
Tiara masih berada di perusahaan tempat ia melamar pekerjaan. Ia bersama Dita berjalan ke arah kantin setelah mereka menyelesaikan tes pertama.
Hasil dari tes pertama itu akan diumumkan setelah jam makan siang. Bagi mereka yang lolos tes pertama harus mengikuti tes kedua besok pagi.
Beberapa dari mereka yang sudah mengerjakan tes pertama pergi meninggalkan kantor dan akan kembali setelah jam makan siang, namun Tiara dan Dita memilih untuk tetap berada disana menghabiskan waktu di kantin untuk menunggu hasil dari tes pertama mereka.
Saat Dita tengah memesan makanan, Tiara duduk di bangkunya seorang diri dan tak lama kemudian Putrapun datang lalu duduk di depan Tiara.
"Bagaimana tes hari ini? mudah bukan?" tanya Putra.
"Tiara gugup kak, tapi sepertinya Tiara mengerjakannya dengan baik, semoga Tiara mendapatkan hasil yang Tiara inginkan," jawab Tiara.
"Kau harus mempersiapkan mentalmu dengan baik Tiara, jangan mudah terpengaruh oleh apapun yang bisa merusak konsentrasimu," ucap Putra yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Baiklah sampai jumpa besok pagi, aku yakin akan bertemu denganmu lagi besok pagi!" ucap Putra lalu beranjak dari duduknya.
Tiara hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya dan tak lama kemudian Ditapun datang lalu duduk di samping Tiara.
"Bukankah itu tadi Pak Putra?" tanya Dita pada Tiara.
"Iya," jawab Tiara dengan menganggukkan kepalanya.
"Apa yang dia katakan? apa dia mengatakan sesuatu tentang hasil tes pertama kita?" tanya Dita penasaran.
"Tidak, Pak Putra hanya menanyakan bagaimana tes pertama tadi," jawab Tiara.
"Aahh begitu, sepertinya kau cukup dekat dengan Pak Putra, dia tidak membocorkan tentang tes kedua padamu bukan hehehe...." tanya Dita yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya, ia tidak menyangka jika Dita akan berpikir seperti itu.
"Aku hanya bercanda Tiara, jangan terlalu menganggapnya serius!" ucap Dita yang takut membuat Tiara salah paham.
"Bukankah kau tahu pak Putra memang suka bercanda dan mengobrol bersama pelamar kerja yang lain? itu juga yang dia lakukan denganku," ucap Tiara agar Dita tidak berpikir terlalu jauh.
"Pak Putra memang terlihat menyenangkan, bukankah bisa saja dia membocorkan tes kedua pada pelamar kerja yang dia sukai?" tanya Dita memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Aku tidak tahu, aku tidak pernah memikirkan hal itu, tapi yang pasti Pak Putra tidak pernah melakukan hal itu padaku," jawab Tiara.
"Iya aku percaya padamu, bukankah kita berteman?" ucap Dita yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Entah kenapa Tiara mulai tidak nyaman dengan Dita, karena Dita membicarakan sesuatu yang buruk tentang seseorang yang belum benar-benar dikenalnya.
Tak lama kemudian minuman dan makanan yang Dita pesanpun datang.
"Apa ini kopi?" tanya Tiara menunjuk minuman yang ada di hadapannya.
"Itu cappucino, apa kau tidak menyukainya?" jawab Dita sekaligus bertanya.
"Aku tidak bisa mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung kafein, apa kau tidak keberatan jika kita bertukar minuman?"
"Baiklah, tapi kenapa kau tidak bisa mengkonsumsi sesuatu yang mengandung kafein? apa kau mempunyai penyakit tertentu?" tanya Dita penasaran.
"Tidak ada, hanya saja aku pasti akan pingsan beberapa jam setelah makan atau minum sesuatu yang mengandung kafein," jawab Tiara menjelaskan.
"Aaahhh begitu, sayang sekali padahal kau bekerja di kafe tetapi kau bahkan tidak bisa menikmati racikan kopi buatanmu sendiri," ucap Dita.
"Begitulah, tapi setidaknya aku masih bisa menikmati minuman lain yang tidak mengandung kafein, karena di kafe tempatku bekerja menyediakan berbagai macam minuman yang bervariasi," balas Tiara.
Tiara dan Ditapun membicarakan banyak hal sampai jam makan siangpun tiba dan tak lama setelah itu semua pelamar kerja diharuskan masuk ke salah satu ruangan yang ada di perusahaan itu.
Disana ada daftar para pekerja yang lolos di tes pertama. 50% dari pelamar yang mengikuti tes pertama lolos untuk mengikuti tes kedua sedangkan sisanya gagal.
Tiara dan Dita yang melihat nama mereka termasuk dalam 50% melamar yang lolos di tes pertama bersorak gembira lalu berpelukan.
"Kita akan bertemu lagi besok pagi, semangat Tiara, kita harus bisa lolos di tes kedua ini!" ucap Dita pada Tiara.
__ADS_1
"Iya, kita harus bisa melewati semua tes dengan baik," balas Tiara.
Tiara dan Dita kemudian berjalan keluar dari ruangan itu. Mereka memasuki lift yang membawa mereka meninggalkan perusahaan itu.
Saat baru saja keluar dari lift, Putra yang saat itu berada di lobby segera berlari kecil mengejar Tiara.
"Selamat Tiara, akhirnya kau lolos!" ucap Putra memberi selamat pada Tiara.
"Terima kasih pak, Dita juga lolos loh," balas Tiara dengan membawa pandangannya pada Dita yang berjalan di sampingnya.
"Waah benarkah.... selamat Dita, semoga kalian berdua bisa menjadi bagian dari perusahaan ini," ucap Putra yang dibalas senyum dan anggukan kepala oleh Dita.
"Apa kau mau pulang sekarang?" tanya Putra pada Tiara.
"Iya, Tiara harus mempersiapkan diri untuk tes besok," jawab Tiara.
"Oke, take care dan sampai bertemu besok pagi," ucap Putra yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara
Tiara dan Ditapun berjalan keluar melewati pintu utama perusahaan itu.
"Sepertinya Pak Putra memang hanya tertarik padamu," ucap Dita sebelum mereka berpisah di trotoar.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Tiara.
"Buktinya tadi dia hanya tahu jika kau lolos di tes pertama, itu artinya dia hanya mencari namamu untuk memastikan apakah kau lolos atau tidak," jawab Dita.
"Jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting, fokus saja pada tes kita besok pagi, aku pergi dulu, bye!" ucap Tiara lalu melambaikan tangannya pada Dita dan berjalan ke arah halte untuk menunggu bus yang akan membawanya ke kafe.
"Kenapa Dita berbicara seperti itu? apa dia sedang cemburu karena dia benar-benar menyukai kak putra? sepertinya tidak, bagaimana mungkin dia benar-benar menyukai Pak Putra padahal dia baru mengenal Pak Putra," batin Tiara bertanya dalam hati.
"Aahh aku tidak perlu terlalu memikirkannya, mungkin memang caranya bercanda seperti itu, lagi pula aku belum benar-benar mengenalnya dengan baik, lebih baik aku fokus memikirkan tes keduaku besok," ucap Tiara dalam hati lalu segera beranjak dari duduknya saat melihat bus yang sudah ditunggunya datang.
Tiarapun menaiki bus itu dan setelah beberapa lama dalam perjalanan iapun sampai di halte yang ada di dekat kafe.
Tiara kemudian membawa langkahnya berjalan ke arah kafe untuk menemui Chika dan memberitahu jika bahwa dirinya lolos tes pertama.
"Lalu kapan tes kedua akan dilaksanakan?" lanjut Chika bertanya.
"Besok pagi, rasanya aku sudah tidak sabar untuk segera mengikuti tes yang selanjutnya," jawab Tiara penuh semangat.
"Kalau begitu pulanglah dan beristirahat, kau harus membagi waktumu dengan baik Tiara!" ucap Chika.
"Baiklah, aku pergi dulu!" ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Chika.
Tiara kemudian berjalan meninggalkan kafe. Tiara membawa langkahnya dengan penuh senyum melewati trotoar untuk sampai ke tempat tinggalnya.
**
Hari telah berganti, dengan masih mengenakan pakaian bernuansa hitam putih Tiara menaiki bus yang membawanya ke perusahaan X, dimana dia akan melakukan tes keduanya disana.
Tepat jam 08.00 pagi tes kedua dimulai. Setelah melewati tes pertamanya kini Tiara sudah lebih bisa mengendalikan dirinya agar tidak mudah terpengaruh oleh hal lain di luar tes yang dikerjakannya.
Pada tes kedua selain tes tulis juga ada tes lisan. Tiara merasa percaya diri untuk menyelesaikan kedua tes itu dengan baik.
Sama seperti hari sebelumnya setelah tes kedua selesai semua pelamar kerja diberikan waktu untuk beristirahat sampai jam makan siang selesai karena pengumuman hasil tes kedua akan diberikan setelah jam makan siang.
"Tes kedua ini benar-benar di luar dugaanku," ucap Dita pada Tiara saat mereka sudah duduk di kantin.
"Kenapa? bukankah kau juga sudah mempersiapkan dirimu dengan cukup baik?" tanya Tiara.
"Iya, sudah banyak buku yang aku pelajari dan aku pikir pengetahuan yang aku miliki sudah cukup untuk tes kedua ini, tapi saat tes lisan tadi aku benar-benar sangat gugup, aku bahkan tidak yakin apakah aku sudah memberikan jawaban yang tepat," jawab Dita menjelaskan.
"Kita harus optimis Dita, semoga kita bisa melewati tes kedua ini dan melanjutkan tes terakhir," ucap Tiara.
__ADS_1
"Kenapa kau sepertinya tidak khawatir sama sekali? apa kau mengerjakan tes kedua tadi dengan baik? apa tes lisan tidak membuatmu gugup?" tanya Dita yang melihat Tiara tampak santai.
"Aku belajar dari tes pertama kemarin, bahwa kesiapan mental memang sangat dibutuhkan saat tes seperti ini, jadi aku berusaha untuk bisa mengendalikan pikiranku sendiri agar aku bisa mengerjakan dan menjawab pertanyaan dengan baik," jawab Tiara.
"Apa mungkin kau sudah tahu jika akan ada tes lisan pada tes kedua ini?" tanya Dita penasaran.
"Aku tidak tahu, aku juga tidak berpikir bahwa ada tes lisan dites kedua karena setauku interview hanya ada di tes terakhir nanti, tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk memberikan jawaban yang terbaik dari apa yang aku pelajari selama ini, tentang bagaimana hasilnya aku tidak akan terlalu memikirkannya, kita lihat saja nanti," jawab Tiara.
Dita tersenyum tipis mendengarkan jawaban Tiara. Saat banyak dari mereka yang gugup karena tes lisan yang tiba-tiba, Tiara tampak santai saja menghadapinya.
"Kau seperti sudah mempersiapkannya dengan baik, kau seperti sudah tahu apa yang akan kau hadapi dites kedua ini," ucap Dita.
"Aku sudah mempersiapkan semua ini sejak lama, tapi aku tidak tahu apa yang akan aku hadapi saat tes nanti, aku hanya percaya pada kemampuan dan diriku sendiri," balas Tiara.
Waktupun berlalu, jam makan siang telah selesai. Tiara dan Dita berjalan kembali ke ruangan tempat dimana hasil dari tes kedua akan diberikan.
Lagi-lagi Tiara bersorak senang karena ia berhasil melewati tes kedua dengan nilai yang sangat bagus. Namanya bahkan tertera pada urutan pertama yang membuat beberapa dari mereka iri melihatnya.
"Akhirnya kita bisa lanjut sampai tes terakhir!" ucap Tiara pada Dita.
"Iya, di tes terakhir nanti pasti akan lebih sulit daripada tes kedua ini," balas Dita.
"Sudah kubilang bukan, kita harus optimis dengan kemampuan kita, aku yakin kita bisa melewati tes terakhir nanti," ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Dita.
Sebelum mereka semua meninggalkan ruangan, mereka dijelaskan bahwa setiap divisi nantinya hanya akan menerima satu pekerja baru dengan nilai tertinggi dari hasil tes terakhirnya.
Artinya, mereka yang lolos namun tidak memiliki nilai tinggi, mereka tidak bisa menempati divisi yang mereka inginkan.
Mereka harus siap ditempatkan di divisi manapun, bahkan perusahaan cabang manapun.
Dita kemudian membawa pandangannya pada Tiara, ia ingat jika ia dan Tiara memilih divisi yang sama.
Mengingat jika Tiara mendapatkan nilai tertinggi di tes kedua membuat nyali Dita menciut. Ia bahkan sudah tidak yakin bahwa ia akan menjadi bagian dari divisi yang ia inginkan.
"Aku harus bisa berada di divisi pemasaran, tapi apa aku bisa mengalahkan Tiara? nilainya bahkan hampir sempurna," batin Dita dalam hati.
Tiara dan Dita kemudian berjalan keluar dari ruangan itu. Sepanjang mereka berjalan Dita tidak banyak berbicara karena memikirkan tentang penjelasan yang baru saja didengarnya.
Sampai akhirnya mereka sudah melewati pintu utama perusahaan itu. Dita kemudian menanyakan pada Tiara tentang apa yang dipikirkannya sejak tadi.
"Tiara, apa kau sangat ingin berada di divisi pemasaran?" tanya Dita pada Tiara sebelum mereka berpisah.
"Tentu saja, aku sudah berusaha untuk bisa berada di titik itu, aku bahkan sempat tidak memperhatikan kesehatanku hanya untuk belajar mati-matian demi bisa mendapatkan apa yang aku inginkan," jawab Tiara.
"Bagaimana jika hasilnya nanti mengharuskanmu berada di divisi lain?" tanya Dita.
"Mmmmm.... mungkin aku akan sedikit kecewa, tapi itu bukan masalah yang besar buatku, yang terpenting adalah aku bisa menjadi bagian dari perusahaan ini," jawab Tiara.
"Oke baiklah, sampai bertemu besok pagi," ucap Dita yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.
Saat Tiara baru saja duduk di halte, sebuah mobil berhenti di depannya dan si pemilik mobil segera membuka kaca mobilnya.
"Masuklah!" ucapnya yang membuat Tiara segera beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam mobil.
"Kebetulan sekali Tiara baru saja keluar, apa jangan-jangan kak Rafa dari tadi menunggu Tiara?" ucap Tiara pada Rafa yang duduk di balik kemudi di sampingnya.
"Tidak, hanya kebetulan saja," jawab Rafa.
"Bagaimana tes keduamu? melihat raut wajahmu sekarang sepertinya hasilnya baik," lanjut Rafa menerka.
Tiara menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat itu.
"Aku yakin kau akan bisa melewati semua tesnya, impianmu sudah ada di depan mata sekarang," ucap Rafa yang bangga pada Tiara karena ia tahu jika Tiara menempati urutan pertama pada tes keduanya.
__ADS_1
"Semoga saja Tiara bisa menjadi bagian dari divisi yang Tiara inginkan, karena hanya akan ada satu orang dengan nilai tertinggi yang akan berhasil menempati divisi yang diinginkan, selebihnya dia harus bersedia untuk dimasukkan ke divisi lain atau bahkan ke cabang perusahaan," ucap Tiara.
"Kau sudah berusaha sangat keras Tiara, apapun hasilnya nanti kau harus bisa menerimanya karena itu pasti yang terbaik untukmu," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.