Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Terjatuh


__ADS_3

Tiara dan Putra sedang berada di daerah persawahan untuk melakukan shooting iklan produk baru mereka.


Meskipun sinar matahari cukup terik tetapi hawa dingin daerah pegunungan membuat suasana syuting tetap nyaman.


Walaupun Tiara baru pertama kali melakukan hal itu, tetapi dia melakukannya dengan cukup baik tanpa membuat banyak kesalahan yang berarti.


Setelah beberapa jam sutradara mengambil beberapa adegan, mereka semuapun beristirahat sembari menikmati udara sejuk daerah pegunungan.


Saat tengah beristirahat, Tiara dan Putra berjalan menaiki bukit yang tidak terlalu tinggi yang berada tak jauh dari tempat mereka melakukan shooting.


Tiara memejamkan matanya menikmati setiap hembusan udara sejuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.


Pengalaman baru dan suasana baru yang ia dapatkan membuatnya senang berada di tempat itu.


Suasana tenang dan sejuk yang ia rasakan membawa memorinya mengulas tentang kebersamaannya bersama Rafa saat ia sempat tinggal selama satu bulan di villa milik Rafa yang berada di daerah pegunungan.


"Andai saja kak Rafa ada disini," ucap Tiara dalam hati.


"Pemandangan disini sangat bagus, aku akan mengambil ponselku sebentar untuk mengabadikan pemandangan ini," ucap Putra yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Kini hanya ada Tiara yang berada di atas bukit. Setelah beberapa lama menunggu Putra yang tidak kunjung kembali, Tiara pun memilih untuk menuruni bukit itu.


Namun karena terlalu menikmati pemandangan di sekitarnya, Tiara tidak memperhatikan pijakannya, membuat kakinya terantuk batu lalu terpeleset dan berguling ke bawah bukit.


Tiara hanya menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang ia rasakan saat itu, ia tidak berani berteriak atau sekedar mengaduh kesakitan karena tidak ingin semua yang ada disana mengkhawatirkan dirinya.


"Ini bukan apa-apa, aku hanya terguling dari atas bukit, rasanya cukup menyenangkan walaupun sedikit sakit, tapi ini tidak akan menjadi masalah!" ucap Tiara berusaha untuk berpikir positif sambil membersihkan pakaiannya yang kotor.


Namun saat Tiara akan berdiri, ia seketika kembali terjatuh karena merasakan kakinya yang begitu sakit, ia bahkan tidak mampu menopang beban tubuhnya sendiri.


Di sisi lain, Rafa yang saat itu hampir saja tiba melihat Tiara terduduk di tepi jalan di bawah bukit dengan keadaan yang cukup kacau.


Rafapun segera menghentikan mobilnya dan berlari menghampiri Tiara dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.


"Apa yang terjadi padamu Tiara? apa kau baru saja terjatuh?" tanya Rafa yang sudah berjongkok di hadapan Tiara.


"Kak Rafa, kenapa kak Rafa ada disini?" balas Tiara bertanya tanpa menjawab pertanyaan Rafa.


"Jawab dulu pertanyaanku, apa yang terjadi padamu?" ucap Rafa mengulang pertanyaannya.


"Tiara baru saja terjatuh dari atas hehehe...." jawab Tiara.


"Tidak bisakah sekali saja kau tidak ceroboh Tiara, kau selalu saja seperti ini, apa kau bisa berdiri?" ucap Rafa sekaligus bertanya.


"Tentu saja bisa, Tiara baik-baik saja, kak Rafa lihat bukan Tiara sama sekali tidak terluka, kak Rafa pergilah Tiara akan menyusul nanti!" jawab Tiara berbohong.


"Ayo berdirilah, kau harus segera berganti pakaian!" ucap Rafa yang sudah terlebih dahulu berdiri sambil mengulurkan tangannya pada Tiara.


"Kak Rafa pergi saja dulu, Tiara...."


"Kita pergi bersama," ucap Rafa memotong ucapan Tiara sambil menarik tangan Tiara, namun Tiara segera melepaskan tangan Rafa yang menarik tangannya.


"Kenapa? apa kau terluka?" tanya Rafa khawatir.


"Tidak," jawab Tiara dengan menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu berdirilah!" ucap Rafa.


Tiara menghela nafasnya lalu dengan perlahan berusaha untuk berdiri, namun belum sampai ia berdiri tegak ia sudah hampir saja terjatuh jika Rafa tidak segera menahannya.


"Duduklah, aku akan memeriksa kakimu!" ucap Rafa sambil menundukkan Tiara dengan perlahan kemudian memeriksa kaki Tiara.


"Aku harus melepas sepatumu, kau tidak keberatan bukan?" tanya Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


Rafa kemudian melepaskan sepatu Tiara dan mendapati memar yang cukup parah pada kaki Tiara serta goresan luka yang cukup dalam pada betis Tiara.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang!" ucap Rafa lalu membopong Tiara masuk ke dalam mobilnya.


"Tidak bisa kak, Tiara sedang melakukan syuting iklan untuk produk baru kita, Tiara tidak bisa pergi begitu saja," balas Tiara menolak.


"Kau tidak akan bisa melanjutkan syuting dengan keadaan seperti ini Tiara!" ucap Rafa lalu segera menyalakan mesin mobilnya, namun saat ia akan mengendarai mobilnya tiba-tiba Putra datang menghadang mobilnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Putra pada Rafa.


"Pergilah, jangan menghalangi jalanku!" ucap Rafa tanpa menjawab pertanyaan Putra.


"Kau tidak bisa membawa Tiara pergi, dia harus menyelesaikan syutingnya hari ini juga!" ucap Putra.


"Dia terluka, dia tidak akan melanjutkan syutingnya, aku akan memikirkan solusi yang lain untuk iklan produk baru, jadi sekarang minggirlah atau aku tidak akan segan untuk menabrakmu!" ucap Rafa lalu menginjak pedal gas mobilnya dan tanpa ragu mengendarai mobilnya ke arah Putra yang masih berdiri di hadapannya.


Putrapun segera membawa dirinya menepi, membiarkan Rafa meninggalkan tempat itu bersama Tiara meskipun ia tidak tahu apa yang terjadi pada Tiara saat itu.


Putra kemudian memberitahu sutradara bahwa Tiara terluka dan tidak bisa melanjutkan syutingnya.


"Lalu dimana Tiara sekarang pak?" tanya sutradara pada Putra.


"Dia sudah dibawa ke rumah sakit oleh Pak Rafa," jawab Putra.


"Pak Rafa? sejak kapan Pak Rafa ada disini?" tanya manajer pemasaran.


"Entahlah, semoga Tiara baik-baik saja, sekarang kita harus memikirkan cara lain untuk menyelesaikan iklan produk baru kita," jawab Putra yang dibalas anggukan kepala oleh semua yang ada disana.


Mereka semuapun mulai merapikan barang-barang mereka, semua perlengkapan syutingpun dirapikan satu persatu sebelum mereka meninggalkan tempat itu.


"Pak Rafa akan membantu memikirkan solusi lain untuk masalah ini dan akan menghubungi kalian secepatnya!" ucap Putra.


"Baik Pak," balas sutradara dengan anggukan kepala semua yang ada disana.


Semuanyapun mulai meninggalkan tempat itu, begitu juga dengan Putra yang mengendarai mobilnya untuk mencari rumah sakit terdekat dari sana.


Sesekali Putra membawa pandangannya pada kursi yang ada di sebelahnya, menatap tas yang berisi barang-barang milik Tiara.


Putra kemudian menghubungi Tiara untuk memastikan apakah Tiara membawa ponselnya atau tidak dan seperti dugaannya Tiara tidak membawa ponselnya, karena ia mendengar suara dering ponsel dari tas yang ada di kursi di sampingnya.


Tidak ada pilihan lain, Putrapun menghubungi Rafa meskipun ia tahu Rafa tidak akan menerima panggilannya.


Benar saja, sudah berkali-kali Putra menghubungi Rafa namun tidak ada satupun panggilannya yang diterima oleh Rafa hingga akhirnya ia pun mengirim pesan pada Rafa.


"Katakan padaku dimana Tiara sekarang, aku hanya ingin tahu keadaannya dan memberikan barang-barang miliknya yang tertinggal di lokasi syuting."


Ponsel Putra berdering, sebuah pesan masuk dari Rafa yang memberitahu alamat rumah sakit tempat Tiara dirawat.


Putrapun segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit itu. Sesampainya disana ia segera keluar dari mobilnya dengan membawa tas yang berisi barang-barang milik Tiara.


Namun baru saja ia menginjakkan kaki di lantai rumah sakit, Rafa sudah berjalan menghampirinya seolah menghadangnya, menghalanginya untuk bertemu dengan Tiara.


"Bagaimana keadaannya? apa dia baik-baik saja?" tanya Putra pada Rafa.


"Dia baik-baik saja, dimana barang milik Tiara?" jawab berapa sekaligus bertanya.


Putrapun memberikan tas yang dibawanya pada Rafa dan tanpa mengucapkan terima kasih Rafa berjalan meninggalkan Putra begitu saja.


Putra hanya menghela nafasnya panjang lalu berjalan pergi, mengendarai mobilnya meninggalkan rumah sakit itu.


"Sampai kapan kau akan terus seperti ini padaku Rafa?" tanya Putra pada dirinya sendiri.


Di sisi lain, Rafa membawa tas milik Tiara lalu memberikannya pada Tiara yang terduduk di atas ranjang rumah sakit.


"Ini milikmu bukan?" tanya Rafa memastikan.


"Iya kak ini milik Tiara, lalu bagaimana dengan syuting hari ini? apa mereka menundanya karena Tiara?" jawab Tiara sekaligus bertanya.


"Aku akan memikirkan konsep lain untuk iklan produk baru kita, karena tidak mempunyai cukup banyak waktu aku tidak yakin kau bisa tetap ikut terlibat dalam iklan itu jika keadaan kakimu masih seperti ini," jawab Rafa.


"Maafkan Tiara kak, gara-gara Tiara yang tidak berhati-hati Tiara jadi menyusahkan semuanya," ucap Tiara yang merasa bersalah.


"Ini bukan kesalahanmu, pasti ada cara lain untuk menyelesaikan iklan produk baru kita," balas Rafa.


Setelah beberapa lama berada di rumah sakit Rafapun mengantar Tiara pulang setelah dokter mengizinkan Tiara untuk pulang.


Karena keadaan kaki Tiara yang membuat Tiara belum bisa berjalan dengan baik, Tiarapun harus mengenakan kruk untuk membantunya berjalan.


"Kenapa kau menolak untuk menggunakan kursi roda? menggunakan kruk seperti ini bukankah lebih menyulitkanmu?" tanya Rafa pada Tiara yang menolak untuk menggunakan kursi roda.

__ADS_1


"Tiara hanya terluka kak, bukan lumpuh, beberapa hari lagi Tiara pasti akan sembuh dan bisa berjalan dengan baik, jadi menggunakan kursi roda itu rasanya terlalu berlebihan untuk Tiara," jawab Tiara.


"Kau harus mengambil cutimu bulan ini Tiara, kau harus beristirahat di rumah sampai kau benar-benar sudah bisa berjalan dengan baik!" ucap Rafa.


"Bagaimana dengan janji kak Rafa dulu? apa itu masih berlaku jika kak Rafa sekarang bekerja di perusahaan yang sama dengan Tiara?" tanya Tiara.


"Tentu saja itu masih berlaku, kau tau aku sudah menyiapkan semuanya bukan?"


"Kalau begitu Tiara tidak akan mengambil cuti hanya karena kaki Tiara sakit, Tiara akan mengambil cuti saat Tiara pergi ke luar negeri bersama kak Rafa," ucap Tiara.


"Tapi kau harus banyak beristirahat di rumah Tiara, kau tidak akan bisa bekerja dengan maksimal jika keadaanmu seperti ini!" ucap Rafa.


"Kak Rafa meremehkan Tiara?" tanya Tiara.


"Bukan begitu maksudku, jika kau mau beristirahat di rumah maka kakimu akan lebih cepat sembuh, jadi lebih baik......"


"Kak Rafa tenang saja, Tiara bukan gadis lemah seperti itu, Tiara masih bisa berjalan, Tiara masih bisa berpikir dan Tiara masih bisa mengerjakan semua pekerjaan Tiara dengan baik, kak Rafa mempercayai Tiara bukan?" ucap Tiara memotong ucapan Rafa.


"Aku mempercayai mutiara, tapi...."


"Tidak ada tapi jika kak Rafa memang mempercayai Tiara," ucap Tiara dengan sifat keras kepalanya yang membuat Rafa hanya bisa menghela nafasnya.


"Baiklah jika itu maumu," ucap Rafa mengalah yang membuat Tiara bersorak senang.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Rafa menghentikan mobilnya di depan rumah Tiara.


Rafa meminta kunci gerbang rumah Tiara lalu membuka gerbang itu sendiri dan membawa masuk mobilnya.


Rafa membantu Tiara keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Apa kau yakin akan bekerja dengan keadaanmu yang seperti ini?" tanya Rafa pada Tiara.


"Tentu saja Tiara yakin," jawab Tiara tanpa ragu.


"Aahh iya, kenapa kak Rafa bisa ada di lokasi syuting Tiara? apa ada yang meminta kak Rafa untuk datang?" lanjut Tiara bertanya.


"Tidak ada, aku hanya ingin melihat lihat saja," jawab Rafa beralasan.


"Oohh begitu, tapi Tiara masih penasaran kenapa kak Rafa tiba-tiba bisa bekerja di perusahaan yang sama dengan Tiara? kak Rafa tidak menutup kafe bukan?"


"Tentu saja tidak, dua kafeku masih berjalan seperti biasanya, aku hanya merasa memiliki banyak waktu luang jadi aku memutuskan untuk mencari kesibukan lain," balas Rafa.


"Mencari kesibukan lain dengan bekerja di perusahaan besar? waaahhh kak Rafa benar benar aneh sekali, tapi kenapa kak Rafa bisa tiba-tiba bekerja disana? bukankah sudah tidak ada perekrutan karyawan baru?"


"Kenapa kau banyak sekali bertanya Tiara? apa kau sangat penasaran dengan hal itu?" balas Rafa bertanya.


"Tentu saja, Tiara melewati banyak proses untuk bisa menjadi bagian dari perusahaan itu dan tiba-tiba saja kak Rafa ada disana sebagai pegawai baru, apa jangan-jangan kak Putra yang membantu kak Rafa?"


"Ini tidak ada hubungannya dengan Putra, jadi jangan membicarakannya!" balas Rafa cepat.


"Lalu kenapa kak Rafa bisa tiba-tiba ada disana? bagaimana caranya kak Rafa bisa tiba-tiba bekerja di perusahaan itu padahal sedang tidak ada perekrutan karyawan baru di sana?" tanya Tiara yang masih penasaran dengan keberadaan Rafa di perusahaan tempatnya bekerja.


"Simpan semua pertanyaanmu itu, kau akan tahu jawabannya nanti," ucap Rafa tanpa menjawab dengan pasti pertanyaan Tiara.


"Tapi kak......"


"Beristirahatlah dan jangan lupa minum obatmu, aku harus ke kantor sekarang!" ucap Rafa memotong ucapan Tiara sambil beranjak dari duduknya.


Tiarapun ikut beranjak dari duduknya dengan bantuan kruk yang ada di dekatnya.


"Apa kau mau aku membantumu masuk ke dalam kamar?" tanya Rafa yang segera dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


Rafa hanya tersenyum tipis lalu berjalan keluar dari rumah Tiara, diikuti oleh Tiara yang berjalan dengan menggunakan kruk.


"Terima kasih sudah mengantar Tiara pulang kak," ucap Tiara sebelum Rafa benar-benar pergi dari rumahnya.


"Jaga dirimu baik-baik Tiara, segera hubungi aku jika terjadi sesuatu padamu!" ucap Rafa sambil menepuk nepuk pelan kepala Tiara.


Tiara hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Sedangkan Rafa segera berjalan meninggalkan rumah Tiara, masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobilnya ke arah kantor.


Tiarapun segera membawa langkahnya yang tertatih ke arah sofa di ruang tamu. Ia memegang dadanya yang saat itu tengah bergemuruh, entah kenapa tiba tiba detak jantungnya kembali berdegup kencang bersama rasa bahagia yang belum pernah Tiara rasakan sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2