Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Makan Malam Tak Terduga


__ADS_3

Tiara sedang berbaring di ranjangnya. Ia masih memikirkan apa yang Rafa ucapkan padanya beberapa saat yang lalu.


"Apa benar itu yang pertama kali bagi kak Rafa? sepertinya laki laki seperti kak Rafa tidak akan sulit untuk mendapatkan kekasih, apa mungkin selama ini kak Rafa memang tidak pernah memiliki hubungan dengan satupun perempuan?"


"Hmmm.... entahlah, aku tidak mau memikirkannya, tapi..... tapi apa benar aku sudah jatuh cinta pada kak Rafa? apa jantungku berdetak kencang karena aku jatuh cinta pada kak Rafa?"


"Aaahhh tidak..... aku tidak akan semudah itu jatuh cinta, mungkin sekarang rasanya membahagiakan, tapi semakin besar cinta yang aku miliki aku juga harus bersiap jika akan ada masalah besar yang akan datang dan untuk saat ini aku belum siap, aku masih ingin menikmati kebersamaanku dengan kak Rafa yang seperti ini saja."


Tiara menghela nafasnya, menari selimutnya lalu menenggelamkan kepalanya ke dalam selimut. Saat matanya baru saja terpejam, ia kembali teringat tentang apa yang ia dan Rafa lakukan saat malam terakhir mereka di Tokyo.


Tiara seketika membuka matanya, memegang bibirnya dengan degup jantung yang kembali berdetak kencang.


"Kenapa perasaan ini indah sekali, perasaan ini seperti perlahan menutup luka lama yang kak Bima berikan, tapi..... seindah apapun perasaan ini, aku harus bisa menahannya, aku tidak boleh gegabah dan melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya," ucap Tiara sambil memegang dadanya yang terus bergemuruh.


Di tempat lain, Rafa tengah berada di kafenya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Saat baru saja keluar dari kafe, sudah ada Maya yang duduk di depan kafe menunggu Rafa.


"Kenapa kau ada disini?" tanya Rafa pada Maya.


"Aku menunggumu," jawab Maya.


Rafa membawa pandangannya ke sekitarnya, khawatir jika akan ada yang melihatnya bersama Maya.


Rafa kemudian membawa langkahnya ke arah tempat parkir dan meminta Maya untuk mengikutinya.


"Ikut aku!"


Mayapun membawa langkanya mengikuti Rafa.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rafa.


"Mobilku mogok di dekat sini jadi aku menaruhnya di bengkel dan aku melihat mobilmu masuk kesini jadi aku menunggumu untuk pulang bersama," jawab Maya menjelaskan.


"Masuklah!" ucap Rafa lalu membuka pintu mobilnya.


Mayapun segera masuk dan duduk di samping Rafa.


"Kenapa kau tidak meminta tolong kekasihmu?" tanya Rafa sambil mengendarai mobilnya meninggalkan kafe.


"Aku sudah beberapa hari tidak berhubungan dengannya," jawab Maya.


"Kenapa?"


"Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk menjauhinya?"


"Setidaknya jangan pergi begitu saja, selesaikan hubungan kalian dengan baik agar tidak ada masalah di belakang nantinya," ucap Rafa.


"Tapi sepertinya dia juga sudah tidak membutuhkanku lagi," balas Maya.


"Tetap saja kau harus memperjelas hubunganmu dengannya," ucap Rafa.


"Baiklah, aku akan menyelesaikan hubunganku dengan baik," balas Maya yang membuat Rafa terkekeh.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Maya.


"Kenapa kau menjadi penurut sekali sekarang? apa kau mulai mendengarkan kata kataku sekarang?" balas Rafa bertanya.


"Aku tau hubungan kita memang sudah tidak baik dari awal, tapi beberapa tahun denganmu rasanya tidak terlalu buruk juga, lebih jika kita berteman daripada menghabiskan tenaga hanya untuk bertengkar," ucap Maya.


"Benar sekali, jika aku tidak bisa menjadi suamimu maka aku akan menjadi kakak untukmu," ucap Rafa.


"Kakak? aku tidak pernah berpikir akan mempunyai kakak, tapi sepertinya tidak terlalu buruk asalkan kakakku tidak terlalu mencampuri urusan pribadiku hahaha....."


**


Hari telah berganti, hari itu Maya memutuskan untuk mengambil cutinya, bukan untuk berlibur melainkan untuk menghabiskan waktunya di rumah.


Pagi pagi sekali Maya sudah berkutat di dapur untuk memasak bersama bibi.


"Apa ini enak bi?" tanya Maya pada bibi setelah dia membuat nasi goreng pertamanya.


"Enak non," jawab bibi setelah mencicipi nasi goreng buatan Maya.


"Bibi jangan bohong, ini nasi goreng pertama yang Maya buat dan Maya akan memberikannya pada Rafa," ucap Maya.


"Sungguh non, ini enak, non Maya pandai membuatnya," balas bibi yang membuat Maya tersenyum senang.


Maya kemudian menaruh satu telur mata sapi di atas nasi goreng buatannya sebelum dia memberikannya pada Rafa.


"Hmmm.... aku benar benar sudah gila sekarang," ucap Maya sambil membawa nasi goreng buatannya ke kamar Rafa.

__ADS_1


Maya mengetuk pintu kamar Rafa beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka.


"Untukmu," ucap Maya sambil memberikan sepiring nasi goreng pada Rafa.


"Untukku? kau yang membuatnya?" tanya Rafa dengan raut wajah terheran-heran.


"Aku sedang iseng saja, sepertinya menyenangkan juga memasak bersama bibi," ucap Maya lalu berjalan pergi begitu saja.


Rafa yang masih heran dengan sikap Maya tidak terlalu ambil pusing. Ia membawa langkahnya ke meja makan untuk menikmati nasi goreng buatan istrinya itu.


Setelah menghabiskan nasi gorengnya, Rafapun segera berangkat ke kantor, meninggalkan piring dan gelas kotornya di atas meja.


Setelah kepergian Rafa, Mayapun segera berlari ke meja makan untuk memastikan apakah Rafa menghabiskan nasi goreng buatannya atau tidak.


Saat melihat telur mata sapi yang dibuatnya masih utuh, Maya cukup kecewa. Meskipun nasi gorengnya habis, tetapi telor mata sapi buatannya seolah tidak tersentuh sama sekali.


"Kenapa dia tidak memakannya? apa ini tidak enak? apa dia tidak menyukainya?" batin Maya bertanya dalam hati.


Mayapun menghabiskan telur mata sapi buatannya sendiri kemudian pergi ke gudang belakang untuk mengambil beberapa kardus yang berisi foto foto pernikahannya dengan Rafa.


Dengan hati hati Maya mulai membersihkan satu per satu foto itu lalu menaruhnya di atas meja. Ia meletakkan foto pernikahannya di hampir setiap sudut rumahnya.


"Aku tidak peduli jika dia marah, aku hanya perlu membuat alasan agar dia tidak memintaku untuk kembali membawanya ke gudang," ucap Maya dengan tersenyum puas setelah menyebar semua foto pernikahannya.


Saat Maya akan masuk ke kamarnya, ia tidak sengaja melihat kunci kamar Rafa yang masih tergantung di pintu.


Untuk beberapa saat ada sebuah keinginan dalam kepala Maya untuk masuk ke kamar Rafa.


"Dia pasti akan sangat marah jika tau aku masuk ke kamarnya tanpa izin," ucap Maya.


"Tapi aku sangat penasaran, siapa sebenarnya perempuan yang berhasil membuat Rafa jatuh cinta, pasti ada sesuatu yang bisa aku temukan di kamarnya!"


Maya kemudian membawa pandangannya ke sekitarnya lalu dengan pelan membuka pintu kamar Rafa.


"Kamarnya rapi sekali," ucap Maya sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Rafa.


"Rak itu..... ini sedikit aneh, Rafa bukan tipe laki laki yang menyukai musik, apa lagi K-Pop, tapi kenapa ada perintilan EXO di kamarnya?"


Saat Maya mendekati rak itu, ia menemukan sebuah foto tiket konser EXO di Tokyo, Jepang.


"Tiket konser ini ada dua, tanggalnya adalah tanggal saat Rafa cuti kemarin, itu artinya dia pergi ke Jepang bersama perempuannya untuk melihat konser EXO, waaahh..... sepertinya Rafa sudah benar benar tergila gila pada perempuan satu ini, tapi maaf saja karena aku tidak akan melepaskan Rafa dengan mudah," ucap Maya dengan rasa kesal dalam dadanya.


Meskipun ia tidak mengetahui siapa perempuan yang dicintai Rafa, tapi mengetahui betapa Rafa sangat mencintainya membuat Maya begitu kesal.


"Secantik dan sehebat apapun dirimu, aku yakin aku memiliki kelebihan yang tidak kau miliki dan pada akhirnya akulah yang akan memenangkan Rafa," ucap Maya percaya diri.


Tiba tiba Maya mendengar suara dari sebuah mobil yang memasuki halaman rumahnya. Mayapun segera keluar dari kamar Rafa.


Maya begitu terkejut saat melihat mama Rafa yang keluar dari dalam mobil. Mayapun segera menyambut mama mertuanya itu.


Mayapun mempersilakan mama mertuanya masuk lalu membuatkan minuman untuk mama mertuanya.


"Mama tadinya mau menemuimu ke kantor, tetapi Rafa bilang kau sedang libur jadi mama langsung saja kesini," ucap Rossa, mama Rafa.


"Iya ma, Maya memang sedang mengambil cuti hari ini," balas Maya.


"Mama kesini untuk memberi tahumu untuk ikut makan malam bersama mama dan papa Minggu depan," ucap Rossa.


"Makan malam? ada acara apa ma? apa mama dan papa merayakan sesuatu?" tanya Maya.


"Tidak ada perayaan apapun, mama hanya ingin kita makan malam bersama," jawab Rossa.


"Baiklah ma, Maya akan memberi tahu Rafa nanti," ucap Maya.


Rossa menganggukkan kepalanya pelan. Dalam hatinya ia merasa senang saat melihat foto pernikahan Maya dan Rafa yang berjejer di meja dan di dinding.


Setelah sebelumnya semua foto itu tiba tiba lenyap, kini semuanya sudah kembali.


"Mungkin mereka memang sempat bertengkar beberapa saat yang lalu, itu kenapa tidak ada foto pernikahan mereka sama sekali, tapi sepertinya sekarang semuanya sudah baik baik saja," ucap Rossa dalam hati.


"Maya, anggap mama seperti mamamu sendiri, kau bisa bercerita pada mama tentang apapun yang terjadi antara kau dan Rafa, jangan menyimpannya sendiri, mama akan memarahi Rafa jika dia tidak memperlakukanmu dengan baik," ucap Rossa pada Maya.


"Terima kasih ma, tapi Maya dan Rafa sudah bersepakat untuk selalu berusaha menyelesaikan masalah kita sendiri tanpa melibatkan siapapun," balas Maya.


"Kau memang istri yang baik Maya, kalau begitu mama pergi dulu, jangan lupa untuk menyampaikan pada Rafa tentang rencana makan malam Minggu depan!"


"Baik ma," balas Maya.


Setelah mama Rafa meninggalkan rumah Maya, mama Rafa meminta sang supir untuk mengendarai mobilnya ke arah kantor, bukan untuk menemui Rafa melainkan untuk menemui Putra.

__ADS_1


Sesampainya di kantor, mama Rafa segera menghubungi Putra dan meminta Putra untuk segera ke lobby.


Setelah beberapa lama menunggu, Putrapun datang.


"Maaf membuat Tante menunggu, ada apa Tante?" ucap Putra sekaligus bertanya saat ia sudah duduk di samping mama Rafa.


"Tante kesini membawa ini untuk Tiara, ini menu yang baru Tante pelajari," jawab mama Rafa sambil memberikan tas bekal pada Putra.


"Waahh terima kasih tante, Tiara pasti menyukainya," ucap Putra.


"Tante kesini juga ingin memberi tahumu untuk mengajak Tiara makan malam bersama om dan Tante Minggu depan," ucap mama Rafa.


"Makan malam?"


"Iya, anggap ini sebagai cara Tante untuk membuatmu semakin dekat dengan Tiara, Tante yakin seiring dengan berjalannya waktu dia pasti akan menyukaimu," jawab mama Rafa.


"Baiklah Tante, Putra akan memberi tahu Tiara nanti," ucap Putra.


Setelah mengobrol beberapa lama, mama Rafapun pulang. Sedangkan Putra segera kembali ke meja kerjanya.


"Sepertinya tante Rossa akan mendukungku bersama Tiara, tapi apa jadinya jika Tante Rossa tau bahwa Rafa menyukai Tiara?" batin Putra bertanya dalam hati sambil menatap tas bekal yang ada di mejanya.


**


Waktupun berlalu, hari yang ditunggu telah tiba. Rossa dan Adam sudah berada di tempat mereka akan mengadakan makan malam.


Setelah beberapa lama menunggu, Tiara dan Putrapun datang.


"Masih ada yang akan datang, jadi kita tunggu sebentar ya!" ucap Rossa pada Tiara dan Putra.


"Iya Tante, tapi maaf Tiara permisi ke toilet sebentar," ucap Tiara lalu beranjak dari duduknya untuk pergi ke toilet.


Tak lama kemudian Rafa dan Mayapun datang. Putra yang sudah lebih dulu datang begitu terkejut saat melihat Rafa dan Maya.


Ia tidak menyangka jika mama Rafa juga mengundang Rafa dan Maya untuk makan malam bersama.


"Maya permisi ke toilet sebentar ma, pa," ucap Maya lalu berjalan pergi ke toilet.


Saat tengah melakukan touch up di wastafel toilet, tiba tiba seseorang datang dan berdiri di samping Maya.


"Tiara!"


Tiarapun begitu terkejut saat melihat Maya di sampingnya.


"Kak Maya.... kak Maya makan malam disini juga?"


"Iya, aku sedang bersama suami dan mertuaku, bagaimana kabarmu Tiara?" jawab Maya sekaligus bertanya.


"Tiara baik kak, berkat kak Maya yang sudah membantu Tiara," jawab Tiara.


"Itu memang sudah tugasku, aku senang kau bisa lepas dari orang orang jahat itu," ucap Maya.


Setelah beberapa lama mengobrol, merekapun keluar dari toilet.


"Aahh iya, kau kesini bersama siapa? dimana mejamu?" tanya Maya pada Tiara.


"Tiara bersama.... itu meja Tiara," jawab Tiara sambil menunjuk meja tempat Putra dan orang tua Rafa duduk.


Mayapun begitu terkejut saat ia membawa pandangannya ke arah jari Tiara menunjuk.


"Apa kau datang bersama Putra?" tanya Maya memastikan.


"Iya, kak Maya mengenalnya?"


"Tentu saja, ayo, aku akan mengenalkanmu pada suami dan mertuaku," ucap Maya lalu menggandeng tangan Tiara ke arah meja orang tua Rafa.


"Kenapa kalian terlihat akrab? apa kalian saling kenal?" tanya Putra pada Tiara dan Maya.


"Tentu saja, papanya adalah satu klienku dan aku yang membantu Tiara mendapatkan hak warisannya," jawab Maya menjelaskan.


Tiara yang sudah duduk di tempatnya hanya terdiam. Ia tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat itu.


Ia begitu terkejut saat Maya membawanya duduk bersama Putra dan orang tua Rafa, terlebih ia ingat jika baru saja Maya mengatakan bahwa akan mengenalkannya pada suami dan mertuanya.


"Suami dan mertua? siapa maksud kak Maya? kenapa kak Maya juga ikut duduk disini?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Rafa kemana ma? kenapa dia tidak ada disini?" tanya Maya pada Mama Rafa.


"Dia kembali ke mobil untuk mengambil ponselnya," jawab mama Rafa.

__ADS_1


"Suamimu itu memang pelupa," sahut papa Rafa.


DEG. Tiara yang mendengar hal itu seketika terdiam dengan pandangan kosong. Jantungnya berdetak sangat kencang, setiap detaknya seolah datang bersama rasa takut yang perlahan menyisakan sayatan kecil dalam hatinya.


__ADS_2