
Mentari pagi telah menyapa hari baru, Rafa mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit setelah sebelumnya ia pergi ke kafe pertamanya.
Sesampainya di rumah sakit ia segera pergi menemui Tiara dan mendapati Tiara yang tengah duduk bersama dokter dan perawat yang berdiri di sampingnya.
Rafa hanya diam mendengarkan penjelasan dokter pada Tiara dan iapun senang karena Tiara bisa pulang saat itu juga karena keadaannya yang sudah membaik.
Setelah menyelesaikan administrasi, Rafapun mengantar Tiara pulang.
"Aahh ya, ada yang ingin aku berikan padamu," ucap Rafa lalu mengambil sebuah paper bag dan memberikannya pada Tiara saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Apa ini?" tanya Tiara penasaran sambil membuka paper bag yang sudah ada di pangkuannya.
"Waaaahhh apa ini hadiah yang dulu pernah kak Rafa berikan pada Tiara?" tanya Tiara yang mendapati mini stand figure 9 member EXO.
"Iya, apa kau akan menolaknya lagi sekarang?" jawab Rafa sekaligus bertanya.
"Tidak, terima kasih sudah memberikannya pada Tiara," jawab Tiara dengan raut wajah yang tampak senang menerima pemberian Rafa.
"Aku menyimpan semuanya di kamarku, apa kau ingin aku memberikan semuanya sekarang?" tanya Rafa.
"Jangan, itu terlalu berlebihan," jawab Tiara.
"Ya sudah, aku akan memberikannya padamu satu persatu," ucap Rafa.
"Begitu lebih baik, terima kasih," balas Tiara dengan tersenyum manis pada Rafa yang saat itu juga tengah menatap Tiara untuk beberapa saat.
Rafa hanya tersenyum melihat senyum manis Tiara. Rasanya ia tidak ingin senyum keceriaan itu hilang dari raut wajah Tiara.
"Aku akan memastikan senyum itu selalu ada di wajahmu Tiara, akan lebih baik jika akulah yang menjadi sumber senyum keceriaanmu itu," ucap Rafa dalam hati sambil sesekali membawa pandangannya ke arah Tiara yang duduk di sampingnya.
"Aaahhh iya, ada yang ingin aku tanyakan, kenapa kau kemarin minum kopi? bukankah kau tahu kesehatanmu tidak baik-baik saja, kau malah minum kopi yang kau tahu akan membuatmu pingsan," tanya Rafa penasaran.
"Sebenarnya Tiara tidak memesan kopi, tetapi sepertinya ada yang salah membuat pesanan Tiara dan bodohnya Tiara baru menyadari apa yang Tiara minum adalah kopi setelah Tiara meminumnya untuk yang kedua kali," jawab Tiara menjelaskan.
"Kenapa bisa begitu? bukankah kau bisa merasakannya sejak pertama meminumnya?" tanya Rafa.
"Tiara sedang tidak fokus saat itu, Tiara sedang melamun hehehe....." jawab Tiara dengan terkekeh.
"Memangnya siapa yang membuatkan minuman untukmu?" tanya Rafa.
"Jika kak Rafa tahu apa kakak akan memarahinya?" balas Tiara bertanya sebelum ia menjawab pertanyaan Rafa.
"Aku hanya akan menegurnya agar dia tidak mengulangi kesalahannya," jawab Rafa.
"Lupakan saja kak, ini hanya kesalahan kecil," ucap Tiara.
"Kesalahan kecil yang dibiarkan akan menjadi kebiasaan Tiara dan aku tidak mau karyawan di kafeku mengabaikan kesalahan yang menurutmu kecil itu," balas Rafa.
"Tiara akan coba memberitahunya jika dia salah membuat pesanan Tiara, jadi kak Rafa tidak perlu menegurnya," ucap Tiara.
"Katakan saja padaku Tiara, siapa yang membuat minuman itu, aku berhak tahu karena aku....."
"Pemilik kafe," ucap Tiara memotong ucapan Rafa.
"Benar sekali, jadi cepat beritahu aku siapa yang membuat minumanmu, aku tidak akan memarahinya, hanya menegurnya saja agar dia bisa lebih teliti saat membuat minuman pesanan pelanggan, agar kesalahan yang sama tidak terjadi lagi demi kenyamanan dan kepuasan pelanggan di kafe kita," ucap Rafa panjang.
Namun Tiara tetap bersikukuh untuk tidak memberitahu Rafa tentang siapa yang membuat minuman itu untuknya. Ia tidak ingin temannya merasa jika Tiara yang mengadukan hal itu pada Rafa.
"Kau memang sangat keras kepala!" ucap Rafa.
"Tiara selalu berpegang teguh pada pendirian Tiara, bukan keras kepala," balas Tiara membela diri.
"Baiklah terserah kau saja, jika sudah seperti ini sepertinya kau memang sudah baik-baik saja," ucap Rafa yang membuat Tiara terkekeh.
Sesampainya di depan rumah tempat tinggalnya, Tiarapun turun dari mobil Rafa. Tak lupa ia berterima kasih pada Rafa karena sudah mengantarnya ke rumah sakit dan menjemputnya dari rumah sakit.
"Jaga kesehatanmu jika kau tidak suka meninggalkan kafe terlalu lama," ucap Rafa sebelum ia mengendarai mobilnya meninggalkan Tiara.
"Siap bos," balas Tiara sambil memberikan hormat pada Rafa dengan senyum cerianya.
Rafa hanya tersenyum tipis lalu mengendarai mobilnya meninggalkan Tiara, sedangkan Tiara segera masuk ke dalam rumah dan membaringkan dirinya di dalam kamar.
Toookkk tooookkk tooookkk
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuat Tiara segera beranjak dari ranjangnya. Dengan malas ia berjalan untuk membuka pintu kamarnya.
"Apa kau sudah makan?" tanya Chika yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.
"Tunggu sebentar, aku akan membawakan makanan kesini," ucap Chika lalu segera berlari kecil ke arah dapur kemudian kembali dengan membawa semangkok bubur yang baru saja dibuatnya.
"Pak Rafa memberitahu bahwa kau akan pulang pagi ini, jadi aku sudah membuatkan bubur untukmu, makanlah ini masih hangat!" ucap Cika sambil memberikan semangkok bubur pada Tiara.
"Waaahh sepertinya enak sekali, terima kasih Chika," ucap Tiara yang hanya dibalas senyum oleh Chika.
Tiara kemudian menikmati bubur buatan Chika di dalam kamarnya bersama Chika yang menemaninya.
"Hmmm enak sekali, kau pandai membuatnya!" ucap Tiara dengan mengangguk-anggukkan kepalanya menikmati bubur buatan Chika.
"Kau berlebihan sekali, bagaimana keadaanmu sekarang? kau benar-benar membuatku khawatir sejak kemarin!"
"Aku sudah baik-baik saja, jadi berhentilah mengkhawatirkanku!" balas Tiara.
"Tidak hanya aku yang khawatir padamu Tiara, tapi juga Pak Rafa, aku bisa melihat bagaimana Pak Rafa sangat mengkhawatirkanmu, Pak Rafa bahkan membatalkan rencananya untuk pergi ke luar kota saat Pak Rafa tahu kau pingsan di kafe," ucap Chika.
"Jadi kak Rafa tidak pergi ke luar kota karena aku?" tanya Tiara yang baru menyadari hal itu.
"Tentu saja, kalau bukan karenamu karena siapa lagi?" balas Chika.
"Mungkin memang ada sesuatu yang membuat kak Rafa membatalkan kepergiannya," ucap Tiara.
"Tidak Tiara, aku yakin itu karenamu," balas Chika.
"Aku tidak yakin, pasti karena ada sesuatu yang lain, aku akan menanyakannya pada kak Rafa besok," ucap Tiara.
"Besok? apa kau besok akan bekerja? bukankah Pak Rafa memberimu libur selama satu minggu?" tanya Chika yang membuat Tiara menepuk keningnya karena baru ingat jika Rafa memaksanya untuk libur kerja selama 1 minggu.
"Aahhh iya kau benar, tapi dari mana kau tahu? apa kak Rafa memberitahumu?" tanya Tiara.
"Pak Rafa sudah memberitahu semua anak anak jika kau akan libur selama satu minggu," jawab Chika.
"Hmmm..... kak Rafa memang berlebihan sekali, padahal aku sudah baik-baik saja, aku sudah meminta untuk tetap bekerja tetapi kak Rafa melarangku," ucap Tiara.
"Apa aku selalu membantah Pak Rafa?" tanya Tiara.
"Hahaha.... kau masih mempertanyakan hal itu? benar-benar tidak tahu diri sekali kau Tiara hahaha......" ucap Chika menertawakan pertanyaan Tiara.
"Aaahhh kau menyebalkan sekali," ucap Tiara sambil memukul Chika dengan guling miliknya.
Merekapun tertawa di dalam kamar Tiara hingga terdengar sampai keluar kamar.
**
Hari telah berganti, pagi itu Tiara hanya duduk di teras rumah sambil membaca buku karena ia tidak diperbolehkan Rafa untuk datang bekerja sampai satu minggu ke depan.
Tiba-tiba seseorang datang dan merebut buku dari tangan Tiara.
"Chika!" ucap Tiara kesal karena Chika merebut buku yang sedang dibacanya.
"Pak Rafa melarangmu bekerja agar kau beristirahat di rumah, bukan menghabiskan waktumu dengan terus membaca buku seperti ini!" ucap Chika.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? apa aku harus selalu tidur selama satu minggu ke depan?" balas Tiara bertanya sambil merebut kembali bukunya dari tangan Chika.
"Jika memang bisa, lakukan saja hahaha....." ucap Chika.
"Kau ada-ada saja, cepat berangkat dan segera pulang setelah mendapatkan uang yang banyak hahaha....." ucap Tiara yang membuat Chika terkekeh lalu segera berjalan pergi meninggalkan Tiara.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Saat tengah berjalan di trotoar ponsel Chika berdering, sebuah panggilan dari Ana.
"Halo princess Anna, ada apa?" tanya Chika setelah ia menerima panggilan Ana.
"Aku hanya ingin memberitahumu, laki-laki yang selalu mencari Tiara sekarang datang lagi, bahkan sejak semalam dia mencari Tiara," jawab Ana yang membuat Chika seketika menghentikan langkahnya.
"Kau tidak memberitahu dimana Tiara bukan?" tanya Chika.
"Tentu saja tidak, Pak Rafa sudah melarang kita semua untuk memberitahu keberadaan Tiara pada orang lain, jadi tidak ada yang berani memberitahukan dimana Tiara saat ini, aku hanya khawatir jika laki-laki itu nanti menemukan Tiara lagi," jawab Ana menjelaskan.
__ADS_1
"Yang penting kau dan yang lain tidak memberitahu dimana Tiara saat ini, selebihnya biarkan takdir yang menjalankan rencananya!" ucap Chika.
"Aku belum memberitahu Tiara tentang hal ini, aku sengaja menghubungimu terlebih dahulu karena aku tidak tahu apakah aku harus memberitahu Tiara atau tidak!"
"Tidak, kau jangan memberi tahu Tiara, lebih baik dia tidak mengetahui apapun tentang laki-laki itu!" ucap Chika.
"Baiklah kalau begitu!"
Panggilan berakhir, Chika memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu melanjutkan langkahnya ke arah kafe. Meskipun ia tidak mengenal siapa sebenarnya laki-laki yang memaksa Tiara untuk masuk ke mobilnya, tetapi ia yakin jika dia bukan laki-laki yang baik mengingat setelah kejadian itu Tiara tidak lagi kembali ke kafe untuk waktu yang cukup lama.
**
Di sisi lain, Tiara masih asik membaca buku hingga sebuah pesan masuk di ponselnya. Tiara tersenyum senang saat ia melihat nama Rafa pada layar ponselnya.
"Keluarlah dari rumah, aku menunggumu di taman dekat kafe!"
Tanpa menunggu lama Tiarapun membalas pesan Rafa dengan stiker yang berbentuk jempol.
Tiara kemudian masuk ke kamarnya, menaruh bukunya dan berganti pakaian lalu keluar dari rumah untuk berjalan ke arah taman yang letaknya tidak begitu jauh dari kafe.
Sesampainya di taman Tiara mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Rafa dan tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang membuat Tiara segera membalikkan badannya.
"Kak Rafa!" ucap Tiara yang sedikit terkejut melihat Rafa yang sudah ada di hadapannya.
Jika biasanya ia selalu melihat Rafa berpakaian rapi dengan celana panjang dan kemeja, kini ia melihat Rafa mengenakan celana pendek dan kaos oblong berlengan pendek dengan sepatu lari khas outfit saat berolahraga.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? apa ada yang aneh?" tanya Rafa yang melihat Tiara seperti menatapnya dengan pandangan aneh.
"Tidak," jawab Tiara singkat sambil menggelengkan kepalanya.
"Ikut aku!" ucap Rafa sambil berlari kecil memasuki taman diikuti oleh Tiara.
Sesampainya di dalam taman, Rafa segera berjalan mendekati alat fitness outdoor yang memang disediakan untuk umum.
Rafapun menggunakan alat itu begitu juga Tiara yang menggunakan alat lain di samping Rafa.
"Kenapa kak Rafa tiba-tiba mengajak Tiara kesini?" tanya Tiara sambil mengayuh pedal besi yang diinjaknya.
"Karena aku tahu kau tidak pernah berolahraga selama ini," jawab Rafa santai.
"Berjalan kaki dari rumah ke kafe juga termasuk berolahraga bukan?" ucap Tiara.
"Itu berbeda Tiara, apa sebaiknya aku menyediakan alat olahraga di kafe agar kau dan yang lainnya bisa berolahraga di kafe!"
"Waaahh ide bagus kak, sepertinya anak-anak akan setuju," balas Tiara menyetujui ide Rafa.
"Baiklah, aku akan segera menyiapkannya!" ucap Rafa.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? sudah lebih baik bukan?" lanjut Rafa bertanya.
Tiara baik-baik saja kak, bahkan dari kemarinpun Tiara sudah baik-baik saja, jika kak Rafa tidak melarang Tiara bekerja Tiara pasti sudah berangkat bekerja sekarang," jawab Tiara
"Apa kau masih suka begadang untuk membaca buku?" tanya Rafa.
"Pasti Chika yang memberitahu kak Rafa, benar bukan?" balas Tiara bertanya.
"Tidak penting siapa yang memberitahuku, tapi yang pasti kebiasaanmu itu bukanlah hal yang baik Tiara, belajar memang hal yang bagus tapi kau juga harus bisa mengatur waktumu dengan baik untuk tetap bisa menjaga kesehatanmu," ucap Rafa.
Setelah beberapa lama menghabiskan waktu di taman Rafapun mengantarkan Tiara pulang setelah sebelumnya mereka membeli bubur ayam untuk sarapan.
Rafa kemudian pulang ke rumahnya, mandi dan berganti pakaian lalu berangkat ke kafe pertama dan kafe keduanya.
Semuanya berjalan lancar sampai saat Ana memberitahu Rafa bahwa Bima kembali mencari Tiara. Rafapun menegaskan pada semua karyawannya agar tidak memberitahu siapapun tentang keberadaan Tiara.
Rafa kemudian pergi ke kafe keduanya untuk menanyakan tentang siapa yang salah memberikan minuman pesanan Tiara beberapa hari yang lalu.
Pada awalnya tidak ada yang mengaku karena tidak ada salah satupun dari mereka yang menyadari hal itu, hingga akhirnya seseorang baru menyadari jika ia yang membuat pesanan untuk Tiara sebelum Tiara pingsan malam itu.
Rafapun memintanya untuk masuk ke ruangannya. Rafa menjelaskan pada salah satu karyawannya itu jika Tiara tidak bisa mengkonsumsi kopi karena ia akan pingsan tak lama setelah dia mengkonsumsi minuman berkafein.
Rafa juga mengingatkan karyawannya itu untuk lebih teliti dan berhati-hati agar tidak terjadi kesalahan yang sama pada pelanggan di kafe.
Rafa kemudian mengeluarkan sebuah surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh karyawannya itu, sebuah surat pernyataan yang berisi tentang persetujuan karyawannya jika terjadi kesalahan yang sama lagi maka ia harus bersedia menerima sanksi yang sudah Rafa tetapkan.
__ADS_1