Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Cemburu?


__ADS_3

Hari telah berganti, Rafa baru saja mengerjapkan matanya saat ia melihat Putra yang sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.


"Apa rencanamu hari ini?" tanya Putra sambil merapikan dasinya di depan cermin.


"Entahlah, aku tidak punya rencana apapun," jawab Rafa yang masih terbaring di atas ranjang Putra.


"Apa kau tidak ingin menemui Tiara?" tanya Putra.


"Tentu saja aku ingin bertemu dengannya tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat," jawab Rafa.


"Kau benar, bertemu dengannya hanya akan membuatnya kehilangan fokus untuk melanjutkan mimpinya, bisa jadi dia sudah tidak ingin bertemu denganmu lagi!" ucap Putra.


"Dan apa kau akan memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekatinya?" tanya Rafa.


"Tentu saja, kekecewaan Tiara padamu adalah kesempatan besar bagiku untuk bisa masuk ke dalam hidupnya, menggantikan posisimu yang dulu selalu ada untuknya," jawab Putra.


"Kau menyebalkan sekali, apa kau sadar kau sudah berniat untuk merebut gadis yang dicintai oleh sahabatmu?"


"Tentu saja aku sadar, untuk masalah ini aku akan membiarkan Tiara memilih sendiri, entah itu aku atau kau yang akan dia pilih, asalkan dia bahagia itu sudah cukup bagiku," ucap Putra.


"Klasik sekali, kau pasti tidak akan membiarkanku mendekatinya bukan?"


"Tidak ada untungnya bagiku melakukan hal itu, melihat Tiara bersedih karena masih mengingatmu sama sekali tidak membuatku senang, setidaknya aku harus benar-benar membuat dia melupakanmu sebelum aku mendapatkannya," balas Putra.


"Bagaimana jika dia tidak bisa melupakanku?" tanya Rafa.


"Aku akan melepaskannya jika dia memang lebih bahagia bersamamu, lagi pula di dunia ini perempuan tidak hanya satu, aku yakin masih banyak Tiara Tiara lain yang ada di dunia ini," jawab Putra.


"Itu artinya kau tidak benar-benar mencintainya!" ucap Rafa.


"Mencintainya? hmmm.... aku memang menyukainya karena dia perempuan yang menyenangkan, tapi aku tidak tahu apa aku mencintainya atau tidak, tapi yang pasti aku ingin mendapatkannya," ucap Putra.


"Tapi aku tidak akan membiarkan kau mendapatkannya," balas Rafa.


"Apa kau tahu apa saja yang sudah dia rencanakan selama dia tinggal disini?" lanjut Rafa bertanya.


"Setahuku dia hanya ingin kuliah disini dan bekerja di cabang perusahaan yang ada disini, tapi mungkin itu hanya untuk sementara sampai dia mendapatkan pekerjaan lain disini dan yang pasti dia ingin benar-benar melupakanmu," jawab Putra.


"Aku akan membiarkannya melupakanku, setelah semua kekecewaannya padaku menghilang aku akan kembali mendekatinya dari awal, memulai kembali semuanya dengan lebih baik," ucap Rafa.


"Apa kau pikir semudah itu dia melupakanmu? tentu saja tidak Rafa, dia harus bergulat dengan kesedihannya sendiri untuk bisa melupakanmu," balas Putra lalu berjalan keluar dari kamarnya diikuti oleh Rafa.


"Apa kau akan bertemu dengannya hari ini?" tanya Rafa sebelum Putra keluar dari rumah.


"Hari ini aku akan mengajaknya ke kantor setelah jam makan siang, sekedar menunjukkan bagaimana kesibukan kantor disini," jawab Putra.


"Oke baiklah," ucap Rafa santai.


"Kau tidak cemburu?" tanya Putra.


"Cemburu hanya untuk orang yang tidak percaya diri, sedangkan aku percaya jika Tiara pasti lebih memilihku daripada kau hahaha...." jawab Rafa lalu kembali masuk ke dalam kamar.


Putra hanya tersenyum tipis lalu membawa langkahnya memasuki mobilnya, kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah.


Seperti biasa, sesampainya di kantor Putra mulai sibuk dengan pekerjaannya. Waktupun berlalu, jam makan siang sudah tiba. Putra mengendarai mobilnya meninggalkan kantor untuk menjemput Tiara di tempat tinggal Tiara.


Di sisi lain, Tiara yang memang sudah menunggu kedatangan Putra segera membawa langkahnya masuk ke arah mobil saat Putra sudah sampai di depan tempat tinggalnya.


"Apa kau sudah makan siang?" tanya Putra yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Kalau begitu kita makan siang dulu," ucap Putra lalu mengendarai mobilnya ke arah tempat makan yang berada tidak jauh dari kantor tempat Putra bekerja.


"Apa rencanamu setelah ini Tiara? apa kau sudah menemukan tempat tinggal yang baru?" tanya Putra pada Tiara.


"Tiara sudah mendapatkan tempat tinggal baru kak, Tiara akan tinggal disana bersama dengan teman Tiara yang berasal dari Korea," jawab Tiara.


"Kau masih memiliki waktu satu bulan sebelum mulai bekerja apa yang akan kau lakukan untuk mengisi waktumu?" tanya Putra.


"Tiara belum memikirkannya kak, tapi yang pasti Tiara tidak ingin berdiam diri, pasti sangat membosankan jika hanya berdiam diri di rumah," jawab Tiara.

__ADS_1


"Jika kau mau kau bisa ikut denganku ke kantor setiap hari, kau bisa memperhatikan cara kerja pegawai yang ada disana sebelum kau menjadi bagian dari mereka," ucap Putra.


"Benarkah? bolehkah Tiara melakukan hal itu?" tanya Tiara antusias.


"Tentu saja boleh, kau bisa datang kapanpun kau mau atau kau bisa menghubungiku agar aku menjemputmu," jawab Putra.


"Tiara akan datang sendiri kak, tempat tinggal Tiara tidak begitu jauh dari kantor, jadi Tiara bisa naik bus untuk datang ke kantor setiap harinya," ucap Tiara.


Setelah selesai makan siang, merekapun meninggalkan tempat makan itu. Putra mengendarai mobilnya ke arah kantor tempatnya bekerja bersama Tiara yang duduk di sampingnya.


Sesampainya di kantor, Putra dan Tiarapun berjalan melewati lobby kantor yang luas. Tanpa Tiara tahu sudah ada Rafa disana yang diam-diam memperhatikan Putra dan Tiara.


Putra yang menyadari keberadaan Rafapun dengan sengaja membuat Rafa cemburu. Putra berjalan dengan memegang bahu Tiara di hadapan Rafa yang menyembunyikan dirinya di belakang koran yang Rafa baca.


Rafa yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum tipis, ingin sekali ia menghampiri Putra dan Tiara lalu meraih tangan Tiara agar pergi menjauh dari Putra.


Tapi ia tidak bisa melakukan hal itu, ia tidak ingin keberadaannya disana hanya akan mengganggu Tiara.


Rafa hanya bisa bersabar, menunggu waktu yang tepat untuk ia kembali mendekati Tiara.


Di tempat lain, Tiara baru saja masuk ke ruangan Putra. Ia menatap pemandangan indah yang ada di hadapannya.


"Bolehkah Tiara berada disini sampai malam kak? sepertinya pemandangan disini akan lebih indah saat malam," tanya Tiara pada Putra.


"Tentu saja boleh, apa kau akan menemaniku sampai malam hari ini?" balas Putra.


Tiarapun menganggukkan kepalanya penuh semangat. Karena ia sudah tidak memiliki kesibukan apapun, iapun lebih memilih untuk menemani Putra sembari melihat pemandangan indah yang bisa ia lihat dari ruangan tempat kerja Putra.


"Setelah kau mulai bekerja disini kau pasti akan sering melihat pemandangan seperti ini," ucap Putra.


"Pasti menyenangkan sekali, Tiara sudah tidak sabar untuk bisa segera bekerja disini," balas Tiara.


"Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal pikiranku," ucap Putra yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Putra.


"Ada apa kak?" tanya Tiara.


"Itu bukan masalah untuk Tiara, justru Tiara sangat berterima kasih karena kak Putra sudah banyak membantu Tiara," ucap Tiara.


"Tapi kau tenang saja, setelah 6 bulan mereka menilai pekerjaanmu mereka akan segera menaikkan jabatanmu jika kau bisa mengerjakan pekerjaanmu dengan baik dan aku yakin kau pasti bisa melakukannya," ucap Putra.


"Tiara akan berusaha semaksimal mungkin kak, Tiara tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang Tiara miliki, bisa naik jabatan dalam waktu 6 bulan adalah sebuah kesempatan emas yang tidak boleh Tiara sia-siakan!"


Waktupun berlalu, Putra kembali sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Tiara hanya duduk dengan membaca buku di ruangan Putra.


Sesekali saat ia merasa bosan ia berjalan keluar dari ruangan Putra, Tiara berjalan ke berbagai tempat yang ada di perusahaan itu.


Dengan name tag yang ia dapatkan dari Putra tidak ada seorangpun yang bisa mengusirnya dari perusahaan itu, meskipun ia belum benar-benar menjadi bagian dari perusahaan itu.


Saat matahari mulai tenggelam Tiara segera membawa langkahnya memasuki lift yang akan membawanya naik ke lantai 11 untuk kembali ke ruangan Putra.


Namun saat pintu lift baru saja terbuka Tiara begitu terkejut melihat laki-laki yang berdiri di dalam lift. Namun sebelum pintu lift kembali tertutup Tiara segera menyadarkan dirinya dari keterkejutannya lalu dengan cepat masuk ke dalam lift sebelum pintu lift tertutup.


"Aku mengenal bahwa parfum ini," ucap Tiara dalam hati saat ia sudah berdiri di dalam lift bersama seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya.


Laki-laki yang menggunakan topi hitam dan masker hitam itu mengingatkan Tiara pada sosok yang ingin dia lupakan.


Meskipun hanya melihat matanya untuk beberapa detik saja, tapi sorot mata itu membuat Tiara tiba-tiba teringat Rafa.


Sorot mata yang hanya beberapa detik ia lihat itu seperti tidak asing baginya, terlebih parfum yang menyeruak ke dalam hidungnya membuat kepalanya kembali terisi oleh memori kebersamaannya bersama Rafa.


Namun Tiara berusaha untuk mengabaikan hal itu, ia tidak ingin terlalu lama larut pada sesuatu yang ingin Ia lupakan.


"Tenang Tiara, jangan berpikir terlalu jauh, bukan hanya dia yang menggunakan parfum ini, lupakan.... lupakan...." ucap Tiara dalam hati.


Setelah pintu lift terbuka di lantai 11, Tiarapun segera membawa langkahnya keluar, begitu juga laki-laki yang bersama Tiara saat itu.


"Dia bukan laki-laki jahat bukan? kenapa dia terlihat tertutup sekali?" batin Tiara bertanya dalam hati sambil mempercepat langkahnya ke arah ruangan Putra.


Namun saat Tiara akan masuk ke dalam ruangan Putra, laki-laki itu segera berbalik dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Tiarapun segera membawa langkahnya masuk ke dalam ruangan Putra dan duduk di hadapan Putra.


"Ada apa Tiara? kenapa kau terlihat ketakutan seperti itu?" tanya Putra yang melihat raut wajah Tiara menegang.


"Tiara bertemu laki-laki aneh kak," jawab Tiara.


"Laki-laki aneh? aneh seperti apa maksudmu?" tanya Putra penasaran.


"Dia memakai pakaian serba hitam, memakai masker dan topi hitam, dia berjalan di belakang Tiara saat Tiara keluar dari lift, tapi saat Tiara akan masuk ke dalam ruangan ini dia tiba-tiba berbalik dan pergi, aneh sekali bukan?"


Putra hanya tersenyum tipis mendengar cerita Tiara, meskipun tidak melihatnya secara langsung tetapi ia sudah bisa menduga siapa laki-laki yang Tiara maksud.


"Kenapa kak Putra tersenyum? bagaimana jika dia laki-laki jahat?" tanya Tiara khawatir.


"Jangan khawatir, tidak ada orang seperti itu di kantor ini Tiara, keamanan di kantor ini sangat ketat, tidak sembarang orang bisa masuk kesini, jadi kau tidak perlu khawatir," jawab Putra.


"Tapi dia....."


"Sudah jangan dipikirkan, dia tidak mengganggumu bukan?" tanya Putra memotong ucapan Tiara.


Tiarapun hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, karena memang laki-laki itu sama sekali tidak mengganggunya bahkan hanya diam selama mereka berdua di dalam lift.


Tiara kemudian membawa pandangannya menatap dinding kaca di belakang Putra. Matanya membulat menyaksikan keindahan lampu-lampu kota yang ia lihat dari ketinggian.


"Waahhh ini indah sekali kak," ucap Tiara yang merasa takjub dengan apa yang dilihatnya.


Setelah beberapa lama berkutat dengan pekerjaannya, Putrapun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dan mengajak Tiara untuk pulang.


"Kapan kau akan pindah dari dorm?" tanya Putra saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Sepertinya lusa," jawab Tiara.


"Kau bisa menghubungiku, aku akan membantumu untuk menyewa mobil yang akan membawakan barang-barangmu ke tempat baru," ucap Putra yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Putrapun menghentikan mobilnya di depan tempat tinggal Tiara.


"Terima kasih sudah mengantar Tiara kak, terima kasih juga sudah mengizinkan Tiara melihat pemandangan indah dari ruangan kak Putra," ucap Tiara.


"Kapanpun kau senggang kau bisa menemuiku di kantor Tiara," balas Putra.


Putra kemudian mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah ia segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumahnya.


Namun saat ia memasukkan kuncinya ke dalam lubang kunci, ia tidak bisa memutarnya seperti ada kunci lain yang tersangkut di dalamnya.


Putrapun mengetuk pintu beberapa kali sambil memanggil Rafa, namun sama sekali tidak ada balasan dari dalam rumahnya.


Putra kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Rafa, namun tidak ada jawaban.


"Rafa bukalah, ini sama sekali tidak lucu!" ucap Putra sambil mengetuk pintu rumahnya.


Hening, sama sekali tidak ada jawaban dari dalam rumah.


"Rafa di luar sudah minus 1 derajat, apa kau akan membiarkanku membeku disini?" teriak Putra namun lagi lagi tidak ada jawaban dari dalam.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Putra berdering, sebuah pesan masuk dari Rafa.


"Sepertinya kau harus tidur di hotel jika kau tidak ingin mati kedinginan!"


Setelah membaca pesan itu Putrapun segera membawa langkahnya ke arah jendela kamar yang berada di dekat taman.


Ia menggedornya beberapa kali sampai akhirnya Rafa membuka tirai jendela kamar itu.


"Rafa, buka pintunya!" ucap Putra yang melihat Rafa hanya berdiri dengan membaca buku di dekat jendela.


Putrapun kembali menggedor-gedor jendela kamarnya dan tak lama kemudian Rafa keluar dari kamar.


Putrapun bernafas lega karena berpikir jika Rafa akan membukakan pintu untuknya, namun tak lama kemudian Rafa kembali masuk ke dalam kamar dengan membawa semangkok mie dan coklat panas lalu menikmati mie dengan kepulan asap itu di depan Putra yang masih menggigil di luar rumah.

__ADS_1


__ADS_2