Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Rindu


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan lewat dari pukul 05.00 sore, tapi Tiara masih berada di tempat duduknya tanpa ada niatan untuk beranjak sedikitpun.


Sedangkan beberapa anggota tim divisi pemasaran yang lain sudah meninggalkan meja kerjanya masing-masing dan hanya ada beberapa yang tinggal, termasuk Tiara dan Dita.


"Tiara, kapan kau akan pulang?" tanya Dita berbisik pada Tiara.


"Entahlah, aku benar-benar tidak ingin pulang dari sini hehehe....." jawab Tiara.


"Apa kau tidak lelah Tiara? ini sudah lewat dari jam 05.00," tanya Dita yang sudah sangat bosan berada di tempat kerjanya.


"Energiku masih terisi full jadi aku masih memiliki banyak energi yang bisa aku habiskan disini, kau pulanglah dulu, mungkin sebentar lagi aku juga akan pulang," ucap Tiara.


"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu, kau jangan terlalu berlebihan Tiara, itu tidak baik untuk kesehatanmu!" ucap Dita.


"Iya aku mengerti," balas Tiara lalu melambaikan tangannya pada Dita yang berjalan meninggalkan meja kerjanya.


Saat Dita sedang berdiri di depan lift, ia melihat Putra yang berjalan menghampiri Tiara.


"Mereka seperti dekat sekali, pasti Pak Putra yang membantu Tiara untuk mendapatkan kesempatan keduanya, bisa jadi Pak Putra juga yang membuat Tiara lolos, menyebalkan sekali," ucap Dita kesal dalam hati.


Di sisi lain, Putra sengaja menghampiri Tiara karena ia sudah menunggu Tiara di lobi lebih dari satu jam.


"Kau menyebalkan sekali, aku sudah menunggumu lebih dari satu jam di lobby," ucap Putra pada Tiara yang masih tampak sibuk dengan beberapa berkas yang ada di meja kerjanya.


"Kenapa Pak Putra menunggu Tiara?" tanya Tiara.


"Lihatlah ini sudah jam berapa? kenapa kau belum pulang juga?" balas Putra.


"Ini hari pertama Tiara pak banyak hal yang harus Tiara pelajari," ucap Tiara.


"Aaahh begitu rupanya, sepertinya kau bersemangat sekali hari ini!"


"Tentu saja, menjadi bagian dari perusahaan ini adalah salah satu mimpi Tiara sejak lama, jadi Tiara akan menjalaninya dengan penuh semangat," balas Tiara.


"Baiklah kalau begitu, apa yang sedang kau kerjakan sekarang? kau bisa bertanya padaku jika mengalami kesulitan!" ucap Putra sekaligus bertanya.


"Kebetulan sekali, Tiara masih bingung bagaimana cara mengerjakan file ini, Tiara sudah berusaha menggunakan beberapa cara tetapi tidak menemukan hasil yang sama seperti yang ada di file ini," ucap Tiara sambil menunjuk sebuah file yang ada pada layar komputer di hadapannya.


"Ini memang sedikit rumit tapi jika kau mengetahui kuncinya kau pasti mudah mengerjakannya, lihatlah baik-baik!" ucap Putra lalu memperlihatkan pada Tiara bagaimana ia mengerjakan hal yang tidak dipahami oleh Tiara.


Tiarapun memperhatikan dengan cermat bagaimana Putra menyelesaikannya, beberapa kali Tiara mengajukan pertanyaan saat ia tidak paham dengan apa yang Putra jelaskan.


"Kuncinya ada disini, kau harus memahaminya dengan baik agar kau bisa mengerjakan yang lainnya," ucap Putra.


"Aaaahhh Tiara mengerti sekarang," balas Tiara dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, memahami apa yang baru saja Putra jelaskan padanya.


"Terima kasih Pak, sekarang Tiara bisa meninggalkan meja kerja ini dengan tenang," lanjut Tiara yang membuat Putra terkekeh.


"Jadi kau dari tadi tidak meninggalkan meja kerjamu karena memikirkan masalah ini?" tanya Putra yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Lain kali kau bisa menghubungiku jika ingin menanyakan sesuatu, tidak perlu berlama-lama berada disini jika memang pekerjaanmu sudah selesai," ucap Putra.


Tidak seperti sebelumnya, Tiara justru menggelengkan kepalanya seolah tidak menyetujui ucapan Putra.


"Sebelum Tiara meminta tolong pada Pak Putra, Tiara harus meminta tolong pada senior di divisi pemasaran terlebih dahulu, agar Tiara bisa cepat akrab dengan para senior dan anggota tim yang lain," ucap Tiara.


"Kau benar, memang lebih baik seperti itu," balas Putra menyetujui ucapan Tiara.


Setelah Tiara membereskan barang-barangnya, iapun meninggalkan meja kerjanya bersama Putra.


"Dimana kau tinggal? aku akan mengantarmu pulang," tanya Putra pada Tiara saat mereka sudah berada di lobby.


"Terima kasih Pak, tapi Tiara akan pulang sendiri, karena tempat tinggal Tiara sangat dekat dari sini," balas Tiara.


"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok!" ucap Putra yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.


"Tiara permisi," ucap Tiara lalu berjalan meninggalkan Putra yang masih berdiri di depan pintu utama perusahaan X.


Di sisi lain, Maya yang baru saja keluar dari mobilnya segera membawa langkahnya berjalan ke arah pintu utama. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat Tiara yang berjalan tidak jauh darinya.


"Tiara, apa itu benar Tiara?" tanya Maya pada dirinya sendiri.


"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Putra mengejutkan Maya.

__ADS_1


"Kau mengejutkanku saja," ucap Maya tanpa menjawab pertanyaan Putra.


Putra hanya terkekeh dan menanyakan maksud dari kedatangan Maya.


"Apa yang kau lakukan disini? tidak ada Rafa disini!"


"Aku tidak mencari Rafa," jawab Maya lalu berjalan memasuki pintu utama perusahaan X diikuti oleh Putra.


"Pak Adam juga tidak ada disini," ucap Putra yang sudah berjalan di samping Maya.


"Berhentilah mengikutiku Putra, kedatanganku disini bukan untuk mencari Rafa ataupun Pak Adam," ucap Maya yang kesal karena Putra mengikutinya.


"Hahaha lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya Putra penasaran.


"Kenapa kau sangat ingin tahu sekali? pergilah, ini bukan urusanmu!" ucap Maya yang enggan menjawab pertanyaan Putra.


"Apa ada yang sedang bermasalah disini? cepat katakan padaku, ini akan menjadi breaking news yang ditunggu-tunggu!"


Maya menghentikan langkahnya lalu membawa pandangannya dengan tajam ke arah Putra.


"Pergi atau aku akan menendangmu dari sini!" ucap Maya yang membuat Putra terkekeh.


"Oke baiklah, aku akan pergi, tapi pastikan kau akan memberitahuku jika ada seseorang yang bermasalah disini hahaha...." balas Putra lalu berjalan pergi meninggalkan Maya, sedangkan Maya melanjutkan langkahnya memasuki lift untuk menemui seseorang yang sudah menunggu di ruangannya.


Setelah keluar dari lift, Maya membawa langkahnya ke arah salah satu ruangan yang ada disana.


"Maaf aku sedikit terlambat," ucap Maya pada seseorang yang sudah menunggunya cukup lama.


Seseorang itu hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu membawa langkahnya pada Maya dan memeluk Maya untuk beberapa saat.


Tanpa Maya tahu, Putra yang ia pikir sudah pergi nyatanya kembali untuk melihat di lantai berapa Maya menghentikan liftnya.


"Dia berhenti di lantai 5? siapa yang ingin dia temui?" batin Putra bertanya dalam hati.


Putra kemudian membawa langkahnya pergi, mengendarai mobilnya meninggalkan perusahaan X.


Meskipun dia cukup penasaran tentang siapa yang Maya temui, namun ia tidak terlalu memikirkannya. Ia berpikir jika memang Maya memiliki klien yang ada di lantai 5, itu artinya seseorang yang berada di lantai 5 sedang memiliki masalah sehingga membutuhkan pengacara, yaitu Maya.


**


Tiara kemudian mengambil ponselnya dan baru menyadari jika ada satu pesan masuk dari Chika.


"Baru satu hari tidak bertemu denganmu sepertinya Pak Rafa sudah sangat merindukanmu, aahh menyedihkan sekali!"


Tiara tersenyum tipis lalu memutuskan untuk menghubungi Chika. Namun beberapa kali panggilannya tidak juga diterima oleh Chika.


Biiiiippp biiiipp biiiiipp


Ponsel Tiara berdering, sebuah pesan masuk dari Rafa yang membuat Tiara mengurungkan niatnya untuk kembali menghubungi Chika.


"Bagaimana hari pertamamu Tiara?"


Tanpa menunggu lama, Tiarapun membalas pesan Rafa.


"Menyenangkan."


Entah kenapa Tiara tersenyum senang saat Rafa mengirimkan pesan padanya, matanya yang terasa lelah dan mengantuk tiba-tiba saja menjadi cerah dengan rasa kantuk yang hilang seketika.


Waktupun berlalu, tak terasa Tiara dan Rafa saling berkirim pesan sampai larut malam, mereka sudah seperti ABG labil yang sedang jatuh cinta.


Hingga akhirnya rasa kantuk membuat Tiara terpejam sebelum dia sempat membalas pesan Rafa padanya.


**


Pagi di rumah Rafa.


Sebelum Rafa pergi ke kafe, ia menyempatkan waktunya untuk mengambil semua foto-foto pernikahannya di ruang tamu, memasukkannya ke dalam kardus dan menaruhnya di gudang.


Maya yang melihat hal itu hanya diam karena tidak ingin berdebat dengan Rafa. Maya lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah, mengendarai mobilnya berangkat ke tempat kerjanya.


Di sisi lain, Rafa yang baru saja mengendarai mobilnya keluar dari gerbang rumahnya melihat mobil lain yang berhenti di depan rumahnya, si pemilik mobil kemudian keluar dari mobil dan berjalan ke arah satpam di rumah Rafa.


Rafa mengingat laki-laki itu, dia adalah laki-laki yang pernah mengantar Maya pulang, pernah masuk ke rumahnya dan pernah dilihatnya berada di hotel bersama Maya.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan di sini pagi-pagi seperti ini?" tanya Rafa sambil memperhatikan laki-laki itu dari dalam mobilnya.


Laki-laki itu kemudian kembali ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Rafa.


"Dia pasti mencari Maya," ucap Rafa lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumahnya.


Ia tidak ingin terlalu memikirkannya karena ia tidak peduli apa hubungan laki-laki itu dengan Maya.


Sama seperti hari sebelumnya, sesampainya Rafa di kafe ia merasa ada sesuatu yang hilang dari kafenya, membuatnya tidak bersemangat untuk berjalan masuk ke dalam kafenya.


Rafa membawa langkahnya masuk ke dalam ruangannya tanpa memesan minuman kepada siapapun. Rafa kemudian menyalakan komputer di meja kerjanya lalu mencari rekaman CCTV dimana ia melihat Tiara yang masuk ke ruangannya untuk mengambil ponselnya saat ia tengah berada di rumah sakit.


Wajah cantik dan senyum yang membuat candu cukup untuk membuat suasana hati Rafa membaik. Entah kenapa tidak bertemu dengan Tiara membuatnya gelisah dan kehilangan fokusnya untuk mengerjakan pekerjaannya.


Namun sebagai orang dewasa yang harus tetap profesional pada pekerjaannya, Rafa berusaha untuk mengabaikan kegelisahannya dengan memutar rekaman CCTV itu berkali-kali.


Rafa tersenyum tipis sambil menutup rekaman CCTV yang dilihatnya.


"Aku benar-benar sudah seperti orang bodoh sekarang," ucap Rafa merutuki dirinya sendiri.


**


Di tempat lain, Tiara baru saja sampai di tempat kerjanya. Ia menyapa semua seniornya yang ada di divisi pemasaran. Karena sikap Tiara yang ceria dan humble, iapun mudah akrab dengan para senior yang ada disana, bahkan Tiara sudah mengenal beberapa seniornya dari divisi lain.


Karena pembawaannya yang menyenangkan, tidak sulit bagi Tiara untuk mengenal orang-orang baru di sekitarnya, namun tidak mudah baginya untuk bisa mendapatkan teman baik yang benar-benar tulus berteman dengannya, meskipun begitu ia tetap bersikap baik pada semua orang yang ada di sekitarnya.


"Kau pulang jam berapa kemarin Tiara?" tanya Dita pada Tiara.


"Tidak lama setelah kau pulang," jawab Tiara sambil menyalakan komputer di hadapannya.


"Aku membawa roti lagi hari ini, makanlah!" ucap Dita sambil memberikan sebuah roti pada Tiara.


"Terima kasih, aku akan memakannya nanti," ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Dita.


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10 siang, saat Tiara akan mengambil roti yang ada di mejanya tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.


"Ayo pergi ke ruangan meeting!" ucap senior Tiara.


"Baik kak," balas Tiara lalu kembali meletakkan rotinya di meja dan berjalan ke arah ruangan meeting bersama Dita dan beberapa senior yang lain.


Di ruangan meeting, Tiara mendengarkan dengan seksama apa yang tengah dibahas oleh manajer dan para seniornya. Ia juga mencatat beberapa hal yang dianggapnya penting.


Meetingpun selesai tepat saat jam makan siang.


Tiara Dita dan beberapa senior yang lainpun kembali ke meja kerja mereka masing-masing sebelum keluar untuk makan siang.


"Aaaahhh rasanya aku tidak akan punya waktu untuk makan siang hari ini!" ucap senior Tiara yang meja kerjanya berada tepat di belakang Tiara.


"Apa ada yang bisa Tiara bantu kak?" tanya Tiara menawarkan diri.


"Tidak perlu, kau pergi makan siang saja, ini hanya bisa dikerjakan olehku hahaha..." balas senior Tiara.


"Tiara bisa mempelajarinya jika diizinkan memperhatikannya," ucap Tiara.


"Lain kali aku akan mengajarimu, sekarang waktunya makan siang, jadi lebih baik kau pergi makan siang saja," balas senior Tiara.


"Dan jika kau tidak keberatan, bolehkah aku meminta roti milikmu?" lanjut senior Tiara bertanya sambil menunjuk roti yang ada di meja kerja Tiara.


"Boleh," balas Tiara lalu segera memberikan roti itu pada seniornya.


Dita yang melihat hal itu hanya bisa diam menahan kesal dalam dirinya lalu mengajak Tiara untuk pergi ke kantin.


"Kenapa kau memberikan rotimu padanya? padahal aku membuat roti itu untuk kuberikan padamu," protes Dita pada Tiara.


"Aku tidak mungkin tidak memberikannya karena dia mengerjakan pekerjaannya tanpa sempat makan siang di kantin," balas Tiara.


"Kau membuatku kesal!" ucap Dita dengan raut wajah yang tampak kesal.


"Hehehe maafkan aku, sebagai gantinya aku akan mentraktirmu makan siang hari ini," ucap Tiara.


"Hmmmm baiklah, aku akan memilih banyak makanan enak hari ini," balas Dita yang membuat Tiara terkekeh.


Setelah jam makan siang selesai, Tiara dan Ditapun kembali ke tempat kerja mereka dan mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.

__ADS_1


Saat semua tugas sudah dikerjakan oleh Tiara, kini Tiara mempelajari hal lain meskipun bukan merupakan desk jobnya. Bagi Tiara tidak ada waktu yang akan ia sia siakan untuk mempelajari banyak hal baru selama ia masih berada di kantor.


Sedangkan Dita masih berkutat pada pekerjaan yang belum juga ia selesaikan.


__ADS_2