Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Bertemu Maya


__ADS_3

Tiara masih berada di rumah sakit. Setelah Rafa dipindahkan ke ruang rawat Tiarapun duduk di samping ranjang Rafa, menatap Rafa dengan perasaan bercampur aduk dalam hatinya.


"Bolehkah kita bertemu lagi kak? bolehkah kita memulai kembali kebahagiaan yang dulu pernah kita rasakan?" batin Tiara bertanya dalam hati.


Tak lama kemudian mama dan papa Rafa datang setelah sebelumnya Tiara menghubungi Mama Rafa, memberitahukan jika Rafa mengalami kecelakaan.


"Astaga Rafa...... apa yang terjadi padanya Tiara? kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Mama Rafa pada Tiara.


"Maaf tante, ini gara-gara Tiara, saat di jalan raya tadi ada motor yang melaju kencang dan hampir menabrak Tiara, tetapi tiba-tiba kak Rafa mendorong Tiara dan membuat kak Rafa seperti ini," jawab Tiara dengan kedua mata berkaca-kaca.


Mama Rafa menghela nafasnya lalu memegang kedua bahu Tiara seolah menenangkan Tiara yang menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Rafa.


"Ini bukan karenamu Tiara, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri," ucap Mama Rafa.


"Lebih baik kita berdoa saja agar Rafa cepat sadar," sahut papa Rafa.


Waktupun berlalu, membawa malam semakin larut, namun Rafa masih terpejam di atas ranjangnya.


"Lebih baik kau pulang Tiara, ini sudah sangat malam!" ucap Mama Rafa pada Tiara.


"Tiara ingin menunggu kak Rafa sampai kak Rafa bangun tante," balas Tiara.


"Tante akan menghubungimu jika Rafa sudah bangun, sekarang kau pulanglah dan beristirahatlah di rumah!" ucap Mama Rafa.


Karena tidak mempunyai alasan apapun untuk menunggu Rafa disana, Tiarapun akhirnya bersedia untuk pulang, meninggalkan Rafa di rumah sakit bersama mama dan papanya.


Dengan langkah yang tak bersemangat, Tiara berjalan di lorong rumah sakit. Tiara tidak mengerti kenapa Rafa melakukan hal yang membahayakan nyawanya demi melindungi Tiara, mengingat bagaimana sikap Tiara yang selama ini tidak mempedulikan Rafa.


"Kak Rafa benar-benar bodoh sekali!" ucap Tiara dalam hati.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan masuk dari Putra.


"Halo kak Putra," ucap Tiara setelah ia menerima panggilan Putra.


"Halo Tiara, sepertinya sudah cukup lama aku tidak menghubungimu, tidak salah bukan jika aku bertanya bagaimana kabarmu?" tanya Putra.


Tiara menghela nafasnya panjang sebelum ia menjawab pertanyaan Putra, ia sendiri tidak tahu bagaimana keadaan dirinya saat itu.


"Ada apa Tiara? kenapa kau terdengar seperti menghela nafas panjang, apa terjadi sesuatu?" tanya Putra yang menyadari helaan nafas Tiara yang seolah penuh beban.


"Tiara baik-baik saja kak, bagaimana dengan kak Putra disana?"


"Aku juga baik-baik saja, Rafa bilang hari ini akan ada konser untuk peluncuran produk baru kalian, apa semuanya berjalan dengan baik?"


"Peluncuran produk berjalan dengan baik kak, tapi..... tapi kak Rafa yang tidak baik-baik saja," jawab Tiara.


"Kenapa? apa yang terjadi pada Rafa?" tanya Putra.


"Kak Rafa sekarang di rumah sakit karena baru saja mengalami kecelakaan," jawab Tiara.


"Kecelakaan? lalu bagaimana keadaannya sekarang? itu bukan kecelakaan yang parah bukan!" tanya Putra yang terdengar khawatir.


"Dokter bilang itu bukan kecelakaan yang parah mengingat kak Rafa hanya menderita cedera kepala ringan, tapi sampai saat ini kak Rafa belum juga sadar," jawab Tiara menjelaskan.


"Semoga dia tidak terluka parah, tapi kenapa dia bisa mengalami kecelakaan? apa kau tahu?" tanya Putra.


Tiara kemudian menjelaskan tentang apa yang terjadi di jalan raya yang membuat Rafa mengalami kecelakaan.


"Kak Rafa membuat Tiara merasa bersalah," ucap Tiara di akhir penjelasannya.


"Kenapa kau merasa bersalah? wajar jika Rafa melakukan hal itu karena dia memang mencintaimu," balas Putra.


"Tapi itu membahayakan nyawanya kak, apa kak Rafa tidak memikirkan hal itu?"


"Jika kita mencintai seseorang kita tidak peduli apa yang akan terjadi pada kita asalkan orang yang kita cintai baik-baik saja, ketulusan cinta bisa dilihat dari bagaimana seseorang itu merelakan apapun yang dia miliki demi kebahagiaan orang yang dicintainya, bahkan pada nyawanya sendiripun akan dia relakan," ucap Putra.


Mendengar ucapan Putra, Tiara seketika terdiam.


"Apa benar sebesar itu cinta kak Rafa untukku?" batin Tiara bertanya dalam hati.

__ADS_1


"Kau yang lebih tahu tentang bagaimana perasaanmu yang sebenarnya Tiara, jadi aku harap kau berhenti menentang apa yang sebenarnya kau rasakan," ucap Putra.


"Tiara pernah mengikuti apa yang Tiara rasakan, tapi pada akhirnya Tiara hanya menemui penyesalan dan rasa sakit," balas Tiara.


"Cinta memang sangat aneh sekali, dia datang bersama rasa sakit dan kecewa, pilihan ada di tangan kita sendiri apakah kita akan menerima cinta itu atau memilih untuk menolaknya karena takut akan rasa sakit dan kecewa," ucap Putra.


"Tapi aku yakin jauh dalam hati kecilmu kau tahu apa yang sebenarnya kau inginkan dan apa yang sebenarnya membuatmu bahagia, cinta tahu dimana dia harus berlabuh, sesakit dan sekecewa apapun cinta akan tetap mendominasi hati pemiliknya," lanjut Putra.


"Bagaimana dengan kak Putra? apa yang kak Putra pilih setelah kak Putra merasakan cinta itu datang?" tanya Tiara.


"Aku memilih untuk menerimanya, aku membiarkan rasa cinta yang membuatku bahagia itu datang meskipun aku juga harus bersiap untuk merasakan sakit dan kecewa," jawab Putra tanpa ragu.


"Apa kak Putra tidak menyesalinya?" tanya Tiara.


"Tentu saja tidak, itu adalah pilihanku apapun konsekuensinya akan aku terima, aku harus bersikap profesional tidak hanya dalam pekerjaan tapi juga dalam masalah percintaan hehehe...." jawab Putra terkekeh.


Setelah beberapa lama mengobrol, panggilanpun berakhir saat Tiara sudah mendapatkan taksi di depan rumah sakit.


Tiara kemudian masuk ke dalam taksi yang mengantarnya pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, sudah ada Mama Laras yang menunggu kepulangannya.


"Mama belum tidur?" tanya Tiara pada sang mama tiri.


"Mama menunggumu, apa kau sudah makan malam?" jawab Laras sekaligus bertanya yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Mama akan memanaskan makanannya sebentar, kau mandilah dulu lalu segera ke meja makan!" ucap Laras lalu segera membawa langkahnya ke dapur.


Dengan penuh senyum Tiarapun segera membawa langkahnya ke dalam kamar untuk mandi dan berganti pakaian kemudian berjalan ke meja makan dimana sudah ada Mama Laras yang menunggunya disana.


"Bagaimana acara kantormu hari ini? apa berjalan dengan baik?" tanya Laras pada Tiara sambil menyiapkan makanan Tiara di atas piring lalu memberikannya pada Tiara.


"Semuanya berjalan dengan baik ma," jawab Tiara lalu menikmati makan malamnya dengan ditemani oleh Mama Laras.


Dalam hatinya Tiara merasa sangat bahagia karena pada akhirnya ia bisa merasakan kasih sayang seorang mama yang sudah lama tidak ia rasakan.


Sejak mereka pindah ke rumah itu Mama Laras memang begitu peduli pada Tiara. Laras yang dulu tidak menyukai Tiara kini sangat menyayangi Tiara.


Waktu berlalu hari telah berganti. Seperti biasa Tiara pergi ke kantor dengan menggunakan bus. Sesampainya di kantor ia segera disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk.


Saat ia sudah menyelesaikan salah satu pekerjaannya iapun keluar dari ruangannya, berniat untuk memberikan hasil pekerjaannya pada Rafa, namun sebelum ia masuk ke ruangan Rafa ia teringat jika Rafa masih berada di rumah sakit. Tiarapun memberikan hasil pekerjaannya pada asisten pribadi Rafa.


"Bagaimana kabar kak Rafa sekarang? kenapa Tante Rosa belum menghubungiku sama sekali?" batin Tiara bertanya dalam hati sambil menatap layar ponselnya, menunggu Mama Rafa menghubunginya.


Berkali-kali Tiara memeriksa ponselnya untuk sekedar memastikan jika ia tidak melewatkan panggilan dari Mama Rafa, Tiara juga memeriksa apakah dia sudah mengatur volume ponselnya sampai full karena ia tidak juga mendengar ponselnya berdering sampai lewat siang hari.


Saat jam kerja Tiara selesai, dengan cepat Tiara bergegas merapikan meja kerjanya dan meninggalkan kantor untuk segera pergi ke rumah sakit tempat Rafa dirawat.


Sesampainya di rumah sakit Tiarapun segera membawa langkahnya ke arah ruangan Rafa. Sebelum Tiara masuk, ia bisa melihat Rafa yang sedang duduk di atas ranjangnya bersama sang Mama yang duduk di dekat ranjang Rafa.


Tiara bisa bernafas lega saat ia melihat keadaan Rafa yang tampak baik-baik saja. Tiara kemudian membawa langkahnya untuk pergi, namun belum sampai ia melangkah jauh seseorang memanggilnya.


"Tiara!" panggil Mama Rafa yang membuat Tiara segera membalikkan badannya.


"Kau mau ke mana? masuklah, Rafa pasti senang melihatmu disini!"


Tiara hanya tersenyum canggung lalu membawa langkahnya masuk ke ruangan Rafa bersama Mama Rafa.


"Bagaimana keadaan Pak Rafa?" tanya Tiara pada Rafa.


"Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja," jawab Rafa dengan tersenyum seolah tidak terjadi apapun pada dirinya.


"Maaf karena tante belum sempat mengabarimu Tiara, terima kasih sudah datang kesini untuk menjenguk Rafa," ucap Mama Rafa pada Tiara.


Mama Rafa kemudian berpamitan untuk pulang, sengaja membiarkan Rafa berdua dengan Tiara.


Sepeninggalan Mama Rafa, Tiara hanya diam tanpa mengatakan apapun, rasanya sangat canggung berada satu ruangan dengan Rafa tanpa ada siapapun disana.


"Sepertinya kau sangat mengkhawatirkanku, apa benar begitu?" tanya Rafa memecahkan kesunyian di antara mereka berdua.


"Tiara hanya merasa bersalah karena Tiara pak Rafa sekarang dirawat di rumah sakit," balas Tiara.

__ADS_1


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini sama sekali bukan karenamu, lagi pula aku baik-baik saja!" ucap Rafa.


Tiara kembali terdiam, entah kenapa rasanya sulit sekali untuk sekedar membuka mulutnya.


"Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Rafa.


"Terima kasih sudah menyelamatkan Tiara," ucap Tiara yang membuat Rafa menghela nafasnya.


"Bukan itu yang ingin aku dengar darimu, apa tidak ada hal lain yang ingin kau katakan?" ucap Rafa sekaligus bertanya.


Tiara kembali terdiam menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jarinya. Ia teringat semua ucapan Putra padanya saat ia meninggalkan rumah sakit malam kemarin.


"Cinta yang tulus, apa benar seperti itu?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Katakanlah sesuatu Tiara, kau datang kesini tidak hanya untuk berdiam diri seperti ini bukan?" ucap Rafa membuyarkan lamunan Tiara.


"Tiara......"


Tiara menghentikan ucapannya saat ia mendengar seseorang membuka pintu ruangan Rafa.


Tiarapun membawa pandangannya ke arah pintu dan begitu terkejut saat melihat seseorang yang ia kenal baru saja masuk ke dalam ruangan Rafa.


"Rafa, apa yang terjadi padamu? kau baik-baik saja bukan?" tanya Maya yang segera berjalan menghampiri Rafa.


"Maya, kenapa kau ada disini?" tanya Rafa tanpa menjawab pertanyaan Maya.


"Aku mengkhawatirkanmu Rafa, aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu setelah aku mendengar jika kau baru saja mengalami kecelakaan," jawab Maya.


"Tiara, kau disini rupanya," lanjut Maya yang baru sadar jika ada Tiara disana.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana saat itu.


"Pergilah, keberadaanmu hanya menggangguku!" ucap Rafa pada Maya.


"Aku memang akan pergi, aku ingin menemuimu karena aku ingin berpamitan padamu, saat aku tahu jika kau berada di rumah sakit aku sangat khawatir dan segera datang kesini," balas Maya.


"Aku hanya ingin memberitahumu jika besok aku akan pergi ke Singapura untuk menemui Bagas, aku sudah memutuskan untuk memulai hidup baruku disana bersamanya," lanjut Maya.


"Baguslah kalau begitu, seharusnya dari dulu kau memutuskan hal itu!" ucap Rafa.


"Aku minta maaf jika keberadaanku mengganggumu, mulai sekarang aku pastikan kau tidak akan pernah melihatku lagi, aku akan berusaha untuk memulai semuanya dari awal di tempat yang baru tanpa mengingatmu!" ucap Maya.


"Aku akan pergi dengan tenang, jika kau mengatakan kau sudah memaafkanku," lanjut Maya dengan memberikan senyumnya pada Rafa.


"Aku sudah lama memaafkanmu, lagi pula aku sudah melupakan semua yang terjadi diantara kita," dibalas Rafa.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu!" ucap Maya lalu membawa langkahnya ke arah Tiara.


"Tiara, bisa ikut aku sebentar? ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Maya pada Tiara.


"Jangan, jika memang ada yang ingin kau bicarakan bicarakan saja disini!" ucap Rafa sambil menahan tangan tiara.


"Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitinya," ucap Maya.


Tiarapun melepaskan tangan Rafa darinya lalu membawa langkahnya keluar dari ruangan Rafa bersama Maya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Rafa, Tiara?" tanya Maya pada Tiara.


"Tidak ada hubungan apapun antara Tiara dan kak Rafa, Tiara hanya menganggap kak Rafa sebagai atasan tempat Tiara bekerja tidak lebih dari itu," jawab Tiara.


"Tapi kau masih mencintainya bukan?" tanya Maya yang membuat Tiara segera menggelengkan kepalanya, takut jika Maya akan salah paham padanya.


"Cobalah untuk jujur pada dirimu sendiri Tiara, asal kau tahu Rafa benar-benar sangat mencintaimu, tapi perceraian kita sama sekali bukan karena hal itu, tapi murni karena kesalahanku sendiri," ucap Maya.


"Aku memang sempat marah padamu karena kau hadir dalam rumah tanggaku dengan Rafa, tapi semakin lama aku berpikir aku mulai sadar bahwa kesalahan bukan dari pihak luar tetapi dariku sendiri," lanjut Maya.


"Tiara minta maaf atas semua hal yang terjadi karena keberadaan Tiara kak," ucap Tiara yang merasa bersalah.


"Kau tidak perlu meminta maaf Tiara, ini memang sudah menjadi takdir kehidupan kita, aku sudah berusaha untuk bisa menerima sekarang," balas Maya.


"Rafa sangat mencintaimu Tiara, bahkan setelah perceraianku dengan Rafa aku masih berusaha untuk mendekatinya tapi dia selalu mengabaikanku, dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, aku yakin dia akan menjadi pasangan yang baik untukmu jika kau mau membuka hatimu lagi untuknya," lanjut Maya yang membuat Tiara terdiam.

__ADS_1


__ADS_2