
Tiara dan Putra baru saja menyelesaikan makan malam mereka, Putra kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan restoran itu bersama Tiara.
"Apa kau tidak keberatan jika kita pergi ke taman sebentar?" tanya Putra yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.
Putra kemudian mengendarai mobilnya ke arah taman yang berada tidak begitu jauh dari tempat tinggal Tiara.
Sesampainya disana mereka berjalan di sekitar taman dengan lampu temaram yang berada di beberapa sudut taman.
Mereka memilih untuk duduk di salah satu kursi yang ada di bawah lampu taman.
"Apa kau tidak pernah berniat untuk pulang ke Indonesia Tiara? sudah lebih dari 3 tahun kau berada disini dan kau sama sekali tidak pernah pulang," tanya Putra pada Tiara.
"Tiara tidak memiliki tujuan apapun disana kak, jadi untuk apa Tiara pulang kesana," jawab Tiara.
"Apa kau baik-baik saja dengan hal itu?" tanya Putra.
"Tiara hanya bisa berusaha menjalani semua ini dengan baik-baik saja, jikapun Tiara kembali kesana hanya ada makam Mama dan papa yang menunggu Tiara," jawab Tiara.
"Makam mereka mungkin berada disana, tapi aku yakin mereka selalu ada di hatimu, benar begitu bukan?"
"Benar sekali," balas Tiara dengan menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Aku juga sama sepertimu Tiara, aku kehilangan orang tuaku sejak aku masih kecil, meskipun aku merasa waktu bersama orang tuaku sangat singkat tetapi sangat banyak kenangan indah yang tidak akan pernah aku lupakan," ucap Putra.
"Tidak akan ada yang bisa menghapus kenangan indah itu kak, karena dia akan selalu ada selama kita masih bernafas di bumi ini," ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Putra.
"Jika bukan karena orang tua Rafa mungkin aku tidak akan berada disini, mungkin aku tidak akan menjalani hidupku dengan sebaik ini," ucap Putra.
"Apa sebegitu berpengaruhnya orang tua kak Rafa dalam kehidupan kak Putra?" tanya Tiara.
"Aku bahkan menganggap mereka sebagai orang tua keduaku, karena kebaikan mereka padaku yang sudah menganggapku seperti anak mereka sendiri, sejak orang tuaku meninggal aku tinggal di panti asuhan dan orang tua Rafa datang untuk membawaku keluar dari panti asuhan."
"Jadi orang tua kak Rafa mengadopsi kak Putra?" tanya Tiara yang terkejut mendengar cerita Putra.
"Tidak, mereka membawaku keluar dari panti asuhan setelah aku lulus SD, karena orang tua Om Adam dan tante Rossa tidak mengizinkan untuk mengangkatku sebagai anak mereka akhirnya om Adam dan tante Rossa memberikan sebuah rumah untuk aku tinggali, rumah yang terpisah dengan rumah tempat Rafa tinggal," jelas Putra.
"Tapi tidak mungkin kak Putra tinggal sendirian bukan?" tanya Tiara yang semakin penasaran dengan cerita Putra.
"Tentu saja tidak, aku tinggal di rumah itu bersama beberapa orang, mereka setiap hari membersihkan rumah itu, menyiapkan semua kebutuhanku dan merawatku dengan sangat baik sampai aku tumbuh remaja dan mulai bisa bertanggung jawab atas diriku sendiri," jawab Putra.
"Apa orang tua kak Rafa yang mempekerjakan mereka?" tanya Tiara.
"Iya mereka adalah orang-orang kepercayaan orang tua Rafa, aku juga di sekolahkan di sekolah yang sama dengan Rafa dan aku bersahabat dengan Rafa, kemanapun Rafa pergi berlibur orang tuanya selalu mengajakku, kita sudah seperti saudara kembar saat itu," balas Putra.
"Sampai akhirnya aku membuat kesalahan yang bodoh yang membuat Rafa menjauhiku, tapi sekarang aku sangat bersyukur karena dia sudah memaafkan kebodohanku di masa lalu," lanjut Putra.
"Jika orang tua Om Adam dan tante Rossa menyetujui untuk mengadopsi kakak, mungkin kak Putra dan kak Rafa akan benar-benar menjadi saudara sekarang," ucap Tiara.
"Kau benar dan mungkin akan lebih canggung saat aku dan Rafa bertengkar jika kita benar-benar menjadi saudara yang tinggal dalam satu rumah," balas Putra.
"Apa kak Putra tidak pernah bertanya kenapa Om Adam dan tante Rossa sangat baik pada kak Putra? tentunya selain karena kak putra adalah anak dari sahabat Om Adam dan tante Rossa!"
"Aku tidak pernah menanyakan hal itu, aku hanya berpikir jika mungkin mereka kasihan padaku yang hanya sebatang kara dan karena mereka bersahabat dengan orang tuaku, mereka memilih untuk memperlakukanku sebagai anak mereka," jawab Putra.
"Kak Putra beruntung karena masih bisa merasakan kasih sayang keluarga dari orang tua kak Rafa," ucap Tiara.
"Kita memiliki keberuntungan kita masing-masing Tiara, mungkin kau tidak beruntung dengan keluarga tirimu, tetapi kau beruntung karena dengan kemampuanmu kau bisa berada di titik ini sekarang," balas Putra.
Tiara mengernyitkan keningnya saat Putra mengatakan tentang keluarga tirinya, karena ia merasa tidak pernah menceritakan hal itu pada Putra.
__ADS_1
"Sepertinya kak Rafa sudah banyak bercerita pada kak Putra," ucap Tiara.
"Tentu saja, jika kita sudah bersahabat sama sekali tidak ada rahasia di antara kita," balas Putra.
"Termasuk masalah pribadi Tiara yang kak Rafa tahu?" tanya Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Putra.
Tiarapun hanya menghela nafasnya tanpa mengatakan apapun, ia tidak menyangka jika kembalinya persahabatan Putra dan Rafa membuat Rafa menceritakan semua hal tentangnya pada Putra.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk melupakan Rafa, Tiara," ucap Putra yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Putra.
"Sudah bertahun-tahun kalian tidak saling bertemu bahkan tidak saling berkomunikasi, apa kau sudah berhasil melupakannya?" lanjut Putra bertanya.
Tiara hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, meskipun ia sudah berdamai dengan hatinya tetapi bukan berarti ia benar-benar sudah melupakan Rafa.
Entah itu kenangan indahnya bersama Rafa ataupun kekecewaan yang Rafa berikan padanya.
Setidaknya ia lebih bisa mengendalikan hatinya untuk tidak terlalu larut dengan perasaan yang tersisa dalam hatinya.
"Memulai hubungan dengan seseorang yang belum menyelesaikan masa lalunya adalah tindakan yang sangat ceroboh dan aku tidak akan melakukan hal itu," ucap Putra.
"Apa maksud kak Putra?" tanya Tiara tak mengerti
"Selama ini aku berusaha untuk menggantikan posisi Rafa dalam hidupmu Tiara, mungkin kau tidak menyadarinya karena aku sama sekali tidak bisa membuat keberadaan Rafa goyah dalam hatimu," jawab Putra yang membuat Tiara terdiam.
"Aku senang bisa berteman denganmu, tapi apa salah jika aku berharap lebih dari sekedar teman?" tanya Putra.
"Kak..... Tiara......"
"Aku mengerti apa yang aku katakan ini pasti membuatmu tidak nyaman, tetapi memang ini adalah salah satu tujuanku Tiara, memilikimu adalah salah satu tujuan kenapa aku berada disini sekarang," ucap Putra memotong ucapan Tiara.
Tiara masih membisu, ia sadar jika Putra sudah melakukan banyak hal untuknya. Putra yang selalu ada untuknya selalu peduli padanya dan membantu apapun yang dia butuhkan, namun itu sama sekali tidak membuat Tiara menjatuhkan hatinya pada Putra dan itu membuatnya sedikit merasa bersalah.
"Berteman denganmu memang sangat menyenangkan Tiara, tetapi hati kecilku menginginkan lebih, walaupun aku sadar masih ada Rafa yang tersimpan dalam hatimu," balas Putra.
"Tiara sangat berterima kasih atas semua yang sudah kak Putra lakukan untuk Tiara, tapi...... Tiara.... Tiara tidak bisa memutuskan apapun saat ini kak," ucap Tiara.
"Jadi benar kau belum melupakan Rafa? setelah bertahun-tahun kau berada disini tanpa bertemu dan tanpa berkomunikasi dengannya," tanya Putra memastikan.
"Tiara bahkan tidak tahu berapa tahun lagi yang Tiara butuhkan untuk Tiara bisa melupakan kak Rafa, pertemuan kita memang salah tetapi kesalahan itu tidak membuat Tiara bisa melupakan kak Rafa dengan mudah," balas Tiara.
"Lalu apa kau akan kembali padanya?" tanya Putra yang segera dibalas gelengan kepala oleh Tiara.
"Kenapa? bukankah kalian bisa kembali menjalin hubungan? sekarang sudah tidak ada lagi pernikahan yang menghalangi kalian berdua!"
"Tidak semudah itu kak, banyak hal yang harus menjadi pertimbangan, bahkan Tiara tidak yakin apakah Tiara dan kak Rafa bisa kembali seperti dulu," jawab Tiara.
"Sembuhkan dulu hatimu Tiara, jangan memaksakan apapun yang membuatmu ragu, aku yakin cinta tidak akan pernah salah alamat, dia tahu kemana dia harus datang dan kapan dia harus pergi," ucap Putra.
"Dan sekarang adalah waktuku untuk mengusir pergi perasaanku padamu," lanjut Putra dengan tersenyum tipis.
"Maafkan Tiara kak," ucap Tiara yang merasa bersalah.
"Tidak perlu merasa bersalah Tiara, cinta memang tidak bisa dipaksakan, jika takdir sudah berkehendak sejauh apapun usaha yang aku lakukan tidak akan ada hasilnya jika memang pertemananlah yang menjadi garis takdir kita," ucap Putra.
Setelah beberapa lama mengobrol dengan melewati beberapa saat kecanggungan, akhirnya Putrapun mengantar Tiara pulang.
Sesampainya di depan tempat tinggal Tiara, Putra mencegah Tiara agar tidak segera turun dari mobilnya.
"Apapun yang terjadi diantara kita, bisakah kita tetap berhubungan baik untuk selamanya?" tanya Putra pada Tiara.
__ADS_1
"Mungkin akan sedikit canggung tetapi tetap berteman tidak ada salahnya," jawab Tiara dengan tersenyum.
"Aku tidak akan melewati batasanku sebagai temanmu," ucap Putra yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.
**
Pagi itu Rafa mengendarai mobilnya ke arah rumah orang tuanya. Ia sengaja ingin menghabiskan hari Minggunya di rumah orang tuanya.
Sesampainya disana Mama Rafapun segera mengajak Rafa untuk sarapan bersama.
"Tumben sekali kau datang, biasanya tidak pernah libur bahkan di hari Minggu," ucap sang papa pada Rafa.
Rafa hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun dan menikmati sarapannya bersama kedua orang tuanya.
"Kau harus lebih sering datang kemari Rafa, karena setelah kau menikah kau pasti akan sangat jarang menemui Mama dan papa disini," ucap Mama Rafa.
"Bagaimana dengan Maya? apa dia masih menghubungimu?" tanya papa Rafa pada Rafa.
"Beberapa bulan ini dia sudah tidak menghubungi Rafa pa," jawab Rafa.
"Kau memang harus tegas padanya Rafa, jangan sampai dia salah paham jika kau memberinya kesempatan untuk kembali mendekatimu," ucap sang Mama yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Rafa.
Sejak mereka resmi bercerai, Maya memang masih sering menghubungi Rafa namun Rafa sama sekali tidak menghiraukannya bahkan sampai beberapa tahun lamanya Maya masih juga berusaha untuk mendekati Rafa, meskipun Rafa dengan tegas mengabaikannya.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka masih mengobrol di meja makan untuk beberapa lama.
"Sepertinya Putra masih betah sekali berada di Amerika, dia bahkan menolak penawaran papa untuk kembali kesini!" ucap papa Rafa.
"Kenapa papa memintanya untuk kembali?" tanya Rafa.
"Tanyakan saja pada mamamu, mamamu yang mendesak papa untuk meminta Putra kembali bekerja disini," jawab sang papa sambil membawa ekor matanya ke arah sang istri.
"Sudah lebih dari 3 tahun Putra tinggal dan bekerja disana, bukankah itu sudah cukup untuk sekedar mencari pengalaman!" ucap Mama Rafa beralasan.
"Apa mama mengkhawatirkannya?" tanya Rafa pada sang mama.
Mama Rafa menghela nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan Rafa.
"Dulu Putra sangat sering datang kemari bahkan lebih sering daripada kau Rafa, jadi mama merasa sangat kehilangan saat dia sudah tidak pernah lagi datang kesini, Mama memang ingin dia kembali tetapi Mama juga tidak bisa memaksanya," jawab Mama Rafa.
"Sebenarnya apa yang membuat Mama dan papa sangat menyayanginya? bahkan sepertinya mama dan papa lebih menyayangi Putra daripada Rafa, apa jangan-jangan sebenarnya Putra adalah anak mama dan papa?" tanya Rafa yang membuat sang papa terkekeh.
Papa Rafa kemudian menjelaskan pada Rafa bagaimana dekatnya persahabatannya dengan orang tua Putra.
Orang tua Putralah yang membantu papa Rafa merintis perusahaan dari nol. Saat terjadi masalah besar pada perusahaan mereka, orang tua Putra yang berusaha untuk mencari investor di tengah keadaan perusahaan yang sedang memburuk.
Saat itulah terjadi kecelakaan yang menewaskan orang tua Putra. Mama dan papa Rafa merasa sangat bersalah, karena kejadian itu mereka ingin mengadopsi Putra saat itu, namun karena keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan merekapun menunda keinginan mereka untuk mengadopsi Putra.
Sampai akhirnya keadaan ekonomi mereka sudah stabil merekapun mulai mencari keberadaan Putra, namun orang tua mama dan papa Rafa tidak mengizinkan untuk mengangkat Putra sebagai anak mereka karena takut jika hal itu akan menjadi pertanyaan publik yang akan mempengaruhi perusahaan.
"Akhirnya mama dan papa bersepakat untuk membawa Putra keluar dari panti asuhan dan memberinya tempat tinggal bersama dengan orang-orang kepercayaan mama dan papa yang menjaga dan merawatnya," ucap papa Rafa di akhir ceritanya.
"Orang tua Putra memiliki andil yang besar dalam berdirinya perusahaan kita Rafa, jadi Mama dan papa sangat menyayanginya seperti anak kami sendiri, karena hanya itulah yang bisa kami lakukan untuk membalas kebaikan orang tua Putra," ucap Mama Rafa.
Rafa terdiam mendengar cerita mama dan papanya. Selama ini ia hanya tahu jika orang tua putra adalah teman baik orang tuanya, tanpa Rafa tahu hal besar apa yang sudah dilakukan orang tua Putra demi berdirinya perusahaan orang tuanya.
"Itu kenapa Mama dan papa sangat senang saat mengetahui jika kau dan Putra sudah berbaikan dan mama merasa sangat bersalah karena sudah berniat untuk menjodohkan Tiara dengan Putra, padahal Tiara sedang dekat denganmu saat itu, mama harap Tiara tidak menjadi alasan untuk kalian kembali bertengkar," ucap mama Rafa.
"Mama tidak perlu khawatir, Rafa dan Putra sudah sama-sama dewasa sekarang, kita tahu bagaimana kita harus bersikap sebagai orang dewasa," ucap Rafa pada sang mama.
__ADS_1