
Di dalam kamar, Rafa sudah menyalakan pemanas sejak tadi, ia tidak memperdulikan bagaimana dinginnya suasana di depan rumah.
Ia lebih memilih untuk menikmati semangkok mie dan coklat panas yang baru saja dibuatnya, mengabaikan Putra yang tengah menggigil di depan rumahnya sendiri.
Setelah menghabiskan mie dan coklat panasnya, Rafapun menaruh mangkok dan gelasnya di dapur kemudian menuju ruang tamu dan membuka pintu rumah Putra.
Rafa hanya tersenyum tipis saat melihat Putra yang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumahnya.
Wajahnya tampak pucat ke abu-abuan karena menahan dingin, namun hal itu tidak membuat Rafa merasa bersalah karena ia memang sengaja melakukan hal itu pada Putra.
"Kau gila? aku hampir mati kedinginan disini!" ucap Putra penuh emosi lalu segera masuk ke dalam rumah.
Rafa hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun lalu kembali mengunci pintu rumah setelah Putra masuk.
Putra yang sudah berhasil masuk ke dalam rumah segera membawa dirinya masuk ke dalam kamar mandi untuk berendam dengan air hangat, sedangkan Rafa hanya membaca buku di atas ranjang Putra.
Setelah beberapa lama berada di dalam kamar mandi, Putrapun keluar lalu segera mengenakan pakaian tebal miliknya.
"Malam ini aku yang akan tidur disini," ucap Putra sambil menarik selimut miliknya yang ada di atas ranjang.
"Tidak bisa, aku tidak bisa tidur di tempat lain selain disini," balas Rafa sambil merebut selimut milik Putra.
"Aku adalah pemilik rumah ini, aku yang lebih berhak untuk tidur disini," ucap Putra yang kembali merebut selimutnya dari Rafa.
"Tapi kau bilang aku boleh tidur disini dan kau bisa tidur di manapun," balas Rafa.
"Kau benar-benar tamu yang tidak sopan, pergilah, aku sudah tidak peduli lagi padamu!" ucap Putra sambil mendorong Rafa agar turun dari ranjangnya.
"Tidak, aku tidak akan pergi, kau sendiri yang memintaku untuk tinggal disini," balas Rafa yang kembali naik ke atas ranjang Putra.
"Aku menyesal sudah memintamu untuk tinggal disini, apa kau tidak sadar apa yang kau lakukan hampir saja membuatku mati kedinginan di luar!" ucap Putra sambil mendorong Rafa dengan kedua kakinya.
"Aku sudah memintamu untuk pergi ke hotel tapi kau sendiri yang memilih tetap berada di luar, jadi itu bukan salahku!" balas Rafa yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Waaahh kau benar-benar keterlaluan!" ucap Putra yang sudah lelah mendorong Rafa agar beranjak dari ranjangnya.
Rafa hanya terkekeh lalu keluar dari kamar Putra. Ia pergi ke dapur untuk membuat semangkok mie dan coklat panas lalu membawanya ke kamar dan menaruhnya di atas meja kamar.
"Sepertinya ini cukup untuk menghangatkan tubuhmu!" ucap Rafa lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
Melihat kepulan asap dari atas mangkok dan gelas yang ada di meja, Putrapun segera menghampiri mejanya dan menikmati semangkok mie serta coklat panas yang baru saja Rafa buat untuknya.
"Asal kau tahu aku bisa melakukan hal yang lebih parah jika kau dengan sengaja menyentuh Tiara di depanku!" ucap Rafa.
"Jadi kau sengaja mengunciku di luar karena melihatku bersama Tiara di kantor tadi?" tanya Putra.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya lagi, kau akan benar-benar menyesal jika kau melakukan hal itu lagi," ucap Rafa tanpa menjawab pertanyaan Putra.
"Sejak kapan kau sangat kekanak-kanakan seperti ini, menggelikan sekali hahaha....!"
**
Hari telah berganti, hari itu Rafa kembali keluar dari rumah Putra untuk diam-diam memperhatikan Tiara dari jauh.
Rafa mengetahui kegiatan Tiara dari Putra, jadi tidak susah bagi Rafa untuk mengetahui dimana Tiara berada.
Untuk sementara hanya itulah yang bisa Rafa lakukan, setidaknya ia bisa menuntaskan rindunya meski hanya sekedar memperhatikan Tiara dari jauh.
Dalam hatinya ia bersyukur karena Tiara bisa menjalani kehidupannya dengan baik setelah semua kekecewaan yang ia berikan pada Tiara.
"Aku akan memberimu waktu untuk menyembuhkan lukamu, setelah itu aku akan kembali padamu dan memulai kembali cerita baru diantara kita," ucap Rafa saat ia mengikuti Tiara yang sedang membaca buku di perpustakaan bersama teman-temannya.
Selama Rafa berada di Amerika, setiap hari hal yang ia lakukan adalah mengikuti Tiara, tidak peduli bagaimana dinginnya suhu disana saat itu, ia tetap mengikuti kemanapun Tiara pergi.
Meskipun beberapa kali ia hampir saja ketahuan oleh Tiara, tetapi ia bisa menyelamatkan dirinya dengan baik.
Hingga akhirnya hari terakhirnya di Amerikapun tiba, seperti biasa ia meninggalkan rumah Putra untuk bertemu dengan Tiara di perpustakaan kota.
__ADS_1
Entah sudah berapa jam ia duduk terdiam dengan buku yang menutupi wajahnya, beberapa kali ia mencuri pandang pada gadis cantik yang duduk tak jauh dari tempatnya.
"Sebentar lagi dia akan keluar," ucap Rafa lalu berjalan keluar terlebih dahulu.
Rafa berlari kecil ke arah toko bunga yang ada di dekat perpustakaan lalu membeli buket bunga mawar yang cukup besar lalu meminta seorang anak laki-laki untuk memberikan buket bunga mawar itu pada Tiara.
Saat Tiara baru saja keluar dari perpustakaan, anak kecil itupun segera memberikan buket bunga mawar merah pada Tiara.
Tiara yang terkejutpun enggan untuk menerima buket bunga itu, namun anak kecil itu meyakinkan Tiara jika bunga itu berasal dari laki-laki baik yang tidak akan mengganggunya.
Karena desakan dari teman-teman Tiara, akhirnya Tiarapun menerima buket bunga itu lalu membawanya pulang bersama teman-teman.
Di sisi lain, Rafa yang memperhatikan hal itu hanya bisa tersenyum senang saat Tiara menerima buket bunga pemberiannya, meskipun ia tidak memberikannya secara langsung.
Meskipun hari-harinya ia habiskan untuk mengikuti Tiara seperti seorang stalker, Rafa tetap mengerjakan pekerjaannya dengan baik, ia masih memantau perkembangan kafe dan laporan pekerjaan yang diberikan oleh asisten pribadinya.
Rafa kemudian kembali ke rumah Putra, menyiapkan barang-barang yang harus kembali ia masukkan ke dalam koper karena ia harus segera pergi ke bandara sebelum malam.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Rafa berdering, sebuah panggilan dari Putra.
"Kapan kau akan berangkat ke bandara?" tanya Putra setelah Rafa menerima panggilannya.
"5 menit lagi," jawab Rafa sambil mengemasi barang-barang miliknya.
"Maaf aku tidak bisa mengantarmu ke bandara, masih ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan," ucap Putra.
"Tidak masalah, aku bisa pergi sendiri, terima kasih atas tumpangannya, lain kali aku akan datang lagi kesini," ucap Rafa.
"Jangan, kau tamu yang sangat merepotkan, lebih baik kau tinggal di hotel saja," balas Putra yang membuat Rafa terkekeh.
Setelah panggilan berakhir Rafapun segera memesan taksi yang akan mengantarnya ke bandara
**
Meskipun ia hanyalah staf biasa disana tetapi dia melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, ia juga sangat pandai bersosialisasi dan sudah memiliki banyak teman baik di tempat kerjanya.
Setelah 6 bulan bekerja pada akhirnya Tiarapun berhasil untuk naik jabatan, ia menjadi manajer di divisi pemasaran dalam waktu yang sangat singkat berkat kegigihan dan kemampuannya yang sangat baik dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Malam itu Tiara baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan keluar dari ruangannya.
"Tiara!" panggil Putra saat Tiara tengah berjalan di lobi.
Tiarapun membawa langkahnya dengan tersenyum pada Putra yang juga berjalan ke arahnya.
"Apa kak Putra sengaja menunggu Tiara?" tanya Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Putra.
"Aku ingin mengajakmu makan malam," ucap Putra.
Putra kemudian mengendarai mobilnya ke arah sebuah restoran yang sebelumnya sudah ia reservasi sejak beberapa hari yang lalu.
"Jika tahu kak Putra akan mengajak Tiara kesini seharusnya Tiara pulang dulu untuk berganti pakaian," ucap Tiara saat ia dan Putra sampai di restoran tempat mereka akan makan malam.
"Kenapa harus berganti pakaian? kau sudah terlihat sangat cantik dengan pakaian kerjamu," balas Putra.
Mereka kemudian menikmati makan malam mereka. Tak jauh dari tempat mereka duduk ada sebuah pasangan yang juga sedang menikmati makan malam mereka bersama dengan beberapa orang yang memainkan alat musik di dekat mereka.
"Mereka romantis sekali," ucap Putra sambil membawa pandangannya ke arah pasangan itu.
"Tapi jika Tiara yang berada di posisi itu Tiara akan merasa tidak nyaman," ucap Tiara.
"Kenapa?" tanya Putra terkejut.
"Romantis menurut Tiara bukan yang seperti itu, hanya diam di ujung dermaga menatap langit senja berdua dengan pasangan bagi Tiara sudah merupakan hal yang romantis, menikmati guguran daun-daun di musim gugur itu juga sebuah keromantisan yang sederhana tapi susah untuk dilupakan," jelas Tiara.
"Apa kau sedang menceritakan apa yang pernah kau lakukan dengan Rafa?" tanya Putra yang membuat Tiara gugup
__ADS_1
"Tidak..... Tiara..... Tiara hanya membayangkannya saja," jawab Tiara beralasan.
"Duduk berdua di ujung dermaga danau, menatap senja dan menikmati daun-daun yang jatuh di musim gugur di kota Tokyo, sepertinya itu cerita yang tidak asing," ucap Putra yang membuat Tiara terkejut.
"Dari mana kak Putra tahu?" tanya Tiara.
"Rafa sudah menceritakan semuanya padaku Tiara, semua hal tentangmu, semua hal tentang kalian berdua, Rafa sudah menceritakannya padaku," jawab Putra.
"Sejak kapan kalian berdua menjadi dekat? bukankah kak Putra dan kak Rafa bermusuhan?"
"Kita sudah bersahabat sejak lama Tiara, aku bahkan tidak pernah menganggap jika aku pernah bermusuhan dengan Rafa, meskipun pada kenyataannya Rafa pernah menjauhiku tetapi aku tetap menganggapnya sebagai sahabat baikku dan sekarang kita sudah menjadi sahabat baik seperti dulu," jawab Putra menjelaskan.
"Benarkah? sejak kapan?" tanya Tiara penasaran.
"Mmmmm....... mungkin sejak hari wisudamu," jawab Putra yang membuat Tiara semakin terkejut, karena Putra sama sekali tidak pernah menceritakan tentang hal itu padanya.
Selama ini ia berpikir jika Putra dan Rafa masih belum berbaikan.
"Semua hal itu ada masanya Tiara, batu yang terkena tetesan hujanpun lama-kelamaan akan berlubang dan kesedihanmupun juga pasti akan berakhir jika kau benar-benar sudah berdamai dengan hatimu sendiri," ucap Putra.
Tiara hanya terdiam, tak dapat dipungkiri bertahun-tahun ia hidup tanpa Rafa namun pada kenyataannya nama Rafa tetap tersimpan dalam hatinya, bahkan keberadaan Putra, kepedulian dan kebaikannya sama sekali tidak menggoyahkan nama Rafa dalam hatinya.
Setelah sekian lama berusaha untuk berdamai dengan hatinya sendiri, Tiarapun sudah mulai bisa mengendalikan perasaannya.
Ia tidak akan berusaha terlalu keras untuk melupakan Rafa, ia akan membiarkan Rafa perlahan pergi dari hati ataupun ingatannya.
Rasa sedih dan kecewa yang dahulu selalu berjalan beriringan dengannya kini perlahan telah memudar setelah ia berhasil berdamai dengan hatinya sendiri, menerima semua takdir yang sudah digariskan untuknya.
Kini Tiara hanya berusaha untuk menjalani kehidupannya dengan baik, berusaha untuk meraih mimpi-mimpi barunya dengan berbagai kesempatan yang ia miliki.
Hingga akhirnya satu tahunpun berlalu, Tiara sudah menjalani 1 tahunnya sebagai manajer perusahaan cabang yang berada di Amerika.
Di tahun keduanya, Tiara diberi kesempatan untuk kembali ke negara asalnya. Untuk beberapa saat ia ragu apakah ia harus mengambil kesempatan itu atau tidak, mengingat dirinya masih ragu untuk bertemu dengan Rafa.
"Apa kau tidak akan mengambil kesempatan itu Tiara?" tanya Putra pada Tiara.
"Tiara masih ragu kak," jawab Tiara.
"Kesempatan itu akan sangat mempengaruhi karirmu Tiara, setelah 1 tahun kau kembali ke perusahaan utama kau akan mendapatkan rekomendasi untuk menjadi direktur, kau tahu bukan itu adalah kesempatan emas yang tidak semua orang miliki!"
Tiara menganggukkan kepalanya pelan, namun ia masih ragu apakah ia bisa menjalani hari-harinya yang pasti akan berada satu kantor dengan Rafa nantinya.
"Apa Rafa yang membuatmu ragu?" tanya Putra
"Apa menurut kak Putra kak Rafa sudah melupakan Tiara? mengingat sudah bertahun-tahun kita tidak pernah bertemu ataupun hanya sekedar saling berkomunikasi," balas Tiara bertanya.
"Kau akan tahu jawabannya setelah kau bertemu dengannya nanti," jawab Putra.
"Apa kau akan kecewa jika Rafa sudah melupakanmu?" tanya Putra membuat Tiara diam untuk beberapa saat.
"Mungkin memang lebih baik kak Rafa melupakan Tiara, dengan begitu kita bisa bekerja dengan lebih profesional jika kita bertemu sebagai partner kerja nantinya," jawab Tiara.
"Apa kau yakin?" tanya Putra memastikan karena ia masih melihat keraguan dari raut wajah Tiara.
"Pasti akan ada kecanggungan saat kita baru pertama kali bertemu nanti, tetapi jika kita sama-sama sudah melupakan masa lalu yang buruk itu Tiara yakin waktu akan membuat semuanya lebih baik," jawab Tiara.
"Jika kau yakin lalu apa yang membuatmu ragu untuk mengambil kesempatan itu?" tanya Putra.
Tiara hanya terdiam, entah kenapa berat baginya untuk kembali ke negara asalnya, mengingat banyak memori kekecewaan dan kesedihan yang tertinggal disana.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi antara dirinya dan Rafa jika mereka kembali bertemu, terlebih jika Maya tiba-tiba datang menemuinya, entah apa yang akan Maya katakan padanya.
"Ini adalah kesempatan besar yang tidak semua orang memilikinya Tiara, aku bahkan membutuhkan waktu lebih lama darimu untuk bisa berada di posisi direktur, karena aku dulu tidak seberuntung dirimu yang bisa mendapatkan kesempatan bekerja di perusahaan cabang yang ada disini," ucap Putra.
"Lalu bagaimana dengan kak Putra? apa kak Putra juga akan pindah dari sini?" balas Tiara bertanya.
"Aku tidak bisa datang dan pergi sesukaku Tiara, entah sampai kapan aku berada disini aku hanya bisa menunggu keputusan dari para atasan," jawab Putra.
__ADS_1