Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Laki-laki Beristri


__ADS_3

Rafa yang saat itu sedang mengendarai mobilnya ke arah kafe dibuat kesal karena mobil di hadapannya yang berhenti mendadak. Beruntung Rafa masih sempat menginjak remnya sehingga tidak menabrak mobil yang ada di hadapannya.


Rafa kemudian melihat beberapa orang yang tampak berlari ke arah depan, membuat Rafa penasaran dan memutuskan untuk keluar dari mobilnya, melihat apa yang membuat beberapa mobil berhenti mendadak di depannya.


Rafa membawa langkahnya tanpa ragu menerobos kerumunan orang-orang yang berdiri di jalan raya, hingga pada satu titik Rafa hanya bisa terdiam menatap seseorang yang terkapar di jalan raya dengan bersimbah darah.


"Tiara!" ucap Rafa dengan suara bergetar.


Tak lama kemudian ambulanspun datang dan segera membawa Tiara ke rumah sakit terdekat.


Polisi yang baru saja datangpun mulai menertibkan lalu lintas yang sempat kacau. Dengan tangan yang masih bergetar Rafa mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit terdekat untuk memastikan keadaan Tiara saat itu.


Sesampainya di rumah sakit, Rafapun segera mencari keberadaan Tiara di salah satu ruang UGD. Disana sudah ada polisi dan beberapa orang saksi yang melihat kejadian naas itu.


Dari yang Rafa dengar Tiara menyeberang jalan raya dengan tiba-tiba, membuat seorang pengemudi tidak bisa mengendalikan mobilnya dan pada akhirnya menabrak Tiara.


Kini polisi hanya bisa menunggu Tiara sadar untuk dimintai keterangan tentang apa yang terjadi malam itu.


Setelah beberapa lama menunggu, dokter yang menangani Tiarapun keluar dari ruangan UGD dan menjelaskan keadaan Tiara.


"Akibat benturan yang terjadi pasien mengalami cedera kepala ringan, beruntung pasien segera dibawa ke rumah sakit sebelum dia kehabisan darah, untuk sementara dia akan dibawa ke ruangan ICU untuk mendapatkan perawatan intensif," ucap dokter menjelaskan.


"Baik dok, tolong segera hubungi pihak kepolisian jika dia sudah bisa dimintai keterangan," ucap polisi yang hanya dibalas anggukan kepala oleh dokter.


"Apa Anda mengenal pasien yang ada di dalam?" lanjut polisi bertanya pada Rafa.


"Iya, dia karyawan di kafe saya," jawab Rafa.


"Tolong hubungi kami jika dia sudah sadar dan bisa dimintai keterangan agar kasus ini bisa segera diselesaikan," ucap polisi yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Rafa.


Polisi itu kemudian memberikan tas selempang milik Tiara pada Rafa.


Setelah polisi dan seorang saksi yang berada disana pergi, kini hanya ada Rafa dan dokter yang berada di depan ruang UGD.


"Dia pasti akan segera sadar bukan?" tanya Rafa pada dokter.


"Kita tunggu sampai besok pagi, jika dia belum juga sadar kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut padanya," jawab dokter.


"Tolong lakukan yang terbaik untuknya dok," ucap Rafa.


Dokter menganggukkan kepalanya lalu berjalan pergi bersama beberapa perawat, meninggalkan Rafa yang masih berada di sana menunggu Tiara dipindahkan ke ruang ICU.


Untuk beberapa saat Rafa hanya bisa terdiam menatap Tiara dari balik pintu kaca ruangan ICU tempat Tiara dirawat.


Rafa kemudian membawa langkahnya duduk di depan ruangan Tiara. Entah kenapa hatinya terasa begitu sedih melihat keadaan Tiara saat itu.


Rafapun memutuskan untuk menghabiskan malamnya di depan ruangan Tiara. Saat itu yang ada di kepalanya hanyalah Tiara, hatinya terasa sakit saat melihat Tiara bersimbah darah di hadapannya tanpa ia bisa melakukan apapun.


"Kenapa ini bisa terjadi padamu Tiara, tidak bisakah kau lebih berhati hati!" ucap Rafa sambil mengacak-acak rambutnya kasar.


**


Waktu berlalu, haripun sudah berganti. Rafa masih terjaga di atas kursi yang ada di depan ruangan Tiara.


Sejak semalam Rafa tidak bisa tertidur dengan nyenyak meski sesekali matanya terpejam, pada kenyataannya ia tidak bisa tidur sama sekali.


Setelah Rafa membasuh wajahnya di toilet, iapun kembali ke tempat duduknya dan mendapati dokter yang baru saja keluar dari ruangan Tiara.


"Bagaimana keadaannya dok? apa saya sudah bisa menjenguknya?" tanya Rafa pada dokter.


"Detak jantung dan tekanan darahnya sudah normal tetapi dia masih belum sadar, kita masih harus menunggunya beberapa saat lagi," jawab dokter.


"Silakan menjenguknya tetapi jangan membuat keributan dan hanya diperbolehkan satu orang saja yang masuk ke ruangannya," lanjut dokter.


"Baik dok terima kasih," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala dokter sebelum dokter itu pergi meninggalkan ruangan Tiara.

__ADS_1


Setelah kepergian dokter, Rafapun masuk ke dalam ruangan Tiara. Dengan langkah yang pelan dan hati-hati Rafa mendekat ke arah ranjang Tiara.


Matanya tampak sendu menatap Tiara yang terbaring di atas ranjang.


"Meskipun kau terlihat pucat, tetapi kau masih cantik Tiara, bisakah kau bangun sekarang dan tunjukkan keceriaanmu seperti biasanya?"


Hening. Tak ada suara apapun yang terdengar di ruangan itu selain suara dari patient monitor yang ada di dekat ranjang Tiara.


"Aku tidak tahu kenapa tapi rasanya sangat menyakitkan saat melihatmu seperti ini Tiara, aku tidak tahu apakah aku juga merasakan hal ini jika karyawanku yang lain berada di posisimu sekarang," ucap Rafa yang tidak mengalihkan sedetikpun pandangannya dari Tiara.


"aku tidak mungkin jatuh cinta padamu bukan?" lanjut Rafa bertanya dalam hati.


Rafa menggelengkan kepalanya pelan dengan masih menatap Tiara yang terpejam di hadapannya.


"meskipun pernikahanku dengan Maya tidak pernah dilandasi dengan cinta tapi pernikahan itu sungguh terjadi, faktanya aku adalah laki-laki beristri yang tidak mungkin jatuh cinta pada perempuan lain meskipun aku sama sekali tidak mencintai istriku," ucap Rafa dalam hati.


"Andai kita bertemu lebih awal mungkin semuanya akan lebih indah," ucap Rafa yang hendak menyentuh tangan Tiara dengan ragu.


Namun saat tangan Rafa hampir saja menyentuh tangan Tiara, tiba-tiba Rafa melihat satu jari Tiara yang tampak bergerak diikuti oleh gerak jari lainnya.


"Tiara, apa kau sudah sadar?" tanya Rafa terkejut namun juga senang.


Tak ada jawaban apapun, namun Rafa bisa melihat dengan jelas saat Tiara perlahan mengerjapkan matanya.


Rafapun segera menekan tombol yang ada di dekat ranjang Tiara untuk memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter dan beberapa perawatpun datang, mereka meminta Rafa untuk segera keluar agar dokter bisa memeriksa kembali keadaan Tiara.


Tiara yang sudah membuka matanya hanya terdiam saat melihat dokter di hadapannya.


"sepertinya aku bermimpi, tidak ada kak Rafa disini, hanya ada dokter dan perawat," ucap Tiara dalam hati.


Setelah memeriksa keadaan Tiara dan menjelaskannya pada Rafa, Rafapun kembali masuk ke ruangan Tiara.


"Kak Rafa," ucap Tiara dengan suara yang terdengar sangat lemah.


"Jangan banyak berbicara dulu Ra, dokter mengatakan bahwa keadaanmu sudah membaik, setelah beberapa kali pemeriksaan kau baru bisa keluar dari ICU," ucap Rafa menjelaskan.


"Bagaimana dengan Ana kak? dia baik baik saja bukan?" tanya Tiara yang tiba tiba teringat Ana dan mengkhawatirkannya.


"Ana? kenapa kau tiba tiba menanyakannya?" balas Rafa bertanya.


Tiara kemudian menjelaskan secara singkat tentang apa yang terjadi malam itu, mulai dari Ana yang memintanya untuk mengantar ke minimarket sampai seorang laki laki mabuk yang berniat jahat pada Tiara sehingga membuat Tiara berlari ke arah jalan raya tanpa ia sadari.


"Aku akan menghubunginya dan memberitahukan keadaanmu padanya," ucap Rafa.


"Tolong katakan jika Tiara baik baik saja kak, Tiara tidak ingin dia khawatir," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Rafa.


Rafa kemudian menghubungi Ana dan memberi tahu Ana tentang kejadian malam kemarin.


"Lalu bagaimana keadaan Tiara sekarang pak?" tanya Ana yang terdengar khawatir.


"Keadaannya sudah membaik, tapi dia masih harus di rawat di rumah sakit, sampaikan pada yang lainnya untuk tidak terlalu mengkhawatirkan Tiara dan tetap fokus bekerja dengan hati hati," ucap Rafa.


**


Di tempat lain, Ana yang baru saja menerima panggilan dari Rafa merasa begitu bersalah karena sudah mengajak Tiara melewati gang sempit dan meninggalkannya sendiri disana.


"Sudahlah, jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri, Tiara pasti juga tidak ingin melihatmu menyalahkan dirimu sendiri seperti ini," ucap Chika pada Ana.


"Tapi itu tidak akan terjadi jika aku tidak meninggalkannya sendirian malam itu, saat aku kembali kesana dan sudah tidak melihatnya aku pikir dia sudah kembali ke rumah karena bosan menungguku yang terlalu lama mencari hpku di kafe," ucap Ana menyesal.


"Semuanya sudah terjadi, kau hanya perlu meminta maaf pada Tiara setelah dia pulang dari rumah sakit," ucap Chika yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Ana.


**


Waktupun berlalu, hari-hari telah berganti, keadaan Tiara sudah membaik dan sudah bisa memberikan keterangan pada polisi tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

__ADS_1


Beruntung pengemudi yang menabrak Tiara itu bersedia meminta maaf pada Tiara meskipun ia tidak sepenuhnya salah dan Tiarapun memaafkan pengemudi itu sekaligus meminta maaf atas kecerobohannya.


Alhasil tidak ada masalah yang terjadi karena Tiara dan pengemudi itu saling meminta maaf dan memaafkan satu sama lain tanpa ada yang menuntut.


Setelah beberapa hari menemani Tiara di rumah sakit Rafapun mengantarkan Tiara pulang.


Karena tidak ada yang tahu jika hari itu Tiara pulang dari rumah sakit, rumah tempat tinggal Tiarapun tampak kosong saat itu. Beberapa dari mereka ada yang bekerja dan beberapa lainnya sibuk dengan kegiatan mereka di luar.


Untuk pertama kalinya Rafa membawa langkahnya memasuki rumah tempat tinggal para karyawannya itu. Ia sengaja masuk ke rumah itu karena tidak ada satupun seseorang yang bisa menemani Tiara masuk ke kamarnya saat itu.


"Terima kasih sudah mengantar Tiara pulang kak, terima kasih juga sudah menemani Tiara beberapa hari ini," ucap Tiara saat ia sudah berada di depan kamarnya.


"Untuk beberapa hari ini kau harus beristirahat, aku tidak akan membiarkanmu bekerja sebelum keadaanmu benar benar membaik," ucap Rafa.


"Tiara sudah baik-baik saja kak, Tiara....."


"Jangan membantah Tiara, turuti saja perkataanku atau aku akan mengusirmu dari kafe jika kau memaksa bekerja," ucap Rafa memotong ucapan Tiara dengan tegas.


"Baiklah, tapi setelah obat-obat ini habis Tiara akan kembali bekerja," balas Tiara dengan keras kepalanya.


"Berhenti memikirkan pekerjaanmu Ra, masuk dan beristirahatlah," ucap Rafa sambil memberikan tas selempang Tiara yang sedari tadi dibawanya.


"Satu lagi, untuk sementara biarkan ponselmu mati agar Bima tidak mengganggumu, abaikan saja skripsimu untuk beberapa hari ini, aku akan membantumu mengerjakannya setelah keadaanmu membaik," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Setelah Rafa pergi Tiarapun masuk ke kamarnya lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang kamarnya.


"Aku sudah sangat nyaman tinggal disini, beberapa hari berada di rumah sakit membuatku sangat merindukan kamar ini," ucap Tiara dengan kedua mata menatap langit-langit kamarnya.


Tiara kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam tas selempangnya, namun seperti yang Rafa ucapkan Tiara membiarkan ponselnya dalam keadaan mati agar Bima tidak mengganggunya.


Untuk sementara Tiara tidak ingin pikirannya terganggu oleh Bima dan banyak hal lainnya. Untuk beberapa hari saja ia ingin menikmati hari-harinya tanpa tekanan skripsi ataupun masalah yang sedang ia hadapi.


Menit-menit berlalu terasa begitu lambat bagi Tiara yang hanya terbaring di ranjangnya hingga akhirnya samar-samar ia mulai mendengar suara teman-temannya memasuki rumah.


Tiara kemudian keluar dari kamarnya, membuat teman-temannya begitu terkejut dan segera menghampiri Tiara untuk menanyakan keadaan Tiara.


Ana yang baru saja pulang dari kafe segera memeluk Tiara dengan menangis karena merasa bersalah sudah meninggalkan Tiara malam itu.


"Kau tidak akan marah padaku bukan? kau tidak akan membenciku bukan?" tanya Ana di tengah isak tangisnya.


"Tentu saja tidak, justru aku sangat bersyukur karena kau baik-baik saja," jawab Tiara sambil menghapus air mata Ana lalu kembali memeluknya.


Semua yang ada disanapun bersyukur karena Tiara sudah kembali ke rumah itu dalam keadaan baik baik saja, meski masih ada perban yang melingkar di kepalanya.


**


Hari telah berganti, Tiara sudah melepas perban yang melingkar di kepalanya. Setelah membiarkan ponselnya mati, Tiarapun kembali mengaktifkan ponselnya dan tanpa menunggu lama pesan masukpun mulai memenuhi ponsel Tiara.


Namun Tiara memilih untuk mengabaikan semua itu dan berangkat ke kafe untuk memulai kesibukannya sebagai waiters di kafe.


Sesampainya di kafe, Tiara segera mengenakan seragamnya lalu mulai membersikan meja meja yang baru saja ditinggal oleh pelanggannya.


Tak lama kemudian Rafa yang baru saja tiba di kafe begitu terkejut melihat Tiara yang sudah bekerja hari itu.


"Kenapa kau sudah bekerja Ra? kau....."


"Tiara sudah baik baik saja pak, Tiara bahkan sudah tidak perlu menggunakan perban lagi," ucap Tiara memotong ucapan Rafa sambil menunjuk kepalanya.


"Apa kau yakin sudah bisa bekerja?" tanya Rafa memastikan.


"Tentu saja, menghabiskan waktu di kamar membuat Tiara sangat bosan, lagipula Tiara juga sudah baik baik saja," jawab Tiara dengan senyum cerianya.


"Baiklah, jaga dirimu baik baik karena saya tidak akan membiarkanmu bekerja lagi jika sesuatu yang buruk terjadi padamu!" ucap Rafa mengingatkan.


"Siap," balas Tiara sambil memberi hormat.

__ADS_1


Rafa hanya tersenyum tipis lalu membawa langkahnya masuk ke ruangannya. Dalam hatinya ia merasa lega dan bahagia karena bisa bertemu Tiara setelah beberapa hari mereka tidak bertemu atau bahkan sekedar berkomunikasi melalui ponsel.


__ADS_2