
Hari yang ditunggu oleh Rafa dan Tiara telah tiba. Bersama kedua orang tuanya Rafa pergi ke rumah Tiara. Kedatangannya disambut dengan hangat oleh Tiara dan keluarganya.
Acara pertunanganpun berlangsung singkat namun penuh makna. Kini sudah ada cincin yang melingkar di jari manis Tiara, cincin yang menunjukkan keseriusan Rafa pada Tiara.
Satu bulan setelah acara pertunangan itu, Rafa dan Tiarapun sudah siap untuk melangkah ke arah sakralnya pernikahan.
Dengan balutan kebaya putih yang senada dengan pakaian Rafa, Tiara duduk di samping Rafa yang sebentar lagi akan mengikrarkan janji sucinya di depan penghulu dan para saksi.
Hingga akhirnya detik detik menegangkan itupun berlalu bersama do'a yang memenuhi ruangan tempat akad nikah mereka dilaksakan.
Mama Laras dan Gita bergantian memeluk Tiara. Tak dapat dipungkiri rasa haru semakin terasa memenuhi ruangan itu saat mama Laras dan Tiara berpelukan.
Kedua mata merekapun sudah digenangi oleh air mata yang siap tumpah, namun mereka sama-sama berusaha menahannya agar tidak ada tangis di hari bahagia itu.
"Semoga pernikahan kalian selalu dilimpahi kebahagiaan, mama akan selalu berdo'a untukmu Tiara," ucap mama Laras.
"Terima kasih ma," balas Tiara yang erat memeluk mama tirinya.
Sama halnya dengan mama Laras, mama Rafapun memeluk Tiara dengan kedua sudut mata yang berkaca-kaca.
Setelah banyak hal sulit yang terjadi, pada akhirnya Rafa dan Tiara bisa bersama dalam ikatan pernikahan.
Suasana haru yang menyelimuti ruangan itupun perlahan pudar berganti dengan bunga bunga kebahagiaan dari semua yang hadir disana.
Dengan balutan gaun indah berwarna biru muda, Tiara kini tampak semakin cantik saat ia berdiri di atas pelaminan bersama Rafa yang mengenakan jas senada dengan gaun Tiara.
Acara resepsi yang berlangsung di hari yang sama itu dihadiri oleh banyak partner kerja Rafa dan papanya. Tapi tidak hanya itu, orang orang terdekat Tiarapun juga hadir dalam acara resepsi malam itu.
Berdiri cukup lama di atas pelaminan nyatanya tidak membuat Tiara dan Rafa lelah. Sesekali mereka tampak mengobrol dan bercanda, membuat suasana semakin terasa membahagiakan.
Esok harinya, Tiara dan Rafa bersiap untuk pergi ke Korea. Mereka akan menghabiskan waktu selama satu Minggu disana.
Sebelum matahari tenggelam, Tiara dan Rafa sudah sampai di hotel, tempat mereka tinggal selama satu Minggu di Korea.
Dengan ditemani salju tipis yang turun dari langit malam, Tiara dan Rafa berjalan-jalan di dekat hotel setelah mereka makan malam. Saat malam semakin larut dan udara semakin dingin, Tiara dan Rafapun memutuskan untuk kembali ke hotel.
Setelah berganti pakaian, mereka merebahkan diri di atas ranjang. Untuk beberapa saat mereka cukup canggung dengan situasi saat itu.
"Kak, apa kita akan tidur satu ranjang malam ini?" tanya Tiara memecah kesunyian di antara mereka berdua.
"Tentu saja, kita sudah menikah Tiara, apa aku harus tidur di sofa?" balas Rafa.
"Tidak, tapi.... sepertinya kita.... mmmm....."
Tiara menggantung ucapannya, ia ragu untuk mengatakan apa yang ada di kepalanya.
__ADS_1
"Ada apa Tiara? apa kau merasa tidak nyaman jika kita tidur satu ranjang?" tanya Rafa.
"Bukan seperti itu, hanya saja..... kita.... kita tidak bisa melakukannya," ucap Tiara lalu segera menutup wajahnya dengan bantal karena malu.
Rafa tersenyum tipis, sebagai orang dewasa Rafa mengerti apa maksud dari ucapan Tiara.
"Apa kau belum siap melakukannya?" tanya Rafa berbisik di dekat Tiara.
Dengan ragu Tiara membuka bantal yang menutup kepalanya kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas dan menunjukkannya pada Rafa tanpa mengatakan apapun.
"Kenapa kau menunjukkan barang itu padaku?" tanya Rafa tak mengerti.
"Kak Rafa tau kan benda apa ini?" balas Tiara bertanya dengan masih menunjukkan sebuah pembalut pada Rafa.
"Iya aku tau, tapi......"
Rafa menghentikan ucapannya. Ia seketika menepuk keningnya saat ia memahami apa yang Tiara maksud.
"Kak Rafa mengerti kan?" tanya Tiara.
"Iya aku mengerti," jawab Rafa dengan menganggukkan kepalanya.
"Kak Rafa tidak marah kan?" tanya Tiara khawatir.
Waktupun berlalu, Tiara dan Rafa menikmati satu Minggu mereka di Korea dengan penuh kebahagiaan. Hingga saat mereka untuk meninggalkan Koreapun tiba.
Tepat pukul 7 malam, Tiara dan Rafa sudah sampai di rumah tempat tinggal mereka. Rumah yang sudah Rafa persiapan jauh sebelum Tiara kembali pada Rafa.
Karena lelah setelah perjalanan jauh, Tiara dan Rafapun hanya berbaring di atas ranjang sejak mereka sampai di rumah.
"Tiara, apa kau masih membutuhkan ini?" tanya Rafa sambil menunjuk pembalut milik Tiara.
"Tidak, kenapa?" balas Tiara.
Rafa hanya menggeleng pelan dengan senyum misteriusnya. Malampun semakin larut, membuat Tiara mulai mengantuk.
"Apa kau sudah mengantuk?" tanya Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Tapi aku tidak akan membiarkanmu tidur sekarang," ucap Rafa yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.
Rafa kemudian beranjak dari posisinya berbaring. Ia kemudian mendekat pada Tiara dan melepas satu kancing baju tidur yang Tiara kenakan.
Namun dengan cepat Tiara menahan tangan Rafa saat ia menyadari apa yang akan Rafa lakukan padanya.
"Kenapa?" tanya Rafa.
__ADS_1
"Mmmmm..... Tiara sedikit gugup, Tiara belum pernah melakukannya sebelumnya," jawab Tiara malu.
"Ini juga yang pertama bagiku Tiara, aku juga belum pernah melakukannya sebelumnya, aku tidak akan memaksamu jika kau belum siap," ucap Rafa.
"Kak Rafa akan melakukannya dengan pelan bukan?" tanya Tiara memastikan.
"Tentu saja, aku tidak mungkin menyakitimu," jawab Rafa berusaha menyakinkan Tiara.
"Mmmm.... baiklah," ucap Tiara sambil menutup kedua matanya.
Rafa tersenyum lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Tiara. Kecupan itu perlahan turun ke bibir hingga sampai di leher Tiara.
Tiarapun hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat ia merasakan geli di beberapa bagian tubuhnya, terlebih saat tangan Rafa perlahan membuka satu per satu kancing baju tidurnya.
Hingga akhirnya, dua raga itupun saling bertaut dengan irama penuh cinta. Suhu ruangan yang cukup dingin karena AC itupun tidak mampu menahan peluh yang mulai membasahi mereka berdua.
Hingga akhirnya Rafa menjatuhkan dirinya di samping Tiara setelah tautan cinta mereka mencapai puncaknya.
Rafa membawa pandangannya pada Tiara dengan penuh senyum lalu memberikan kecupan singkatnya di kening Tiara.
"Terima kasih," ucapnya penuh kelembutan.
Tiara hanya tersenyum lalu menenggelamkan dirinya dalam dekapan Rafa.
Malam yang indahpun berlalu. Rafa mengerjapkan matanya lalu membawa pandangannya pada gadis cantik yang masih terlelap di sampingnya.
"Dia sudah tidak gadis lagi sekarang," ucap Rafa dalam hati dengan tersenyum tipis.
Tiba tiba ia melihat Tiara mengerjap, sebelum Tiara membuka matanya, Rafa mendaratkan kecupan singkatnya di kening Tiara.
"Selamat pagi istriku," sapa Rafa penuh senyum.
"Apa kak Rafa sudah bangun dari tadi?" tanya Tiara.
"Tiara, bisakah kau tidak memanggilku seperti itu? kita sudah menikah sekarang!" protes Rafa tanpa menjawab pertanyaan Tiara.
"Lalu bagaimana Tiara harus memanggil kak Rafa?" tanya Tiara.
"Entahlah, 'sayang' mungkin!"
Tiara hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
"Tiara sudah terbiasa memanggil kak Rafa, jadi aneh rasanya jika tiba tiba berubah," ucap Tiara.
"Hmmm.... terserah kau saja, sekarang kita harus segera mandi sebelum mama dan papa datang!" ucap Rafa kemudian beranjak lalu menggendong Tiara, membawanya ke dalam kamar mandi.
__ADS_1