Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Keputusan Tiara (2)


__ADS_3

Tiara masih duduk bersama Maya, mama Laras, Gita dan Bima. Sejak awal kedatangannya ia hanya diam membiarkan Maya menjelaskan semuanya pada mama Laras.


Bukan karena ia takut menghadapi mama Laras, ia hanya merasa enggan untuk menanggapi semua ucapan mama Laras yang seolah mengemis haknya pada warisan yang papanya tinggalkan.


Tak dapat dipungkiri mama Laras memang berhak untuk mendapatkan aset yang papanya tinggalkan, namun dengan semua sikap mama Laras selama ini membuat Tiara lebih memilih mengikuti perintah sang papa melalui surat wasiat yang ditinggalkan oleh papanya.


Tanpa Tiara tau di akhir hayatnya sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, papa Tiara menyadari bahwa istri keduanya itu tidak benar-benar mencintainya dan hanya mengincar hartanya saja.


Itu kenapa papa Tiara menulis surat wasiat seperti itu karena ia takut jika Tiara tidak akan diperlakukan dengan baik setelah kepergiannya.


Dan hal itu benar terbukti, sejak kepergian papa Tiara, mama Laras mulai menunjukkan sifat aslinya pada Tiara.


Mulai dari membentak, memarahi hingga menampar Tiara hanya karena kekesalannya saja. Tiara bahkan sering diancam untuk diusir dari rumah jika Tiara melakukan kesalahan yang tidak seberapa.


Setiap harinya ada saja alasan Mama Laras untuk memarahi, membentak bahkan menampar Tiara. Meskipun begitu Tiara masih bertahan di rumah itu karena ia masih mempunyai Gita yang saat itu selalu memeluknya dengan kasih sayang seorang kakak.


Namun pada akhirnya Tiara tahu bahwa semua kasih sayang yang ia dapatkan hanyalah hasil kebohongan yang dilakukan oleh Gita karena rasa iri Gita dan perintah dari sang mama.


Tiara sadar apa yang dia lakukan dengan Bima memang sebuah kesalahan, namun di luar itu kebohongan Gitapun tidak bisa dibenarkan.


"Tiara sudah menceritakannya pada kak Maya, tentang kesalahan yang pernah Tiara lakukan pada kak Gita," ucap Tiara membalas ucapan Maya.


"Apa itu ada hubungannya dengan Bima?" tanya Maya yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Tiara akui apa yang pernah Tiara lakukan dengan kak Bima adalah sebuah kesalahan, tidak ada yang Tiara salahkan disini selain diri Tiara sendiri, itu kenapa Tiara memutuskan untuk membiarkan rumah ini menjadi milik kak Gita sebagai bentuk permintaan maaf Tiara pada kak Gita atas kesalahan yang sudah Tiara lakukan," ucap Tiara.


"Apa kau pikir kau bisa membeli kekecewaanku padamu hanya dengan rumah ini?" sahut Gita bertanya.


"Kecewa? kenapa kakak harus kecewa pada Tiara? bukankah kakak mengetahui hubungan Tiara dengan kak Bima sebelum kalian menikah? jika memang kakak kecewa dengan hal itu seharusnya kakak membatalkan saja pernikahan kakak dengan kak Bima, bukankah kakak tidak mencintai kak Bima sama sekali?" balas Tiara bertanya.


"Aku....."


"Aaahhh Tiara tau, Tiara ingat kata kata kakak yang menerima pernikahan kakak dengan kak Bima hanya karena ketampanan dan harta yang dimiliki kak Bima, benar bukan? dan Tiara baru sadar jika bisa jadi semua itu memang sudah direncanakan oleh mama Laras dan orang tua kak Bima, benar begitu kak Bima?" tanya Tiara memotong ucapan Gita.


"Jangan membawa orangtuaku dalam masalah kita Tiara!" ucap Bima.


"Loh kenapa? bukankah orangtua kak Bima juga ikut memaksa Tiara menandatangani surat pernyataan yang hanya menguntungkan kalian semua? aaahhhh Tiara tau, pernikahan kak Bima dan kak Gita pasti hanya alat untuk mama Laras dan orang tua kak Bima mendapatkan harta warisan papa, benar bukan?" tanya Tiara dengan membawa pandangannya pada mama Laras.


"Kau......"


"Bukan cuma itu, kak Bima juga sengaja menerima perjodohan itu karena kak Bima dijanjikan untuk menjadi pimpinan di perusahaan cabang oleh papa kak Bima, jadi pernikahan kalian memang benar benar sudah direncanakan demi mendapatkan keuntungan untuk kalian masing masing, apa Tiara salah? apa ada hal lain yang Tiara tidak tau?"


"Cukup Tiara!" ucap Mama Laras yang segera beranjak dari duduknya bersiap untuk menampar Tiara.


Namun dengan sigap Tiara menahan tangan mama Laras dan mencengkeramnya dengan kuat.


"Tiara tidak akan membiarkan Mama menampar Tiara lagi, apa yang Mama lakukan terakhir kali adalah kesempatan terakhir mama untuk menampar dan menyakiti Tiara!" ucap Tiara dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.


Mama Laraspun terkejut melihat sikap Tiara. Namun saat mama Laras akan menarik tangannya, Tiara seolah semakin mencengkramnya dengan kuat.


"Apa yang sudah mama Laras lakukan membuat Tiara trauma, membuat Tiara menarik diri dari banyak orang, jadi apa pantas mama Laras mendapatkan harta yang papa tinggalkan?" lanjut Tiara.


"Tiara cukup, lepaskan," ucap Maya dengan suara pelan.


Tiara tersenyum tipis lalu melepaskan cengkeramannya pada tangan mama Laras, membuat mama Laras segera kembali ke tempat duduknya.


"Kau sangat berbeda dengan Tiara yang dulu, papamu pasti akan sangat kecewa melihatmu seperti ini," ucap mama Laras.


"Tidak, justru papa dan mama akan sangat bangga melihat Tiara yang bisa membela diri dan melawan mama Laras," balas Tiara.


"Tolong hentikan pertengkaran kalian, hal itu tidak akan mengubah apapun disini," ucap Maya berusaha menengahi.


"Tapi ini benar benar tidak adil, bagaimanapun juga Tiara meninggalkan rumah ini karena keputusannya sendiri!" ucap Mama Laras.


"Bima setuju," sahut Bima yang membuat Tiara membawa pandangannya pada Bima.

__ADS_1


"Tiara meninggalkan rumah ini karena merasa bersalah pada Gita, karena Gita mengetahui hubungannya dengan saya yang saat itu sudah menjadi suami Gita, jadi bukan mama Laras ataupun Gita yang mengusir Tiara," lanjut Bima.


"Kak Bima salah!" ucap Tiara.


"Sebelum kak Gita mengetahui hubungan kita, Tiara sudah berusaha mengakhiri hubungan Tiara dengan kak Bima, tapi kak Bima yang selalu menolaknya bahkan memaksa Tiara untuk melakukan hal yang di luar batas, kepergian Tiara dari rumah ini karena fakta menyediakan yang Tiara tau, bahwa selama ini tidak ada yang benar benar mencintai Tiara disini, entah itu kak Gita ataupun kak Bima, semua orang yang tinggal di rumah ini dipenuhi kebohongan demi kepentingan mereka sendiri sendiri," lanjut Tiara.


"Baiklah, keputusan sudah ditetapkan, semua aset yang ditinggalkan oleh pak Ardi akan menjadi milik Tiara sepenuhnya, tapi karena Tiara masih memikirkan kakaknya dan sebagai bentuk permintaan maafnya atas kekhilafan yang pernah Tiara lakukan maka Tiara memberikan rumah ini untuk Gita, apa kau setuju Gita?" ucap Maya sekaligus bertanya pada Gita.


"Jika saya tidak setuju?"


"Itu artinya kau menolak niat baik Tiara yang masih menganggapmu kakaknya dan kalian harus angkat kaki dari rumah ini sekarang juga," jawab Maya dengan tegas.


"Bisakah kita memikirkan hal ini dulu? ini....."


"Maaf tidak bisa, keputusan ini sepenuhnya ada pada Tiara, jika Tiara sudah memutuskan maka kalian semua harus menurutinya dan menandatangi berkas ini," ucap Maya memotong ucapan mama Laras.


"Hanya ada dua pilihan, menerima rumah ini sebagai bentuk permintaan maaf Tiara pada Gita, atau menolaknya dan kalian harus pergi dari rumah ini sekarang juga," lanjut Maya.


"Kau benar benar keterlaluan Tiara!" ucap mama Laras.


"Kau seperti bukan Tiara yang aku kenal," sahut Bima.


"Itu artinya kak Bima tidak benar benar mengenal Tiara," balas Tiara.


"Silahkan berikan keputusanmu Gita, apa kau mau menerima rumah ini atau kau mau meninggalkan rumah ini sekarang juga bersama mama dan suamimu!" ucap Maya pada Gita.


Gita hanya terdiam dengan membawa pandangannya pada sang mama yang juga hanya terdiam saat itu.


"Kau dan mama Laras bisa tinggal di rumahku untuk sementara sampai aku selesai menyiapkan rumah baru untuk kita" ucap Bima pada Gita.


"Tidak, kita harus tetap tinggal disini, setidaknya papamu masih memberikan rumah ini pada kita," sahut mama Laras.


"Sepertinya mama salah paham, rumah ini bukan pemberian papa, melainkan pemberian Tiara, bukankah sudah dijelaskan jika papa tidak memberikan apapun pada mama dan kak Gita, apa mama lupa?" ucap Tiara sekaligus bertanya pada sang mama.


Ia pikir Tiara akan berpikir berkali kali untuk memberikan keputusan itu pada Maya karena takut dirinya akan kembali disakiti seperti sebelumnya.


"Apa kau tidak akan menyesali keputusanmu ini Tiara?" tanya mama Laras.


"Tentu saja tidak," jawab Tiara penuh percaya diri.


Mama Laras hanya tersenyum tipis lalu mengambil berkas yang ada di depannya.


"Bagian mana yang harus aku tanda tangani?" tanya mama Laras.


"Bagian ini dan ini, kau juga harus menandatangani bagian ini dan ini Gita," jawab Maya sambil menunjuk berkas yang ada di hadapan mama Laras.


Setelah mama Laras dan Gita menandatangani berkas itu, Mayapun merapikan kembali berkas berkas yang dibawanya


"Saya harap kalian tidak akan menggangu Tiara lagi karena keputusan Tiara yang mungkin tidak kalian inginkan, jika sampai terjadi sesuatu pada Tiara maka kalianlah yang akan pertama kali menjadi tersangkanya dan saya pastikan tidak akan ada yang bisa lolos dari tangan saya," ucap Maya memberi peringatan.


"Atas dasar apa kau mengancam seperti itu?" tanya mama Laras.


Maya terkekeh mendengar pertanyaan mama Laras.


"Saya bukan pengacara kemarin sore, banyak kasus yang sudah saya tangani dan hal semacam itu bukanlah hal baru dalam hidup saya, jadi jangan pernah mencoba menggangu Tiara jika kalian tidak ingin menyesali perbuatan kalian nantinya," ucap Maya.


"Dan kau juga harus memperingatkan orangtuamu Bima!" lanjut Maya dengan membawa pandangannya pada Bima.


Kini mama Laras, Gita dan Bima hanya bisa terdiam. Lidah mereka seolah beku dan tak mampu berkata kata lagi.


Sedangkan Maya membawa pandangannya pada Tiara dengan tersenyum yang juga dibalas senyum kemenangan oleh Tiara.


Maya dan Tiarapun berpamitan pergi. Rumah yang dulunya menjadi tempat tinggal Tiara bersama papa dan mama kandungnya kini sudah menjadi milik Gita.


Sekarang rumah itu bukan lagi rumahnya, melainkan rumah Gita.

__ADS_1


"Ini pasti bukan keputusan yang mudah buatmu!" ucap Maya pada Tiara.


"Tiara harap mama dan papa bisa mengerti keputusan Tiara sekarang," ucap Tiara.


"Mereka pasti bisa memahamimu Tiara," balas Maya.


Maya kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Gita bersama Tiara.


"Tiara turun di halte saja kak, Tiara harus pergi ke tempat lain dulu!" ucap Tiara pada Maya.


"Katakan saja dimana, aku akan mengantarmu," balas Maya.


"Tidak kak, Tiara akan pergi sendiri," ucap Tiara.


"Baiklah," balas Maya.


"Tiara berterima kasih atas bantuan kak Maya terima kasih juga karena sudah menjalankan amanah dari papa dengan sangat baik," ucap Tiara pada Maya.


"Itu adalah bagian dari pekerjaanku Tiara," balas Maya.


"Terima kasih banyak kak," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan dan senyum oleh Maya.


Sesampainya di halte, Tiarapun turun dari mobil Maya dan tak lupa berterima kasih karena sudah mengantarnya sampai ke halte.


Setelah beberapa lama menunggu, bus yang akan ia tumpangipun tiba. Tiara segera membawa langkahnya menaiki bus yang akan mengantarnya ke makam kedua orang tuanya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan Tiarapun sampai. Tiara berjalan ke arah area pemakaman lalu duduk diantara dua gundukan yang merupakan makam mama dan papanya.


Disana Tiara menceritakan tentang banyak hal, mulai dari kedua orang tua Bima yang terlibat dalam rencana Mama Laras, ia yang sempat merasa trauma serta keputusannya tentang warisan yang ditinggalkan oleh papanya hingga akhirnya ia merasa bisa menjalani kehidupannya dengan jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Tiara sudah melakukan hal yang benar bukan? Tiara harap keputusan Tiara ini tidak akan membuat Tiara menyesal suatu hari nanti."


Setelah beberapa lama menghabiskan waktunya disana, Tiarapun beranjak dari duduknya. Saat ia baru saja membawa langkahnya untuk keluar dari area pemakaman ia melihat Rafa yang baru saja memasuki makam.


Tiarapun memutuskan untuk menunggu Rafa di depan makam. Setelah beberapa lama menunggu Rafapun terlihat berjalan keluar.


"Kak!" panggil Tiara sambil melambaikan tangannya pada Rafa.


Rafapun tersenyum lalu membawa langkahnya ke arah Tiara duduk.


"Aku pikir kau sudah tidak ingin berbicara denganku lagi!" ucap Rafa.


"Kenapa kak Rafa berkata seperti itu? apa Tiara melakukan kesalahan?" tanya Tiara.


"Tidak, hanya saja sikapmu benar-benar sangat berubah," jawab Rafa.


"Apa yang terjadi di villa itu hanya karena keadaan Tiara yang sedang down saat itu, jadi Tiara harap kak Rafa melupakan semua yang terjadi di villa, Tiara minta maaf jika sikap Tiara....."


"Berhentilah meminta maaf Tiara, kau membuatku kesal," ucap Rafa memotong ucapan Tiara.


"Maaf kak, mmmmm.... maksud Tiara.... Tiara tidak bermaksud melupakan semua kebaikan dan perhatian kak Rafa pada Tiara, Tiara hanya....."


"Aku mengerti," ucap Rafa memotong ucapan Tiara.


"Kemana kau akan pergi setelah ini?" lanjut Rafa bertanya.


"Sebelum pulang Tiara ingin membeli beberapa buku," jawab Tiara.


"Buku apa?" tanya Rafa.


"Beberapa buku yang harus Tiara pelajari sebelum Tiara melakukan tes di perusahaan yang Tiara inginkan, karena dua bulan lagi perusahaan itu akan membuka lowongan untuk fresh graduate jadi Tiara tidak ingin melewatkan kesempatan itu," jawab Tiara menjelaskan.


"Aku tahu beberapa buku yang harus kau pelajari, ikutlah denganku!" ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya diikuti oleh Tiara.


Rafa kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan area pemakaman itu bersama Tiara untuk membeli buku di toko buku yang sering Rafa kunjungi bersama Tiara di dekat kafe pertama.

__ADS_1


__ADS_2