Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Keputusan Akhir


__ADS_3

Hari-hari telah berjalan sesuai dengan takdir yang sudah digariskan. Suka dan duka berjalan beriringan bersama senyum, tawa dan kesedihan.


Tiga bulan sudah berlalu, masa percobaan Tiara di perusahaan X sudah Tiara lewati. Hari itu Tiara berangkat ke kantor dengan penuh harap, ia berharap jika dirinya berhasil mempertahankan posisinya di divisi pemasaran.


Ia bukan tidak peduli pada Dita, hanya saja ia tidak akan mengalah pada Dita meskipun ia tahu jika Dita juga ingin mempertahankan dirinya di divisi pemasaran.


Hari itu manajer pemasaran akan memberikan keputusan tentang siapa yang akan tetap bertahan di divisi pemasaran, entah itu Tiara atau Dita.


Tiara hanya bisa berharap apapun keputusan manajernya tidak membuat pertemanannya dengan Dita memburuk.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi saat Tiara Dita dan beberapa staf yang lain berada di ruang meeting bersama manajer divisi pemasaran.


"Masa percobaan kalian berdua telah selesai Tiara Dita, saya selaku manager akan memutuskan untuk tetap mempertahankan kalian berdua di perusahaan ini," ucap manager.


"Tapi hanya salah satu dari kalian yang tetap bertahan di divisi pemasaran sesuai dengan perjanjian kita sebelumnya," lanjut manajer.


Tiara dan Dita hanya terdiam dengan harapan yang sama, tetap bertahan di divisi yang mereka inginkan sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki di perusahaan besar itu.


"Sebenarnya ini bukan hal yang sulit untuk saya, karena sudah pasti saya akan memilih Tiara untuk tetap bertahan di divisi pemasaran, tetapi saya akan meminta pendapat dari staf yang lain tentang siapa yang lebih baik bertahan di divisi pemasaran dan siapa yang harus pindah ke divisi lain," ucap manager.


Semua yang ada disana pun saling menatap satu sama lain karena mereka harus memilih salah satu antara Tiara dan Dita.


"Bagi saya hasil kerja Tiara lebih memuaskan daripada Dita, tetapi saya tidak tahu pasti bagaimana cara kerja Tiara dan Dita tanpa pengawasan saya dan menurut saya yang lebih tahu adalah kalian semua, jadi tolong berikan vote kalian dengan jujur sesuai dengan apa yang kalian lihat tentang Tiara dan Dita selama 3 bulan mereka bekerja di divisi pemasaran," ucap manager.


Voting pun dimulai dan lebih dari setengah dari staf divisi pemasaran memilih Tiara untuk tetap berada di divisi pemasaran.


Manajer kemudian menanyakan alasan mereka memilih Tiara untuk tetap menjadi bagian dari divisi pemasaran dan banyak dari mereka yang menjawab jika cara kerja Tiara jauh lebih baik dibandingkan dengan Dita.


Manajer mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar semua penjelasan para stafnya.


"Baiklah, keputusan saya sudah bulat yaitu mempertahankan Tiara di divisi pemasaran dan memindahkan Dita ke divisi lain," ucap manajer memberikan keputusannya yang membuat Dita hanya bisa pasrah tanpa bisa melakukan apapun.


"Saya tahu jika kau sudah melakukan yang terbaik Dita, tetapi hasil kerjamu masih jauh di bawah Tiara, jadi menurut saya lebih baik kau pindah ke divisi lain yang bisa membantumu untuk bekerja dengan lebih baik lagi, apa kau keberatan Dita?" lanjut manager bertanya.


"Tidak Pak," jawab Dita singkat. Meskipun ia sebenarnya tidak ingin dipindahkan namun ia tidak akan memprotes keputusan manajer karena ia tahu itu hanya percuma saja.


"Kau tidak perlu bersedih Dita, di divisi lain nanti kau mungkin saja berkembang dengan lebih baik karena sepertinya kau belum cocok untuk menjadi bagian dari divisi pemasaran dan kau juga harus bersyukur karena kau masih dipertahankan di perusahaan ini karena ada beberapa dari pekerja baru yang lain yang hanya sampai pada 3 bulan masa percobaan dan tidak sampai menandatangani kontrak," ucap manager.


Setelah meeting selesai, semua yang ada di sanapun meninggalkan ruangan meeting termasuk Tiara dan Dita.


Dalam hatinya Tiara senang karena ia berhasil mempertahankan dirinya di divisi pemasaran, namun sebagian dari dirinya merasa sedih melihat Dita yang terlihat putus asa karena harus pindah ke divisi lain.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Tiara pada Dita saat mereka sudah berada di meja kerja mereka masing-masing.


"Apa kau akan baik-baik saja jika kau yang menjadi aku saat ini?" balas Dita bertanya sambil membereskan barang-barangnya yang ada di meja kerjanya.


"Seperti yang Pak manajer katakan, mungkin kau bisa berkembang lebih baik di divisi yang lain daripada disini, aku yakin ini keputusan yang terbaik untukmu," balas Tiara.


"Kau tidak akan tahu apa yang aku rasakan sekarang karena kau tidak berada di posisiku saat ini," ucap Dita.


"Tidak harus berada di posisimu untuk bisa mengerti apa yang kau rasakan, sikapmu yang seperti ini membuatku tidak bisa benar-benar merasa bahagia saat ini," ucap Tiara.


"Kenapa kau tidak bahagia Tiara? kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, kau yang sebelumnya tidak lolos bisa tiba-tiba saja lolos dan sekarang kau tiba-tiba datang dan membuatku harus pergi dari divisi pemasaran, kau benar-benar beruntung sudah seharusnya kau bahagia dengan keberuntungan yang kau dapatkan," ucap Dita dengan tersenyum tipis.


"Kita diberikan waktu dan kesempatan yang sama untuk membuktikan kemampuan kita disini, aku....."


"Aku sudah menduga dari awal jika kau yang akan dipilih, karena kau dekat dengan Pak Putra dan pasti Pak Putra yang meminta Pak manager untuk mempertahankanmu disini," ucap Dita memotong ucapan Tiara.


"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Pak Putra," balas Tiara dengan sedikit meninggikan suaranya, membuat beberapa staff yang ada disana membawa pandangannya ke arah Tiara.

__ADS_1


Dita hanya tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya sambil membawa barang-barang miliknya yang sebelumnya ada di meja kerjanya.


"Kau beruntungan Tiara, ada Pak Putra yang selalu membantumu disini, kau tidak perlu takut gagal karena ada pak Putra yang akan selalu meloloskanmu, kau benar-benar beruntung dan sekarang nikmati saja keberuntunganmu, aku permisi!" ucap Dita lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara.


Tiarapun segera beranjak dari duduknya dan menahan tangan Dita.


"Apa yang aku dapatkan adalah hasil dari kerja kerasku bukan karena bantuan Pak Putra, apa kau tidak sadar jika ucapanmu baru saja bisa menimbulkan gosip yang tidak benar?"


"Gosip? bagian mana yang kau anggap gosip Tiara? apa kau tidak sadar jika semua orang disini membicarakanmu? kau mendekati Pak Putra agar kau bisa mengikuti tes terakhirmu setelah kau dinyatakan tidak lolos dan sekarang kau menggeser posisiku disini juga karena bantuan Pak Putra, semua orang tahu itu tiara jadi kau tidak perlu mengelak lagi!" ucap Dita.


"Itu tidak benar, aku......"


"Sudah sudah.... keputusan sudah diambil, apa yang kau bicarakan tidak akan merubah apapun Dita dan kau Tiara fokus saja pada pekerjaanmu, tidak perlu terlalu memikirkan ucapan Dita jika memang yang dia ucapkan tidak benar," ucap salah satu senior Tiara menengahi perdebatan Tiara dan Dita.


"Semua orang akan tau siapa kau sebenarnya Tiara," ucap Dita lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara.


Tiara yang masih berdiri di tempatnya hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, ia tidak menyangka jika Dita akan berpikir sejauh itu tentang dirinya.


"Jangan terlalu memikirkannya, mungkin dia hanya sedang marah padamu karena dia kecewa dipindahkan ke divisi lain," ucap senior Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Tiara kemudian kembali ke meja kerjanya dan mengerjakan pekerjaannya sampai jam makan siang tiba.


Tiara berjalan ke arah kantin bersama beberapa seniornya dari divisi pemasaran. Mereka memesan makanan dan minuman lalu menikmati makan siang mereka bersama.


Saat tengah menikmati makanannya, Tiara merasa beberapa orang disana tengah memperhatikannya, terutama beberapa orang yang sedang makan siang bersama Dita.


Tiara berusaha untuk mengabaikannya, meskipun itu membuatnya tidak nyaman hingga tiba tiba seseorang menghampirinya.


"Namamu Tiara?" tanya seseorang yang sebelumnya duduk bersama Dita di bangku lain.


"Iya," jawab Tiara dengan menganggukkan kepalanya.


"Bukankah kau tidak lolos saat tes terakhir? kenapa tiba tiba kau bisa ada disini? apa benar karena kau mendekati Pak Putra?"


"Lebih baik kau tidak percaya sesuatu yang hanya kau dengar dari satu orang atau kau akan menyesalinya," ucap Tiara dengan pandangan matanya yang masih menatap Dita.


"Iiissshh sombong sekali," ucap seseorang itu lalu kembali duduk di dekat Dita.


Tiara hanya menghela nafasnya lalu menyeruput minuman miliknya sampai habis tak bersisa.


"Waahh sepertinya kau sangat haus, minumlah punyaku hehehe...." ucap salah satu senior Tiara sambil menggeser minuman miliknya.


"Terima kasih kak, tapi maaf Tiara tidak bisa mengkonsumsi sesuatu yang mengandung kafein," ucap Tiara menolak dengan halus karena ia tau minuman milik seniornya adalah cappucino yang sudah jelas mengandung kafein.


"Kenapa? alergi?"


"Tidak, hanya saja Tiara akan pingsan beberapa jam setelah mengkonsumsi sesuatu yang mengandung kafein," jawab Tiara.


"Tapi kau bisa menamakan roti yang mengandung kafein?" tanya senior Tiara yang masih penasaran.


"Tidak kak, Tiara pasti akan menghindari makanan ataupun minuman yang mengandung kafein," jawab Tiara.


"Tapi roti yang kau berikan padaku dulu bukankah mengandung kafein?"


"Roti?" tanya Tiara sambil berusaha menggali ingatannya tentang roti yang pernah ia berikan pada seniornya.


"Iya, roti yang kau berikan padaku saat kau baru beberapa hari bekerja disini," jawab senior Tiara.


"Aaahhh roti itu, bukankah itu roti isi coklat?" tanya Tiara setelah ia ingat roti yang dimaksud oleh seniornya.

__ADS_1


"Isinya memang didominasi oleh coklat lumer, tapi ada campuran moka di dalamnya, aku yakin karena aku sempat mempelajari tata boga saat SMA, jadi lidahku sangat peka pada rasa!" jawab senior Tiara menjelaskan.


Tiara terdiam tak percaya mendengar apa yang baru saja seniornya ucapkan. Fakta bahwa roti itu adalah pemberian Dita membuat Tiara seketika membawa pandangannya pada Dita yang tampak sedang tertawa bersama teman teman barunya.


"Jadi itu alasannya, itu yang membuatku tiba tiba pusing dan pingsan saat tes terakhir," ucap Tiara dalam hati.


"Ada apa Tiara? apa ada seseorang yang sengaja memberikan roti itu padamu agar kau pingsan?" tanya senior Tiara.


Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


"Lalu darimana kau mendapatkan roti itu?"


"Mmmm..... sepertinya Tiara salah beli," jawab Tiara berasalan.


**


Di tempat lain, seseorang mengetuk pintu rumah Rafa cukup keras karena sudah lebih dari 10 menit ia berdiri disana.


Di dalam rumah, Maya yang mendengar suara ketukan pintu memilih untuk mengabaikannya karena ia masih merasa lemas saat itu.


Ia baru saja pulang dari bar bersama Bagas sesaat setelah Rafa pergi ke kafe.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Maya berdering, sebuah panggilan dari Rafa, namun Maya abaikan hingga tak lama kemudian sebuah pesan masuk dari Rafa.


"Kau dimana? mama sedang ke rumah sekarang, mama bilang melihat mobilmu di rumah tapi kau tidak membukakan pintu untuk mama!"


Seketika Maya segera beranjak dari ranjangnya setelah ia membaca pesan Rafa.


Maya merapikan rambut dan pakaiannya sekenanya lalu segera berjalan keluar dari kamarnya untuk membuka pintu rumahnya.


Benar saja disana sudah ada Mama Rafa yang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Apa kau sedang sibuk?" tanya Mama Rafa.


"Tidak ma, maaf Maya sedang tidur karena sedang tidak enak badan," jawab Maya beralasan.


Mama Rafa mengernyitkan keningnya saat menyadari jika ia mencium bau alkohol dari Maya.


"Silakan masuk ma, Maya akan membuatkan minum untuk mama!" ucap Maya lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Mama Rafa.


Mama Rafa semakin heran saat melihat sudah tidak ada foto-foto pernikahan Rafa dan Maya yang sebelumnya terpajang di dinding dan meja yang ada di ruang tamu.


"Dimana foto pernikahan kalian Maya? kenapa sama sekali tidak ada foto pernikahan kalian disini?" tanya Mama Rafa setelah Maya memberikan minuman padanya.


"Aaahhh itu.... mmmmm.... Maya dan Rafa sedang berpikir untuk mengganti cat dinding rumah jadi untuk sementara foto-foto pernikahan kita disimpan agar tidak kotor," jawab Maya memberi alasan.


"Aaahhh begitu, sepertinya mama mencium bau alkohol disini atau hidung Mama yang salah?" ucap Mama Rafa membuat Maya tampak gugup.


"Mmmm.... itu..... Maya baru saja menang di pengadilan jadi Maya dan Rafa semalam mengadakan pesta kecil di rumah hehehe...." balas Maya berbohong.


"Apa Rafa juga meminum alkohol?" tanya Mama Rafa.


"Iya, kita minum banyak sekali alkohol semalam, jadi mungkin itu yang membuat Maya merasa tidak enak badan sekarang," jawab Maya


"Baiklah kalau begitu Mama akan berkunjung lain kali, kau beristirahatlah Mama pulang dulu!" ucap Mama Rafa lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari rumah Rafa.


Dalam perjalanan pulang Mama Rafa memikirkan apa yang baru saja Maya katakan padanya.

__ADS_1


"Jika memang benar semalam Maya dan Rafa mengkonsumsi alkohol bersama, tidak mungkin Rafa berada di kafe saat ini, Rafa sama sekali tidak bisa mengkonsumsi alkohol, sedikit saja dia minum alkohol pasti dia sudah mabuk dan tidak akan bisa melakukan aktivitasnya bahkan sampai keesokan harinya," ucap Mama Rafa dalam hati.


"Tapi Maya sendiri yang mengatakan jika Rafa juga mengkonsumsi alkohol bahkan dalam jumlah yang banyak, apa mungkin Maya berbohong? tapi kenapa?" batin Mama Rafa bertanya dalam hati.


__ADS_2