
Rafa dan Tiara berjalan keluar meninggalkan kafe. Rafa kemudian mengantar ke Tiara pulang ke tempat tinggalnya.
"Terima kasih sudah mengantar Tiara pulang kak, terima kasih juga sudah membantu Tiara," ucap Tiara sebelum ia turun dari mobil Rafa saat mereka sudah sampai di depan tempat tinggal Tiara.
"Beristirahatlah dan jangan terlalu memikirkan Bima," balas Rafa.
Tiara menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu keluar dari mobil Rafa, sedangkan Rafa segera mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.
Sesampainya Rafa di rumah, ia segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumah dan begitu terkejut saat melihat keadaan rumahnya.
Rafapun segera berlari ke arah kamar Maya dan mengetuk pintu kamar Maya dengan kencang, membuat Maya segera membuka pintu kamarnya karena merasa terganggu oleh keributan yang Rafa buat.
"Aku tidak tuli Rafa, kau bisa mengetuknya dengan pelan!" ucap Maya kesal.
"Apa yang sudah kau lakukan? kenapa banyak foto pernikahan di ruang tamu?" tanya Rafa pada Maya.
"Apa kau terburu-buru menemuiku karena hanya ingin menanyakan hal itu?" balas Maya bertanya lalu berbalik dan mengambil koper besar yang sudah ada di atas ranjangnya.
"Mama dan papa sebentar lagi akan tiba, mereka akan menginap disini, jadi malam ini aku akan tidur di kamarmu," lanjut Maya sambil membawa koper besar miliknya keluar dari kamar.
"Apa maksudmu? kenapa kau tidak melarang mereka untuk menginap disini?" tanya Rafa sambil menahan tangan Maya.
"Aku sudah berusaha melarang mereka Rafa, tapi mama terus memaksa dan tidak mendengarkan ucapanku," balas Maya.
"Seharusnya kau......"
Rafa menghentikan ucapannya saat ia mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya.
"Kita tidak punya banyak waktu Rafa, aku harus membawa barang-barangku ke kamarmu," ucap Maya yang mulai panik.
"Apa kita harus tidur satu kamar malam ini? bukankah ada kamar lain yang bisa ditempati mama dan papamu?" tanya Rafa yang merasa tidak nyaman jika Maya tidur di kamarnya.
"Apa kau bodoh Rafa? Mama dan papa pasti akan curiga jika mereka tahu bahwa kita tidur di kamar yang berbeda," balas Maya.
"Tapi....."
"Hanya malam ini saja Rafa, akan aku pastikan Mama dan papa pergi dari rumah ini besok pagi," ucap Maya memotong ucapan Rafa.
Rafa mengacak acak rambutnya kasar lalu membuka pintu kamarnya untuk Maya.
"Kau melarangku masuk ke kamarmu seolah kau menyembunyikan perempuan lain di kamarmu," gerutu Maya setelah ia meletakkan koper besarnya di ranjang Rafa.
"Aku tidak nyaman jika seseorang memasuki tempat pribadiku," balas Rafa.
"Aku juga tidak akan masuk ke kamar ini jika bukan karena terpaksa," ucap Maya kesal lalu berjalan keluar dari kamar Rafa.
Rafa hanya bisa menghela nafasnya lalu mengikuti Maya berjalan keluar untuk menyambut kedatangan mertuanya.
"Selamat datang di rumah Maya ma pa," ucap Maya sambil memeluk mama dan papanya bergantian diikuti oleh Rafa.
"Mama dan papa duduklah dulu, Maya akan membuatkan minum!" ucap Maya lalu berjalan ke arah dapur.
"Rafa akan membawa barang-barang Mama dan papa ke kamar," ucap Rafa sambil membawa tas besar milik Mama Maya untuk ia bawa ke kamar yang biasa ditempati oleh Maya.
"Rumah kalian bersih sekali, kalian bahkan tidak memiliki banyak barang-barang, seperti rumah yang baru ditempati saja," ucap Mama Maya saat Maya dan Rafa sudah duduk bersama mereka.
"Maya dan Rafa sibuk bekerja ma, jadi tidak sempat untuk mengurus rumah, hanya ada bibi yang setiap pagi datang dan pulang saat sore untuk menjaga dan membersihkan rumah," balas Maya.
"Mungkin seharusnya kau beristirahat Maya, biarkan Rafa yang bekerja untukmu," ucap sang mama yang tentu saja tidak disetujui oleh Maya.
"Apa yang terjadi padamu Rafa? apa kau baru saja bertengkar?" tanya papa Maya yang melihat luka di sudut bibir Rafa.
"Aahh ini..... ada sedikit kesalahpahaman saja pa," jawab Rafa memberi alasan.
"Kau jangan membuat masalah Rafa, bukankah kau sudah tidak menjadi dosen sekarang?" sahut Mama Maya.
"Rafa memang sudah tidak menjadi dosen ma, Rafa sedang sibuk mengurus bisnis Rafa," ucap Rafa.
"Seharusnya kau menurut saja pada orang tuamu untuk masuk ke perusahaan daripada mengurus bisnis kecil yang tidak ada hasilnya," ucap Mama Maya.
"Bisnis kecil inilah yang dari dulu Rafa impikan, Rafa berjanji pada diri Rafa sendiri untuk bisa membuat bisnis kecil Rafa menjadi besar, lagi pula Mama dan papa Rafa juga sudah menyetujuinya," balas Rafa.
__ADS_1
"Pantas saja Maya tidak ingin meninggalkan karirnya, kau saja hanya bisa mengandalkan bisnis kecilmu yang tidak bisa memenuhinya kebutuhan Maya," ucap Mama Maya.
"Sudahlah ma jangan membahasnya lagi, ini sudah menjadi keputusan Rafa, lagi pula Maya juga tidak mempermasalahkannya," sahut Maya.
"Seharusnya dia lebih bisa bertanggung jawab padamu Maya, dia sudah menjadi suamimu sekarang," ucap Mama Maya.
"Bukankah Mama dan papa yang menjodohkan Maya dengan Rafa?" balas Maya bertanya.
"Itu karena Mama pikir Rafa akan menggantikan papanya di perusahaan besar itu, tapi ternyata dia hanya memilih bisnis kecil yang tidak ada hasilnya," ucap Mama Maya.
"Jadi apa sekarang mama menyesali keputusan Mama untuk menjodohkan Maya dengan Rafa?" tanya Rafa yang berusaha untuk bisa menahan emosinya.
"Tidak Rafa, tidak seperti itu, tolong jangan salah paham," sahut papa Maya menjawab.
Mama Maya hanya memutar kedua bola matanya, mengalihkan pandangannya dari Rafa tanpa mengatakan apapun.
"Rafa minta maaf jika jalan yang Rafa pilih tidak sesuai dengan yang Mama inginkan, Rafa permisi," ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari rumah untuk duduk di teras.
"Tolong jaga ucapan mama, mama bisa menyinggung perasaannya," ucap papa Maya pada sang istri.
"Mama hanya mengatakan yang sebenarnya pa," balas mama Maya.
"Tapi ucapan Mama itu bisa membuat rumah tangga Maya dan Rafa retak, apa Mama mau itu terjadi?" ucap apa Maya sekaligus bertanya.
"Tentu saja tidak, mama hanya ingin Rafa lebih bertanggung jawab pada Maya daripada hanya memikirkan bisnis kecil itu, bukankah lebih baik jika dia masuk ke perusahaan papanya?"
"Sudah ma, jangan membahas masalah itu lagi, jangan membuat Maya dan Rafa menjadi tidak nyaman karena keberadaan Mama disini," ucap Maya lalu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar.
"Kenapa kau berbicara seperti itu Maya? kau tidak sopan sekali," balas sang Mama kesal.
"Jaga ucapan Mama agar Maya dan Rafa tidak tersinggung, Mama harus bisa lebih bersabar pada mereka berdua," ucap papa Maya.
"Papa sama saja seperti mereka berdua, hanya bisa membuat Mama kesal," ucap Mama Maya lalu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam kamar tempat ia akan bermalam.
Sedangkan papa Rafa berjalan keluar untuk menemui Rafa yang sedang duduk di teras rumah.
"Maafkan mamamu Rafa, mungkin dia sangat lelah karena perjalanan jauh, membuatnya lebih sensitif dan tidak bisa menjaga ucapannya," ucap papa Maya pada Rafa.
"Bagaimana dengan kafemu Rafa? Maya bilang kau sudah bersiap untuk membuka cabang baru," tanya papa Maya.
"Semuanya berjalan lancar pa, sebentar lagi Rafa akan membuka cabang baru yang sedikit jauh dari kafe utama," jawab Rafa
"Baguslah kalau begitu, apapun pilihanmu papa bangga padamu Rafa," ucap papa Maya.
"Terima kasih pa," ucap Rafa yang hanya dibalas tepukan di punggung Rafa oleh papa Maya.
"Ini sudah sangat malam, masuklah ke kamarmu, sepertinya Maya juga kesal dengan ucapan mamanya, tenangkan dia agar dia tidak membawa kekesalannya sampai besok pagi," ucap papa Maya.
"Iya pa, Rafa masuk dulu," balas Rafa lalu beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke kamarnya.
Rafa membuka pintu kamarnya lalu duduk di sofa yang ada di dekat ranjangnya.
"Kau tidak akan menyuruhku untuk tidur di sofa bukan?" tanya Maya yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Rafa.
"Aku akan pastikan Mama dan papa pergi besok pagi, aku juga akan membereskan semua foto-foto itu dari ruang tamu, jadi kau tidak perlu khawatir," ucap Maya.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu Maya," ucap Rafa.
"Tanyakan saja," balas Maya sambil santai.
"Apa selama ini kau merasa bahwa aku bukan suami yang bertanggung jawab untukmu?" tanya Rafa yang membuat Maya menahan tawanya.
"Hmmmmpppp..... kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu? apa kau memikirkan ucapan Mama padamu?" tanya Maya.
"Aku memang bukan CEO perusahaan besar apalagi pemiliknya, aku hanyalah seorang dosen yang juga sedang merintis bisnis kecilku, tapi orang tuamu memilihku untuk menjadi suamimu dan sekarang sepertinya mereka menyesal, apa seharusnya aku menceraikanmu saja?" ucap Rafa sekaligus bertanya.
Mendengar pertanyaan Rafa, seketika Maya menaruh buku yang sedang dibacanya.
"Apa maksudmu? apa kau akan menceraikanku hanya karena ucapan Mama tadi?" tanya Maya yang begitu terkejut mendengar pertanyaan Rafa.
"Bukankah kau mendengarnya dengan jelas, aku bukanlah laki-laki yang sesuai dengan ekspektasi mamamu, laki-laki yang diinginkan mamamu adalah laki-laki yang bekerja di perusahaan besar sekaligus anak dari pemilik perusahaan itu, sedangkan aku hanya pemilik kafe kecil yang bahkan menurutnya tidak bisa memenuhi kebutuhanmu," jawab Rafa sambil berusaha menahan emosinya.
__ADS_1
"Kau jangan terlalu memikirkan ucapan Mama Rafa, Mama seperti itu hanya karena....."
"Hanya karena aku pemilik kafe kecil, bukan perusahaan besar sesuai yang dia inginkan," ucap Rafa memotong ucapan Maya.
"Apa maksudmu Mama serendah itu? apa selama ini kau menilai mama serendah itu Rafa?" tanya Maya yang mulai terpancing emosinya.
"Justru kau dan mamamu yang selalu merendahkanku, selama ini aku memang diam tapi bukan berarti kau dan mamamu bisa bebas merendahkanku seperti itu Maya," ucap Rafa.
"Aku memang bukan pemilik perusahaan besar seperti yang kau dan mamamu inginkan, tetapi selama ini aku selalu memberikan nafkah padamu walaupun itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan gajimu sendiri, tetapi aku masih melakukan kewajibanku sebagai suamimu meskipun pernikahan kita bukanlah pernikahan sungguhan," lanjut Rafa yang membuat Maya terdiam.
Rafa kemudian mengambil laptop dan beberapa map di mejanya lalu membawanya keluar dari kamar dan berjalan ke arah ruang kerjanya.
Rafa sengaja masuk ke ruang kerjanya bukan untuk bekerja, tetapi untuk menghindar dari Maya. Ia membawa laptop dan beberapa map agar ia mempunyai alasan untuk menghabiskan malamnya di ruang kerjanya.
Di dalam ruang kerjanya, Rafa menjatuhkan dirinya di sofa, menutup matanya dan memijat keningnya yang terasa pusing.
**
Waktupun berlalu, pagipun tiba dan Rafa masih berada di ruang kerjanya.
Tooookkkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Rafa terbangun dan dengan malas beranjak dari sofa untuk membuka pintu ruang kerjanya.
"Ada apa?" tanya Rafa saat ia melihat Maya berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
"Kembalilah ke kamar, aku akan menyiapkan sarapan sebelum Mama dan papa bangun dan melihatmu keluar dari ruang kerjamu," jawab Maya lalu berjalan meninggalkan Rafa begitu saja.
Rafa hanya menghela nafasnya lalu berjalan ke arah kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Setelah bersiap iapun keluar dari kamarnya, menuju ke meja makan yang sudah siap dengan banyak makanan yang baru saja dimasak oleh Maya dengan dibantu oleh bibi.
Tak lama kemudian mama dan papa mayapun datang, mereka berempatpun menikmati sarapan bersama.
"Kau akan mengantar Maya berangkat ke kantor bukan?" tanya Mama Maya pada Rafa.
"Rafa......"
"Maya berangkat ke kantor sendiri ma, kebetulan kita berbeda arah karena Maya harus meeting ke tempat lain dan Rafa juga harus segera pergi ke kafenya," sahut Maya menjawab pertanyaan sang mama.
"Kalian ini seperti bukan suami istri saja," gerutu Mama Maya pelan namun bisa didengar dengan jelas oleh semua yang ada disana.
"Maaf karena tidak bisa mengantar Mama dan papa pulang," ucap Maya.
"Jangan khawatir, Mama dan papa masih akan tinggal disini untuk beberapa hari," ucap Mama Maya yang membuat Maya dan Rafa begitu terkejut.
"Tinggal disini beberapa hari? bukankah mama dan papa hanya menginap untuk semalam?" tanya Maya.
"Rencananya memang seperti itu, tapi mama dan papa sudah berubah pikiran," jawab Mama Maya.
"Mama dan papa sudah memikirkannya, untuk sementara kita akan tinggal disini beberapa hari, lagi pula papa juga sedang senggang," ucap papa Maya.
"Tapi....."
"Tapi apa? apa kau akan mengusir Mama dan papa?" tanya Mama Maya memotong ucapan Maya.
Maya hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu membawa pandangannya pada Rafa yang hanya bisa terdiam saat itu.
Setelah Rafa meninggalkan rumah, Mayapun berusaha untuk membuat orang tuanya pergi dari rumahnya.
"Kenapa kau seperti mengusir mama dan papa Maya? apa kedatangan kita kesini sangat mengganggumu?" tanya Mama Maya yang kesal dengan sikap Maya.
"Bukan seperti itu ma, hanya saja Maya dan Rafa tidak terbiasa tinggal bersama mama dan papa," jawab Maya beralasan.
"Kita tidak akan tinggal selamanya disini, hanya untuk beberapa hari saja," ucap Mama Maya.
"Mamamu akan lebih menjaga ucapannya Maya, jadi jangan khawatir," sahut sang papa.
"Mama hanya ingin memastikan rumah tanggamu baik-baik saja bersama Rafa, karena jika tidak Mama pasti akan memaksamu untuk bercerai dengan Rafa," ucap Mama Maya.
"Bercerai?" tanya Maya mengulangi ucapan sang mama.
"Iya dan Mama akan memaksamu untuk menikahi teman papamu yang merupakan pemilik perusahaan besar yang tidak kalah besar dengan perusahaan milik papa Rafa atau kau harus kehilangan firma hukum yang ada di tanganmu saat ini," jawab sang Mama menjelaskan.
__ADS_1