauh dari kerumunan.
"Kenapa kau pergi dari rumah Tiara? kau harus kembali ke rumah jika kau masih menganggap aku adalah mamamu," ucap Mama Laras dengan memegang kedua bahu Tiara.
Tiara tersenyum tipis lalu melepas kedua tangan Mama tirinya dari bahunya.
"Kenapa Mama tiba-tiba seperti ini? bukankah dari dulu mama selalu mengancam ingin mengusir Tiara dari rumah?" balas Tiara bertanya.
"Mama seperti itu hanya karena mama merasa kesal padamu, bukan berarti mama membencimu Tiara, jadi Mama mohon kembalilah ke rumah," ucap Mama Laras.
"Mama tidak perlu bersikap seperti ini pada Tiara, Tiara lebih suka Mama Laras bersikap seperti biasanya dan apa adanya, lagi pula kak Gita sudah menceritakan semuanya pada Tiara jadi Mama Laras tidak perlu berpura-pura lagi di depan Tiara," ucap Tiara.
"Itu hanya kesalahpahaman saja Tiara, semua yang Gita bicarakan itu tidak benar," balas Mama Laras.
"Apapun itu Tiara sudah tidak peduli lagi ma, Tiara sudah mengambil keputusan yang besar dalam hidup Tiara jadi Tiara tidak akan dengan mudah merubahnya, kembali ke rumah itu adalah hal yang paling mustahil dalam hidup Tiara," ucap Tiara lalu hendak melangkah pergi.
"Apa seperti ini balas budimu padaku yang sudah merawatmu selama ini Tiara?" tanya Mama Laras yang membuat Tiara menghentikan langkahnya lalu membawa langkahnya ke arah sang mama tiri.
"Apakah rumah itu belum cukup untuk menjadi bayaran bagi Mama yang sudah merawat Tiara? bukankah rumah itu sekarang sudah menjadi milik mama dan kak Gita? bukankah Mama sudah berhasil merebut seluruh warisan papa yang papa tinggalkan untuk Tiara?" balas Tiara bertanya yang membuat Mama Laras terdiam tak bisa berkata-kata lagi.
"Tiara tidak akan memperebutkan warisan itu dengan mama dan kak Gita, walaupun itu adalah peninggalan dari papa untuk Tiara, Tiara yakin takdir akan membawa kebaikan pada siapapun yang bersikap baik, begitu juga sebaliknya, Tiara permisi," ucap Tiara lalu menundukkan kepalanya kemudian berjalan pergi meninggalkan Mama Laras begitu saja.
Tiara kemudian membawa langkahnya ke arah pelaminan dengan senyum cantik di wajahnya.
Gita dan Bima begitu terkejut saat mereka melihat Tiara yang berjalan ke arah mereka, Bima yang memang berniat untuk mengundang Tiara ke acara resepsi itu mengurungkan niatnya karena paksaan Gita yang tidak ingin bertemu Tiara.
Gitapun seketika membawa pandangannya ke arah Bima dengan pandangan kesal karena ia berpikir bahwa Bima mengundang Tiara untuk datang ke acara resepsi mereka.
Gita semakin kesal saat menyadari bahwa Bima menatap Tiara tanpa berkedip karena memang kecantikan Tiara semakin terlihat dengan polesan make up flawless dan tatanan rambut yang membuatnya semakin cantik bak Putri istana.
"Tiara kesini hanya ingin mengembalikan barang ini pada kak Gita, anggap ini sebagai pertemuan terakhir kita karena apapun yang terjadi Tiara tidak akan pernah kembali lagi ke rumah," ucap Tiara sambil memberikan bingkisannya pada Gita.
"Aku tidak peduli, lagi pula aku tidak pernah mengundangmu untuk datang kesini," balas Gita.
"Kalau bukan karena Mama Laras yang mengundang Tiara kesini, Tiara juga tidak akan datang," balas Tiara.
Tiara kemudian membawa langkahnya melewati Bima namun tiba-tiba Bima menahan tangan Tiara, membuat Tiara seketika menghentikan langkahnya dan menarik tangannya dari Bima.
"Apa kau tidak akan memberikan selamat pada kita?" tanya Bima dengan senyum nakalnya.
"Selamat untuk kak Gita dan kak Bima, semoga kalian menjadi keluarga yang harmonis," ucap Tiara dengan penuh senyum lalu membawa langkahnya menuruni pelaminan.
Bimapun hanya tersenyum menatap Tiara yang semakin jauh darinya.
"Apa kau tidak sadar ada istrimu yang berdiri disampingmu?" tanya kita kesal melihat sikap Bima.
"Apa kau tidak melihat bahwa dia begitu cantik? kenapa aku baru menyadari bahwa dia sangat cantik," balas Bima bertanya yang membuat Gita semakin kesal.
Di sisi lain Tiara yang akan keluar dari ruangan itu segera dicegah oleh Mama Laras.
"Setidaknya kita harus berfoto sebagai keluarga," ucap Mama Laras pada Tiara.
"Sebagai keluarga? apa Mama yakin?" balas Tiara bertanya.
"Kau memang sudah keluar dari rumah, tetapi identitasmu masihlah berada di dalam kartu keluarga yang sama, jadi kau tetap menjadi bagian dari keluarga ini Tiara," ucap Mama Laras.
"Apa Mama tidak melihat bagaimana raut wajah kak Gita yang kesal melihat kak Bima yang selalu menatap Tiara seperti itu?" tanya Tiara dengan membawa pandangannya ke arah pelaminan.
"Jangan menghiraukan mereka berdua, setidaknya kita mempunyai kenang-kenangan indah sebagai keluarga meskipun hanya dalam bentuk foto," balas Mama Laras.
"Maaf ma, Tiara......"
"Tiara!" panggil mama Bima yang tiba-tiba saja menghampiri Tiara.
"Akhirnya kau datang Tiara, ayo kita berfoto di pelaminan!" ajak mama Bima.
"Maaf Tante, Tiara harus segera pergi sekarang," balas Tiara berusaha menolak.
"Hanya sebentar saja Tiara, orang-orang akan menganggap keluarga kita bermasalah jika kau tidak ikut berfoto," ucap Mama Bima berusaha membujuk Tiara.
Pada akhirnya Tiarapun pasrah dan ikut berfoto bersama Gita, Bima, Mama Laras dan keluarga Bima.
Meskipun ia melakukannya dengan terpaksa tetapi Tiara masih bisa memberikan senyumnya di depan kamera lalu segera membawa langkahnya pergi dari tempat itu bersama Kevin.
__ADS_1
Sedangkan Mama Laras hanya tersenyum senang dan meminta sang fotografer untuk mencetak foto itu lebih banyak daripada yang lain.
"Dengan foto ini pengacara akan percaya bahwa kita adalah keluarga yang bahagia," ucap Mama Laras dengan tersenyum tipis.