
Di rumah Gita.
Kehamilan Gita yang semakin membesar membuat Gita semakin malas untuk melakukan pekerjaan rumah.
Semenjak Tiara memberikan keputusan tentang warisan yang papanya tinggalkan, keuangan Gita dan Mama Laraspun mulai kacau.
Gita yang sudah berhenti bekerja setelah ia menikah tidak dapat lagi kembali ke pekerjaan yang sebelumnya karena ia tengah hamil.
Sedangkan Mama Laras yang dulunya selalu mendapatkan hasil dari bisnis yang ditinggalkan papa Tiara kini sudah tidak mendapatkan apapun.
Di rumah itu kini hanya Bima yang bekerja dan menghasilkan uang. Pekerjaannya sebagai dosen tidak banyak memberikan pemasukan untuk keluarga itu, membuat mereka harus bisa menghemat pemasukan yang ada.
Oleh karena itu Bima meminta Gita untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan memberhentikan bibi yang bekerja disana untuk bisa lebih berhemat.
"Padahal aku sedang hamil tapi dia malah memintaku untuk melakukan pekerjaan rumah," gerutu Gita kesal saat ia baru saja selesai mengepel seluruh rumah dengan bantuan sang mama.
"Tolong lakukan sesuatu ma, sampai kapan kita harus seperti ini terus?" lanjut Gita merengek pada sang mama.
"Mama akan menanyakannya pada Bima, bukankah dia menikahimu karena ada alasan lain?" balas Mama Laras.
"Sepertinya orang tua Bima tidak akan menepati janjinya karena mereka tidak mendapatkan apapun dari warisan papa yang Mama janjikan pada mereka," ucap Gita murung.
Mama Laraspun menghela nafasnya kasar lalu menjatuhkan dirinya di atas lantai.
"Ini semua gara-gara Tiara, dia benar-benar anak yang tidak tahu diuntung!" ucap Mama Laras kesal.
"Seharusnya Mama tidak memaksa Tiara, apalagi menyekapnya seperti waktu itu, itu hanya membuat Tiara semakin membenci mama," ucap Gita.
"Apa kau pikir kau tidak bersalah? seharusnya kau tidak membuat Tiara keluar dari rumah ini, seharusnya kau tidak memberitahu Tiara tentang kebohongan kita selama ini," balas Mama Laras.
"Gita pikir Mama sudah mendapatkan semuanya, bukankah Mama sendiri yang mengatakan hal itu pada Gita?" ucap Gita membela diri.
"Waktu itu Mama memang sudah mendapatkan hasil dari bisnis yang papamu tinggalkan, tapi mama belum benar-benar menguasai semuanya dan sekarang semua itu benar-benar sudah tidak bisa Mama dapatkan lagi karena kebodohan yang sudah kau lakukan," ucap Mama Laras.
"Istri mana yang hanya diam saja melihat suaminya berselingkuh dengan adik tirinya? tidak ada ma, jadi wajar jika Gita marah saat itu!" ucap Gita yang masih berusaha membela dirinya.
"Jika kau memang tidak menerima hal itu seharusnya kau mempermasalahkannya dari awal, tapi kau bahkan berpura-pura tidak tahu tentang hubungan Tiara dan Bima sejak kalian belum menikah," ucap Mama Laras.
"Itu karena Gita belum mencintai Bima ma," balas Gita.
"Lalu apa sekarang kau sudah mencintai Bima?" tanya Mama Laras yang membuat Gita terdiam untuk beberapa saat.
"Gita......."
Gita menghentikan ucapannya saat ia melihat Bima datang.
"Masuklah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" ucap Bima pada Gita lalu berjalan masuk ke kamarnya begitu saja.
Gitapun beranjak dari duduknya lalu berjalan mengikuti Bima ke arah kamar mereka.
"Ada apa?" tanya Gita yang kini sudah duduk di tepi ranjangnya.
"Apa kau sungguh mencintaiku?" tanya Bima yang membuat Gita begitu terkejut mendengarnya.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?" balas Gita bertanya.
"Jawab saja," ucap Bima.
"Aku istrimu dan aku sedang mengandung anakmu sekarang, apa tidak boleh aku mencintai suamiku?" ucap kita sekaligus bertanya.
"Tidak ada yang salah dengan seorang istri yang mencintai suaminya, tapi itu akan menjadi salah jika pernikahan suami istri itu terjadi karena paksaan dan alasan lain yang saling menguntungkan dua belah pihak," balas Bima.
"Apa maksudmu?" tanya Gita tak mengerti.
Bima menghela nafasnya lalu berdiri di depan Gita yang saat itu masih duduk di tepi ranjangnya.
"Dengarkan aku baik-baik Gita, pernikahan kita sama sekali tidak didasari oleh cinta dan walaupun kau sedang mengandung anak dariku itu sama sekali bukan alasan untuk membuatku bisa mencintaimu, jadi jangan pernah berharap apapun dariku dan lebih baik juga jika kau tidak mencintaiku, karena kau hanya akan kecewa karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mencintaimu," ucap Bima dengan menatap kedua mata Gita.
Gita terdiam dengan tersenyum tipis, hatinya seolah baru saja terkoyak oleh kuku-kuku tajam yang meninggalkan luka dengan sangat dalam.
"Apa kau benar-benar mencintai Tiara?" tanya Gita pada Bima.
__ADS_1
"Jika aku bisa memutar waktu aku pasti tidak akan menerima perjodohan kita, aku akan lebih mempertahankan Tiara yang sudah menjadi milikku saat itu, meskipun aku harus kehilangan apa yang selama ini aku impikan yang sudah dijanjikan oleh papa padaku," jawab Bima.
"Kau jangan bodoh Bima, setelah semua yang kau lakukan pada Tiara dia pasti benar-benar sudah membuangmu dari hidupnya!" ucap Gita.
"Tidak, aku yakin dia masih mencintaiku, aku bahkan tidak pernah melihat kebencian dari sorot matanya padaku meskipun aku sudah mengecewakannya berkali-kali," balas Bima.
"Apa kau tidak sadar jika apa yang kau lakukan padanya terakhir kali adalah tindakan kriminal, kau sengaja menyekapnya di dalam kamar dan kau masih berharap bahwa dia masih mencintaimu? kau benar-benar bodoh Bima, kau sangat bodoh!" ucap Gita dengan tertawa kecil.
Mendengar tawa kecil Gita yang mengejeknya, Bimapun terpancing emosinya. Ia menatap tajam perempuan yang merupakan istrinya itu lalu memegang kedua pipi Gita dengan satu tangannya penuh emosi.
"Semua itu aku lakukan karena paksaan mamamu, aku terpaksa harus mengikuti rencana jahat mamamu agar mamamu tidak menyakiti Tiara dengan lebih buruk," ucap Bima dengan tatapan tajam penuh emosi.
Gita tidak bisa mengatakan apapun iya hanya bisa berusaha meronta dan menarik tangan Bima darinya.
"Ini adalah kali terakhir aku mengikuti perintah mamamu, setelah ini aku tidak akan peduli lagi pada ancamannya, aku tidak akan melakukan apapun yang bisa menyakiti Tiara," ucap Bima lalu melepaskan cengkeramannya dari kedua pipi Gita dengan kasar.
Gita hanya terdiam dengan memegang kedua pipinya yang saat itu tampak memerah karena cengkeraman Bima yang kuat.
"Satu lagi yang harus kau ingat, aku tidak akan pernah melepaskan Tiara untuk laki-laki lain, aku tidak akan membiarkan siapapun memilikinya karena dia hanya milikku, hanya untukku," ucap Bima dengan mempertegas kalimat terakhirnya.
"Kau memang sudah gila Bima, dengan sikapmu ini aku yakin kau tidak akan pernah mendapatkan Tiara!" ucap Gita yang sudah beranjak dari duduknya dengan emosi yang memburu dalam dadanya.
Bima yang mendengar hal itu segera melayangkan tamparannya dengan keras pada Gita, membuat Gita jatuh tersungkur di atas ranjang.
"Jaga ucapanmu jika kau tidak ingin aku menyakitimu!" ucap Bima lalu berjalan pergi keluar dari kamarnya dengan membanting pintu kamarnya.
Gita hanya terdiam di atas ranjangnya dengan butiran bening yang perlahan membasahi pipinya yang memerah akibat cengkraman dan tamparan Bima padanya.
**
Malam itu Rafa meninggalkan rumahnya untuk menemui teman lamanya di restoran yang ada di salah satu hotel yang cukup jauh dari tempat tinggalnya.
Saat ia baru saja keluar dari tempat parkir, ia melihat Maya berjalan bersama seorang laki-laki yang pernah Rafa lihat mengantar Maya pulang.
Rafa hanya berjalan pelan di belakang Maya dan laki-laki itu. Rafa kemudian melihat Maya dan laki-laki itu berjalan ke arah resepsionis, setelah resepsionis itu memberikan sebuah kunci kamar, Maya dan laki-laki itupun berjalan memasuki lift berdua sedangkan Rafa masih menunggu temannya di lobby.
Entah apa yang Maya lakukan bersama laki-laki itu di dalam hotel, Rafa tidak terlalu memikirkannya karena ia tidak peduli dengan kehidupan Maya.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam saat Rafa mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.
**
Waktu berlalu, pagi telah tiba, Rafa menggeliat di atas ranjangnya lalu mengerjapkan matanya dan beranjak dari ranjangnya.
Saat baru saja membuka tirai jendela kamarnya, Rafa melihat Maya yang baru saja turun dari sebuah mobil bersama seorang laki-laki yang semalam ia lihat bersama Maya di hotel.
Sama seperti sebelumnya, laki-laki itu memeluk Maya sebelum ia kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Maya.
Dengan masih mengenakan pakaian kantor yang rapi Maya berjalan masuk ke dalam rumahnya tanpa ia tahu jika Rafa memperhatikan hal itu dari dalam kamar.
Meskipun dia tidak tahu tentang hubungan Maya dan laki-laki itu, tetapi ia tidak terlalu memikirkannya dan memilih untuk mengabaikannya saja.
Rafa kemudian mandi dan berganti pakaian lalu keluar dari rumahnya untuk pergi ke kafe pertama dan kafe keduanya.
Sesampainya Rafa di kafe pertamanya ia merasa kesal karena melihat Bima yang berada disana.
Namun tidak ada pilihan lain, ia harus tetap keluar dari mobilnya meski ia sangat malas untuk berhadapan dengan Bima.
Rafapun berjalan melewati Bima begitu saja dan Bimapun hanya mengabaikan Rafa yang berjalan di hadapannya.
Ana kemudian memberitahu Rafa bahwa Bima sudah berada disana sejak pagi dan tidak akan pergi sebelum mereka memberitahu dimana keberadaan Tiara.
"Abaikan saja, asalkan dia tidak membuat keributan!" ucap Bima pada Ana.
"Baik Pak," balas Ana.
Waktupun berlalu, hari semakin siang. Rafa keluar dari ruangannya dengan membawa sebuah map. Rafapun berjalan keluar dari kafe dan masih mendapati Bima yang duduk di tempatnya sejak pagi.
Rafa hanya menghela nafasnya dan memilih untuk mengabaikan Bima, begitu juga Bima yang mengabaikan Rafa.
Meskipun keberadaan Bima sangat mengganggu pandangannya tetapi Rafa memilih untuk tetap membiarkan Bima berada disana asalkan Bima tidak membuat keributan yang bisa merugikan kafe.
__ADS_1
"Tunggulah sepuasmu, kau tidak akan mendapatkan apapun dengan menunggu seperti itu!" ucap Rafa lalu mengendarai mobilnya meninggalkan kafe pertamanya untuk pergi ke kafe keduanya.
Sesampainya di kafe kedua, Rafa segera masuk ke ruangannya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang sudah ia bawa dari kafe pertama.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Rafa berdering, sebuah pesan masuk dari Tiara yang membuat Rafa segera membaca pesan itu.
"Kak, bolehkah Tiara keluar dari rumah untuk menemui mama dan papa? hanya sebentar saja, Tiara janji tidak akan lama!"
Rafapun tersenyum tipis lalu membalas pesan Tiara.
"Tunggu 1 jam lagi, aku akan menjemputmu!"
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Rafa berdering, namun bukan pesan melainkan sebuah panggilan dari Tiara.
"Tiara ingin pergi menemui Mama dan papa sendirian kak, Tiara janji tidak akan lama," ucap Tiara yang seolah menolak untuk Rafa jemput.
"Aku juga akan menemui kakek disana jadi sekalian saja kita berangkat berdua," ucap Rafa beralasan.
"Tapi......"
"Tidak bisakah kau tidak membantahku Tiara!" ucap Rafa memotong ucapan Tiara.
"Baiklah," balas Tiara pasrah lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
Satu jampun berlalu, Rafa menyimpan semua berkas yang baru saja dikerjakannya lalu keluar dari ruangannya untuk menjemput Tiara.
Tiara yang saat itu sudah menunggu Rafa di teraspun segera berlari kecil lalu masuk ke dalam mobil Rafa.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin menemui mama dan papamu?" tanya Rafa ada Tiara.
"Kak Rafa kepo sekali," balas Tiara tanpa menjawab pertanyaan Rafa.
"Jika orangtuamu tau kau tidak bisa menjaga kesehatanmu dengan baik, mereka pasti akan sangat marah padamu," ucap Rafa.
"Tolong berhentilah membicarakan hal itu kak Rafa!" balas Tiara kesal yang membuat Rafa terkekeh.
Sesampainya di area pemakaman Tiarapun segera berjalan ke arah makam mama dan papanya, sedangkan Rafa berjalan ke arah makam kakeknya.
Disana Tiara menceritakan tentang hari-hari yang dilewatinya, tentang banyak hal yang terjadi selama ia bekerja di kafe baru milik Rafa.
Saat Tiara baru saja beranjak dari duduknya, ia melihat Gita yang berjalan ke arahnya. Gita yang baru menyadari keberadaan Tiarapun seketika menghentikan langkahnya, ia menjadi ragu untuk melanjutkan langkahnya ke arah makam papa tirinya.
Gitapun memilih untuk berbalik arah dan berjalan keluar dari makam, sedangkan Tiara segera mengajar Gita dan menahannya.
"Kenapa kak Gita berbalik?" tanya Tiara dengan menahan tangan Gita.
Gitapun segera menarik tangannya dari Tiara dengan menundukkan kepalanya agar Tiara tidak melihat luka memar di wajahnya.
"Bukan urusanmu," balas Gita yang berusaha untuk menyembunyikan wajahnya dari Tiara.
Menyadari hal itu Tiarapun semakin penasaran dan begitu terkejut saat melihat bekas kemerahan dan memar di wajah Gita.
"Ada apa dengan kak Gita? kenapa wajah kakak memar?" tanya Tiara khawatir.
"Berhentilah ikut campur urusanku Tiara," balas Gita yang hendak berjalan pergi namun lagi lagi Tiara menahannya.
"Apa kak Bima yang melakukan hal ini?" tanya Tiara menerka, namun Gita hanya menarik tangannya dengan kasar dari Tiara lalu berjalan cepat meninggalkan Tiara tanpa mengucapkan apapun.
Tiara yang hendak mengejar Gita segera ditahan oleh Rafa.
"Itu kak Gita kak!" ucap Tiara pada Rafa.
"Biarkan dia pergi jika dia memang tidak ingin bertemu denganmu, kau tahu dia sedang hamil bukan? dia akan semakin berlari jika kau terus mengejarnya dan itu berbahaya untuk kehamilannya!" ucap Rafa.
"Aahh iya, Tiara tidak memikirkan hal itu," balas Tiara yang masih menatap Gita yang berjalan semakin jauh meninggalkannya.
"Ayo pulang, aku akan mengantarmu!" ucap Rafa lalu berjalan ke arah mobilnya diikuti Tiara.
__ADS_1