
Hanya tinggal waktu satu minggu bagi Tiara untuk bertahan di perusahaan tempatnya bekerja, setelah itu ia akan benar-benar pergi. Ia sudah mempersiapkan diri dengan baik jika dirinya tidak lolos untuk berkesempatan melanjutkan kuliahnya di luar negeri, Tiara akan benar-benar mengundurkan diri dari perusahaan itu lalu memulai hidup barunya di kota lain.
Meskipun begitu, Tiara berusaha untuk fokus belajar agar ia bisa lolos dalam tes yang akan diadakan minggu depan, agar dia bisa memulai mimpi barunya dengan melanjutkan kuliah S2 nya di luar negeri.
Tidak mudah memang melupakan seseorang yang ia cintai. Meskipun ia baru menyadari perasaannya pada Rafa, tetapi perasaan itu seolah sudah tumbuh dan mengakar dalam hatinya.
Tapi Tiara sadar siapa dia sebenarnya, ia berpikir bahwa dirinya tidak lebih hanya seorang perempuan kedua dalam rumah tangga Rafa dan Maya.
Entah bagaimanapun keadaan rumah tangga Rafa dan Maya, Tiara tidak bisa membiarkan dirinya terlibat lebih jauh dengan Rafa ataupun Maya.
Sebagai sesama perempuan Tiara mengerti apa yang Maya rasakan saat Maya mengetahui bahwa Rafa dekat dengannya dan tentu saja hal itu sangat menyakitkan bagi Maya.
Tiara tidak ingin terlalu lama berada di posisi yang menyakitkan, entah bagi dirinya sendiri ataupun orang lain, terlebih orang lain itu adalah seseorang yang begitu baik padanya yang membantunya keluar dari masalah yang sedang ia hadapi di masa lalu.
Di sisi lain, setelah Tiara memblokir nomor Rafa dari kontak penyimpanannya, Rafapun berusaha menghubungi Tiara dengan nomor yang baru, membuat Tiara memutuskan untuk mengganti nomornya agar Rafa berhenti menghubunginya.
Namun karena Rafa adalah CEO di tempat Tiara bekerja, maka tidak sulit bagi Rafa untuk mendapatkan nomor baru Tiara dan Rafapun tidak menyerah untuk berusaha menghubungi Tiara.
Meskipun mereka bekerja dalam perusahaan yang sama tetapi mereka sama sekali tidak pernah bertemu dan Rafapun sadar akan posisinya di perusahaan.
Rafa tidak ingin masalah pribadinya dengan Tiara mempengaruhi kinerjanya yang nantinya akan merugikan perusahaan.
Itu kenapa Rafa berusaha untuk menyelesaikan masalahnya di luar kantor dan tetap menjaga profesionalismenya saat ia berada di kantor.
Sejak hari dimana Tiara mendapati fakta bahwa Rafa adalah laki-laki yang sudah beristri, Tiara sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihan dalam hatinya.
Keceriaan yang selalu menyebar di manapun ia berada kini sudah tidak pernah lagi terlihat. Ia hanya akan tersenyum tipis pada lelucon yang ia dengar dari teman-temannya tanpa banyak menanggapi ataupun membicarakan hal lain dengan teman-temannya.
Hal itu tentu saja membuat teman teman Tiara bertanya-tanya, tapi Tiara tidak pernah menjawabnya dengan pasti dan lebih memilih untuk menjauh saat teman-teman Tiara menanyakan hal itu.
Tidak mudah bagi Tiara untuk berusaha selalu baik-baik saja di tengah rasa sakit yang ia rasakan. Baginya terlalu banyak kenangan indah antara dirinya dan Rafa Meskipun mereka belum terlalu lama saling mengenal.
Rafa yang mengulurkan tangannya saat Tiara mengalami masa-masa sulit, membuat Tiara menyimpan begitu banyak memori tentang kebersamaannya bersama Rafa.
Semakin ia ingin menghapus semua kenangan itu semakin kenangan itu kembali memutar di kepalanya yang pada akhirnya hanya menyisakan rasa sakit yang semakin memeluknya dengan erat.
Meskipun begitu Tiara tetap berusaha untuk bekerja dengan baik dan mempersiapkan dirinya untuk tes yang akan ia lakukan minggu depan.
Di sisi lain Putra semakin terang-terangan mendekati Tiara di manapun Tiara berada. Ia tidak peduli pada anggapan miring orang lain di kantor tentang dirinya dengan Tiara.
Baginya tidak ada yang salah jika ia memiliki hubungan dengan teman sekantor asalkan ia tetap bisa menjaga profesionalisme dan tidak melibatkan masalah pribadi pada pekerjaan di kantor.
Hal itu tentu saja membuat Rafa marah namun tidak ada yang bisa dia lakukan karena ia tidak memiliki hak untuk melarang Putra mendekati Tiara.
Sama halnya seperti hari itu, Tiara sedang berada di ruang penyimpanan untuk mengambil beberapa file yang ia butuhkan sebagai rujukan untuk mengerjakan laporan yang ditugaskan oleh manajernya.
Saat Tiara akan mengambil file yang ada di ujung tertinggi rak, ia tiba-tiba teringat pertemuan pertamanya dengan Rafa di kantor.
Tiara terdiam untuk beberapa saat, ia berusaha untuk bisa mengendalikan dirinya sendiri saat itu, namun tetap saja pada akhirnya bulir air mata menetes dari kedua matanya.
Karena Tiara pikir tidak ada siapapun di ruangan penyimpanan, Tiarapun menjatuhkan dirinya di lantai, menutup kedua matanya dengan tangan lalu menangis dengan terisak pelan.
Tanpa Tiara tahu Putra ternyata sudah memperhatikan Tiara sejak beberapa saat yang lalu. Putra kemudian mengambil sebuah tangga kecil yang memang diperuntukkan untuk mengambil file yang ada di tempat yang tinggi.
Putra membawa tangga kecil itu lalu menaruhnya di dekat Tiara. Tiara yang menyadari keberadaan seseorang di sampingnya segera menghapus air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Apa kau menangis hanya karena tidak bisa mengambil file yang ada disana?" tanya Putra berbasa-basi.
Tiara hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia hanya menundukkan wajahnya berusaha menghindar dari tatapan Putra.
__ADS_1
"Kau bisa memakai tangga ini untuk mengambil file yang tertinggi sekalipun, apa kau butuh bantuanku?" ucap Putra sekaligus bertanya.
"Tidak Pak, terima kasih, Tiara akan mengambilnya sendiri," jawab Tiara.
"Baiklah, jika sudah selesai segera keluar dari sini, berlama-lama berada di ruangan ini akan membuatmu kehabisan oksigen," ucap Putra lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara.
Tiara kemudian menaiki tangga kecil itu untuk mengambil file yang ia butuhkan lalu mengembalikan tangga ke sudut ruangan dan keluar dari ruangan itu.
Tiara berjalan ke arah toilet terlebih dahulu sebelum ia kembali ke meja kerjanya, ia ingin membasuh wajahnya yang tampak sembab sebelum ia melanjutkan pekerjaannya.
Saat tengah mengeringkan wajahnya dengan tisu di wastafel toilet, seseorang berjalan ke arah Tiara untuk mencuci tangan di samping Tiara.
"Aku dengar kau akan mengikuti program untuk kuliah di luar negeri," ucap Dita sambil mencuci tangannya.
"Iya, kenapa?" jawab Tiara sekaligus bertanya.
"Lebih baik kau mengundurkan diri saja, semua orang di kantor ini tahu bahwa kau dekat dengan Pak Putra, jika kau lolos dalam program itu mereka pasti akan bergunjing tentangmu dan Pak Putra, mereka pasti akan berpikir jika kau lolos karena bantuan Pak Putra, bukan karena kemampuanmu sendiri dan tentunya hal itu akan membuat nama pak Putra menjadi tidak baik," ucap Dita.
"Apa menurutmu aku akan melakukan hal itu?" tanya Tiara.
"Itu terserah kau saja, aku hanya mengingatkanmu, bukankah sangat disayangkan jika citra baik Pak Putra hancur hanya karenamu?" balas Dita lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara begitu saja.
Tiara hanya menghela nafasnya lalu meninggalkan toilet dan kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Saat Tiara tengah mengerjakan pekerjaannya ia tiba-tiba teringat ucapan Dita padanya.
"Apa benar aku akan membuat citra baik Pak Putra hancur jika banyak orang yang bergunjing tentangku dan Pak Putra?" batin Tiara bertanya dalam hati.
Tiara menghela nafasnya kasar lalu merapikan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang saat jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore.
"Apa kau akan pulang sekarang Tiara?" tanya salah satu teman Tiara.
"Sebenarnya dimana kau tinggal sekarang? kenapa kau merahasiakannya dari kami?" tanya teman Tiara.
"Karena memang Tiara tidak ingin siapapun tahu dimana Tiara tinggal," jawab Tiara dengan tersenyum tipis lalu berpamitan untuk pulang.
Tiarapun membawa langkahnya ke arah halte yang ada di dekat kantor. Baru saja Tiara duduk di halte, sebuah mobil berhenti di depan Tiara, si pemilikpun segera keluar dari mobilnya untuk menghampiri Tiara.
"Aku akan mengantarmu," ucap Putra.
"Terima kasih Pak, tapi bus Tiara sudah datang, Tiara permisi," balas Tiara dengan sedikit menundukkan kepalanya lalu segera berjalan ke arah bus yang baru saja datang.
Buspun segera melaju meninggalkan halte, karena Tiara duduk di bangku yang paling belakang ia bisa melihat jika mobil Putra tampak mengikuti bus yang sedang dinaikinya.
"Sepertinya kak Putra mengikutiku, aku tidak boleh pulang sekarang!" ucap Tiara dalam hati saat ia menyadari jika Putra mengikuti bus yang ditumpanginya.
Tiara kemudian turun di halte lain agar Putra tidak mengetahui dimana dia tinggal. Tiarapun duduk di halte lalu mengambil ponsel miliknya dan mengirimkan pesan pada Putra.
"Tolong berhenti mengikuti Tiara kak, tolong jangan membuat Tiara tidak nyaman!"
Tak lama kemudian mobil Putrapun berhenti di depan Tiara, Putra kembali keluar dari mobilnya untuk menghampiri Tiara.
"Jika kau tidak ingin aku mengikutimu maka beritahu aku dimana kau tinggal," ucap Putra pada Tiara tanpa berbasa-basi.
"Bukankah Tiara berhak untuk merahasiakan tempat tinggal Tiara dari kak Putra?" tanya Tiara.
"Kau benar, tapi....."
"Tiara sudah cukup kesulitan menjalani hari-hari Tiara di kantor kak, jadi Tiara mohon biarkan Tiara tenang dengan merahasiakan tempat tinggal Tiara dari siapapun," ucap Tiara memotong ucapan Putra.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, setidaknya beri aku waktu untuk bisa mengobrol denganmu, apa kau bersedia?"
"Tapi tidak lebih dari 30 menit!" ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Putra.
Tiara kemudian masuk ke dalam mobil Putra dan Putrapun segera mengendarai mobilnya ke arah kafe terdekat dari halte itu.
Mereka mengobrol di kafe dengan dua gelas minuman dan makanan ringan di hadapan mereka.
"Aku dengar manajer pemasaran menunjukmu untuk mengikuti program kuliah di luar negeri, apa itu benar?" tanya Putra yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Kau tidak mengikuti program itu hanya untuk melarikan diri bukan?" tanya Putra.
"Itu adalah salah satu tujuan Tiara, selain itu Tiara juga berusaha untuk memulai mimpi baru Tiara disana," jawab Tiara.
"Aaahh iya, ada sesuatu yang ingin Tiara tanyakan kak," lanjut Tiara yang tiba-tiba teringat ucapan Dita padanya beberapa saat yang lalu.
"Tanyakan saja," balas Putra.
"Apa kak Putra terlibat dengan program ini?" tanya Tiara.
"Tentu saja tidak, bukankah kau tahu aku sekarang asisten pribadi Rafa, jadi tugasku hanya membantu Rafa mengerjakan pekerjaannya, kenapa kau menanyakan hal itu?" jawab Putra sekaligus bertanya.
"Tiara hanya takut jika Tiara lolos orang-orang akan bergunjing tentang Tiara dan kakak, mungkin mereka akan berpikir jika Tiara lolos karena bantuan kakak sama seperti yang pernah terjadi sebelumnya," jawab Tiara menjelaskan.
"Kau jangan memikirkan hal itu, program kali ini memang diadakan khusus untuk karyawan baru yang dinilai memiliki potensi tinggi untuk bisa melanjutkan kuliahnya di luar negeri, hanya akan ada satu hari tes yang tentu saja tidak akan mudah untuk dilalui dan semua tes itu akan dilakukan secara transparan jadi semua orang bisa memantau setiap hasil dari tes yang akan kau lakukan nanti," ucap Putra menjelaskan.
"Tapi bagaimana jika mereka tetap saja bergunjing tentang hal itu? Tiara takut hal itu akan mempengaruhi nama baik kakak," tanya Tiara khawatir.
"Tidak perlu mengkhawatirkannya Tiara, kau hanya perlu fokus untuk belajar lebih giat agar kau bisa memenangkan program itu," ucap Putra.
Setelah 30 menit berlalu, Tiarapun berpamitan untuk pulang dan Putrapun terpaksa harus membiarkan Tiara pulang seorang diri karena ia sudah berjanji untuk tidak akan mengikuti Tiara lagi agar Tiara tetap nyaman bekerja di perusahaan yang sama dengannya.
Setelah beberapa lama menghabiskan waktunya sendiri di kafe, Putrapun meninggalkan kafe itu, bukan untuk pulang ke rumahnya melainkan untuk pergi ke rumah orang tua Rafa.
Sesampainya di rumah orang tua Rafa, Putrapun segera menemui papa Rafa.
"Tumben sekali kau mencariku, apa ada masalah di kantor?" tanya Adam pada Putra.
"Tidak ada Om, semuanya terkendali dengan baik, Rafa bisa menghandle semua masalah yang ada sebelum masalah menjadi besar," jawab Putra.
"Tapi sepertinya hubunganmu dengan Rafa belum membaik, padahal Om sangat berharap dengan kalian bekerja sama hubungan kalian akan cepat membaik," ucap Adam.
"Maaf om, tapi kedatangan Putra kesini bukan untuk membicarakan hal itu," ucap Putra.
"Apa yang ingin kau katakan Putra? tidak biasanya kau menemui Om secara langsung seperti ini jika bukan karena ada sesuatu yang sangat penting!"
"Sebelumnya Putra sangat berterima kasih karena Om sudah mempercayakan posisi asisten CEO pada Putra, tapi ada yang ingin Putra sampaikan tentang keinginan Putra, om!" ucap Putra.
"Sampaikan saja apa keinginanmu, asalkan itu baik untukmu tentu saja Om akan membantumu!"
"Bolehkah Putra pindah ke cabang perusahaan yang berada di Amerika? posisi apapun akan Putra terima jika Putra diperbolehkan untuk pindah kesana!"
Adam begitu terkejut mendengar apa yang Putra katakan, karena tiba-tiba saja Putra ingin pindah ke cabang perusahaan yang berada di luar negeri.
"Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin pindah ke sana?" tanya Adam memastikan alasan Putra.
"Putra ingin mengenal lebih jauh tentang cara kerja perusahaan kita yang berada di luar negeri, Putra ingin pengalaman baru om, Putra ingin mempelajari banyak hal baru disana," jawab Putra menjelaskan alasannya.
Adam mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, ia masih memikirkan apakah dia akan menyetujui keinginan Putra atau tidak.
__ADS_1