Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Hari Terakhir di Tokyo


__ADS_3

Di bawah langit biru dan hamparan daun daun yang berserakan, Tiara dan Rafa berjalan menyusuri salah satu taman di kota Tokyo.


Hari itu adalah hari terakhir Tiara dan Rafa berada di Jepang. Setelah dua hari menikmati konser yang sudah lama Tiara inginkan, hari yang tersisa mereka gunakan berlibur dan berjalan jalan di sekitar kota Tokyo.


Karena saat itu adalah musim gugur, siang haripun terasa berjalan lebih cepat. Matahari tampak terburu buru pulang ke peraduannya meninggalkan goresan senja.


Tiara dan Rafa memilih menghabiskan malam terakhir mereka di Tokyo untuk menikmati pemandangan malam dari puncak Tokyo Skytree.


"Pemandangan disini indah sekali kak," ucap Tiara sambil menatap hamparan bintang di atasnya.


"Tidak seindah dirimu," balas Rafa yang membuat Tiara tersipu.


Selain menikmati keindahan langit malam, di Tokyo Skytree mereka juga menikmati hiburan yang ada di planetarium yang menjadi bagian dari Tokyo Skytree.


Tak lupa Tiara membeli beberapa oleh oleh sebelum dia meninggalkan tempat itu. Ia tidak membeli banyak barang karena kepergiannya ke Tokyo bersama Rafa tidak diketahui oleh siapapun.


Tiara hanya membeli beberapa barang untuk ia simpan sendiri dan ia berikan pada Kevin dan Bella.


Tiba tiba pandangan Rafa tertuju pada sebuah patung kecil berwarna emas. Patung Dewi Justitia itu mengingatkan Rafa pada Maya yang bekerja sebagai pengacara.


Rafapun membeli patung itu, patung seorang wanita yang tengah memegang timbangan dan pedang dengan mengenakan penutup mata itu adalah sebuah simbol dari keadilan. Rafa membelinya karena ia tau jika Maya mengoleksi patung itu.


"Kenapa kak Rafa membelinya?" tanya Tiara.


"Bukan untukku, aku membelinya untuk seseorang yang menyukainya," jawab Rafa.


"Seseorang? siapa?" tanya Tiara penasaran.


"Kau tidak mengenalnya, ayo kita keluar!" ucap Rafa.


Setelah membayar semua yang mereka beli, Tiara dan Rafapun berjalan meninggalkan Tokyo Skytree.


Di hari terakhir mereka di Tokyo, Rafa mengajak Tiara untuk makan malam di salah satu restoran mewah yang ada disana.


Mereka duduk berhadapan dengan pemandangan gemerlap lampu kota yang terlihat dari dinding kaca di samping mereka.


Beberapa hidangan sashimi dan sushi pun mulai memenuhi meja bersama 1 botol wine.


"Kak, apa tidak ada minuman lain? Tiara takut mabuk," tanya Tiara dengan berbisik.


"Ini hari terakhir kita disini Tiara, apa kau tidak ingin mencoba hal baru?" balas Rafa.


"Tiara takut membuat malu kakak," ucap Tiara.


"Jangan khawatir, hanya sedikit saja," balas Rafa sambil menuang wine ke dalam gelas Tiara.


"Apa kau mau tau sebuah fun fact?" tanya Rafa saat mereka tengah menikmati makanan mereka


"Apa kak?" balas Tiara bertanya


"Aku juga mudah mabuk, hehehe..." ucap Rafa yang membuat Tiara membelalakkan matanya.


"Kakak...... kenapa kakak memesan wine? bagaimana jika kita berdua mabuk disini?"


"Sedikit saja tidak akan membuat mabuk, lagipula ini bukan red wine, jadi tidak terlalu strong," jawab Rafa.


"Tapi....."


"Sudah, nikmati saja makananmu," ucap Rafa memotong ucapan Tiara.


Tanpa Tiara tau, Rafa sudah menghubungi seseorang untuk menggantikannya menyetir karena ia memang sudah berencana untuk memesan wine dari awal, jadi dia tidak akan bisa mengendarai mobilnya dalam keadaan mabuk.


Setelah menghabiskan makanannya, Tiara dan Rafapun mulai meminum wine yang ada di gelas mereka masing masing.


Tiara memejamkan matanya saat lidahnya merasakan wine untuk pertama kali dalam hidupnya


"Aahh ini aneh sekali, kenapa orang orang menyukainya!" ucap Tiara.


"Walaupun rasanya aneh, kau pasti akan menyukainya," balas Rafa yang kembali menuang wine ke dalam gelas Tiara.


Tanpa disuruh Tiarapun meminum kembali wine yang ada di gelasnya


"Ini tetap aneh kak," ucap Tiara namun menyodorkan gelasnya pada Rafa seolah meminta Rafa untuk mengisinya lagi.


Rafapun hanya tersenyum lalu kembali mengisi gelas Tiara dengan wine dan dengan cepat Tiara meminumnya lagi.


"Sudah cukup, aku tidak akan membuatmu mabuk disini," ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya karena ia merasa detak jantungnya mulai melemah karena efek dari wine yang diminumnya.


Tiara dan Rafapun meninggalkan restoran itu, mereka kembali ke hotel dengan menggunakan supir yang sudah Rafa hubungi sebelumnya.


"Wajahmu merah sekali," ucap Rafa pada Tiara


"Rasanya sangat hangat kak," ucap Tiara sambil memegang kedua pipinya.


Tiara merasa dirinya tiba tiba saja mengantuk, matanya terasa berat dan pengelihatannya sedikit kabur.


Setelah sampai di hotel, Rafa membantu Tiara masuk ke kamarnya karena Tiara yang sudah tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri.

__ADS_1


Rafa kemudian mendudukkan Tiara di tepi ranjangnya lalu melepaskan sepatu yang Tiara pakai.


"Kak Rafa......." panggil Tiara manja.


Rafa yang mendengar hal itu hanya tersenyum karena ia tau Tiara sudah mabuk saat itu.


"Beristirahatlah, kau harus mengemasi barang barangmu besok pagi," ucap Rafa sambil menepuk nepuk pelan kepala Tiara kemudian berjalan ke arah pintu.


Namun tiba tiba Tiara beranjak dan menahan tangan Rafa.


"Ada apa? apa kau perlu sesuatu?" tanya Rafa.


Tiara menggeleng lalu tiba tiba menjatuhkan dirinya pada Rafa. Rafapun dengan sigap menahan Tiara.


"Apa kau merasa pusing?" tanya Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


Tiara kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Rafa, memeluk Rafa dengan erat seolah tidak ingin Rafa pergi meninggalkannya.


Rafapun membalas pelukan Tiara, ia mendekap Tiara dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya sedetikpun.


"Kau harus beristirahat Tiara," ucap Rafa sambil membelai lembut rambut Tiara.


Tiara hanya terdiam, ia mendongakkan kepalanya menatap Rafa.


"Apa kak Rafa mendengarnya?" tanya Tiara yang membuat Rafa seketika menundukkan kepalanya menatap Tiara.


"Mendengar apa?" tanya Rafa.


"Detak jantung Tiara, sepertinya jantung Tiara akan meledak sekarang," jawab Tiara yang membuat Rafa tersenyum.


"Apa kau sedang berdebar sekarang?" tanya Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Rafa.


"Seharusnya detak jantungmu melemah karena alkohol, bukan malah semakin berdebar," ucap Rafa.


"Tiara selalu seperti ini setiap dekat dengan kak Rafa, rasanya aneh, tapi membuat Tiara bahagia," ucap Tiara.


"Itu artinya kau jatuh cinta padaku," balas Rafa.


"Benarkah?" tanya Tiara sambil melepaskan kedua tangannya dari pinggang Rafa, namun seketika itu juga ia hampir saja terjatuh jika Rafa tidak segera menahannya.


"Sepertinya kau sangat mabuk," ucap Rafa sambil membantu Tiara duduk di ranjangnya.


Tiara menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia mulai merasa pusing saat itu.


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu Tiara, tapi aku yakin aku pasti bisa membuatmu bahagia dengan caraku sendiri, tunggulah sebentar lagi," ucap Rafa.


Tiara kemudian membawa pandangannya pada Rafa yang duduk di sampingnya dan entah mendapat bisikan dari mana tiba tiba saja Tiara mencium pipi Rafa.


"Mungkin Tiara sudah jatuh cinta, tapi Tiara takut jika kak Rafa nanti akan menyakiti Tiara seperti kak Bima, Tiara......"


CUUUUPPPP


Tiara menghentikan ucapannya saat tiba tiba Rafa mendaratkan kecupan singkatnya di bibir Tiara.


Tiara terdiam untuk beberapa saat kemudian membalasnya dengan kecupan singkat di pipi Rafa.


Tak mau kalah, Rafapun kembali mendekat, meraih tengkuk Tiara dan mendaratkan kecupannya di bibir mungil Tiara.


Namun bukan hanya kecupan singkat, melainkan kecupan hangat yang membuat keduanya saling bertaut.


Karena efek alkohol yang sebelumnya mereka minum, membuat mereka jatuh ke dalam lautan asmara yang mereka ciptakan tanpa sadar.


Rafa yang hanya meminum sedikit wine tetap saja tidak bisa mengendalikan dirinya saat dorongan dari sisi lain dirinya menginginkan hal yang belum pernah ia lakukan.


Namun karena sama sama tidak bisa menahan efek pusing dan mengantuk dari alkohol yang mereka minum, merekapun tertidur begitu saja.


Beruntung, tidak ada hal yang terjadi sampai di luar batas.


**


Malam yang panjang telah berlalu, mentari pagi membawa Tiara menggeliat dalam tidurnya. Perlahan matanya mengerjap dan mulai terbuka sepenuhnya.


Tiara begitu terkejut saat melihat Rafa tengah terbaring dengan kedua mata terpejam di sampingnya. Tiarapun segera beranjak sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


Sadar jika ada pergerakan di ranjang tempat tidur, Rafapun mulai mengerjapkan matanya dan mendapati gadis cantik di hadapannya tengah menatapnya dengan raut wajah yang sulit di mengerti.


"Kak Rafa kenapa ada disini?" tanya Tiara yang segera berdiri dari ranjangnya.


"Disini?" tanya Rafa mengulang pertanyaan Tiara.


"Iya, ini kan kamar Tiara," jawab Tiara.


Rafa kemudian beranjak dan mengendarakan pandangannya ke sekelilingnya. Hingga akhirnya nyawanya benar benar terkumpul dan ia baru sadar jika ia memang berada di kamar Tiara.


Rafa terdiam beberapa saat, sebuah senyum tersungging di bibirnya saat ia teringat kejadian semalam sebelum ia dan Tiara tertidur.


"Kenapa kak Rafa tersenyum seperti itu? mengerikan sekali!"

__ADS_1


"Hahaha... apa kau tidak ingat kejadian semalam?" balas Rafa bertanya.


"Kejadian semalam...... kejadian apa maksud kakak? apa kita......" Tiara menghentikan ucapannya, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil menutup matanya.


"Jangan berpikir jorok, tidak ada yang terjadi semalam, kau hanya terlalu mabuk jadi aku mengantarmu ke kamar," ucap Rafa sambil memegang kedua bahu Tiara dan mendudukkannya di ranjang.


"Lalu kenapa kak Rafa juga tidur disini?" tanya Tiara.


"Aku..... aku sedikit pusing jadi sepertinya aku tidak sengaja tertidur disini," jawab Rafa beralasan.


"Benarkah? kak Rafa tidak melakukan sesuatu yang jahat bukan?"


"Sesuatu yang jahat seperti apa maksudmu?" balas Rafa bertanya sambil mendekatkan dirinya pada Tiara.


"Kaaakkk....."


Dengan berteriak Tiara mendorong Rafa menjauh, membuat Rafa terkekeh melihat sikap Tiara.


"Cepat mandi agar pikiran kotor itu hilang dari kepalamu," ucap Rafa sambil menepuk nepuk kepala Tiara kemudian berjalan keluar meninggalkan kamar Tiara begitu saja.


Rafa kemudian masuk ke kamarnya, membawa langkahnya ke kamar mandi dan membiarkan badannya basah oleh guyuran air dari shower.


"Dia tidak mengingat kejadian semalam rupanya, lebih baik seperti itu agar dia tidak canggung padaku!"


Setelah mendi dan berganti pakaian, Rafa mulai mengemasi barang barangnya karena siang nanti ia harus segera berangkat ke bandara.


Sama halnya dengan Rafa, setelah Tiara mandi ia segera merapikan barang barang miliknya. Memasukkan satu per satu barangnya ke dalam koper lalu mulai memoles make up tipis di wajahnya.


Saat tengah menggunakan lipstik, tiba tiba memori singkat Tiara mengulas kejadian semalam antara dirinya dan Rafa.


Ia teringat saat dirinya tiba tiba mencium pipi Rafa. Seketika Tiara menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia benar benar malu atas apa yang sudah ia lakukan pada Rafa.


Tidak hanya itu, ia juga ingat saat dirinya tiba tiba memeluk Rafa saat Rafa akan pergi. Tetapi hanya memori singkat itu yang ia ingat. Tidak ada percakapan apapun yang dia ingat antara dirinya dan Rafa malam itu.


"Astaga, apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku melakukan hal itu.... aaargghh bodoh sekali, aku pasti terlihat sangat murahan di mata kak Rafa," ucap Tiara kesal pada dirinya sendiri.


"Apa kak Rafa mengingatnya? dilihat dari sikap kak Rafa tadi sepertinya tidak ada yang aneh dari kak Rafa, apa mungkin kak Rafa tidak mengingatnya? tapi kak Rafa bilang tidak terjadi sesuatu semalam, itu artinya kak Rafa ingat apa yang terjadi semalam, aaarrghhh.... aku harus bagaimana sekarang, apa yang kak Rafa pikirkan tentang aku sekarang......"


Tooookkkk tooookkk tooookkk


Suara ketukan pintu membuat Tiara begitu terkejut. Ia ragu untuk membuka pintu kamarnya meskipun ia tau jika yang mengetuk pintunya adalah Rafa.


"Aku harus bagaimana, apa yang yang harus aku lakukan sekarang....."


Tooookkkk tooookkk tooookkk


"Apa aku pura pura tidak mengingatnya saja? lagi pula itu hanya pelukan dan kecupan singkat di pipi, sepertinya itu bukan masalah besar untuk kak Rafa, ya... lebih baik seperti itu!"


Tiara menarik nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya pelan sebelum akhirnya ia membuka pintu kamarnya.


"Apa kau belum selesai?" tanya Rafa.


"Tunggu sebentar, Tiara akan segera selesai," jawab Tiara.


Tiara kemudian merapikan rambutnya lalu membawa kopernya keluar dari kamar setelah ia memastikan tidak ada barang yang tertinggal.


Tiara dan Rafapun pergi menikmati pagi terakhir mereka di Tokyo sembari menyantap sarapan mereka sebelum pergi ke bandara.


Tepat pukul 10 siang Rafa mengendarai mobilnya ke arah bandara.


**


Di tempat lain, Maya sedang duduk menikmati makan siangnya di sebuah restoran.


Ia baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan klien barunya.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Maya berdering, sebuah panggilan masuk dari Bagas, namun Maya abaikan. Sudah beberapa hari Maya memang mengabaikan Bagas.


Ia sudah mati rasa pada laki laki yang hanya dijadikannya pelampiasan itu.


Tiba tiba seseorang duduk di hadapan Maya tanpa permisi, membuat Maya cukup terkejut.


"Kemana Rafa? dia cuti dari kantor tanpa memberi tahuku tujuannya," tanya Putra yang sudah duduk di depan Maya.


"Ke luar negeri," jawab Maya singkat.


"Ke luar negeri? untuk urusan apa?"


"Tanyakan saja sendiri padanya," jawab Maya lalu beranjak dari duduknya.


"Apa dia sendirian? atau bersama seseorang?" tanya Putra yang masih mengejar Maya.


"Jika kau memang sangat penasaran tanyakan sendiri padanya, jangan menggangguku!" ucap Maya tanpa menjawab pertanyaan Putra.


Putra menghentikan langkahnya, ia membiarkan Maya pergi meninggalkannya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam kepalanya saat ia mengetahui bahwa Rafa pergi ke luar negeri.

__ADS_1


Putrapun teringat jika beberapa hari yang lalu saat ia berada di rumah Tiara ada seseorang yang datang mengantarkan Visa milik Tiara dan Tiarapun cuti di tanggal yang sama dengan Rafa.


"Apa mungkin Rafa pergi ke luar negeri bersama Tiara?" batin Putra bertanya dalam hati.


__ADS_2