
Tiara yang saat itu benar-benar berharap pada Rafa segera memeluk Rafa dengan erat saat Rafa berhasil membuka tali yang mengikat tangannya dan lakban yang menutup mulutnya.
Ia sudah tidak peduli lagi tentang siapa Rafa saat itu, entah Rafa yang merupakan dosennya atau Rafa yang merupakan atasan tempat ia bekerja.
"Tenanglah Ra, kau sudah aman sekarang," ucap Rafa sambil mengusap punggung Tiara, berusaha menenangkan Tiara.
Rafa kemudian melepaskan pelukannya dari Tiara untuk memastikan keadaan Tiara saat itu.
"Apa mereka menyakitimu?" tanya Rafa sambil menghapus air mata di pipi Tiara.
Tiara menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun, namun Rafa bisa melihat dengan jelas bekas tamparan di pipi Tiara dan juga leher Tiara yang sedikit kebiruan saat itu.
"Aku akan segera menghubungi polisi agar...."
"Jangan kak, Tiara hanya ingin pergi dari sini," ucap Tiara memotong ucapan Rafa.
Rafa kemudian membantu Tiara berdiri lalu membawa Tiara keluar dari kamar itu. Rafa berjalan begitu saja melewati Mama Laras dan kedua orang tua Bima bersama Tiara.
Saat akan keluar dari rumah itu, Rafa membawa pandangannya pada Bima.
"Jangan pernah mendekatinya lagi atau kau akan benar-benar menyesal!" ucap Rafa dengan penuh penekanan pada setiap kalimatnya.
Rafa kemudian membawa Tiara masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumah itu.
Sepanjang perjalanan Tiara hanya terdiam dengan kedua mata yang masih berkaca-kaca. Ia tahu jika mama dan kakak tirinya sangat membencinya tapi ia tidak menyangka jika mereka akan melakukan hal itu padanya.
Kesedihannya juga semakin terasa saat ia menyadari bahwa cintanya pada Bima memang tidak berbalas sedikitpun. Melihat dirinya yang diperlakukan dengan kasar oleh Mama tirinya Bima bahkan tidak mempedulikannya sedikitpun.
"seharusnya aku tahu dari awal bahwa kak Bima tidak pernah benar-benar mencintaiku, bahkan setelah aku mengetahui hal itu dengan bodohnya aku masih saja menyimpan perasaan padanya," ucap Tiara dalam hati menyesali kebodohan dirinya sendiri.
Karena terlalu memikirkan kejadian yang baru saja ia alami Tiara bahkan tidak menyadari jika Rafa tidak mengantarnya pulang ke tempat tinggalnya, melainkan membawa mobilnya ke arah villa tempat Tiara pernah menginap.
Sepanjang perjalanan ke villa Tiara memang hanya diam dan Rafapun membiarkan Tiara sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia membiarkan waktu bagi Tiara untuk merenungi apa yang baru saja terjadi padanya dan setelah itu ia tidak akan membiarkan Tiara bersedih karena mengingat kejadian buruk yang baru saja menimpanya.
Perlahan mobil Rafa mulai memasuki halaman villa membuat Tiara tersadar dimana ia berada saat itu.
"Kenapa kita kesini kak?" tanya Tiara pada Rafa.
"Untuk menenangkanmu," jawab Rafa dengan tersenyum lalu keluar dari mobilnya dan dengan cepat membuka pintu yang ada di sebelah Tiara.
Rafa menggenggam tangan Tiara, mengajaknya masuk ke dalam villa.
"Selamat datang Tuan, bibi siapkan minuman hangat dan makanannya dulu," ucap bibi yang menyambut kedatangan Rafa.
"Terima kasih Bi," balas Rafa lalu mengajak Tiara untuk masuk ke salah satu kamar yang ada disana.
Rafa kemudian mendudukkan Tiara di ranjang yang ada di kamar itu.
"Beristirahatlah dulu, aku akan memberitahumu setelah bibi selesai memasak," ucap Rafa sambil mengusap pelan kepala Tiara.
Saat Rafa berbalik hendak keluar dari kamar itu, Tiara tiba-tiba menahan tangan Rafa.
"Tolong jangan tinggalkan Tiara kak," ucap Tiara dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
Rafa kemudian duduk di samping Tiara, membawa Tiara kembali ke dalam dekapannya.
Saat itu ia seperti melihat Tiara yang berbeda dari sebelumnya. Tiara yang selalu ceria dan penuh percaya diri tiba-tiba saja menjadi seperti bunga kecil yang layu.
Raut wajahnya penuh dengan kesedihan dan ketakutan sangat berbeda dari Tiara yang biasa ia kenal.
"Tenangkan dirimu Tiara, tidak akan ada yang menyakitimu disini," ucap Rafa berusaha menenangkan Tiara.
"Tiara takut kak," ucap Tiara yang tiba-tiba terisak.
"Aku akan selalu ada untukmu Tiara, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu terutama mereka yang ada di rumah itu," ucap Rafa.
Untuk beberapa saat Tiara membiarkan dirinya mencari ketenangannya dalam dekapan Rafa, setelah ia merasa lebih tenang iapun melepaskan dirinya dari dekapan Rafa.
"Aku sengaja membawamu kesini agar kau bisa menenangkan dirimu, tidak akan ada yang menyakitimu disini Tiara, kau percaya padaku bukan?" ucap Rafa sambil menghapus air mata di pipi Tiara.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
__ADS_1
"Berbaringlah, aku akan menemanimu disini," ucap Rafa.
Tiara kemudian membaringkan dirinya di atas ranjang, namun ia masih enggan untuk menutup matanya.
Rafapun menaruh telapak tangannya tepat di atas mata Tiara.
"Tutup matamu Tiara dan ingatlah hal-hal menyenangkan yang pernah kau lakukan selama ini, bukankah sangat banyak kenangan indah yang tersimpan dalam memorimu?" ucap Rafa.
"Kau tidak hanya cantik dan ceria, tetapi kau juga gadis yang tangguh dan kuat Tiara, aku yakin kau bisa menghadapi kesedihan dan ketakutanmu, aku yakin dan percaya padamu bahwa kau bisa menghadapi orang-orang yang membencimu saat ini," ucap Rafa.
Setelah merasa hembusan nafas Tiara di tangannya mulai stabil, Rafapun menarik tangannya dari atas mata Tiara dan melihat Tiara yang sudah terpejam dengan bekas tamparan yang masih terlihat jelas di pipinya.
"Mereka akan menyesali apa yang sudah mereka lakukan Tiara, kau tidak perlu khawatir karena karma tidak akan pernah salah alamat," ucap Rafa yang masih diliputi oleh kemarahan karena melihat bagaimana orang-orang di rumah itu memperlakukan Tiara.
Perlahan Rafa membelai rambut Tiara dengan lembut dan matanya menatap wajah cantik yang tampak sendu di hadapannya.
"Hilangkan kesedihanmu Tiara, kembalikan keceriaanmu, karena orang-orang seperti mereka tidak seharusnya membuat layu wajah cantikmu," ucap Rafa.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Rafa berdering, sebuah panggilan dari sang mama yang membuat Rafa segera beranjak dari ranjang lalu keluar dari kamar itu.
"Halo ma," ucap Rafa setelah ia menerima panggilan sang mama.
"Kau dimana Rafa? kenapa kau pergi tanpa berpamitan? kau bahkan tidak memberitahu Maya kemana kau pergi," tanya sang mama.
"Ada sesuatu mendesak yang harus segera Rafa selesaikan ma," jawab Rafa membeli alasan.
"Apa kau tidak sadar sikapmu itu membuat Mama mertuamu marah? dia merasa kau tidak menghargainya!"
"Mama jangan terlalu memikirkan Mama Maya, Mama Maya memang seperti itu," balas Rafa.
"Pulanglah, banyak hal yang harus kita bicarakan!" ucap Mama Rafa.
"Maaf ma Rafa tidak bisa pulang sekarang, ada masalah yang harus segera Rafa selesaikan," balas Rafa.
"Tapi....."
"Tolong mama jangan terlalu ikut campur dalam rumah tangga Rafa dan Maya ma, Rafa sudah sangat tertekan dan merasa tidak nyaman dengan kedatangan Mama Maya di rumah, jadi Rafa mohon Mama jangan memperkeruh suasana," ucap Rafa memotong ucapan sang mama.
"Baik ma," balas Rafa lalu mengakhiri panggilan sang mama.
Setelah beberapa lama menunggu, bibipun sudah selesai menyiapkan makanan dan minuman hangat untuk Rafa dan Tiara.
Rafa kemudian kembali masuk ke kamar Tiara lalu duduk di tepi ranjang, namun ia hanya diam memperhatikan Tiara yang masih terlelap saat itu.
"untuk pertama kalinya aku melihat bunga layu yang sangat cantik," ucap Rafa dalam hati dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Tiba-tiba Tiara mengerjapkan matanya dan terbangun dari tidurnya.
"Apa kau terbangun karena aku?" tanya Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.
Tiara kemudian beranjak dari tidurnya lalu memeluk Rafa begitu saja. Entah kenapa ia merasa candu pada pelukan Rafa yang menenangkan.
Untuk beberapa saat ia benar-benar melupakan siapa dirinya dan siapa Rafa. Getir hidupnya pembuatnya merindukan dan membutuhkan dekapan hangat dari seseorang yang mampu memberikan sedikit rasa manis dalam pahitnya hidup yang baru saja ia alami.
Rasa manis itu seolah ia dapatkan dari setiap detik pelukan yang Rafa berikan padanya, membuatnya merasa nyaman dan aman berada dalam pelukan Rafa.
Rafa yang sedikit terkejut saat Tiara tiba-tiba memeluknya hanya bisa membalas pelukan Tiara dengan harapan hal itu akan membuat Tiara lebih tenang.
Setelah lebih tenang, Tiara kemudian melepaskan Rafa dari pelukannya.
"Kak Rafa tidak melaporkan kejadian tadi pada polisi bukan?" tanya Tiara memastikan.
"Aku memang berniat untuk melaporkan hal itu pada polisi, tapi aku harus membicarakannya denganmu terlebih dahulu," jawab Rafa.
"Tolong jangan lakukan hal itu kak, Tiara tidak ingin Mama Laras semakin membenci Tiara, kak Rafa juga tahu bukan jika kak Gita sedang hamil, tidak mungkin Tiara membiarkan kak Gita melalui masa-masa kehamilannya di dalam penjara," ucap Tiara.
"Kau selalu saja memikirkan orang lain lebih dari dirimu sendiri Tiara, padahal mereka sudah menyakitimu!"
"Tiara sudah baik-baik saja sekarang kak, Tiara akan melupakan semua kejadian itu," ucap Tiara.
__ADS_1
Rafa menganggukkan kepalanya lalu menggenggam tangan Tiara dengan erat.
"Jangan pernah takut menghadapi mereka yang membencimu Tiara, tidak akan ada yang bisa melemahkanmu ketika apa yang kau lakukan itu memang benar," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Terima kasih sudah membantu Tiara kak, terima kasih untuk semua hal yang sudah kak Rafa lakukan selama ini," ucap Tiara.
"Jika kau memang ingin berterima kasih padaku maka kau harus selalu terbuka padaku, apapun masalah yang sedang kau hadapi kau harus menceritakannya padaku," ucap Rafa yang kembali dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Baguslah kalau begitu, sekarang ayo keluar, bibi sudah menyiapkan makanan dan minuman untuk kita," ucap Rafa lalu mengajak Tiara keluar dari kamar.
Rafa dan Tiarapun berjalan ke arah meja makan lalu menikmati makanan dan minuman yang sudah bibi siapkan.
Setelah selesai makan Tiara baru menyadari jika luka di bibir Rafa tampak semakin parah.
"Dimana kak Rafa menyimpan kotak P3K?" tanya Tiara pada Rafa.
"Ada di dekat dapur," jawab Rafa.
Tiarapun segera membawa langkahnya ke arah dapur untuk mencari kotak P3K milik Rafa.
"Ada yang bisa bibi bantu non?" tanya bibi pada Tiara yang tampak sedang kebingungan saat itu.
"Tiara mencari kotak P3K bi," jawab Tiara.
"Ooohh ada disini non," ucap bibi lalu mengambil kotak P3K yang ada disana .
Setelah memberikan kotak P3K itu pada Tiara, bibi melihat leher Tiara yang tampak kebiruan saat itu.
"Ini harus segera diobati non," ucap bibi sambil memegang leher Tiara.
Merasa lehernya dipegang oleh bibi, Tiara seketika teringat saat Mama Laras memegang dan mencengkeram lehernya dengan kuat.
Tiara tiba-tiba saja ketakutan dan tanpa sadar menjatuhkan kotak P3K yang dibawanya. Dengan mata yang berkaca-kaca Tiara perlahan membawa langkahnya mundur.
"Ada apa non? apa non baik-baik saja?" tanya bibi sambil memegang tangan Tiara yang membuat Tiara semakin ketakutan.
Tiarapun segera menarik tangannya dari bibi, saat ia akan berlari tanpa sengaja ia menabrak Rafa yang saat itu berjalan ke arah dapur karena mendengar suara barang yang terjatuh.
"Ada apa Tiara? apa yang terjadi padamu?" tanya Rafa yang melihat Tiara tampak ketakutan.
Tiara tidak menjawab pertanyaan Rafa, ia hanya menangis dan memeluk Rafa dengan erat.
"Ada apa Bi? apa yang terjadi padanya?" tanya Rafa pada bibi.
"Bibi juga tidak tahu Tuan, bibi hanya memegang lehernya dan tiba-tiba saja non Tiara seperti ketakutan," jawab bibi.
"Tolong bibi bereskan kotak P3K itu, Rafa akan membawa Tiara kembali ke kamar," ucap Rafa lalu membawa Tiara masuk ke dalam kamar
"Tiara takut kak.... Tiara takut......" ucap Tiara dengan terisak sambil terus memeluk Rafa dengan erat.
"Tenanglah Tiara, tidak ada yang menyakitimu di sini, bibi hanya memeriksa lehermu yang terlihat membiru," balas Rafa berusaha menenangkan Tiara.
"Tidak kak, bibi pasti mau mencekik Tiara seperti yang Mama Laras lakukan," ucap Tiara yang masih tidak bisa mengendalikan ketakutannya saat itu.
Rafa menghela nafasnya panjang. Ia baru menyadari jika apa yang baru saja terjadi pada Tiara menyisakan ketakutan bahkan mungkin trauma.
"Tidak ada yang menyakitimu disini Tiara, entah itu aku ataupun bibi, percayalah padaku kau aman disini!" ucap Rafa berusaha meyakinkan Tiara.
Tiara lalu melepaskan dirinya dari pelukan Rafa. Ia mengusap air mata di pipinya dengan kasar dan berusaha untuk mengatur nafasnya agar ia bisa lebih tenang.
"Bibi tidak akan menyakitimu Tiara, kau percaya padaku bukan?" ucap Rafa.
"Maafkan Tiara kak, sepertinya Tiara tidak bisa mengendalikan pikiran Tiara sendiri," balas Tiara sambil memukul-mukul kepalanya.
Melihat hal itu Rafapun segera menahan tangan Tiara dan menggenggam kedua tangan Tiara dengan erat.
"Aku mengerti Tiara, aku bisa memahamimu, aku akan mengajakmu menemui seseorang yang bisa membantumu," ucap Rafa.
"Seseorang siapa?" tanya Tiara.
"Namanya dokter Brian, dia adalah temanku yang bekerja sebagai psikiater di salah satu rumah sakit," jawab Rafa.
__ADS_1
"Kak Rafa tidak menganggap Tiara gila bukan?" tanya Tiara.
"Tentu saja tidak, apa yang baru saja kau alami membuatmu tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri, aku memintamu untuk bertemu dengan dokter Brian agar dia bisa membantumu untuk lebih bisa mengendalikan dirimu sendiri setelah apa yang terjadi padamu, aku tidak ingin kejadian itu menyisakan trauma besar untukmu Tiara," jawab Rafa menjelaskan.