Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Canggung


__ADS_3

Tiara masih berada di kafe bersama Bima dan Rafa. Kedatangannya untuk menemui Bima sebenarnya hanya untuk mempertegas agar Bima berhenti mencarinya. Namun mendengar pertanyaan Bima seketika Tiara terdiam seolah kehilangan kata-katanya.


"Kau sama sekali tidak berhak menanyakan hal itu pada Tiara!" sahut Rafa yang mengerti keterkejutan Tiara akan pertanyaan Bima.


"Kenapa? apa karena kau berbohong padaku Tiara? apa karena kau sebenarnya masih mencintaiku seperti dulu? apa......"


"Tidak, Tiara tidak berbohong, Tiara memang sudah melupakan semua hal yang terjadi antara Tiara dan kak Bima, mungkin seharusnya kak Bima berterima kasih pada kak Rafa karena kak Rafa yang sudah membantu Tiara untuk melupakan kak Bima," ucap Tiara memotong ucapan Bima.


"Lebih dari 20 tahun kita saling mengenal dan menyayangi Tiara, tidak mungkin kau melupakannya dengan mudah, aku tahu kau hanya berbohong agar aku berhenti mendekatimu!" ucap Bima yang masih tidak mempercayai ucapan Tiara.


"Kau benar, memang tidak mudah untuk membuat Tiara melupakanmu, tapi seiring dengan berjalannya waktu pada akhirnya aku berhasil membuat Tiara melupakanmu dan mungkin membuat Tiara mencintaiku," sahut Rafa dengan membawa pandangannya pada Tiara di akhir kalimatnya, membuat Tiara seketika menoleh ke arah Rafa.


Tiara tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan lalu membawa pandangannya pada Bima.


"Terserah kak Bima akan mempercayainya atau tidak, tapi kedatangan kak Rafa membuat Tiara dengan mudah melupakan kak Bima, membuat Tiara sadar bahwa kak Bima bukanlah laki-laki yang baik untuk Tiara dan Tiara sekarang tahu siapa laki-laki yang tepat untuk Tiara," ucap Tiara dengan membawa pandangannya pada Rafa di akhir kalimatnya.


Rafa dan Tiarapun saling menatap dengan senyum yang jelas tergambar pada raut wajah mereka berdua. Tidak ada yang tahu bahwa dalam senyum itu mereka sedang bergulat menahan degupan jantung yang berdetak dengan cepat.


"Hentikan kebohongan kalian berdua, ini sama sekali tidak lucu, kalian pikir kalian hidup di dunia novel atau sinetron!" ucap Bima yang muak melihat sikap Tiara dan Rafa.


"Tiara juga tidak menyangka jika kisah hidup Tiara akan seperti alur cerita novel ataupun sinetron, Tiara berterima kasih karena kak Bima sudah menjadi tokoh antagonis dalam kisah hidup Tiara," balas Tiara.


"Tiara, kau....."


"Aaahh iya, Tiara menemui kak Bima juga karena Tiara ingin memperingatkan kak Bima atas sikap kak Bima pada kak Gita," ucap Tiara memotong ucapan Bima yang sudah tampak emosi saat itu.


"Apa maksudmu? kenapa kau tiba tiba membicarakan Gita?" tanya Bima tak mengerti.


"Tiara tahu apa yang sudah kak Bima lakukan pada kak Gita, Tiara melihat lebam dan bekas tamparan di wajah kak Gita, itu pasti perbuatan kak Bima bukan?"


"Kau tidak perlu ikut campur dalam masalah rumah tanggaku Tiara!" balas Bima.


"Tiara tidak akan ikut campur, Tiara hanya mengingatkan, jika terjadi sesuatu yang buruk pada kak Gita maka kak Bimalah yang harus bertanggung jawab," ucap Tiara penuh ketegasan di setiap kalimatnya.


"Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menemui Tiara, mulai sekarang kak Bima tidak perlu lagi mencari Tiara apalagi menemui Tiara, Tiara sudah benar-benar melupakan kak Bima, jadi fokus saja pada keluarga kak Bima, Tiara permisi," lanjut Tiara lalu beranjak dari duduknya diikuti oleh Rafa.


Bima hanya terdiam di tempatnya duduk, membiarkan Tiara pergi bersama Rafa. Ia sadar akan kesalahannya pada Tiara, namun ia tidak menyangka jika Tiara akan benar-benar membuangnya begitu saja, mengingat bagaimana Tiara yang mudah luluh padanya sebelum Tiara mengenal Rafa.


"apa mereka benar benar memiliki hubungan? apa mereka hanya berpura pura di depanku?" batin Bima bertanya dalam hati.


Di sisi lain Rafa dan Tiara yang baru saja keluar dari kafe masih saling terdiam tanpa mengucapkan apapun sampai mobil Rafa melaju meninggalkan kafe.


Tak ada satu katapun yang terucap dari Rafa maupun Tiara. Hanya ada kecanggungan yang terjadi di antara mereka berdua setelah apa yang Tiara dan Rafa katakan pada Bima.


"apa yang harus aku katakan sekarang? rasanya benar-benar sangat canggung," ucap Tiara dalam hati.


"Kenapa rasanya canggung sekali? apa aku salah mengatakan sesuatu?" batin Rafa bertanya pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba Tiara menyadari jika mobil Rafa tidak mengarah ke arah tempat tinggalnya.


"Sepertinya kak Rafa salah jalan," ucap Tiara.


"Aahhh iya, kau benar, aku akan memutar balik di depan sana," balas Rafa.


"Jika kak Rafa sedang tidak sibuk bagaimana jika kita pergi ke danau? bukankah ini arah yang sama dengan arah ke danau?"


"Baiklah, kita ke danau sekarang," balas Rafa lalu mengendarai mobilnya ke arah danau yang pernah ia datangi bersama Tiara.


Mereka sampai di danau saat sinar senja mulai menggelayut di ujung barat langit sore.


Setelah keluar dari mobil, Tiarapun segera berlari kecil ke arah dermaga lalu segera duduk di ujung dermaga dengan mengayunkan kakinya ke bawah.


Rafapun hanya berjalan santai mengikuti Tiara lalu duduk di samping Tiara, menikmati lukisan senja yang indah dari sang Pencipta.


"Indah sekali," ucap Tiara sambil menatap hamparan jingga di hadapannya.

__ADS_1


"Kau menyukainya?" tanya Rafa dengan membawa pandangannya menatap Tiara dari samping.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari sinar jingga yang perlahan memudar.


Saat perlahan sinar jingga mulai gelap, Tiara membawa pandangannya pada Rafa. Ia harus meluruskan tentang apa yang ia ucapkan pada Bima beberapa saat yang lalu agar tidak ada kesalahpahaman antara dirinya dan Rafa.


"Tentang apa yang Tiara katakan pada kak Bima di kafe tadi, Tiara minta maaf jika ucapan Tiara membuat kak Rafa tidak nyaman," ucap Tiara pada Rafa.


"Tidak ada ucapanmu yang membuatku tidak nyaman Tiara," balas Rafa.


"Tiara mengatakan hal itu agar kak Bima berhenti mencari Tiara, Tiara tidak ingin terus-menerus menghindar dari kak Bima, Tiara ingin membuat kak Bima yang sengaja menjauh dari Tiara," ucap Tiara.


"Aku mengerti, memang lebih baik seperti itu agar kau tidak terbebani dengan sikap Bima yang terus mendekatimu," balas Rafa yang memahami sikap Tiara beberapa saat yang lalu.


"Tapi ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu," lanjut Rafa yang membuat Tiara kembali membawa pandangannya pada Rafa.


Tiara hanya memasang raut wajah penuh tanda tanya tanpa mengatakan apapun.


"Apa kau benar-benar sudah melupakan Bima atau itu juga kebohongan yang kau katakan agar Bima berhenti mencarimu?" tanya Rafa yang membuat Tiara mengalihkan pandangannya dari Rafa.


"Seperti yang kak Bima katakan, lebih dari 20 tahun Tiara mengenal kak Bima, dibandingkan dengan kecewa Tiara lebih banyak merasa bahagia saat Tiara bersama kak Bima, meskipun pada akhirnya sikap kak Bima sangat menyakiti Tiara, tapi tidak mudah bagi Tiara untuk melupakan semua kenangan bahagia itu," ucap Tiara tanpa menjawab dengan pasti pertanyaan Rafa.


"Bagaimana jika ada seseorang yang mendekatimu dan membantumu melupakan Bima? apa kau bisa membuka hatimu untuknya?" tanya Rafa.


Tiara menggelengkan kepalanya pelan dengan menatap pantulan bulan yang ada di atas danau.


"Tiara tidak tahu kak, Tiara bahkan ragu membuka hati Tiara lagi, cinta pertama yang menyakitkan membuat Tiara takut untuk memulai kembali hubungan baru," jawab Tiara.


"Apa itu artinya kau masih mengharapkan Bima?" tanya Rafa.


"Tentu saja tidak, mungkin memang sulit untuk melupakan semua hal tentang kak Bima, tapi bukan berarti Tiara masih mengharapkan kak Bima, bagi Tiara kak Bima sudah tiada, yang ada hanya kenangannya saja yang akan terhapus dengan seiring berjalannya waktu," jawab Tiara.


Rafa tersenyum dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ada sedikit rasa lega dalam hatinya mendengar jawaban Tiara.


**


"Waaah sepertinya kau bersemangat sekali hari ini," ucap Chika yang akan berangkat ke kafe hari itu.


"Tentu saja, aku sudah absen mengikuti seminar Minggu kemarin, jadi sekarang aku sudah tidak sabar untuk segera mengikuti seminar kedua kalinya," balas Tiara.


Tiara kemudian berjalan ke arah halte untuk menunggu bus yang akan membawanya ke perusahaan tempat dimana seminar akan dilaksanakan.


Tepat jam 7 pagi Tiara sudah berada di depan perusahaan itu.


"Masih ada waktu satu jam sebelum seminar dimulai, sepertinya aku terlalu bersemangat hari ini," ucap Tiara yang hanya berdiri menatap gedung besar dan tinggi di hadapannya.


TIIIIINNNN TIIIIINNNN TIIIIINNNN


Suara klakson mobil membuat Tiara terkejut karena tanpa ia sadar ia berdiri di tengah jalan yang biasa dilewati mobil ke arah tempat parkir.


Tiarapun segera berlari minggir sambil membungkukkan badannya ke arah mobil yang berhenti di depannya, bermaksud untuk meminta maaf atas kecerobohannya yang berdiri di tempat yang tidak seharusnya.


Si pemilik mobil yang ada di balik kemudipun menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum melihat Tiara yang ada di samping mobilnya.


"Pak Putra, maaf pak, Tiara tidak sadar jika berdiri di tengah jalan!" ucap Tiara saat ia menyadari jika si pengemudi mobil itu adalah Putra, laki-laki yang sempat beberapa kali mengobrol dengannya.


"Tunggu aku disini, aku akan segera menemuimu," balas Putra lalu mengendarai mobilnya ke arah tempat parkir.


Tiarapun hanya diam di tempatnya hingga beberapa menit kemudian ia melihat Putra yang berlari kecil ke arahnya.


"Masih ada waktu 1 jam sebelum seminar dimulai, apa kau sudah sarapan?" ucap Putra sekaligus bertanya pada Tiara.


Tiarapun hanya menggelengkan kepalanya pelan karena memang ia tidak sempat sarapan karena terlalu bersemangat untuk segera sampai di tempat seminar.


"Ikutlah denganku, aku akan menunjukkan padamu seenak apa makanan di kantin!" ucap Putra lalu berjalan mendahului Tiara.

__ADS_1


Tiara yang ragu untuk mengikuti Putra hanya terdiam di tempatnya berdiri hingga Putra memanggilnya, membuat Tiara segera berlari kecil mengikuti Putra.


"Memangnya boleh jika Tiara ikut makan di kantin Pak?" tanya Tiara pada Putra.


"Tidak boleh," jawab Putra singkat yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.


"Kalau begitu Tiara menunggu disini saja," ucap Tiara yang hendak berbalik untuk duduk, namun Putra segera menarik tangan Tiara agar kembali mengikuti langkahnya.


"Tidak boleh jika kau tetap memanggilku 'pak', aku tidak setua itu Tiara!" ucap Putra.


"Tapi....."


"Sssstttt..... panggil 'sayang' saja hahaha...." ucap Putra memotong ucapan Tiara.


"Apa Pak Putra memang selalu seperti ini pada semua perempuan?" tanya Tiara yang dibalas gelengan kepala oleh Putra.


"Hanya padamu," ucap Putra dengan mengedipkan satu matanya pada Tiara, membuat Tiara menggelengkan kepalanya pelan.


Akhirnya merekapun sampai di kantin.


"Kau mau makan apa?" tanya Putra pada Tiara.


"Terserah Pak Putra saja," jawab Tiara.


"Kalau begitu kau tidak boleh makan disini," ucap Putra yang lagi lagi membuat Tiara menghela nafasnya melihat sikap Putra.


"Ya sudah Tiara keluar saja," ucap Tiara lalu beranjak dari duduknya, namun Putra segera memegang kedua bahu Tiara dan kembali menundukkan Tiara.


"Aku hanya bercanda, aku hanya tidak suka kau memanggilku seperti itu!" Ucap Putra.


"Tapi rasanya tidak sopan jika Tiara tidak memanggil seperti itu," balas Tiara.


"Aku rasa usia kita tidak terlalu jauh, mungkin aku lebih cocok menjadi kakakmu daripada menjadi papamu, jadi berhenti memanggilku 'Pak', lagi pula aku bukan atasanmu!" ucap Putra.


"Baiklah, kak.... Putra," ucap Tiara ragu.


"Bagus, kau sudah pintar sekarang," ucap Putra lalu memesan coklat hangat dan roti bakar untuk dirinya dan Tiara.


"Aaahh iya, aku masih tidak tahu kenapa kau tidak mengikuti seminar Minggu kemarin, padahal sebelumnya kau terlihat sangat bersemangat bahkan sekarangpun kau terlalu bersemangat sampai kau datang satu jam sebelum acara dimulai!" tanya Putra yang masih penasaran atas ketidakhadiran Tiara pada seminar Minggu lalu.


"Tiara..... Tiara belum diperbolehkan untuk banyak beraktivitas di luar rumah," balas Tiara beralasan.


"Tapi aku melihatmu di taman waktu itu!" ucap putra.


"Tiara baru saja selesai berolahraga disana, Tiara tidak mempunyai alat olahraga di rumah, jadi Tiara memilih untuk berolahraga disana," balas Tiara.


"Kau membuatku kesal karena aku sudah lama menunggumu disini, aku juga khawatir jika kau masih sakit, tapi aku lega karena melihatmu baik-baik saja," ucap Putra.


"Masih sakit? apa maksudnya?" tanya Tiara tak mengerti.


"Apa kau lupa kejadian di kafe atau kau tidak menyadarinya?" balas Putra bertanya yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya tidak mengerti maksud dari pertanyaan Putra.


"Sepertinya kau memang tidak mengerti," ucap Putra dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tanyakan saja pada temanmu siapa yang menolongmu saat kau pingsan di kafe," lanjut Putra sambil menyeruput minuman miliknya.


"pingsan di kafe? bukankah kak Rafa yang menolongku saat itu?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Habiskan makananmu, 15 menit lagi acara dimulai, kita harus segera kembali!" ucap Putra pada Tiara.


Tiarapun menyeruput minumannya sampai habis lalu beranjak dari duduknya dan meninggalkan kantin bersama Putra.


Mereka masuk ke dalam lift yang membawa mereka ke lantai dimana seminar dilaksanakan. Tiara kemudian masuk ke ruangan seminar, sedangkan Putra masuk ke ruangan lain terlebih dahulu.


"Tiara!" panggil Dita, teman baru Tiara.

__ADS_1


Tiarapun membawa langkahnya ke arah Dita. Setelah sedikit berbasa-basi, Tiarapun terdiam memikirkan ucapan Putra padanya.


"Tanyakan saja pada temanmu siapa yang menolongmu saat kau pingsan di kafe!"


__ADS_2