
Waktupun berlalu, acara seminar telah selesai. Tiarapun merapikan buku catatannya yang digunakan untuk mencatat beberapa hal yang disampaikan oleh pengisi seminar hari itu.
Tiara berjalan keluar dari ruangan seminar, Putra yang sudah menunggu Tiara keluarpun segera berjalan di samping Tiara saat ia melihat Tiara keluar dari ruangan seminar.
"Sampai bertemu minggu depan," ucap Putra lalu berjalan mendahului Tiara.
Tiara hanya tersenyum tipis melihat sikap Putra lalu masuk ke dalam lift dan meninggalkan perusahaan itu.
Tiara berjalan ke arah halte untuk menunggu bus yang akan membawanya ke kafe. Tak berapa lama kemudian bus yang ditunggunyapun datang, Tiara segera membawa langkahnya naik dan duduk di bangku yang ada di dalam bus.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Tiarapun sampai di halte yang ada di dekat kafe. Tiara turun dari bus dan membawa langkahnya ke arah kafe.
Tiara segera masuk ke kafe untuk menemui Chika. Ia sudah tidak sabar untuk menanyakan pada Chika tentang apa yang Putra katakan padanya beberapa saat yang lalu.
"Apa kau sedang sibuk? ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Tiara sekaligus bertanya saat ia sudah menghampiri Chika yang saat itu tengah meracik minuman pesanan pelanggan.
"Tidak, tanyakan saja," jawab Chika.
"Saat aku pingsan disini kemarin siapa yang membawaku masuk ke ruangan karyawan?" tanya Tiara yang membuat Chika seketika menghentikan gerakan tangannya dan membawa pandangannya pada Tiara yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" balas Chika bertanya.
"Jawab saja Chika, apa bukan kak Rafa yang membawaku masuk ke ruangan karyawan? tidak mungkin kau bukan?"
"Tentu saja tidak," balas Chika lalu memberikan minuman yang baru saja dibuatnya pada temannya untuk diberikan pada pelanggannya.
"Lalu siapa?" tanya Tiara penasaran.
"Waktu itu kebetulan ada seseorang dari perusahaan X yang datang untuk mencari Pak Rafa, tepat saat dia akan keluar kau pingsan di sampingnya dan dia membawamu masuk ke ruangan karyawan, dia bilang dia mengenalmu jadi aku membiarkan dia menemanimu di ruangan karyawan karena saat itu sedang banyak pelanggan jadi aku tidak bisa menemanimu," jawab Chika menjelaskan.
"Aku tidak sempat menanyakan namanya tapi dia laki-laki yang tampan dan tinggi, mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan Pak Rafa," lanjut Chika.
"Aaahh aku pikir kak Rafa yang membawaku masuk ke ruangan karyawan saat itu," ucap Tiara.
"Pak Rafa sedang tidak ada di kafe saat kau pingsan, jadi Pak Rafa datang setelah aku menghubungi pak Rafa, apa kau mengenal laki-laki itu? apa benar dia mengenalmu?" tanya Chika.
"Aku hanya pernah bertemu dengannya saat seminar kemarin, tapi apa yang dia lakukan disini? kenapa dia mencari Pak Rafa?" jawab Tiara sekaligus bertanya.
"Aku juga tidak tahu, tetapi sepertinya dia membawa berkas yang akan dia berikan pada Pak Rafa karena saat Pak Rafa datang dan dia keluar dari ruangan karyawan dia sudah tidak membawa berkas itu lagi," jawab Chika.
"Tapi sepertinya dia tidak memberikannya pada Pak Rafa atau mungkin pak Rafa yang tidak ingin menerimanya," sahut salah satu teman Tiara yang lain.
"Apa maksudmu? kenapa kau bisa berbicara seperti itu?" tanya Tiara.
"Aku melihat berkas yang ada di tempat sampah di ruangan karyawan, aku pikir Pak Rafa tidak sengaja menjatuhkannya tapi saat aku menanyakannya pada Pak Rafa, Pak Rafa memintaku untuk membuangnya," jawab teman Tiara menjelaskan.
"Kenapa?" tanya Tiara tak mengerti.
"Entahlah, jadi aku membuangnya begitu saja," jawab teman Tiara.
"Apa kau tidak membaca isi berkas itu?" tanya Tiara yang masih penasaran.
"Tentu saja tidak, mungkin isi berkas itu bersifat rahasia antara laki-laki itu dengan Pak Rafa, jadi aku tidak berani membacanya dan membuangnya begitu saja, bukankah tidak sopan jika aku membaca berkas itu tanpa izin dari Pak Rafa?"
"Aaahhh iya kau benar," ucap Tiara dengan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.
Tiara membawa langkahnya untuk duduk di salah satu bangku yang ada di lantai 2 setelah sebelumnya ia meminta Chika untuk membuatkannya minuman dingin.
Tiara terdiam di tempatnya, matanya memperhatikan lalu lintas jalan raya yang ada di bawah. Namun otaknya memikirkan tentang alasan Putra menemui Rafa dan alasan Rafa sengaja membuang berkas yang Putra berikan pada Rafa.
__ADS_1
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Chika sambil menaruh minuman pesanan Tiara di meja.
"Menurutmu kemana tujuan mereka semua? kenapa mereka memenuhi jalan raya setiap hari?" balas Tiara bertanya dengan kedua mata menatap jalan raya yang padat dengan kendaraan bermotor.
"Apa kau sebegitu senggang hari ini sampai memikirkan hal itu?" balas Chika yang tidak mengerti isi pikiran Tiara.
"Hahaha kau benar, aku belum membaca buku sama sekali hari ini dan itu membuat pikiranku kosong," ucap Tiara.
"Kau benar-benar aneh, tentang laki-laki yang mencari Pak Rafa sepertinya kau dekat dengannya," ucap Chika.
"Tidak, kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Tiara.
"Dia seperti sangat khawatir saat melihatmu pingsan, dia bahkan berniat untuk membawamu ke rumah sakit saat itu juga," jawab Chika.
"Aku hanya beberapa kali mengobrol dengannya, itu pun saat pertama kali aku mengikuti seminar, sepertinya dia memang laki-laki yang baik dan menyenangkan," ucap Tiara.
"Kau tidak akan jatuh cinta padanya bukan?" tanya Chika yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.
"Pertanyaanmu aneh sekali, apa aku harus jatuh cinta setiap bertemu dengan laki-laki yang baik padaku?" protes Tiara.
"Hahaha aku hanya khawatir jika kau tiba-tiba jatuh cinta padanya, jika itu benar benar terjadi lalu bagaimana dengan Pak Rafa!"
"Kenapa tiba-tiba membahas Pak Rafa?" tanya Tiara sambil menyeruput minuman miliknya.
"Aku hanya memikirkannya saja, bagaimana sikap Pak Rafa nanti jika Pak Rafa tahu kau sudah memiliki kekasih," balas Chika.
"Sudahlah jangan membahasnya lagi, bukankah kau tahu bahwa aku sekarang sedang tidak memikirkan hal itu," ucap Tiara.
"Itu karena kau belum membuka hatimu untuk laki-laki lain," balas Chika.
"Bagaimana aku bisa membuka hatiku, sedangkan aku sendiri belum benar-benar menyelesaikan masa laluku dengan baik," ucap Tiara sambil mengaduk-aduk minuman miliknya.
"Menurutku Pak Rafa adalah tipe ideal seorang kekasih, apa kau tidak berpikir seperti itu?" tanya Chika yang membuat Tiara tersenyum tipis.
"Tentu saja, tanyakan saja pada semua teman-teman yang bekerja di sini, tidak ada satupun dari mereka yang tidak menyukai Pak Rafa, Pak Rafa adalah paket lengkap kekasih impian seorang perempuan," jawab Chika yang membuat Tiara menahan tawanya.
"Kenapa kau tertawa? apa kau tidak setuju denganku?" tanya Chika yang merasa ditertawakan oleh Tiara.
"Apa kau sedang berimajinasi menjadi pemeran utama dalam sebuah novel atau film? hal seperti itu tidak akan mungkin terjadi di dunia nyata Chika, jadi berhentilah menghayal!" ucap Tiara yang kembali menyeruput minuman miliknya.
"Terserah kau saja, asal kau tahu minuman yang aku buat mengandung kafein agar kau pingsan di sini dan tidak ada yang membantumu karena Pak Rafa sedang tidak ada di sini," ucap Cika lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Tiara begitu saja.
Sedangkan Tiara masih duduk di tempatnya dengan tertawa, ia tahu jika Chika hanya bercanda tentang minumannya yang mengandung kafein, karena tidak mungkin Chika membuat minuman seperti itu untuknya.
"Pangeran tampan kaya raya menikahi gadis cantik yang anggun dan sederhana itu hanya ada di dongeng saja, zaman sekarang orang-orang memilih pasangan hidup yang setara dengannya, apa lagi aku yang tidak ada anggunnya sama sekali hehe..." ucap Tiara sambil menikmati pemandangan kemacetan yang ada di depan kafe.
**
Hari hari telah berlalu. Setiap hari Minggu Tiara selalu mengikuti seminar di perusahaan X dan setiap itu juga Tiara selalu bertemu dengan Putra dan membicarakan banyak hal meski dengan waktu yang cukup terbatas.
Tiara juga berterima kasih pada Putra karena sudah menolongnya saat ia pingsan di kafe. Obrolan mereka yang ringan membuat mereka berdua semakin cepat akrab meski keduanya baru mengenal dan saling berkomunikasi hanya saat Tiara datang untuk mengikuti seminar.
Sikap Putra pada Tiara yang terkesan santai dan suka bercanda membuat Tiara bisa menjadi dirinya sendiri di depan Putra. Meskipun terkadang guyonan yang dilontarkan Putra terdengar hambar di telinganya, namun Tiara hanya meresponnya dengan senyum tipisnya.
Hingga saat yang ditunggupun tiba, saat dimana Tiara menyerahkan surat lamaran pekerjaan dan CV yang sudah ia siapkan dengan baik.
Hari itu Tiara datang ke perusahaan itu untuk mengikuti seminar terakhirnya serta menyerahkan surat lamaran dan CV. Pihak perusahaan akan menghubungi beberapa orang yang terpilih untuk mengikuti tes pertama yang akan dilanjutkan dengan tes selanjutnya.
"Apa kau sudah membuat CV sesuai dengan yang aku ajarkan?" tanya Putra pada Tiara saat mereka baru saja keluar dari ruangan seminar.
__ADS_1
"Sudah, semoga saja CV Tiara cukup menarik agar bisa mengikuti tes pertama nanti," balas Tiara.
"Akan ada beberapa tes yang benar-benar mengujimu, tidak hanya tentang pengetahuan dan kecerdasan tapi juga tentang kesiapan mentalmu menghadapi dunia kerja yang sebenarnya," ucap Putra.
"Tiara mengerti, Tiara sudah mempersiapkan semuanya dengan baik, jadi Tiara yakin Tiara akan bisa melewati semuanya," balas Tiara penuh percaya diri.
"Baguslah kalau begitu, walaupun kau mengenalku tapi jangan harap aku bisa membantumu untuk bisa masuk ke perusahaan ini hahaha....." ucap Putra yang membuat Tiara menggelengkan kepalanya pelan.
"Tiara sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu, Tiara akan menjadi bagian dari perusahaan ini dengan kerja keras Tiara sendiri," ucap Tiara.
"Aku harap kepercayaan dirimu itu tidak akan menjatuhkanmu saat kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan," ucap Putra.
"Itu tidak akan terjadi, Tiara sudah mempersiapkan semuanya seperti yang kak Putra bilang, tidak hanya tentang pengetahuan dan kecerdasan tapi juga kesiapan mental dan kemungkinan terburuk itu adalah ujian mental pertama yang harus Tiara terima," balas Tiara.
Putra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pelan mendengar ucapan Tiara, dalam hatinya ia yakin jika Tiara akan berhasil menjadi bagian dari perusahaan tempat ia bekerja.
**
Satu minggupun berlalu, setiap hari Tiara selalu berharap akan ada seseorang yang menghubunginya untuk mengabarkan hasil dari surat lamaran dan CV yang sudah ia kumpulkan Minggu sebelumnya.
Pagi itu Tiara sedang berada di ruangan Rafa. Rafa sengaja memanggil Tiara untuk membantunya membereskan buku-buku yang ada di ruangannya.
Rafa berniat untuk mengganti suasana ruang kerjanya, dengan bantuan Tiara ia sudah memindahkan beberapa barang dan buku-buku yang ada di rak di sudut ruangannya.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Tiara burdering, sebuah pesan masuk yang segera membuat Tiara mengambil ponselnya di saku celemek yang ia pakai.
Melihat hal itu Rafa hanya tersenyum tipis karena Rafa tau sejak beberapa hari ini Tiara selalu memperhatikan ponselnya untuk menunggu hasil dari surat lamaran yang sudah ia kumpulkan.
Dengan degup jantung yang berdetak kencang Tiara membuka pesan dari nomor yang tak dikenalnya. Tiara membaca pesan itu beberapa kali untuk meyakinkan dirinya bahwa ia benar-benar diterima untuk melanjutkan tes pertama.
"Kaaakkkk......" panggil Tiara pada Rafa dengan pandangan yang masih menatap layar ponselnya.
"Hmmmm....." balas Rafa yang masih sibuk merapikan buku-buku miliknya.
Meskipun tidak biasanya Tiara memanggilnya "kakak" saat sedang bekerja tapi Rafa tidak mempermasalahkannya.
"Tiara lolos kak, Tiara akan mengikuti tes pertama Minggu depan!" ucap Tiara dengan bersorak kegirangan sambil melompat-lompat di hadapan Rafa.
Karena terlalu senang Tiarapun memeluk Rafa dan segera melepaskan pelukannya pada Rafa saat ia sadar apa yang sudah ia lakukan.
"Maaf kak... pak.... Tiara terlalu senang hehehe...." ucap Tiara malu.
"Apa kau sudah memastikan itu bukan pesan palsu?" tanya Rafa.
"Sudah Pak, saat seminar sudah dijelaskan jika seseorang yang diterima akan mendapatkan pesan yang disertai dengan link dari perusahaan yang harus diisi dan Tiara sudah membuka linknya untuk memastikan," jawab Tiara.
"Selamat Ra, aku yakin kau akan bisa melewati tes pertama dan tes yang lain," ucap Rafa tersenyum sambil menepuk-nepuk pelan kepala Tiara lalu kembali melanjutkan kegiatannya merapikan buku-buku miliknya.
Tiara menganggukkan kepalanya dengan senyum merekah di wajahnya, ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat itu, membuatnya tidak bisa mengontrol senyum yang selalu tergambar pada raut wajah cantiknya.
**
Hari yang ditunggupun tiba. Dengan pakaian hitam putih Tiara masuk ke salah satu ruangan dimana tes pertama akan dilaksanakan.
Dua jam berada di ruangan bersama dengan orang-orang yang memiliki mimpi yang sama sepertinya membuatnya sedikit merasa tertekan, namun Tiara berusaha untuk bisa mengendalikan pikirannya sendiri agar ia bisa mengerjakan tes pertamanya dengan baik.
"Tenang Tiara, fokus, ingat kata Pak Rafa dan kak Putra, pengetahuan, kerja keras dan kecerdasan tidak akan berguna jika tidak memiliki mental yang kuat, anggap ini adalah ujian mental pertama untukku, aku harus percaya pada kemampuanku," ucap Tiara dalam hati berusaha memberi semangat pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Detik jam seolah berdenting keras di telinganya, membuat waktu seakan berjalan begitu lambat.
Hingga akhirnya 2 jampun berlalu. Meskipun Tiara yakin jika ia sudah menyelesaikan tes itu dengan baik tetapi degup jantungnya tidak bisa berhenti berdetak kencang saat menunggu hasil dari tes pertamanya.