Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Kecelakaan


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan penuh kebahagiaan. Tiara kini sudah tinggal bersama mama tiri dan kakak tirinya. Jika dulu hanya Gita yang membuatnya bertahan di rumah itu, namun sekarang tidak ada alasan baginya untuk meninggalkan rumah penuh kebahagiaan itu.


Tiara juga beberapa kali mendatangi makam kedua orang tuanya bersama Gita dan Mama Laras, serta bintang yang selalu diajak kemanapun Gita pergi.


Tentang Rafa, Tiara belum benar benar yakin jika ia bisa menerima Rafa kembali dalam hidupnya. Mereka memang sering bertemu di kantor, bahkan Rafa dengan terang-terangan mendekati Tiara dan Tiarapun menyadari hal itu.


Namun Tiara tidak ingin gegabah, ia harus bisa menjaga hati dan dirinya sendiri agar tidak kembali terluka seperti dulu.


Tiara berusaha untuk tetap profesional dalam pekerjaannya, meskipun beberapa kali ia mengabaikan Rafa jika Rafa berusaha mendekatinya di luar kantor.


Meskipun terkadang kesal dengan sikap Rafa, namun tak dapat dipungkiri apa yang Rafa lakukan padanya terkadang membuatnya berdebar.


Debaran dalam dadanya itu pada akhirnya membuatnya nyaman dan merasakan setetes kebahagiaan dalam hatinya yang sudah lama tandus.


Tetapi Tiara seolah masih membatasi hatinya dengan dinding tinggi, membatasi agar Rafa tidak terlalu jauh kembali ke dalam hatinya.


Pagi itu, setelah selesai bersiap Tiara keluar dari kamarnya menuju ke arah meja makan dimana sudah ada Gita dan Bintang disana dan tak lama kemudian Mama Laraspun datang dengan membawa beberapa macam masakan yang dimasak sendiri oleh Mama Laras.


"Bukankah lebih baik kita mempekerjakan asisten rumah tangga saja ma? Mama Laras juga kan harus bekerja di luar?" tanya Tiara pada Mama tirinya.


"Tidak perlu Tiara, mama masih bisa membagi waktu dengan baik untuk mengurus rumah, menyiapkan makanan dan mengerjakan pekerjaan mama," balas Laras.


"Itu artinya waktu istirahat Mama semakin sedikit," ucap Tiara.


"Jangan mengkhawatirkan Mama, khawatirkan saja dirimu sendiri yang sampai sekarang masih berusaha menjauh dari Rafa," sahut Gita.


"Kenapa kakak tiba-tiba membahas kak Rafa, Tiara sedang membahas kesibukan Mama sekarang!" gerutu Tiara kesal.


"Hahaha.... kau selalu saja menolak jika membicarakan tentang Rafa, jika kau memang sudah melupakannya seharusnya kau tidak masalah dengan hal itu," ucap Gita.


"Tiara memang sudah melupakannya jadi lebih baik tidak membahasnya lagi," balas Tiara.


"Sudah sudah, cepat habiskan makanan kalian sebelum dingin," ucap Mama Laras menengahi kedua anaknya.


Gita hanya terkekeh sambil menyuapi Bintang.


Setelah beberapa lama Tiarapun menyelesaikan sarapannya lalu membawa piring kotornya ke dapur dan membantu sang Mama untuk membereskan meja makan sebelum ia berpamitan untuk berangkat bekerja.


"Ada yang ingin mama katakan padamu Tiara, terserah kau akan mendengarnya atau tidak, tapi sebagai orang tuamu Mama harus mengatakan hal ini padamu," ucap Mama Laras pada Tiara.


"Ada apa ma?" tanya Tiara yang melihat raut wajah sang Mama tampak serius.


"Mama tidak bermaksud untuk membela Gita, tapi apa yang Gita ucapkan sepertinya benar, kau jangan terlalu membatasi dirimu, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri Tiara, kau sudah membahagiakan Mama dan Gita, sekarang waktumu untuk membahagiakan dirimu sendiri," ucap Mama Laras.


"Apa maksud Mama? Tiara sudah sangat bahagia sekarang, bisa berkumpul disini sebagai keluarga yang hangat adalah hal yang paling membahagiakan bagi Tiara," balas Tiara.


"Tapi masih ada sesuatu yang mengganjal dalam dirimu bukan? itu karena kau tidak benar-benar melepaskan beban yang selama ini kau simpan," ucap Mama Laras.


"Mama tidak tahu apa yang sebenarnya membuatmu menjauhi Rafa, Mama juga tidak tahu bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Rafa, tetapi melihatnya yang tidak pernah menyerah untuk mendekatimu membuat Mama berpikir jika dia adalah laki-laki yang baik untukmu," lanjut Mama Laras.


"Terima kasih karena sudah memperhatikan Tiara di tengah kesibukan mama, tetapi untuk masalah itu biarkan Tiara sendiri yang menyelesaikannya ma, Tiara akan tetap berjalan pada jalan yang sudah Tiara putuskan!"


"Apapun keputusanmu Mama pasti akan mendukungmu selama itu membuatmu bahagia Tiara dan mama harap kau bisa meraih kebahagiaanmu," ucap Mama Laras yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.


Tiara kemudian berpamitan untuk berangkat bekerja. Tiara membawa langkahnya keluar dari rumah berjalan ke arah halte yang berada tidak jauh dari rumahnya.


Sepanjang perjalanan Tiara masih memikirkan ucapan Mama Laras padanya, bahkan saat ia sudah berada di dalam bus ia masih memikirkan hal itu.


"Apa aku benar-benar sudah bahagia sekarang?" batin Tiara bertanya dalam hati.


Saat Tiara sudah sampai di kantor, Tiarapun segera membawa langkahnya ke arah ruang kerjanya.


Sebelum Tiara duduk, ia melihat sebuah coklat di meja kerjanya dengan catatan kecil di bawahnya.

__ADS_1


"Pasokan endorfin yang akan membangkitkan suasana hatimu pagi ini!"


Tiara tersenyum tipis lalu menggeser coklat dan catatan itu. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu, saat ia membawa pandangannya ke arah pintu ia melihat Rafa yang masuk dan berjalan ke arahnya.


"Sepertinya hormon endorfinmu rendah, kau terlihat tidak bahagia pagi ini!" ucap Rafa pada Tiara.


"Maaf Pak, ada perlu apa Pak Rafa ke ruangan Tiara sepagi ini?" tanya Tiara tidak memperdulikan ucapan Rafa.


"Saya hanya ingin mengambil laporan yang sudah kau janjikan kemarin, bukankah kemarin kau mengatakan jika akan menyerahkannya padaku besok pagi," balas Rafa beralasan.


Tiara kemudian membawa pandangannya ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 07 kurang 10 menit yang artinya ia belum memasuki jam kerjanya yang sebenarnya dimulai setelah pukul 07.00 pagi.


"Tiara baru sampai, Tiara bahkan belum menyalakan komputer dan sekarang juga belum pukul 07.00," ucap Tiara.


"Lalu? apa saya tidak boleh menemuimu sebelum pukul 07.00?" tanya Rafa.


Tiara hanya menghela nafasnya lalu segera menyalakan komputernya untuk memeriksa kembali laporan yang Rafa inginkan.


"Sebaiknya Pak Rafa menunggu di ruangan Pak Rafa saja, Tiara akan segera mengantarnya kesana setelah ini," ucap Tiara.


"Tidak perlu, aku akan menunggunya disini," balas Rafa yang lagi lagi membuat Tiara menghela nafasnya melihat sikap Rafa yang menyebalkan.


Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu, setelah membukanya seseorang itu merasa enggan untuk masuk saat ia melihat Rafa di dalam ruangan.


"Tidak apa, masuklah!" ucap Tiara yang membuat seseorang itu membawa langkahnya masuk menghampiri Tiara untuk menyerahkan sebuah map pada Tiara.


"Ini untukmu!" ucap Tiara pada seseorang itu sambil memberikan sebuah coklat.


"Terima kasih, saya permisi," ucap seseorang itu lalu berjalan keluar dari ruangan Tiara.


Rafa yang melihat coklat pemberiannya Tiara berikan pada orang lain membuat Rafa sedikit kesal, namun ia berusaha untuk menyembunyikannya dengan hanya tersenyum tipis ke arah Tiara yang fokus pada komputer di hadapannya.


Tak lama kemudian Tiarapun memberikan sebuah flashdisk pada Rafa.


"Laporan yang Pak Rafa minta sudah ada disini, Tiara sudah memeriksanya dan Tiara yakin ini sudah sesuai dengan yang Pak Rafa inginkan," ucap Tiara.


"Oohh ya satu lagi, aku hanya ingin memperingatkanmu, jika seseorang memberimu sesuatu lebih baik kau menerimanya atau sekedar menyimpannya daripada memberikannya pada orang lain, itu tidak sopan!" ucap Rafa lalu keluar dari ruangan Tiara.


Tiara hanya tersenyum tipis lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Waktupun berlalu, jam sudah hampir menunjukkan pukul 12.00 namun Tiara masih berkutat dengan pekerjaannya. Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk oleh seseorang.


Seseorang kemudian masuk ke dalam ruangan Tiara dengan membawa satu kantong makanan dan minuman dan memberikannya pada Tiara.


"Sepertinya saya tidak memesan makanan," ucap Tiara saat OB itu memberikan makanan dan minuman itu padanya.


"Pak Rafa yang meminta saya untuk mengantarnya pada Bu Tiara," ucap OB itu.


"Oohh, untukmu saja, kebetulan saya sudah makan," ucap Tiara beralasan.


"Tapi saya harus memastikan Bu Tiara menerimanya, jika tidak saya akan mendapatkan sanksi karena tidak mengerjakan perintah Pak Rafa dengan baik," ucap OB yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.


"Baiklah saya akan menerimanya dan setelah saya menerimanya saya memberikannya padamu," balas Tiara yang kini membuat sang OB mengernyitkan keningnya tak mengerti.


"Tapi saya harus mengambil foto sebagai bukti jika Bu Tiara sudah menerima," ucap OB yang membuat Tiara menggeleng gelengan kepalanya tidak mengerti arah pikiran Rafa.


"Baiklah," balas Tiara.


Setelah OB mengambil foto dirinya yang menerima makanan dan minuman pemberian Rafa, Tiara kemudian memberikannya pada OB itu.


"Terima kasih banyak Bu, saya permisi!" ucap OB itu lalu keluar dari ruangan Tiara sambil membawa bungkusan yang tadi diberikan Rafa padanya.


Saat OB itu baru saja keluar ia begitu terkejut karena mendapati Rafa yang sudah berdiri di depan ruangan Tiara.

__ADS_1


"Maaf pak, saya...."


"Aku tau, pergilah!" ucap Rafa memotong ucapan OB itu lalu masuk ke dalam ruangan Tiara.


"Ada apa lagi?" tanya Tiara sebelum ia melihat ke arah seseorang yang baru saja masuk ke ruangannya.


"Kau menolaknya lagi rupanya," ucap Rafa yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Rafa dengan terkejut, karena ia pikir yang baru saja masuk ke ruangannya adalah OB.


"Maaf pak Rafa, Tiara pikir tadi OB yang masuk," ucap Tiara.


"Kenapa susah sekali untuk mendekatimu Tiara? apa kau berpikir aku laki-laki yang jahat?" tanya Rafa tanpa basa-basi.


"Maaf pak, jika tidak ada hal penting yang ingin dibicarakan lebih baik Pak Rafa keluar dari ruangan saya," ucap Tiara.


"Kau mengusirku?" tanya Rafa yang merasa diusir oleh Tiara yang merupakan bawahannya di kantor.


"Di kantor ini Pak Rafa memang atasan Tiara, pak Rafa bahkan anak dari pemilik perusahaan ini, tetapi jika Pak Rafa kesini untuk membicarakan masalah pribadi maka Pak Rafa bukan lagi atasan Tiara," jawab Tiara dengan berani.


"Hmmmm.... kau benar, kau memang cerdas sekali, baiklah kalau begitu aku pergi dulu, jangan lupa untuk makan siang, kesehatanmu lebih penting daripada pekerjaanmu!" ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Tiara.


"Dia memang sangat berbeda, beraninya dia mengusirku," batin Rafa dalam hati saat ia berjalan keluar dari ruangan Tiara.


**


Hari-hari terus berlalu dengan Rafa yang masih berusaha untuk mendekati Tiara, meskipun Tiara selalu bersikap dingin padanya.


Meskipun tidak mudah untuk sekedar mendekati Tiara namun Rafa tidak menyerah dengan mudah, ia masih memiliki segala cara yang bisa ia lakukan untuk berusaha mendekati Tiara walaupun pada akhirnya semua itu hanya sia-sia karena Tiara yang masih bersikap dingin padanya.


Hari itu adalah hari peluncuran produk baru dari perusahaan Rafa. Rafa mengadakan konser yang mengundang beberapa penyanyi ternama untuk memperkenalkan produk barunya.


Beberapa pegawai Rafa yang terlibat langsung dengan produk baru itu diharuskan untuk ikut memantau acara peluncuran produk baru mereka, termasuk Tiara yang saat itu berada di tempat konser.


"Makanlah, kau sama sekali belum makan dari tadi!" ucap Rafa sambil memberikan sebuah kotak yang berisi makanan pada Tiara.


"Terima kasih," ucap Tiara lalu menaruh kotak itu di kursi yang ada di sampingnya.


Rafa kemudian mengambil kotak itu dan meraih tangan Tiara lalu menaruh kotak itu di atas tangan Tiara.


"Aku bersungguh-sungguh Tiara, kau harus menjaga kesehatanmu, jangan sampai kesibukan membuatmu mengabaikan kesehatanmu!" ucap Rafa dengan penuh ketegasan di setiap kalimatnya.


"Tiara sedang tidak lapar pak, Tiara akan memakannya nanti," balas Tiara.


"Jika kau tidak ingin makan karena aku yang memberikan makanan ini padamu, setidaknya kau bisa keluar dari tempat ini untuk membeli makanan lain," ucap Rafa.


Tiara yang sudah sangat kesal dengan sikap Rafapun segera beranjak dari duduknya lalu berjalan pergi begitu saja.


"Kapan dia akan berhenti bersikap menyebalkan seperti itu," gerutu Tiara kesal dengan membawa langkahnya ke arah jalan raya, berniat untuk mencari tempat makan yang ada di sekitar tempat konser dilaksanakan.


Keadaan jalan raya yang cukup padat malam itu sedikit menyulitkan Tiara untuk menyebrang ke arah tempat makan yang berada di seberang lokasi konser.


Setelah Tiara memastikan jalanan aman untuk dilaluinya, iapun membawa langkahnya menuruni trotoar dan berjalan di zebra cross, namun tiba-tiba sebuah motor melaju tak terkendali.


Motor itu melaju dengan kecepatan tinggi dan hampir saja menabrak Tiara jika tidak ada seseorang yang dengan cepat mendorong Tiara menghindar saat itu.


Tiarapun begitu terkejut ketika ia mendapat dorongan yang cukup keras yang membuatnya terjatuh di aspal jalan raya.


Namun saat ia membalikkan badannya ia melihat seseorang yang dikenalnya sedang terkapar di jalan raya dengan darah yang mengucur dari kepalanya.


"Kak Rafa!" ucap Tiara dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Beberapa orang yang berada di lokasi kejadian segera menghubungi ambulans dan saat ambulans datang Rafapun segera dibawa ke rumah sakit terdekat, dengan Tiara yang ikut masuk ke dalam ambulans untuk menemani Rafa.


Sesampainya di rumah sakit Rafa segera dibawa ke ruang UGD sedangkan Tiara hanya bisa menunggu di depan ruang UGD dengan panik.

__ADS_1


"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk pada kak Rafa, Tiara mohon Tuhan selamatkan dia," ucap Tiara dalam hati dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya.


Setelah beberapa lama menunggu, dokterpun keluar dan menjelaskan pada Tiara jika Rafa mengalami cedera kepala ringan dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari untuk mendapat pantauan langsung dari dokter.


__ADS_2