Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Memaafkan


__ADS_3

Hari-hari berlalu, Tiara menjalani hari-harinya sebagai pegawai perusahaan X. Ia berusaha untuk selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, tidak peduli bagaimana suasana hatinya saat itu.


Tapi bagaimanapun juga bekerja di tempat yang sama dengan Rafa apalagi sering bertemu dengan Rafa membuatnya harus lebih bisa mengendalikan hatinya.


Meskipun begitu tidak banyak hal yang terjadi, ia dan Rafa hanya saling bertemu di kantor terkait dengan pekerjaan, tidak pernah ada interaksi khusus antara mereka berdua.


Sama seperti hari itu, setelah Tiara menyelesaikan pekerjaannya, iapun segera membawa sebuah berkas yang baru saja dikerjakannya ke ruangan Rafa.


Tiara mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya ia membukanya.


"Permisi Pak, ini data-data yang Pak Rafa minta," ucap Tiara sambil memberikan sebuah map pada Rafa.


"Baik, terima kasih," ucap Rafa lalu memeriksa berkas yang baru saja Tiara berikan, sedangkan Tiara segera berpamitan keluar dari ruangan Rafa.


Ya, beberapa hari terlewati dengan hanya seperti itu, tidak ada apapun yang mereka bicarakan satu sama lain selain tentang pekerjaan.


Tanpa Tiara tahu Rafa sedang berusaha keras untuk bisa mengendalikan dirinya. Sejak pertama kali bertemu dengan Tiara, ia ingin segera mendekati Tiara, meminta maaf padanya dan menjelaskan semua yang sudah terjadi pada Tiara.


Namun Rafa memilih untuk tidak melakukan semua itu, Rafa tidak ingin apa yang ia lakukan membuat Tiara tidak nyaman yang berakhir dengan mengundurkan dirinya Tiara dari perusahaan seperti yang pernah terjadi.


Rafa berusaha untuk tetap profesional, meski hatinya tengah bergejolak ingin mendekati gadis yang dirindukannya itu.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Rafa berdering, sebuah panggilan dari Putra.


"Halo, ada apa?" tanya Rafa setelah ia menerima panggilan Putra.


"Bagaimana kabar Tiara?" balas Putra bertanya.


"Kenapa kau bertanya padaku? apa kau tidak bisa menghubunginya sendiri?" balas Rafa kesal.


"Hahaha tentu saja bisa, aku hanya ingin mendengarnya darimu," ucap Putra.


"Di depanku dia sangat pendiam sekali, beberapa hari ini aku selalu berusaha untuk mengendalikan diriku agar bersikap profesional di depannya," ucap Rafa.


"Lalu bagaimana sikapnya padamu?" tanya Putra.


"Seperti yang aku katakan, dia sangat pendiam dia hanya berbicara denganku mengenai pekerjaannya, hanya itu saja," jawab Rafa.


"Dan kaupun bersikap seperti itu juga padanya?" tanya Putra menerka.


"Tentu saja, aku tidak mungkin mendekatinya sekarang, aku tidak ingin apa yang aku lakukan nanti bisa membuatnya tidak nyaman dan dia memilih untuk mengundurkan diri seperti yang sebelumnya pernah terjadi," balas Rafa.


"Kenapa kau bodoh sekali Rafa? ini adalah kesempatan yang kau miliki untuk bisa mendekatinya lagi, jika kau menundanya terlalu lama bisa jadi dia akan benar-benar melupakanmu nantinya!"


"Memang itu yang aku inginkan, aku ingin membiarkannya melupakanku agar aku bisa memulai kembali perkenalanku dengannya dari awal!"


"Melupakanmu bukan berarti bisa melupakan kekecewaannya padamu Rafa, kau jangan bodoh!" ucap Putra kesal.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? apa aku harus mendekatinya secara terang-terangan? tidak mungkin bukan?"


"Pikirkan saja sendiri," balas Putra lalu mengakhiri panggilan Rafa begitu saja.


"Putra benar-benar menyebalkan sekali," ucap Rafa kesal.


Rafa terdiam untuk beberapa saat, memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan.


"Apa keputusanku salah untuk membiarkan hubunganku dengannya berjarak seperti ini? aku benar-benar tidak ingin dia semakin jauh dariku," batin Rafa bertanya dalam hati.


Di tempat lain, Tiara yang sedang mengerjakan pekerjaannya tiba-tiba merasa kesal atas sesuatu yang mengganggu pikirannya.


"Kak Rafa dingin sekali, apa dia memang sudah melupakanku? apa semudah itu baginya untuk melupakan semua yang sudah terjadi!" batin Tiara bertanya dalam hati sambil meremas kertas di hadapannya.


"Aaarrghhh lupakan saja, aku tidak peduli, lebih baik memang seperti ini toh aku juga sedang berusaha melupakannya," ucap Tiara dengan menghela nafasnya kasar.


Tiara kembali mengerjakan pekerjaannya, namun baru beberapa menit tangannya sibuk mengetik tiba-tiba seluruh jarinya berhenti karena kepalanya masih terisi oleh kekesalannya karena sikap Rafa.


"Tapi bukankah dia harus berbicara denganku, apa tidak ada yang ingin dia jelaskan padaku? dia bahkan tidak berniat untuk sekedar meminta maaf atau..... aarrghhh tidak aku tidak boleh berharap apapun padanya," ucap Tiara dalam hati sambil memukul-mukul kepalanya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aku sepertinya sudah gila!" ucap Tiara dengan menghela nafasnya kasar.


Tiara kemudian membawa langkahnya ke pantry, membuat minuman yang akan membantunya untuk menenangkan pikirannya.


Setelah menghabiskan minumannya, Tiarapun kembali ke ruangannya.


Namun saat ia tengah berjalan ke ruangannya ia melihat seorang perempuan yang berjalan dengan mendorong troli yang berisi tumpukan berkas-berkas yang berasal dari ruang penyimpanan.


Seketika memori Tiara mengulas kembali kenangannya bersama Rafa saat Tiara pertama kali melihat Rafa di perusahaan itu.


Ia ingat saat Rafa berdiri sangat dekat dengannya dan menggenggam tangannya. Bahkan degup jantungnya saat itu seperti kembali dirasakan olehnya.


Detak jantung yang berdebar kencang datang bersama kegugupan namun terasa indah ia rasakan.


Anehnya semua perasaan yang sudah berlalu itu seperti kembali muncul dalam hati Tiara. Seketika Tiara memegang dadanya, menyadari jika dadanya tengah berdebar saat itu.


Namun itu tidak bertahan lama karena Tiara segera tersadar dari lamunannya dan berjalan cepat kembali ke ruangannya lalu segera menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya.


"Ada apa denganku hari ini, aku bahkan belum satu minggu bekerja disini dan semua itu rasanya sangat mengganggu, ayolah Tiara fokus, ini adalah keputusan yang sudah kau buat!" ucap Tiara pada dirinya sendiri.


Setelah beberapa lama berkutat dengan pekerjaannya, Tiara kemudian menyimpan semua file yang sudah ia kerjakan dan merapikan meja kerjanya saat jam kerjanya sudah selesai.


Tiara sengaja ingin pulang cepat karena ia ingin pergi ke makam kedua orang tuanya.


Tiarapun membawa langkahnya ke arah lift yang akan mengantarkannya ke lobi dan saat ia tengah berjalan di lobi tiba-tiba seseorang memanggil namanya.


"Tiara!"


Dengan ragu Tiara menoleh ke arah sumber suara yang sangat ia kenali.


Tiara hanya terdiam saat melihat Rafa berjalan ke arahnya, ia seolah membeku, debaran dalam dadanya kembali berdetak kencang bersama kenangan indah sekaligus kekecewaan yang pernah ia rasakan.


Entah kenapa tiba-tiba kedua matanya terasa panas, seperti ada genangan air yang bersiap untuk tumpah.


"Tenang Tiara, dia bukan Rafa yang dulu, dia adalah Rafa atasanmu!" ucap Tiara dalam hati sambil memegang dadanya sambil mencegah air mata yang sudah hampir menetes di sudut matanya.


"Iya Pak, ada apa?" ucap Tiara dengan berusaha untuk tersenyum meskipun terlihat canggung.


"Tentang proyek baru kita, apa kau sudah menganalisanya agar tidak terlihat sama dengan pesaing kita?" tanya Rafa pada Tiara.


"Tiara sedang mengerjakannya Pak, ada beberapa hal yang menjadi garis besar yang harus menjadi pertimbangan, Tiara akan menyerahkan laporannya pada Pak Rafa besok pagi," jawab Tiara.


"Baiklah kalau begitu, aahh iya ada yang ingin aku katakan padamu tapi ini di luar masalah pekerjaan," ucap Rafa.


"Ada apa Pak?" tanya Tiara yang masih berusaha untuk mengendalikan dadanya yang bergejolak saat itu.


"Tentang kak Gita, apa kau sudah mendengar kabar tentangnya?" jawab Rafa sekaligus bertanya.


"Belum," jawab Tiara dengan menggelengkan kepalanya.


"Sebaiknya kita bicarakan hal ini di luar," ucap Rafa sambil membawa langkahnya ke arah pintu utama yang diikuti oleh Tiara.


Mau tidak mau Tiara harus mengikuti langkah Rafa karena ia memang sama sekali tidak mengetahui bagaimana kabar kakak tirinya itu.


"Kak Gita sekarang bekerja di kafe milikku, jika kau ingin bertemu dengannya kau bisa menemuinya disana, mungkin lebih baik jika dia sendiri yang menceritakannya padamu," ucap Rafa pada Tiara.


"Di kafe mana yang Pak Rafa maksud?" tanya Tiara mengingat Rafa memiliki banyak cabang kafe bahkan di kota yang sama.


"Kafe yang dipegang oleh Chika, kau bisa datang kesana saat shift pagi karena setiap hari dia hanya akan bekerja saat shift pagi," jawab Rafa.


"Baik Pak, terima kasih sudah memberitahu Tiara," ucap Tiara dengan menghentikan langkahnya.


Rafa hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan lalu melanjutkan langkahnya ke arah tempat parkir, sedangkan Tiara masih berdiri di tempatnya menatap punggung Rafa yang berjalan semakin jauh darinya.


"Sepertinya kak Rafa memang benar-benar sudah melupakanku," ucap Tiara dalam hati lalu menghela nafasnya panjang.


Tiara kemudian membawa langkahnya ke halte bus untuk menunggu bus yang akan membawanya ke makam kedua orang tuanya.


Setelah beberapa lama berada di halte, bus yang Tiara tunggupun datang. Tiara segera menaiki bus itu hingga dia sampai di halte lain yang berada dekat dengan makam kedua orang tuanya.

__ADS_1


Saat Tiara baru saja membawa langkahnya memasuki gapura makam, ia begitu terkejut saat melihat seorang perempuan duduk di sebelah makam sang papa dengan anak kecil yang duduk bersimpuh di tanah di dekat perempuan itu.


Dengan langkah pelan Tiara menghampiri perempuan itu dan begitu terkejut saat ia melihat Gita disana.


"Kak Gita!"


Mendengar namanya dipanggil, Gitapun segera membawa pandangannya ke arah sumber suara dan segera menghapus air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.


Gitapun segera menggendong anak kecil di sampingnya lalu berniat berjalan pergi begitu saja, namun dengan cepat Tiara menahannya.


"Jangan pergi kak!" ucap Tiara namun Gita tetap memaksa untuk pergi.


Tiarapun tidak bisa lebih lama menahan Gita mengingat Gita sedang menggendong anak kecil saat itu, Tiara tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk jika Tiara tetap berusaha menahan Gita.


Tiarapun hanya bisa membiarkan Gita pergi begitu saja, ia kemudian menjatuhkan dirinya di antara gundukan makam mama dan papanya.


Seperti yang sering ia lakukan, Tiara menceritakan banyak hal pada mama dan papanya. Meskipun tidak pernah ada balasan dari semua cerita yang sudah ia katakan, namun mencurahkan semua yang ia rasakan cukup membuatnya lega.


Setelah beberapa lama Tiarapun beranjak dan membawa langkahnya keluar dari area pemakaman.


Saat Tiara akan berjalan ke arah halte, seseorang memanggil namanya yang membuat Tiara segera menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Gita yang sedang menggendong anak kecil berdiri tak jauh darinya.


Tiarapun segera membawa langkahnya menghampiri Gita. Mereka duduk di salah satu kursi yang ada di seberang area pemakaman


"Bagaimana kabar kak Gita dan Mama Laras? sudah sangat lama sekali kita tidak bertemu," tanya Tiara


"Sangat banyak hal yang sudah terjadi Tiara, tapi aku selalu merasa baik-baik saja karena aku memilikinya," jawab Gita sambil memeluk anak dalam gendongannya.


"Apa dia anak kakak dan kak Bima?" tanya Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Gita.


Tiara tersenyum lalu meraih tangan anak kecil dalam gendongan Gita dan mengayun-ayunkannya dengan gemas.


"Dia mirip sekali dengan kakak," ucap Tiara.


Tak dapat dipungkiri pertemuannya dengan Gita bukanlah bagian dari rencananya saat ia kembali dari Amerika.


Baginya Gita adalah bagian dari masa lalu yang sudah memberikan trauma dan kecewaan yang cukup besar dalam hidupnya.


Meskipun begitu ia tidak bisa benar-benar membenci Gita, setelah semua yang terjadi ia tetap menganggap Gita sebagai kakak perempuannya.


"Maafkan kakak Tiara, entah apakah aku masih pantas untuk kau panggil kakak tetapi aku benar-benar meminta maaf dan menyesal atas semua hal buruk yang sudah kakak lakukan padamu," ucap Gita dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Kakak sungguh menyesalinya?" tanya Tiara dengan suara bergetar.


"Kakak menyesalinya Tiara, kakak sadar jika selama ini kakak tidak benar-benar membencimu, kakak hanya merasa cemburu dan iri karena merasa papa lebih menyayangimu," jawab Gita sambil menghapus air mata yang sempat jatuh di pipinya.


"Tiara juga minta maaf kak, Tiara sama sekali tidak pernah bermaksud untuk merebut perhatian papa dari kakak, maaf karena Tiara tidak pernah memikirkan apa yang kakak rasakan saat itu," ucap Tiara dengan kedua mata memerah dipenuhi oleh air mata yang siap untuk tumpah.


Tiara kemudian memeluk Gita, menumpahkan air matanya dalam pelukan Gita. Rasa sesak dan kecewanya seketika hilang begitu saja. Pelukan Gita padanya seolah memberikan kehangatan yang selama ini hilang darinya.


"Tiara merindukan kakak, Tiara benar-benar merindukan pelukan kakak yang selalu menenangkan Tiara," ucap Tiara dengan terisak


"Kakak juga merindukanmu Tiara, setelah semua yang terjadi kakak benar-benar tidak bisa menjalani kehidupan kakak dengan tenang, kakak selalu dipenuhi rasa bersalah atas hal buruk yang sudah menimpamu!"


"Jangan memikirkannya lagi kak, Tiara baik-baik saja sekarang," ucap Tiara yang semakin erat memeluk Gita, namun tiba-tiba terdengar suara rengekan yang membuat Tiara segera melepaskan pelukannya dari Gita.


"Maaf sayang, kakak tidak sengaja," ucap Tiara sambil mengusap pipi chubby Bintang, anak Gita dan Bima.


"Kau adalah tantenya Tiara, bukan kakaknya," ucap Gita.


"Tidak, Tiara tidak ingin dipanggil tante, Tiara ingin dipanggil kakak saja," balas Tiara sambil mengayun-ayunkan tangan Bintang.


Mereka berduapun terkekeh lalu kembali berpelukan singkat sebelum Bintang kembali merengek.


"Aku harap kau bisa memaafkanku dan memaafkan Mama Tiara, mungkin Mama juga akan mengatakan hal yang sama jika mama bertemu denganmu," ucap Gita.


"Tiara sudah melupakan semuanya kak, Tiara sudah memaafkan apa yang pernah terjadi di masa lalu," balas Tiara.


"Terima kasih Tiara," ucap Gita sambil menggenggam tangan Tiara.

__ADS_1


__ADS_2