
Biiiiiipppp biiiipppp biiiiippp
Ponsel Kevin berdering, sebuah panggilan dari dosen pembimbingnya yang membuat Kevin harus segera meninggalkan Tiara.
"Dosen pembimbingku sudah menghubungiku Ra, aku harus pergi," ucap Kevin.
"Pergilah, aku juga akan pergi sebentar lagi," balas Tiara.
"Jika kau ingin pergi dari rumah hubungi aku, aku akan mengantar kemanapun kau mau," ucap Kevin yang hanya di balas anggukan kepala oleh Tiara.
Tiara kemudian beranjak dari duduknya lalu kembali mencari ponselnya di sekitar bangku yang ia duduki.
"Kenapa aku bodoh sekali, bukankah aku bisa meminta tolong Kevin untuk menghubungi nomorku, aaahhhh.....bodohnya....." ucap Tiara sambil memukul-mukul kepalanya.
Tanpa Tiara tahu sejak kedatangan Kevin, Rafa sudah memperhatikan Tiara dari jarak yang cukup jauh dan ketika Kevin pergi, Rafapun menghampiri Tiara.
"Apa ini yang kau cari?" tanya Rafa sambil memamerkan ponsel milik Tiara.
Tiara yang melihat Rafa membawa ponselnya hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis.
"Kenapa kau selalu menjatuhkan barang-barangmu Tiara, kau ceroboh sekali!" ucap Rafa sambil mengembalikan ponsel milik Tiara.
"Pak Rafa bukan orang pertama yang mengatakan bahwa Tiara ceroboh," balas Tiara.
"Itu artinya kau memang ceroboh Tiara."
"Iya Pak, saya mengakuinya...... tentang apa yang terjadi di rooftop tadi, saya....."
"Saya sudah melupakannya, maaf jika saya tiba-tiba datang, saya hanya ingin mengembalikan ponselmu dan tidak berniat untuk mencampuri masalah pribadimu dengan Bima," ucap Rafa memotong ucapan Tiara.
"Terima kasih Pak," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala Rafa.
"Sekarang pulang dan beristirahatlah, saya akan menghubungimu lagi untuk jadwal bimbingan skripsi selanjutnya," ucap Rafa.
"Baik Pak, saya permisi," balas Tiara lalu berjalan pergi meninggalkan Rafa.
Tiara kemudian menaiki bus yang membawanya pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ia sedikit terkejut karena melihat mobil Gita yang ada di halaman rumahnya saat itu.
"bukankah ini masih jam kerja? kenapa kak Gita sudah ada di rumah?" tanya Tiara dalam hati sambil membawa langkahnya masuk ke dalam rumah.
"Kenapa ada mobil kak Gita ma? apa kak Gita sudah pulang?" tanya Tiara pada mama tirinya.
"Dia pulang lebih cepat karena sedang tidak enak badan, sepertinya dia sedang hamil," jawab mama Laras yang membuat Tiara begitu terkejut.
__ADS_1
"Kenapa kau terkejut seperti itu Ra? bukankah wajar jika Gita hamil? dia kan sudah menjadi istri Bima!"
Tiara hanya tersenyum tipis selalu segera berlari menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar Gita beberapa kali.
"Kak," panggil Tiara.
"Masuklah Ra, kakak tidak menguncinya," ucap Gita dengan suara yang terdengar lemas.
Tiara kemudian membuka pintu kamar Gita lalu berjalan masuk dan duduk di tepi ranjang Gita.
"Mama bilang kak Gita hamil, apa benar kak?" tanya Tiara.
"Kakak belum memeriksanya Tiara, tapi kakak merasa sangat lemas dan mual," jawab Gita.
"Apa perlu Tiara yang mengantar kakak ke rumah sakit?" tanya Tiara.
"Tidak perlu Ra, kakak akan menunggu Bima pulang dan pergi ke rumah sakit bersama Bima," jawab Gita.
"Baiklah kalau begitu, kakak istirahat saja semoga keadaan kakak cepat membaik," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala Gita.
Tiara kemudian berjalan keluar dari kamar Gita dan masuk ke kamarnya.
"entah kak Gita hamil atau tidak, tapi jika kak Gita berpikir bahwa dia sedang hamil, itu artinya kak Gita dan kak Bima sudah pernah......."
Tiara tersenyum tipis lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
"wajar jika mereka sudah melakukannya, mereka adalah pasangan suami istri yang setiap hari tidur satu kamar bahkan satu ranjang, jadi bukan tidak mungkin jika kak Gita sekarang hamil," ucap Tiara dalam hati dengan tersenyum namun kedua matanya tampak berkaca-kaca.
Meskipun Bima sudah bersikap kasar padanya dan iapun sudah sangat kecewa pada sikap Bima, namun pada kenyataannya serpihan rasa yang sudah lama ada di hatinya masih tersisa dan tidak mudah untuk hilang begitu saja.
"kau benar-benar harus melupakannya Tiara, jangan pernah memikirkannya lagi apalagi mengharapkannya," ucap Tiara dalam hati sambil menutup kedua matanya yang sudah tidak bisa menahan air mata.
Waktupun berlalu, saat bagi Tiara untuk keluar dari rumah. Setelah memasukkan beberapa buku dan laptop ke dalam tas ranselnya, Tiarapun keluar dari kamarnya.
Tak lupa dia membawa ponsel dan dompetnya lalu menaruhnya di dalam tas.
"Kali ini aku tidak boleh kehilangan dompet ataupun ponselku, kali ini tidak boleh ada lagi barang yang hilang," ucap Tiara sambil berjalan keluar dari rumah.
Tiara kemudian menunggu bus di halte lalu menaiki bus yang membawanya ke kafe tempat ia sering menghabiskan malamnya disana.
"Sepertinya aku akan berlangganan di kafe ini," ucap Tiara sambil membawa langkahnya memasuki kafe.
"Tiara!" panggil Chika sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
Tiarapun ikut melambaikan tangannya lalu berjalan ke arah Chika yang sedang sibuk menyiapkan minuman pelanggan.
"Apa kau akan mengerjakan skripsimu lagi disini?" tanya Chika pada Tiara yang berdiri di seberang meja kerjanya.
"Iya," jawab Tiara dengan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, duduklah di mejamu, aku akan memberikan satu minuman spesial untukmu," ucap Chika.
Tiara menganggukkan kepalanya senang lalu membawa langkahnya untuk duduk di tempat yang biasa ia tempati.
Tiara kemudian mengeluarkan laptop dan buku-bukunya, bersiap untuk mengerjakan skripsinya.
Tak lama kemudian Chikapun datang dan memberikan satu gelas coklat panas pada Tiara.
"Setahuku coklat mengandung hormon endorfin yang bisa memberikan rasa bahagia, jadi aku membuat ini untukmu agar kau bisa mengerjakan skripsimu dengan penuh kebahagiaan," ucap Chika.
"Waaahh.... terima kasih, kau memang tahu apa yang aku inginkan," balas Tiara.
"Apa masalah di rumahmu belum selesai?" tanya Chika yang hanya dibalas gelengan kepala dan senyum oleh Tiara.
"Jika kau membutuhkan teman untuk bercerita, kau bisa menceritakan masalahmu padaku, kau tidak perlu khawatir aku pandai dalam menjaga rahasia," ucap Chika.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, ia merasa sangat senang karena bisa bertemu dan berteman dengan Chika.
Tak lama kemudian seorang laki-laki tampak memasuki kafe.
"Aahh laki-laki mesum itu lagi," gerutu Tiara pelan namun cukup bisa didengar dengan jelas oleh Chika.
"Laki-laki mesum?" tanya Chika yang segera membawa pandangannya ke arah pandangan Tiara.
Chika yang begitu terkejut segera beranjak dari duduknya dan menyambut kedatangan Rafa.
"Selamat datang pak," sapa Chika yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Rafa.
Rafa hanya melihat sekilas ke arah Tiara lalu berjalan masuk ke dalam ruangannya.
"Pak? kenapa kau memanggilnya seperti itu? apa kau juga mahasiswi Pak Rafa?" tanya Tiara pada Chika.
"Tentu saja tidak, aku hanya karyawan disini, jangan bilang kalau kau adalah mahasiswi Pak Rafa!" balas Chika menerka.
"Aku memang mahasiswi Pak Rafa, Pak Rafa bahkan menjadi dosen pembimbingku," ucap Tiara.
"Waaahh benar-benar kebetulan sekali, apa kau tidak tahu bahwa Pak Rafa pemilik kafe ini?" ucap Chika yang membuat Tiara begitu terkejut hingga membelalakkan matanya dengan mulut menganga.
__ADS_1