
Hari telah berganti, pagi itu Maya sangat malas untuk keluar dari kamarnya. Matanya yang masih sembab membuatnya enggan untuk bertemu dengan Rafa.
"Aku benar benar sudah gila, menangis semalaman sampai mataku bengkak seperti ini," gerutu Maya sambil menempelkan masker mata pada bagian bawah matanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, namun Maya masih berada di atas ranjangnya sambil membaca buku.
Di sisi lain, Rafa yang dari pagi menunggu Maya mulai sedikit khawatir karena belum melihat Maya keluar dari kamar sama sekali, karena ia tau jika Maya selalu bangun pagi untuk membuat jus sendiri di dapur.
Rafa kemudian berjalan ke arah kamar Maya lalu mengetuk pintu kamar Maya beberapa kali.
"Maya, apa kau masih tidur?" tanya Rafa dari depan pintu kamar Maya.
"Pergilah, jangan menggangguku," ucap Maya dari dalam kamarnya.
"Kau sama sekali belum keluar dari pagi, apa kau baik baik saja?" tanya Rafa.
Hening, tidak ada jawaban. Maya hanya diam mengabaikan Rafa.
"Maya keluarlah, aku tidak akan memaksamu untuk berbicara lagi!" ucap Rafa, namun Maya tidak bergeming.
"Aku tau kau pasti marah karena aku menahanmu keluar semalam, aku akan pergi sekarang dan akan kembali setelah kau mau berbicara denganku!" ucap Rafa.
Mendengar Rafa akan pergi, seketika Maya segera membuka pintu kamarnya dan melihat Rafa yang sudah berjalan pergi dari kamarnya.
"Jangan pergi!" ucap Maya yang membuat Rafa seketika menghentikan langkahnya.
Rafa tersenyum tipis lalu membawa langkahnya duduk di ruang tengah. Sedangkan Maya berjalan ke arah dapur untuk membuat jus lalu membawanya duduk bersama Rafa di ruang tengah.
"Ada apa dengan matamu?" tanya Rafa yang melihat Maya masih mengenakan masker mata.
"Ini masker mata, apa kau tidak tau?" balas Maya dengan nada kesal.
"Aku tahu, tapi kenapa kau memakainya sekarang, apa kau menangis semalaman hanya karena batal berkencan?"
Maya hanya diam mengabaikan Rafa sambil menyeruput jus yang baru saja dibuatnya.
"Aku tidak tau sejauh apa hubunganmu dengannya, tapi menurutku dia bukan laki laki yang baik," ucap Rafa.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? apa kau cemburu?"
"Cemburu? tentu saja tidak, aku hanya melihatnya beberapa kali mengabaikanmu jadi aku berpikir jika dia bukan laki laki yang baik untukmu," balas Rafa.
"Tidak perlu mempedulikanku, katakan apa yang ingin kau bicarakan," ucap Maya.
"Tentang pernikahan kita, rasanya aku sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi," ucap Rafa.
"Lalu bagaimana dengan mamamu?" tanya Maya.
"Itu masalahnya, kita harus mencari alasan yang bisa diterima oleh Mama tanpa membuat mama bersedih," jawab Rafa.
"Untuk saat ini aku tidak bisa memikirkan apapun karena aku belum mendapatkan apa yang papa janjikan padaku," ucap Maya.
"Bagaimana jika kita menemui orang tuamu?" tanya Rafa yang membuat Maya begitu terkejut.
"Menemui orang tuaku? untuk apa?"
"Aku akan coba untuk membicarakannya dengan papamu, aku akan meyakinkan papamu bahwa kau layak untuk mendapatkan firma hukum itu," jawab Rafa.
"Tidak.... tidak perlu, aku akan membicarakannya sendiri dengan papa," ucap Maya.
"Memangnya apa yang membuatmu tiba tiba terburu-buru seperti ini? apa kau sedang menyukai perempuan?" lanjut Maya bertanya.
Rafa tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya pelan, membuat Maya begitu terkejut.
"Siapa dia?" tanya Maya.
"Lebih baik kau tidak tau, aku akan memberi tahumu setelah kita resmi bercerai," jawab Rafa.
"Apa kalian sudah berpacaran?" tanya Maya yang dibalas gelengan kepala oleh Rafa.
"Lalu?"
"Aku menyukainya, kecerobohannya, keceriannya, semangatnya dan keras kepalanya, aku mencintai semua yang ada padanya, aku hanya menyatakan perasaanku tapi dia memintaku untuk menunggu," jelas Rafa dengan tersenyum malu.
"Sepertinya kau sangat mencintainya," ucap Maya pelan.
"Kau benar, sejak mengenalnya aku seperti mengenal warna baru dalam hidupku, jika dulu aku hanya pasrah pada pernikahan yang tidak aku inginkan ini, tapi sejak bertemu dengannya aku jadi berpikir jika aku harus lepas dari kebohongan ini, aku mulai memiliki tujuan yang ingin aku perjuangkan," ucap Rafa.
"Ini pertama kalinya aku melihat tatapan mata itu, bagaimana bisa cinta itu terpancar dari matamu sedangkan dia tidak ada di hadapanmu Rafa? apakah memang sebesar itu cintamu untuknya?" batin Maya bertanya dalam hati bersama rasa sesak yang menghimpit dadanya.
__ADS_1
"Dia perempuan yang lugu, terlalu polos dan kadang bodoh, tapi aku mencintainya, dia sama sekali tidak tau tentang pernikahan kita, jadi aku harap kau tidak menyalahkannya atas apa yang aku rasakan saat ini," ucap Rafa.
"Untuk apa aku menyalahkannya, aku sama sekali tidak peduli dengannya," balas Maya.
"Kau bisa memakiku semaumu, kau bisa bilang jika aku brengsek karena aku menyukai perempuan lain saat aku masih menjadi suamimu, tapi percayalah dia cinta pertama dalam hidupku setelah mama," ucap Rafa.
"Waaahh... kau membuatku penasaran sehebat apa perempuan pertama yang dicintai oleh laki laki sepertimu!"
"Tidak sehebat dirimu, tapi dia memiliki semua yang membuatku jatuh cinta padanya," balas Rafa.
"Jadi karena dia kau ingin segera menceraikanku?" tanya Maya.
"Bisa dibilang begitu, tapi dia sama sekali tidak tau tentang hal ini, ini keputusanku sendiri agar aku bisa dengan leluasa mendekatinya tanpa menyembunyikan apapun darinya," jawab Rafa.
Maya hanya tersenyum tipis sambil menyeruput jus miliknya sampai habis tak bersisa.
"Aku ingin kita berpisah dengan damai Maya, aku tidak ingin ada dendam ataupun permusuhan di antara kita," ucap Rafa.
Maya hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Tenggorokannya seperti tercekat mendengar semua cerita Rafa tentang perempuan yang dicintainya.
"Bagaimana denganmu?" tanya Rafa.
"Aku?"
"Iya, kau dengan kekasihmu, sepertinya kalian sudah berhubungan sangat jauh, aku pernah melihat kalian cek in di hotel, kau juga sering pergi ke bar bersamanya bukan?"
"Aku..... aku terlalu terbawa suasana, aku.... aku tidak sadar sudah melewati batas yang aku buat sendiri," ucap Maya.
"Kalian.... sudah berhubungan?" tanya Rafa memastikan.
Maya hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Ia terlalu malu pada Rafa. Hanya karena pemikiran sempitnya, untuk sesaat dia terjatuh terlalu dalam pada jurang yang dia gali sendiri.
"Berhentilah Maya, dia sungguh bukan laki laki yang baik, kau pasti bisa mendapatkan laki laki yang jauh lebih baik dan bertanggung jawab padamu," ucap Rafa.
"Bagaimana dengan perempuanmu itu? apa kau yakin dia perempuan yang baik untuk masa depanmu?" tanya Maya.
"Tentu saja, hanya saja dia masih diliputi trauma masa lalu yang membuatnya ragu untuk membuka hatinya, tapi aku tidak akan menyerah karena aku yakin dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku," jawab Rafa.
"Baguslah kalau begitu, semoga kau berhasil dengan perempuanmu, aku akan segera memberi tahumu setelah aku mendapatkan apa yang papa janjikan padaku," ucap Maya lalu beranjak dari duduknya.
**
Hari hari telah berlalu, Tiara semakin dekat dengan mama Rafa yang sering membuatkannya bekal makan siang untuknya.
Tiarapun tidak banyak berbicara tentang Rafa karena bagaimanapun juga dia adalah pegawai biasa, sedangkan Rafa adalah CEO di kantornya.
Ia tidak ingin terlihat sangat dekat dengan Rafa karena takut akan membuat Mama Rafa salah paham nantinya.
Alhasil, meskipun dekat dengan keluarga Rafa, Tiara masih tidak mengetahui tentang pernikahan Rafa dengan Maya.
Entah apa yang akan terjadi nanti jika Tiara tau bahwa laki laki yang membuat dadanya berdebar itu ternyata sudah memiliki istri.
Pagi itu Tiara sedang duduk di teras rumahnya bersama koper miliknya. Berkali kali Tiara melihat jam di tangan kirinya dengan raut wajah cemas.
"Kenapa kak Rafa lama sekali, kita bisa terlambat nanti!" gerutu Tiara kesal.
Setelah beberapa lama menunggu, mobil Rafapun mulai terlihat. Dengan penuh semangat Tiara segera menghampiri mobil Rafa yang baru saja tiba.
Rafapun segera membantu Tiara memasukkan kopernya ke dalam mobil. Tanpa menunggu lama, Rafa segera mengendarai mobilnya ke arah bandara.
1 jam setelah mereka sampai di bandara, pesawat yang mereka tumpangipun mulai take off.
"Apa kau gugup?" tanya Rafa pada Tiara yang tampak gugup, karena itu adalah kali pertamanya ia menaiki pesawat.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Rafa kemudian mengambil headset miliknya lalu menempelkannya di telinga Tiara.
"Pejamkan saja matamu," ucap Rafa.
7 jampun berlalu, Tiara yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur begitu takjub melihat keindahan pemandangan yang ada di luar pesawat.
Saat pesawat perlahan turun, Tiara semakin berbinar melihat gemerlap kota Tokyo yang dia lihat dari tempatnya duduk.
Hingga akhirnya pesawatpun mendarat dengan sempurna di bandara internasional Tokyo.
Karena sama sekali tidak makan saat berada di dalam pesawat, Tiarapun mulai lapar saat ia baru saja turun dari pesawat.
Rafapun mengajak Tiara untuk mencari makan malam di sekitar bandara. Setelah puas mengisi perut, Rafa segera menemui seseorang yang sudah menyiapkan mobil untuknya.
"Waahh... kak Rafa benar benar penuh persiapan," ucap Tiara saat ia sudah berada di dalam mobil bersama Rafa.
__ADS_1
"Tentu saja, ini adalah pengalaman pertamamu, jadi aku ingin mempersiapkannya dengan baik," balas Rafa.
Sepanjang perjalanan, Tiara memperhatikan jalan jalan di sekitarnya. Jika boleh meminta, ia lebih ingin menyusuri malam dengan berjalan kaki daripada menaiki mobil, namun ia tidak mengatakannya pada Rafa karena ia tau Rafa pasti cukup lelah setelah perjalanan jauh.
Setelah beberapa lama berkendara, merekapun sampai di hotel tempat mereka menginap. Setelah melakukan cek in, Tiara dan Rafapun mendapatkan kartu akses ke kamar mereka masing masing.
"Kau tidak takut tidur sendirian bukan?" tanya Rafa sebelum ia masuk ke kamarnya.
"Tentu saja tidak," balas Tiara lalu masuk ke dalam kamarnya yang berada di samping kamar Rafa.
Rafa hanya tersenyum lalu masuk ke kamarnya, merebahkan badannya di ranjang sebelum ia membersihkan diri.
**
Pagi telah tiba, mentari pagi menyapa dengan hawa dingin khas musim gugur. Tiara dan Rafa berjalan keluar dari hotel untuk menikmati pemandangan pagi di Tokyo.
Daun daun yang berwarna merah dan kuning terlihat begitu cantik bersinar di bawah sinar matahari yang tidak terlalu terik.
"Kemana kita akan pergi kak?" tanya Tiara pada Rafa.
"Aku akan menunjukkan padamu dimana konser itu diadakan," jawab Rafa.
Tiba tiba Tiara berlari kecil ke arah deretan pohon dengan daun daun yang mulai berguguran. Tiara menari nari kecil menikmati sentuhan daun yang berjatuhan dari pohonnya.
Rafa yang melihat hal itu segera mengambil ponselnya untuk mengabadikan apa yang Tiara lakukan. Senyum cantik penuh keceriaan kini sudah tersimpan di ponsel Rafa.
"Waaahhh ini menyenangkan sekali, pasti akan lebih menyenangkan saat musim dingin akhir tahun nanti," ucap Tiara senang.
"Apa kau mau kita kesini lagi saat musim dingin?" tanya Rafa.
"Tentu saja Tiara mau, tapi bukan dengan kakak hehehe....." jawab Tiara lalu berlari meninggalkan Rafa.
Karena sedang musim gugur, cahaya matahari tidak terasa begitu terik. Langit biru yang berhias matahari membawa udara sejuk yang cukup dingin bersama angin yang berhembus pelan, menjatuhkan daun daun kering dari pohonnya.
Tiara menghabiskan hari pertamanya di Tokyo hanya untuk berjalan berjalan di sekitar hotel, dia tidak ingin pergi ke tempat yang jauh karena dia harus mempersiapkan dirinya untuk menonton konser dalam dua hari ke depan.
Hingga akhirnya hari yang ditunggupun tiba. Untuk pertama kalinya Tiara berkumpul bersama ribuan EXOL untuk ikut meramaikan konser EXO di Tokyo.
Tiara berdiri cukup dekat dengan panggung, meskipun berdesakan, ia begitu bersemangat saat meneriakkan fanchant pada setiap lagu yang tengah dinyanyikan boy group favoritnya itu.
Lebih dari 2 jam telah berlalu, namun sama sekali tidak terlibat raut wajah lelah dari Tiara. hingga akhirnya konserpun selesai.
Tiara dan Rafa baru sampai di hotel saat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Meskipun sudah lebih dari 2 jam berdiri, raut bahagia dan ceria masih jelas terlihat pada wajah Tiara.
"Apa kau senang?" tanya Rafa sambil memperhatikan Tiara dari samping.
"Bukan sekedar senang kak, tapi benar benar senang, Tiara sangat bahagia saat ini," jawab Tiara dengan senyum mengembang di bibirnya.
Rafapun ikut tersenyum senang melihat kebahagiaan Tiara.
"Aaahhh rasanya Tiara akan mimpi indah malam ini," ucap Tiara.
"Jangan tidur terlalu malam, kau harus mempersiapkan dirimu untuk hari kedua besok," ucap Rafa.
"Kak Rafa tenang saja, Tiara akan selalu penuh semangat bahkan jika ada konser ketiga, keempat dan seterusnya!" ucap Tiara.
Rafa hanya tersenyum sambil mengacak acak rambut Tiara.
"Masuklah!" ucap Rafa saat mereka sudah sampai di depan kamar mereka.
Tiara menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamarnya, begitu juga dengan Rafa yang segera masuk ke kamarnya.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Sebuah panggilan masuk dari Maya.
"Halo, ada apa?"
"Bibi bilang kau pergi ke luar negeri, apa benar?" tanya Maya.
"Iya benar, aku sudah berniat memberi tahumu tetapi aku tidak bisa menghubungimu sama sekali beberapa hari ini!" jawab Rafa.
"Aahh iya, aku selalu menonaktifkan ponselku saat di luar kota, kapan kau akan pulang?"
"Mungkin 3 hari lagi," jawab Rafa.
"Apa kau bersama perempuanmu?" tanya Maya.
"Iya, aku bersamanya, aku sangat lelah hari ini jadi aku ingin beristirahat dulu!"
__ADS_1
"Aahh baiklah, bye!"
Panggilan berakhir. Sejak Rafa dan Maya saling bercerita, mereka menjadi cukup dekat. Mereka lebih sering mengobrol daripada bertengkar dan itu membuat Maya cukup senang walaupun ia tau hal itu tidak berarti apapun bagi Rafa.