Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Keberhasilan Tiara


__ADS_3

Pagi itu Tiara sedang mengerjakan pekerjaannya sebelum temannya memintanya untuk menyerahkan sebuah berkas pada pimpinan divisi produksi.


Tiarapun segera beranjak dari duduknya, membawa langkahnya untuk menemui pimpinan divisi produksi.


Sesampainya ia di lantai 4 tempat divisi produksi bekerja, Tiara bertanya seseorang yang dikenalnya tentang siapa pimpinan divisi produksi saat itu.


Seseorang itupun menunjuk ke arah Bagas. saat Tiara mengikuti arah seseorang itu menunjuk ia begitu terkejut karena ia baru sadar jika ternyata laki-laki yang kemarin tanpa sengaja ditabraknya di kafe adalah Bagas, pimpinan divisi produksi di kantor tempatnya bekerja.


Tiara kemudian membawa langkahnya ke arah Bagas lalu memberikan berkas yang dibawanya.


"Ini berkas dari divisi pemasaran Pak," ucap Tiara pada Bagas.


"Oke terima kasih," balas Bagas sambil menaruh berkas yang baru saja Tiara berikan.


"Maaf sebelumnya pak, sepertinya kemarin kita baru bertemu di kafe atau mungkin saya salah orang?" tanya Tiara memastikan.


Seketika Bagas membawa pandangannya pada Tiara, ia mengernyitkan keningnya seolah berusaha untuk menggali memorinya tentang gadis yang berdiri di hadapannya.


"Kau Tiara bukan?" tanya Bagas memastikan.


"Iya Pak, saya Tiara dari divisi pemasaran," jawab Tiara.


"Aaahh aku ingat sekarang, kau yang menabrakku di kafe kemarin," ucap Bagas sekaligus bertanya.


"Iya Pak, saya minta maaf karena kurang berhati-hati waktu itu."


"Tidak apa lupakan saja," balas Bagas lalu kembali menatap layar komputer di hadapannya.


"Kalau begitu saya permisi," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bagas.


Tiara kemudian membawa langkahnya kembali ke tempat kerjanya. Meskipun ia tidak ingin memikirkan tentang apa sebenarnya hubungan Maya dengan Bagas namun hal itu masih mengganggu pikirannya.


"Apa aku tanyakan saja pada kak Putra?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Tidak mungkin mereka tidak memiliki hubungan apapun, mereka terlihat sangat dekat saat mengobrol, bahkan ada foto mereka berdua di wallpaper ponsel Pak Bagas, apa mungkin mereka bersaudara?" batin Tiara bertanya dalam hati.


Tiara kemudian kembali mengerjakan pekerjaannya, dia harus fokus pada pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang saat manajer memanggil Tiara untuk meeting mewakili pimpinan divisi pemasaran yang sedang tidak bekerja hari itu.


Tiarapun membawa beberapa berkas yang ia butuhkan untuk meeting lalu berjalan ke arah ruangan meeting. Namun sesampainya ia di ruangan meeting, tidak ada siapapun disana Tiarapun segera membawa langkahnya untuk duduk di salah satu kursi yang ada dan tak lama kemudian seseorang membuka pintu lalu duduk tepat di samping Tiara.


"Dimana pimpinan divisi pemasaran?" tanya Putra pada Tiara.


"Kebetulan hari ini sedang tidak masuk pak, Tiara yang diminta Pak manager untuk menggantikannya," jawab Tiara.


Putra menggangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Tiara. Sedangkan Tiara yang berada di samping Putra begitu penasaran ingin segera menanyakan tentang apa yang sedari tadi mengganggu pikirannya.


"Maaf Pak, bolehkah Tiara bertanya tentang sesuatu di luar pekerjaan?" tanya Tiara terlebih dahulu.


"Boleh, tanyakan saja," jawab Putra.


"Mmmmm.... ini tentang kak Maya, apa kak Maya memiliki saudara laki-laki?" tanya Tiara yang membuat Putra seketika membawa pandangannya pada Tiara.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" balas Putra bertanya.


"Hanya penasaran saja, tidak perlu menjawabnya jika memang Pak Putra tidak tahu," balas Tiara.


"Maya anak tunggal, papanya pemilik firma hukum besar di kota ini, bahkan semua saudara Maya bekerja di bagian hukum, entah itu saudara dari ayahnya ataupun dari ibunya," ucap Putra menjelaskan.


Tiara terdiam untuk beberapa saat, ia mulai berpikir tentang apa hubungan Bagas dengan Maya yang sebenarnya. Jika memang hanya berteman rasanya itu sangat berlebihan karena ia dengan jelas melihat foto Maya dan Bagas yang dijadikan wallpaper pada ponsel Bagas, foto itu bahkan jelas terlihat jika mereka berdua berada di atas ranjang dengan selimut yang menutup tubuh mereka.


"Ada apa Tiara? kau pasti mengetahui sesuatu bukan?" tanya Putra menerka.

__ADS_1


"Tiara kemarin bertemu dengan kak Maya di kafe, setelah Tiara pulang Tiara melihat seseorang datang menemui kak Maya, Tiara pikir dia adalah saudara kak Maya karena mereka terlihat sangat dekat, tapi mungkin mereka hanya berteman," jawab Tiara.


"Apa kau mengenal laki-laki itu?" tanya Putra.


"Tidak, Tiara tidak mengenalnya, Tiara juga sudah lupa seperti apa wajahnya," jawab Tiara berbohong.


"Memangnya kenapa kau bertemu dengan Maya? dia tidak memarahimu bukan?"


"Tidak Pak, kak Maya sama sekali tidak memarahi Tiara, tapi justru sikap kak Maya itu yang membuat Tiara semakin merasa bersalah, tapi apapun yang terjadi Tiara memang bersalah jadi memang sudah seharusnya Tiara pergi menjauh," jawab Tiara.


"Kau sudah membuat pilihan yang terbaik Tiara, tidak hanya untuk Maya dan Rafa tapi juga untukmu sendiri, tentang laki-laki yang kau lihat bersama Maya lebih baik kau abaikan saja, jangan pernah kembali lagi pada hubungan mereka berdua, apapun yang terjadi pada rumah tangga mereka biarkan mereka sendiri yang mengatasinya," ucap Putra.


"Iya pak Tiara mengerti, lagi pula Tiara tidak berhak untuk ikut campur dalam rumah tangga mereka," balas Tiara.


Meskipun Tiara tidak ingin ikut campur tentang apa yang terjadi antara Maya dan Rafa, namun saat mengetahui bagaimana kedekatan Maya dengan Bagas membuat Tiara tidak bisa berhenti memikirkan hal itu.


Tiara sudah cukup dewasa untuk bisa memahami hal-hal di sekitarnya, namun ia tidak ingin berburuk sangka.


Ia sadar bahwa dirinya adalah orang lain yang tidak mengetahui apapun yang terjadi pada Rafa, Maya ataupun Bagas.


"Fokus saja pada tes yang akan kau lakukan Tiara, jangan terlalu memikirkan hal lain yang hanya mengganggu belajarmu, ini adalah kesempatan besar yang tidak boleh kau sia-siakan!" ucap Putra mengingatkan.


"Iya Pak," balas Tiara.


"Kak Putra bener, aku tidak perlu memikirkannya, bukankah aku sudah berniat untuk melupakan kak Rafa dan semua yang berhubungan dengan kak Rafa? jadi apapun yang terjadi aku tidak akan ikut campur, aku hanya perlu fokus dengan diriku sendiri, meraih mimpi baru dan pergi meninggalkan semua yang sudah menyakitiku," ucap Tiara dalam hati.


Satu persatu peserta meeting pun mulai berdatangan, meeting dimulai sampai jam makan siang.


Tiara kemudian membawa langkahnya keluar dari ruangan meeting, kembali ke meja kerjanya terlebih dahulu sebelum ia pergi ke kantin untuk makan siang bersama teman-teman yang sudah menunggunya.


Bekerja di satu tempat dengan Rafa memang bukan hal yang mudah bagi Tiara, tetapi karena posisinya yang sangat jauh dari Rafa membuat Tiara bersyukur karena ia tidak harus bertemu dengan Rafa setiap hari.


Meskipun begitu setiap harinya Tiara harus berhati-hati karena bisa saja ia bertemu dengan Rafa tanpa sengaja, jika hal itu terjadi Tiara akan segera menghindar agar tidak bertatap muka dengan Rafa.


Hari yang ditunggu telah tiba, hari dimana Tiara melakukan tes untuk program kuliah di luar negeri yang diadakan oleh perusahaan tempat ia bekerja.


Pagi itu Tiara berangkat ke kantor dengan penuh semangat, Tiara mempersiapkan dirinya dengan baik, apapun hasilnya nanti ia akan menerimanya dengan lapang dada.


Walaupun nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang Tiara harapkan, Tiara akan menerimanya meskipun dalam hatinya ia begitu berharap untuk bisa lolos pada tes itu.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi saat Tiara sudah masuk ke salah satu ruangan tempat ia akan melakukan tes.


Tes pertama yang dilakukan adalah tes bahasa yang mana semua peserta harus bisa berbahasa Inggris dengan lancar untuk bisa melanjutkan tes kedua.


Dengan mudah Tiara lolos pada tes pertamanya, ia berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris tanpa kesulitan sama sekali, bahkan pengujipun memuji aksen bahasa Inggris Tiara yang dinilainya sempurna.


Tiara kemudian keluar dari ruangan itu untuk menunggu tes selanjutnya. Tiba-tiba seseorang datang dan berdiri di samping Tiara.


"Sudah kukatakan padamu lebih baik kau menyerah saja, jika sampai kau lolos pasti semua orang akan berpikir negatif tentang Pak Putra, kau benar-benar sangat egois jika hanya mementingkan dirimu sendiri," ucap Dita.


Tiara hanya diam mengabaikan ucapan Dita. Ia tidak peduli apa yang dikatakan Dita padanya, ia hanya perlu fokus untuk bisa lolos pada tes keduanya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Tiara berdering, sebuah pesan masuk dari Putra.


"Selamat karena sudah lulus tes pertama, aku yakin kau pasti bisa lolos pada semua tes yang ada!"


Tiara tersenyum tipis lalu membalas pesan Putra.


"Terima kasih kak!"


Dita mulai kesal saat melihat Tiara hanya diam mengabaikannya. Sebenarnya dalam hatinya Dita merasa tidak yakin jika dirinya akan lolos jika dia tidak berhasil membuat Tiara mengundurkan diri pada tes hari itu.

__ADS_1


Dita tahu bagaimana kemampuan Tiara dan tak dapat dipungkiri bahwa Tiara memang memiliki potensi yang besar untuk bisa berhasil mendapatkan kesempatan emas untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.


"Tiara, kau....."


"Jika tidak ada hal penting yang ingin kau katakan lebih baik pergi saja dari sini, aku tidak akan pernah mendengar ucapanmu yang tidak penting itu, jadi berhenti menghabiskan waktumu hanya untuk mempengaruhiku!" ucap Tiara memotong ucapan Dita.


Ditapun semakin kesal lalu membawa langkahnya pergi menjauh dari Tiara.


Setelah tes pertama selesai dilakukan, Tiarapun melanjutkan tes keduanya untuk mengisi beberapa soal berbahasa Inggris dengan waktu yang cukup singkat.


Lagi-lagi Tiara bisa mengerjakannya dengan mudah, ia menyelesaikan semua soal yang ada di hadapannya sebelum waktu yang diberikan habis, hal itu tentu saja memberikan poin lebih untuk Tiara.


Waktupun berlalu, Tiara mengerjakan dengan baik tes pertama kedua dan ketiganya. Sampai jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang Tiara dan beberapa temannya yang lolospun diberikan waktu untuk makan siang sebelum mereka melanjutkan tes terakhir.


Setelah makan siang selesai, Tiara dan beberapa orang yang lainnya kembali ke ruangan untuk melakukan tes terakhir mereka tes yang akan menentukan siapa yang terpilih untuk bisa mendapatkan kesempatan, melanjutkan kuliah di luar negeri.


Karena itu adalah tes terakhir, hanya ada Tiara dan beberapa orang lainnya karena sudah banyak yang gugur pada tes-tes sebelumnya.


Untuk sementara poin Tiara unggul jika diakumulasi dari tes sebelumnya, sedangkan di bawahnya ada nama Dita yang juga memiliki nilai yang cukup baik dan berkesempatan untuk menyusul poin Tiara.


Detik demi detik jam telah berlalu, Tiara mengerjakan tes terakhirnya dengan penuh konsentrasi. Setelah ia yakin ia sudah menyelesaikan tesnya dengan baik, ia hanya bisa pasrah, apapun hasilnya nanti ia akan berusaha untuk bisa menerimanya.


Jika memang dirinya dinyatakan tidak lolos maka ia akan benar-benar mengundurkan diri dari perusahaan, namun jika dirinya dinyatakan lolos maka ia akan segera mempersiapkan dirinya untuk memulai mimpi barunya dengan menjadi mahasiswi di universitas ternama yang berada di Amerika.


Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 saat Tiara sedang menunggu hasil dari keseluruhan tes yang sudah dilakukannya.


Setelah beberapa lama menunggu, para pengujipun sudah mendapatkan hasil yang valid tentang siapa yang berhak mendapatkan kesempatan emas untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.


Tiara yang sedang menunggu pengumuman hanya bisa berdoa jika apa yang akan didengarnya itu adalah yang terbaik untuknya.


Pada akhirnya para penguji memberi pengumuman bahwa yang lolos dan berhasil untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri adalah Tiara.


Seketika Tiarapun bersyukur penuh haru, ia tidak menyangka jika dirinya bisa melanjutkan kuliahnya di luar negeri, terlebih biaya kuliah dan biaya hidupnya ditanggung oleh perusahaan tempat ia bekerja.


Di tengah kebahagiaan Tiara saat itu, Dita dan beberapa orang lainnya hanya menatap Tiara dengan pandangan tidak suka. Beberapa orang itu adalah mereka yang berhasil dihasut oleh Dita jika Tiara berhasil lolos pada tes itu karena bantuan dari Putra.


"Karena Pak Putra memiliki koneksi dengan para atasan jadi mudah bagi Pak Putra untuk memanipulasi hasilnya, walaupun tes kali ini dilakukan dengan transparan," ucap Dita dengan raut wajah penuh kebencian.


"Kau benar, orang yang memiliki kekuasaan pasti bisa melakukan apapun untuk orang yang disukainya," balas teman Dita yang sudah terhasut oleh ucapan buruk Dita tentang Putra dan Tiara.


Saat Tiara akan berjalan meninggalkan kantor, ponselnya tiba-tiba berdering, sebuah panggilan masuk dari teman Tiara.


"Halo Tiara, kau dimana?" tanya teman Tiara.


"Tiara ada di lobi kak, kenapa?" balas Tiara.


"Cepat ke basement sekarang, aku dan yang lainnya akan mengajakmu merayakan keberhasilanmu," jawab teman Tiara.


"Baik kak, Tiara akan kesana sekarang," ucap Tiara lalu segera membawa langkahnya ke arah basement.


Saat Tiara sudah berada di basement, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari teman-temannya.


Tiba-tiba seseorang datang dan menarik tangan Tiara, membawa Tiara ke salah satu sudut basement.


"Kak Rafa!" ucap Tiara yang begitu terkejut melihat Rafa yang sudah berdiri di hadapannya dengan menggenggam erat tangannya.


"Kita harus bicara Tiara, jadi dengarkan aku dengan baik," ucap Rafa dengan menatap ke dalam mata Tiara.


"Tidak..... tidak ada yang harus kita bicarakan lagi, tolong lepaskan Tiara kak!" ucap Tiara sambil berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Rafa.


Saat Tiara tengah berusaha untuk melepaskan tangannya dari Rafa, tiba-tiba teman-teman Tiara datang dan melihat Tiara yang sedang bersama Rafa saat itu.


"Tiara!"

__ADS_1


Mendengar nama Tiara disebut, seketika Tiara dan Rafapun membawa pandangan mereka ke arah sumber suara dan begitu terkejut saat melihat teman-teman Tiara yang sudah berdiri tak jauh dari tempat Tiara dan Rafa berdiri.


__ADS_2