
Nerissa masih bersama Rafa dalam perjalanan meninggalkan villa. Ia merasa keadaannya sudah lebih baik setelah ia bisa berdamai dengan luka di hatinya.
"Apa kau ingat kita memiliki jadwal bimbingan skripsi hari ini?" tanya Rafa pada Tiara.
"Tentu saja Tiara ingat, Tiara sudah mengerjakan beberapa halaman setelah membaca buku yang Pak Rafa rekomendasikan," jawab Tiara.
"Bimbingan skripsi hari ini kita tunda saja, kau harus segera pulang dan beristirahat," ucap Rafa.
"Kenapa pak? Tiara baik-baik saja kok, Tiara janji akan fokus mendengarkan semua bimbingan Pak Rafa."
"Apa kau yakin? lebih baik selesaikan dulu masalahmu Tiara, saya tidak akan memaksamu untuk bimbingan skripsi jika memang keadaanmu tidak memungkinkan!"
"Salah satu cara Tiara untuk menyelesaikan masalah Tiara adalah dengan segera menyelesaikan skripsi, dengan begitu Tiara akan wisuda dan cepat mendapatkan pekerjaan," ucap Tiara.
"Baiklah kalau begitu, bagaimana jika bimbingan kali ini kita lakukan di kafe?"
"Di kafe?" tanya Tiara mengulangi ucapan Rafa.
"Iya di kafe yang sering kau datangi, bukankah kau pelanggan tetap kafe itu? kau sudah sangat sering pergi kesana bukan?" balas Rafa yang membuat Tiara tersenyum tipis sambil mengalihkan pandangannya dari Rafa.
Ia merasa malu karena sudah berbohong pada Rafa. Jika saja ia tahu bahwa Rafa adalah pemilik kafe itu, ia tidak mungkin mengatakan pada Rafa jika ia adalah pelanggan kafe itu karena ia baru beberapa kali datang kesana.
"Maaf pak, Tiara tidak bermaksud berbohong," ucap Tiara yang menyadari kesalahannya
"Jangan melakukannya lagi Ra, kau sama sekali tidak pandai berbohong," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala dan senyum yang canggung oleh Tiara.
Rafa kemudian mengendarai mobilnya ke arah kafenya. Setelah beberapa lama berkendara, merekapun sampai di depan kafe Rafa.
Rafa dan Tiarapun keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam kafe.
"Duduklah, saya harus masuk untuk memeriksa beberapa berkas terlebih dahulu," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Tiara kemudian duduk di bangku yang biasa ia tempati. Ia kemudian mengeluarkan laptop dan beberapa bukunya.
Tak lama kemudian Chikapun datang dan duduk di depan Tiara.
__ADS_1
"Apa kau datang bersama Pak Rafa?" tanya Chika memastikan.
"Iya, kita tidak sengaja bertemu tadi," jawab Tiara beralasan.
"Benarkah? bukannya pak Rafa sengaja menjemputmu?" tanya Chika yang membuat Tiara segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Hahaha aku hanya bercanda, aku akan membuatkan minum untukmu," ucap Chika lalu beranjak dari duduknya.
"Tolong buatkan untuk pak Rafa juga karena aku akan mengerjakan bimbingan skripsiku bersama Pak Rafa disini," ucap Tiara yang hanya dibalas acungan jempol oleh Chika.
Tak lama kemudian, Chikapun kembali dengan membawa dua cup coklat panas dan juga beberapa makanan ringan.
"Kenapa banyak makanan disini? aku kesini untuk mengerjakan bimbingan skripsi bukan untuk bersantai," protes Tiara.
"Justru kau akan lebih santai jika ada banyak makanan disini," balas Chika sambil terkekeh lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tak lama kemudian Rafapun datang dan duduk di hadapan Tiara.
"Apa kau yang memesan semua ini?" tanya Rafa yang melihat beberapa makanan ringan dan dua cup minuman di meja.
"Tiara hanya memesan minuman tetapi Chika membawakan semua makanan ini," jawab Tiara yang membuat Rafa hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Tak terasa satu jampun sudah berlalu. Tiara dan Rafa masih fokus dengan buku dan laptop yang ada di hadapan mereka.
Namun karena semalaman tidak tidur sama sekali, Tiarapun mulai mengantuk. Ia berusaha untuk tetap fokus pada materi yang Rafa sampaikan meski ia harus mendengarkan penjelasan Rafa dengan menopang dagunya karena kepalanya yang sudah terasa berat.
Hingga akhirnya tangan Tiarapun terlepas dari dagunya, membuat kepala Tiara hampir saja terbentur meja jika Rafa tidak menahan kepala Tiara dengan tangannya.
Rafa kemudian membaringkan kepala Tiara di meja dengan hati-hati lalu menarik tangannya dari bawah kepala Tiara.
Rafa hanya tersenyum tipis lalu membereskan meja di hadapannya kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke ruangannya, membiarkan Tiara tertidur di kafenya.
"Ooh tidak ini terlalu romantis, seharusnya aku merekamnya tadi," ucap Chika sambil menepuk-nepuk bahu temannya.
"Apa menurutmu mereka berdua memiliki hubungan yang lebih?" tanya teman Chika.
__ADS_1
"Entahlah aku tidak terlalu memikirkannya, nikmati saja momen romantis yang ada di depan kita hehehe....." jawab Chika.
Tiara yang sudah cukup lama tertidurpun akhirnya mengerjapkan matanya. Ia kemudian mengangkat kepalanya dan mengucek matanya sambil menguap.
Saat matanya sudah terbuka lebar, beberapa orang tampak menatapnya dengan tatapan aneh membuat Tiara tersadar jika ia baru saja tertidur di kafe.
"Astaga aku tertidur, dimana Pak Rafa?" batin Tiara sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
"Kau bodoh sekali Tiara, bagaimana kau bisa tertidur saat sedang melakukan bimbingan skripsi," ucap Tiara merutuki kebodohannya sambil memukul-mukul kepalanya.
Tiara tidak peduli pada beberapa orang yang tengah menatapnya dengan tatapan aneh saat itu, ia kemudian beranjak dari duduknya dan pergi ke toilet.
Tiarapun membasuh wajahnya dan menepuk-nepuk pelan pipinya agar kantuknya menghilang.
"Aahh rasanya segar sekali," ucap Tiara sambil merapikan rambutnya yang tampak kacau.
Tiara kemudian keluar dari toilet dan menghampiri Chika yang tengah meracik minuman di meja kerjanya.
"Akhirnya Tuan Putri bangun hahaha....." ucap Chika meledek Tiara.
"Pak Rafa pasti sangat marah padaku bukan? di mana Pak Rafa sekarang?" tanya Tiara.
"Pak Rafa baru saja pergi sebelum kau bangun dan sepertinya Pak Rafa tidak marah padamu," jawab Chika.
"Mudah-mudahan saja, aku harus pergi sekarang, berapa aku harus membayar semuanya?"
"Kau tidak perlu membayarnya, Pak Rafa sudah membayar semuanya," jawab Chika.
"Aahh iya, aku lupa Pak Rafa kan pemilik kafe ini, tentu saja Pak Rafa bisa memesan semua yang Pak Rafa inginkan hehehe...." ucap Tiara yang membuat Chika menggelengkan kepalanya melihat sikap Tiara.
Tiara kemudian mengemasi barang-barangnya lalu keluar dari kafe.
Tiara kemudian menaiki bus yang membawanya pulang ke rumah. Ia berencana untuk mengemasi semua barang-barang miliknya dan membicarakan semua masalahnya pada Gita, Bima dan mama tirinya.
"Aku harus pulang dan menyelesaikan semua masalahku di rumah, entah apa yang aku lakukan setelah ini, entah apa yang akan terjadi padaku setelah aku keluar dari rumah yang pasti aku tidak akan kembali lagi ke rumah itu," ucap Tiara setelah menghela nafasnya cukup panjang.
__ADS_1
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, bus yang Tiara tumpangipun berhenti. Tiara membawa langkahnya berjalan ke arah rumahnya.
Sesampainya di rumah ia segera membawa langkahnya masuk tanpa ragu, namun tiba-tiba sebuah tangan menariknya dengan kasar membuat Tiara begitu terkejut dengan apa yang Bima lakukan.