Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Usaha Rafa


__ADS_3

Hari telah berganti, Tiara kembali disibukkan dengan banyaknya pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. Setelah jam kerjanya selesai Tiarapun segera merapikan meja kerjanya.


Tiara ingin pulang cepat karena ia harus segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Bintang.


Sudah beberapa hari Bintang dirawat di rumah sakit karena menurut penjelasan dokter Bintang menderita pneumonia yang bisa terjadi karena paparan asap rokok, tempat tinggal yang padat penduduk dengan banyak polusi udara dan lingkungan yang tercemar.


Setelah Bianca selesai merapikan meja kerjanya, iapun segera membawa langkahnya keluar dari ruangannya. Saat Bianca baru saja melewati lobby seseorang tiba-tiba memanggilnya.


"Tiara, tunggu!" ucap Rafa memanggil Tiara.


Tiarapun menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Rafa yang berjalan ke arahnya.


"Sepertinya ini milikmu!" ucap Rafa sambil memberikan sebuah buku catatan kecil pada Tiara.


Tiara menerima buku catatan kecil itu dan membukanya untuk memastikan jika buku catatan itu memang miliknya.


"Aaahh iya, ini milik Tiara, kenapa bisa ada pada Pak Rafa?" tanya Tiara.


"Saya menemukannya di makam orang tuamu, sepertinya kau menjatuhkannya disana," jawab Rafa.


"Aaahh iya, terima kasih sudah mengembalikannya pada Tiara, Tiara permisi," ucap Tiara lalu berjalan pergi namun Rafa segera membawa langkahnya berjalan di samping Tiara.


"Apa kau mau pulang?" tanya Rafa.


"Tidak pak, Tiara akan pergi ke rumah sakit," jawab Tiara.


"Ke rumah sakit? apa kau sedang sakit?" tanya Rafa khawatir.


"Tidak, Tiara ingin menjenguk keponakan Tiara yang sedang dirawat di rumah sakit," jawab Tiara.


"Aaahh begitu, jika kau mau aku bisa mengantarmu," ucap Rafa


"Terima kasih Pak, tapi tidak perlu, Tiara bisa pergi sendiri," balas Tiara.


"Dia dirawat di rumah sakit yang ada di dekat sini bukan? kebetulan aku juga ingin pergi kesana!"


"Iya Pak, tapi Tiara akan pergi sendiri, terima kasih tawarannya, Tiara permisi," ucap Tiara dengan sedikit menundukkan kepalanya kemudian berjalan cepat meninggalkan Rafa begitu saja.


"Hanya penolakan kecil seperti ini tidak akan membuatku menyerah Tiara, lihat saja apa yang bisa aku lakukan untuk kembali mendekatimu!" ucap Rafa dalam hati lalu berjalan ke arah tempat ia memarkir mobilnya.


Tiara yang sudah berada di halte segera menaiki bus yang akan membawanya ke rumah sakit. Sesampainya Tiara di rumah sakit ia begitu terkejut saat melihat Rafa yang sedang duduk di salah satu kursi yang ada disana.


"Kak Rafa, kenapa kak Rafa ada disini?" batin Tiara bertanya dalam hati.


Melihat Rafa yang duduk disana, Tiara hanya mengabaikannya dan melanjutkan langkahnya ke arah tempat Bintang dirawat.


Di sisi lain Rafa yang sudah lebih dulu sampai di rumah sakit memang sengaja menunggu kedatangan Tiara dan saat melihat Tiara datang Rafapun segera membawa langkahnya berjalan mengikuti Tiara.


Menyadari keberadaan Rafa di sampingnya membuat Tiara merasa sedikit tidak nyaman, tetapi ia memilih untuk diam tanpa mengatakan apapun dan tetap melanjutkan langkahnya ke arah ruangan tempat Bintang dirawat.


Sampai akhirnya Tiara berhenti di depan ruangan Bintang bersama Rafa yang masih mengikutinya dan berdiri di sampingnya.


"Apa yang Pak Rafa lakukan disini?" tanya Tiara yang pada akhirnya menanyakan maksud dari keberadaan Rafa yang sedari tadi mengikutinya.


"Menjenguk Bintang," jawab Rafa dengan tersenyum lalu masuk ke ruang rawat Bintang begitu saja.


Tiara hanya mengernyitkan keningnya melihat sikap Rafa, namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti Rafa masuk ke ruangan Bintang.


"Halo cantik, apa kabar?" tanya Rafa yang membawa langkahnya ke arah Bintang yang sedang berbaring di ranjangnya.


"Rafa, dari mana kau tau Bintang disini?" tanya Gita yang terkejut melihat kedatangan Rafa.


Namun setelah ia melihat Tiara masuk, Gitapun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


"Aahh kau datang bersama Tiara rupanya," ucap Gita.


"Bagaimana keadaan Bintang kak?" tanya Tiara sambil memberikan buah-buahan yang dibawanya pada Gita.


"Keadaannya sudah membaik tetapi masih belum diperbolehkan pulang oleh dokter," jawab Gita.


"Biarkan dia dirawat disini sampai dia benar-benar sembuh kak," ucap Tiara.


"Terima kasih Tiara, maaf sudah merepotkanmu," ucap Gita.

__ADS_1


"Jangan berbicara seperti itu, bukankah kita keluarga!" balas Tiara.


Gitapun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, ia merasa bersyukur karena Tiara masih bersikap baik padanya setelah apa yang ia lakukan pada Tiara.


"Terima kasih sudah datang menjenguk Bintang, Rafa, maaf karena aku belum bisa bekerja karena dokter belum mengizinkan Bintang untuk pulang," ucap Gita pada Rafa.


"Rafa mengerti kak, jangan terlalu terburu-buru untuk kembali ke kafe, kesembuhan bintang yang paling penting saat ini," balas Rafa.


"Terima kasih Rafa, sebenarnya sejak beberapa hari kemarin Bintang memang menjadi sangat pendiam, aku tidak tahu jika ternyata dia sedang menahan sakit, aku memang sangat bodoh menjadi orang tua, aku tidak menyadari jika anakku sedang sakit," ucap Gita dengan membawa pandangannya menatap Bintang yang terbaring di hadapannya.


"Semua orang tua pasti berusaha melakukan yang terbaik untuk anaknya dan Rafa yakin kak Gita juga seperti itu," ucap Rafa.


"Ooohh iya Rafa membawa ini untuk Bintang, semoga dia menyukainya," lanjut Rafa sambil memberikan sebuah paper bag pada Gita.


Gita kemudian membuka paper bag itu dan melihat boneka Barbie dengan gaun yang sangat bagus.


"Waaahh ini cantik sekali, terima kasih Rafa, Bintang pasti sangat menyukainya," ucap Gita.


Setelah beberapa lama mengobrol, Tiara kemudian berpamitan pulang diikuti oleh Rafa yang juga berpamitan pulang.


Rafa kemudian membawa langkahnya mengikuti Tiara yang sudah keluar terlebih dahulu.


"Kenapa Pak Rafa mengikuti Tiara?" tanya Tiara pada Rafa


"Aku tidak mengikutimu, kak Gita adalah pegawai di kafeku, bukankah wajar jika aku menjenguk anaknya yang sedang sakit," balas Rafa beralasan.


"Apa Pak Rafa juga akan melakukan hal yang sama yang sama pada pegawai kafe Pak Rafa yang lain?" tanya Tiara.


"Mmmm.... tentu saja, tapi hanya jika aku memiliki waktu luang hehehe...." jawab Rafa.


Tiara hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Rafa.


"Apa kau baru saja tersenyum?" tanya Rafa berbisik di telinga Tiara yang membuat Tiara segera menjaga jaraknya dengan Rafa.


"Tidak," jawab Tiara singkat sambil mempercepat langkahnya meninggalkan Rafa.


"Tapi aku melihatmu tersenyum tadi," ucap Rafa yang sudah berada di samping Tiara.


Tiara kemudian menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Rafa dengan tatapan kesal.


"Mmmmm.... ada, kau harus mengizinkanku untuk mengantarmu pulang," jawab Rafa dengan tersenyum.


"Tiara bisa pulang sendiri Pak, Tiara permisi," ucap Tiara lalu kembali berjalan meninggalkan Rafa.


Namun Rafa tidak menyerah, ia masih saja mengikuti langkah Tiara yang berjalan semakin cepat.


"Apa kau yakin akan menolakku lagi? apa kau lupa jika kau tadi menolakku dan aku sudah berada di rumah sakit sebelum kau datang, apa kau tidak takut jika aku akan berada di rumahmu lebih dulu sebelum kau sampai di rumah jika kau menolakku lagi?" tanya Rafa.


"Terserah Pak Rafa saja," balas Tiara tidak peduli lalu segera menghentikan taksi dan meninggalkan Rafa begitu saja.


Rafa hanya tersenyum tipis lalu segera masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya ke arah tempat tinggal Tiara.


"Aku harus sampai di rumahnya lebih dulu," ucap Rafa sambil menginjak pedal gasnya.


Setelah beberapa lama Rafapun bisa bernafas lega karena ia sudah sampai di tempat tinggal Tiara.


Dengan percaya diri Rafa membawa langkahnya untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah tempat Tiara tinggal.


Ia menunggu Tiara dengan penuh senyum, sampai berjam-jam kemudian senyum itu perlahan memudar.


"Kenapa dia belum juga sampai? apa dia sudah berada di dalam rumah dari tadi?" tanya Rafa pada dirinya sendiri.


"Tidak mungkin, pasti dia sudah menyalakan lampu rumahnya jika dia sudah sampai di rumah," ucap Rafa dengan menggelengkan kepalanya.


Waktu berlalu membawa malam semakin larut, namun belum ada tanda-tanda kedatangan Tiara. Meskipun begitu Rafa masih duduk di tempatnya, meskipun beberapa kali ia berdiri dan berjalan mondar-mandir disana karena merasa bosan.


"Aku meninggalkan pekerjaanku demi bisa mengikuti Tiara, sekarang aku sudah berada di rumahnya dan dia tidak juga datang, menyebalkan tapi aku suka dan aku tidak akan berhenti melakukan hal ini," ucap Rafa yang kembali berjalan mondar-mandir di teras rumah Tiara.


Tanpa Rafa tahu Tiara sebenarnya tidak pulang ke rumah setelah ia meninggalkan rumah sakit. Ia tidak ingin bertemu Rafa ketika ia sampai di rumahnya, itulah yang membuat Tiara meminta si sopir taksi untuk mengantarnya ke tempat Kevin bekerja.


Alhasil malam itu Tiara menemani Kevin di studio tempat Kevin bekerja.


"Apa kau tidak akan pulang Ra?" tanya Kevin pada Tiara yang sedari tadi menemaninya.

__ADS_1


"Apa maksudmu kau sedang mengusirku?" balas Tiara bertanya.


"Hahaha bukan begitu maksudku, tapi bukankah kau sangat lelah, pulang kerja kau pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Bintang dan kau langsung kesini sebelum kau sempat beristirahat di rumah," ucap Kevin.


"Bagaimana keadaan Bintang Ra?" lanjut Kevin bertanya.


"Kak Gita bilang keadaannya sudah membaik, tapi dia masih belum diperbolehkan untuk pulang," jawab Tiara.


"Aku sebenarnya merasa kasihan padanya, karena anak sekecil itu harus merasakan keadaan keluarganya yang tidak baik-baik saja, dia menjadi anak kecil yang sangat pendiam, jarang sekali aku mendengar suaranya ketika aku tidak sengaja bertemu dengannya," ucap Kevin.


"Setelah aku tinggal bersamanya nanti aku tidak akan membiarkannya hidup dengan kesedihan, aku harus membuat masa kecilnya penuh senyum seperti yang dulu mama dan papa lakukan padaku!"


"Kau memang tante yang baik, Bintang pasti senang memiliki tante sepertimu!"


"Aku kakaknya Kevin, aku tidak akan membiarkannya memanggilku tante, aku merasa sangat tua jika dia memanggilku tante!" protes Tiara yang membuat Kevin terkekeh.


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Kevin, sepertinya aku harus pulang sekarang!" ucap Tiara pada Kevin.


"Tunggu sebentar, aku akan mengantarmu pulang setelah aku menyelesaikan ini!" ucap Kevin.


"Tidak perlu mengantarku Kevin, aku akan pulang sendiri, lagi pula bukankah deadline pekerjaanmu besok pagi!"


"Kau bener, aku akan mengerjakannya lagi setelah aku mengantarmu," ucap Kevin.


"Aku bisa pulang sendiri Kevin, kau selesaikan saja pekerjaanmu!" ucap Tiara lalu beranjak dari duduknya.


"Apa kau yakin?" tanya Kevin yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Kalau begitu aku akan memesan taksi untukmu," ucap Kevin lalu memesan taksi untuk Tiara.


Tak lama kemudian taksi yang dipesan Kevinpun datang, Tiara segera meninggalkan Kevin untuk pulang ke rumahnya.


"Jika benar kak Rafa menungguku di rumah setelah pulang dari rumah sakit, pasti dia sekarang sudah pergi bukan?" batin Tiara bertanya dalam hati.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan Tiarapun sampai di depan rumah tempat tinggalnya.


Saat Tiara keluar dari taksi ia begitu terkejut karena melihat mobil Rafa yang terparkir di halaman rumahnya dan yang lebih membuatnya terkejut saat ia melihat Rafa yang sudah duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.


"Apa yang Pak Rafa lakukan disini?" tanya Tiara berjalan menghampiri Rafa.


"Menunggumu," jawab Rafa dengan tersenyum.


"Sejak kapan Pak Rafa disini? tidak mungkin sejak pulang dari rumah sakit tadi bukan?" tanya Tiara.


"Tentu saja sejak kau meninggalkan rumah sakit, aku pikir kau akan pulang tetapi sudah berjam-jam aku disini dan kau tidak juga pulang," jawab Rafa yang membuat Tiara begitu terkejut.


"Sebaiknya Pak Rafa pulang sekarang, ini sudah malam, bukankah tidak etis jika seorang atasan berada di rumah pegawainya pada jam seperti ini!" ucap Tiara.


"Kau benar, kalau begitu aku pulang dulu, kau cepatlah beristirahat dan jangan terlalu memikirkanku!" ucap Rafa dengan tersenyum lalu membawa langkahnya masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya pergi dari rumah Tiara.


Tiara hanya mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan sikap Rafa. Ia kemudian masuk ke dalam rumahnya, mandi dan segera merebahkan badannya di atas ranjang kamarnya.


"Akhirnya besok aku bisa bersantai tanpa memikirkan pekerjaan," ucap Tiara sebelum ia memejamkan matanya.


Haripun berganti, Tiara yang masih nyenyak dalam tidurnya dibuat terkejut oleh suara ketukan pintu dari depan rumahnya.


Tiara segara terbangun dari tidurnya dan melihat jam dindingnya yang masih menunjukkan pukul 06.00 pagi.


"Astaga siapa yang bertamu seperti ini!" ucap Tiara kesal lalu keluar dari kamarnya.


Dengan malas Tiara membuka pintu kamarnya dan begitu terkejut saat melihat Rafa yang sudah berdiri di depan rumahnya.


"Pak Rafa, apa yang Pak Rafa lakukan disini sepagi ini?" tanya Tiara.


"Walaupun ini adalah weekend kau tidak boleh bermalas-malasan Tiara, aku sudah membawa sepeda dan kita bisa bersepeda bersama ke arah taman," ucap Rafa sambil menunjuk dua sepeda yang sudah terparkir di halaman rumah Tiara.


"Tapi Tiara......"


"Kau tidak bisa menolak, ini adalah perintah dariku sebagai atasanmu, teman-teman yang lain sudah menunggu di taman, kita akan bersepeda bersama dari sana sebagai bentuk kampanye project baru kita tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup," ucap Rafa memotong ucapan Tiara.


"Bukankah itu hanya dilakukan para staf dari masing-masing divisi?" tanya Tiara.

__ADS_1


"Kau benar, sebagai atasan dari para staff bukankah seharusnya kita ikut turun langsung di lapangan?" balas Rafa yang membuat Tiara tidak bisa mengelak lagi.


Alhasil Tiarapun segera bersiap untuk bersepeda bersama Rafa ke arah taman.


__ADS_2