Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Yang Rafa Pikirkan


__ADS_3

Rafa masih berada di rumah Tiara, ia masih membiarkan Tiara menyelesaikan ceritanya meskipun sebenarnya ia merasa kesal ketika ia tahu bagaimana kedekatan Tiara dan Putra selama ini.


"Jadi kau memutuskan untuk menjauhinya?" tanya Rafa pada Tiara.


"Tiara tidak benar-benar menjauhi kak Putra, Tiara dan kak Putra hanya harus lebih bisa menempatkan posisi kita di kantor agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini," jawab Tiara.


"Tapi apa kau yakin jika Putra tidak memiliki perasaan apapun padamu?" tanya Rafa.


"Kenapa kakak bertanya seperti itu? apa kakak juga berpikir seperti yang lainnya? mereka bahkan mereka berpikir bahwa Tiara memanfaatkan kak Putra agar Tiara bisa berada di posisi Tiara saat ini!"


"Aku tahu kau bisa berada di posisimu sekarang karena kemampuanmu, tapi aku mengenal Putra lebih lama darimu, jadi....."


"Jadi bukan berarti kak Rafa akan selalu tahu apa yang kak Putra rasakan, Tiara memang tidak tahu apa yang membuat Tiara dan kak Putra dekat, sama halnya dengan Tiara dan kak Rafa, Tiara bahkan tidak sadar sejak kapan kita menjadi dekat," ucap Tiara memotong ucapan Rafa.


Rafa mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Tiara, ia percaya bahwa Tiara tidak memiliki perasaan apapun pada Putra .


Entah karena Tiara masih menyimpan Bima dalam hatinya atau karena Tiara benar-benar tidak ingin membuka hatinya karena tidak ingin kembali mengulang sakit hati yang pernah dia rasakan karena Bima.


"Kak Putra dan kak Rafa memang sangat baik pada Tiara, Tiara sangat bersyukur bisa mengenal kalian berdua, Tiara tidak ingin hubungan Tiara dengan kak Rafa dan kak Putra akan berakhir seperti hubungan Tiara dengan kak Gita, kak Bima dan Dita," ucap Tiara.


"Rasanya sangat menyedihkan jika tiba-tiba kita harus menjauh dari orang-orang yang dulunya sangat dekat dengan kita, rasanya jauh lebih menyakitkan saat orang-orang terdekat kita yang menyakiti kita, Tiara bahkan berpikir apa sebenarnya kesalahan Tiara yang membuat Tiara harus kehilangan mereka," lanjut Tiara dengan menundukkan kepalanya.


"Itu semua bukan kesalahanmu Tiara, mereka sendiri yang memilih untuk menyakitimu dan menjauh dari mereka adalah keputusan yang paling tepat untuk tetap menjaga kesehatan mentalmu," balas Rafa.


"Tiara sudah pernah kehilangan orang-orang terdekat yang Tiara sayangi kak, jadi sekarang Tiara tidak ingin lagi kehilangan orang-orang terdekat Tiara termasuk kak Rafa dan kak Putra," ucap Tiara.


Rafa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum sambil membelai pelan rambut Tiara.


"Aku memang tidak ingin kau dekat dengan Putra, tapi aku juga tidak ingin membiarkanmu bersedih jika hubunganmu dengan Putra harus berakhir seperti yang lainnya, setidaknya aku harus memastikan bahwa Putra tidak akan bisa mendapatkanmu," ucap Rafa dalam hati.


Entah kenapa setelah mendengar seluruh cerita Tiara, ada sedikit ketakutan dalam hatinya jika suatu saat nanti Tiara akan memiliki hubungan yang lebih jauh dengan Putra, terlebih Rafa tahu bagaimana Putra yang sebenarnya.


Meskipun terlihat sangat santai, tapi Putra tidak akan pernah melepaskan apa yang sudah diincarnya. Ia adalah sosok laki-laki yang tidak akan mudah menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkannya.


Entah sejak kapan Rafa merasa memiliki Tiara, tapi yang pasti ia yakin bahwa hatinya tidak ingin Tiara bersama laki-laki lain.


Perasaan yang membuatnya tidak nyaman itu selalu membuatnya gelisah, terlebih saat ia sadar bahwa dirinya adalah laki-laki yang sudah memiliki istri yang tidak bisa mendekati perempuan lain begitu saja, apa lagi mendapatkannya.


Setelah beberapa lama mengobrol Rafapun berpamitan untuk pulang. Rafa mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Tiara.


Sepanjang perjalanan Rafa masih memikirkan semua cerita yang baru saja ia dengar dari Tiara.


"Sepertinya aku benar-benar sudah gila, aku jatuh cinta pada Tiara di saat aku sudah menjadi suami wanita lain, aaaarrghhhh.... kenapa harus seperti ini, kenapa waktu mempertemukan kita di saat yang tidak tepat Tiara!" ucap Rafa sambil memukul setir mobilnya dengan kencang.


Rafa begitu kesal pada dirinya sendiri, pada takdir yang seolah mempermainkan dirinya. Di saat dia sama sekali tidak memikirkan tentang seorang wanita, tiba-tiba Maya datang dan mengharuskan dirinya untuk menikahi Maya.


Meskipun tidak pernah mencintai Maya namun Rafa tetap menerima dan menjalani pernikahannya dengan Maya.


Namun sekarang ia merasa sudah salah arah, saat pernikahannya semakin terasa melelahkan ia bertemu dengan Tiara, gadis cantik penuh keceriaan yang selalu menyejukkan hatinya.


Bagi Rafa Tiara seperti coklat hangat yang selalu menenangkan dirinya, menghangatkan hatinya yang sudah lama dingin dan memberikan rasa manis dalam hidupnya yang sudah lama hambar.


Mengenal Tiara membuat Rafa berfikir bahwa menjalani pernikahannya dengan Maya bukanlah sebuah pilihan yang tepat.


Sejak mengenal Tiara Rafa selalu ingin terlepas dari pernikahan palsunya, tapi ia sadar bahwa ia tidak bisa begitu saja melepaskan dirinya dari pernikahan palsunya bersama Maya.


Namun semakin lama mengenal Tiara Rafa semakin tidak ingin Tiara pergi jauh darinya, terlebih jika Tiara pergi bersama laki-laki lain yang sudah jelas menaruh hati pada Tiara.

__ADS_1


Ada sebuah ketakutan dalam dirinya, ketakutan yang semakin lama semakin membesar. Ketakutan jika suatu saat nanti Tiara akan memilih laki-laki lain untuk bersanding dengannya.


Meskipun sadar akan posisinya saat itu, namun tidak mudah bagi Rafa untuk membiarkan Tiara bersama laki-laki lain meskipun dia tahu bahwa ia tidak berhak untuk membatasi Tiara.


Rafa kemudian menepikan mobilnya, ia benar-benar sedang tidak fokus saat itu. Pikirannya terbagi antara Tiara dan Maya. Meskipun dirinya telah dimiliki oleh Maya tetapi hatinya menginginkan Tiara.


Keinginannya untuk terlepas dari pernikahan palsunya bersama Maya semakin kuat saat Rafa tahu bahwa ada laki-laki lain yang menginginkan Tiara.


Rafa tidak ingin menyesal saat laki-laki itu sudah mendapatkan Tiara, namun ia bingung tentang apa yang harus ia lakukan karena ia adalah laki-laki yang sudah memiliki istri yang tidak mungkin menjalin hubungan dengan wanita lain.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Putra memiliki celah lebih besar untuk bisa mendekati Tiara dengan mudah, sedangkan aku....... aku sudah bukan siapa-siapa bagi Tiara, dia sudah bukan mahasiswiku, dia juga sudah bukan karyawanku!"


Rafa menundukkan kepalanya, memukulkan kepalanya pada setir mobilnya beberapa kali sampai akhirnya sebuah ide gila terlintas di kepalanya.


Rafa kemudian mengangkat kepalanya dengan tersenyum tipis lalu kembali menyalakan mesin mobilnya.


"Mari kita lihat segila apa aku mencintaimu Tiara, persetan dengan pernikahan palsuku dengan Maya, yang penting sekarang kau tetap ada dalam genggamanku dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu dariku!" ucap Rafa lalu segera mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.


**


Hari telah berganti, Tiara sedang berjalan ke arah lift menunggu lift terbuka agar ia bisa naik ke lantai 5 tempatnya bekerja.


Setelah beberapa lama menunggu pintu lift terbuka, Tiarapun masuk bersama beberapa staf yang lain.


Seperti biasa Tiara selalu menyapa dengan senyum cantik di wajahnya meskipun beberapa dari mereka ada yang membalas senyumnya dan beberapa yang lainnya hanya mengacuhkan Tiara, namun Tiara tidak terlalu memikirkan hal itu sampai akhirnya pintu lift terbuka dan Tiarapun keluar dari lift.


Setelah mengerjakan beberapa hal Tiara kemudian masuk ke ruangan meeting bersama teman-temannya yang lain.


Meeting pagi itu membahas tentang iklan produk baru yang akan mereka keluarkan. Manajer pemasaran memutuskan untuk tidak menggunakan model sungguhan dan lebih memilih salah satu dari stafnya sendiri yang akan menjadi model pada produk baru mereka.


"Sasaran produk kita kali ini adalah para petani yang tidak akan terlalu memikirkan tentang siapa yang menjadi model produk baru kita, jadi akan lebih baik jika model produk ini adalah salah satu dari kalian untuk menekan biaya yang kita keluarkan," balas manager pemasaran.


"Lalu siapa yang akan menjadi modelnya Pak?" tanya Tiara.


"Untuk masalah itu mari kita adakan casting kecil-kecilan terlebih dahulu," jawab manajer yang membuat para stafnya saling menatap satu sama lain.


Alhasil pagi itu para staf dari divisi pemasaran bergantian untuk melakukan casting di ruangan lain bersama dengan para sutradara dan dan produser yang bekerja sama dengan divisi pemasaran untuk membuat iklan produk terbaru mereka.


Waktu castingpun selesai tepat saat jam 12.00 siang, Tiara dan teman-temannyapun berjalan ke kantin untuk menikmati makan siang mereka.


"Sepertinya aku sedikit berharap jika aku yang akan terpilih hehehe....." ucap salah satu teman Tiara.


"Bagaimana denganmu Tiara?" tanya teman Tiara yang lain.


"Ini pengalaman baru untuk Tiara kak, jadi Tiara ingin melakukannya dengan baik," jawab Tiara.


"Mudah-mudahan saja kalian berdua lolos, bukankah hanya akan ada dua orang yang dipilih nantinya?"


"Iya benar, sutradara dan produser bilang hanya akan ada dua orang yang dipilih," jawab Tiara.


Setelah jam makan siang selesai, merekapun kembali ke tempat kerja mereka sembari menunggu hasil dari casting yang beberapa saat lalu mereka lakukan.


Tak berapa lama setelah mereka kembali berkutat dengan pekerjaan, manajer pemasaran memberitahu hasil dari casting yang menyebutkan bahwa Tiara dan salah satu temannya lolos, membuat Tiara dan temannya itu bersorak senang karena mereka berdua sama-sama menginginkan untuk bisa menjelajah dunia baru bagi mereka.


"Akhirnya kalian berdua mendapatkan apa yang kalian inginkan!" ucap salah satu teman Tiara.


"Mari kita lakukan yang terbaik untuk produk baru kita!" ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala dan kepalan tangan penuh semangat oleh teman Tiara.

__ADS_1


"Selamat untuk kalian berdua, syuting iklan untuk produk baru kita akan dilakukan pada hari Minggu, kalian berdua harus berada di kantor tepat pukul 07.00 karena kita harus pergi ke puncak dan akan kembali hari itu juga, jadi kita harus menyelesaikannya dengan cepat!" ucap manajer.


"Baik Pak," balas Tiara dan temannya dengan penuh semangat.


**


Di tempat lain, Rafa baru saja memasukkan beberapa lembar kertas ke dalam amplop coklat.


Saat Rafa baru saja mengambil kemeja putih dari dalam lemarinya tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya, membuat Rafa segera menaruh kemeja putihnya di atas ranjangnya lalu membuka pintu kamarnya.


Dilihatnya Maya dengan keadaan yang kacau berdiri di depan kamarnya.


"Apa kau yang membaringkanku di kamar kemarin?" tanya Maya pada Rafa.


Rafa hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.


"Dimana ponselku?" tanya Maya.


"Aku tidak melihatnya," jawab Rafa singkat lalu hendak menutup pintu kamarnya namun ditahan oleh Maya.


"Kembalikan ponselku Rafa, kau pasti menyimpannya bukan?"


"Untuk apa aku menyimpan ponselmu? sepertinya kau masih sangat mabuk jadi lebih baik tidur saja di kamarmu!" balas Rafa.


Namun tiba-tiba Maya menyelonong masuk ke dalam kamar Rafa untuk mencari ponselnya yang ia pikir sedang Rafa sembunyikan.


Maya ingat jika semalam ia pulang dengan menggunakan taksi dalam keadaan mabuk, ia juga ingat jika Rafa membantunya masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di atas ranjangnya. Saat ia tengah mencari ponselnya pagi itu ia tidak menemukannya dan menuduh Rafa yang menyembunyikan ponselnya.


"Jangan membuat berantakan kamarku, aku benar-benar tidak mengambil ponselmu, mungkin ponselmu terjatuh di taksi atau di tempat lain!" ucap Rafa pada Maya


"Kau benar... mungkin aku menjatuhkan ponselku di tempat lain," ucap Maya dengan pandangan kosong lalu berjalan keluar dari kamar Rafa.


Baru saja Maya melewati pintu kamar Rafa, Rafa segera menarik tangan Maya.


"Berhentilah seperti ini Maya, dia bukan laki-laki yang baik untukmu, jika memang dia mencintaimu dia tidak mungkin meninggalkanmu dalam keadaan kacau seperti ini!" ucap Rafa pada Maya.


"Tidak perlu menghiraukanku, urus saja masalahmu sendiri!" balas Maya sambil menarik tangannya dari Rafa lalu berjalan kembali masuk ke kamarnya.


Rafa hanya menghela nafasnya panjang lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengenakan kemeja putihnya. Dengan pakaian formal bernuansa hitam putih Rafa membawa amplop coklat yang sudah dia siapkan sejak kemarin malam.


Rafa kemudian meninggalkan rumahnya, mengendarai mobilnya ke arah perusahaan X untuk menemui sang papa.


Sepanjang perjalanan Rafa bersenandung dengan ceria, ia seolah mendapatkan semangat baru dalam dirinya. Ia begitu yakin tentang apa yang akan dia lakukan saat itu.


Sesampainya di perusahaan X, Rafa segera berjalan memasuki pintu utama. Beberapa dari mereka yang berada di lobby begitu terkejut saat melihat Rafa, beberapa dari mereka mengenal siapa Rafa meski beberapa yang lainnya tidak tahu siapa laki-laki tampan yang tengah berjalan dengan penuh kharisma itu.


Dengan penuh percaya diri Rafa menaiki lift yang akan membawanya ke ruangan sang papa. Setelah pintu lift terbuka, Rafa membawa langkahnya masuk ke ruangan sang papa.


Rafa mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya ia membuka pintu ruangan sang papa dan seperti yang ia duga, papanya terdiam, terkejut melihat kedatangan Rafa.


"Rafa apa yang kau lakukan disini?" tanya papa Rafa.


"Selamat pagi Pak," ucap Rafa dengan sedikit membungkukkan badannya lalu berjalan mendekati meja papanya, kemudian memberikan amplop coklat yang di bawanya pada sang papa.


"Kau aneh sekali, apa ini?" tanya papa Rafa sambil memeriksa isi dari amplop coklat yang Rafa berikan.


Papa Rafa begitu terkejut setelah membaca beberapa lembar kertas yang ada di dalam amplop coklat itu, ia kemudian membawa pandangannya pada Rafa seolah tidak percaya pada apa yang baru saja dia baca.

__ADS_1


__ADS_2