
Tiara membawa langkahnya dengan detak jantung yang berdetak cepat. Mendapat pelukan yang tiba tiba dari seseorang yang ingin ia lupakan, membuatnya begitu terkejut.
Rasa marah dan kesal menjadi satu bersama keterkejutan yang membuat dadanya berdebar.
Tiara bahkan merasa sesak dalam dadanya, oksigen di sekiranya seperti semakin menipis, membuatnya semakin kesal atas apa yang Rafa lakukan padanya.
"Kak Rafa benar benar keterlaluan, apa dia pikir aku perempuan yang mudah dia sentuh!" batin Tiara mengumpat dalam hati.
Tiara duduk di halte, memegang dadanya, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Namun belum reda emosinya, sebuah mobil berhenti di depannya dan Rafapun keluar dari mobil itu lalu menghampiri Tiara.
"Kita harus bicara Tiara, beri aku waktu untuk...."
"Tolong jangan menemui Tiara jika bukan untuk membahas tentang pekerjaan pak," ucap Tiara memotong ucapan Rafa.
"Apa kau tidak merasa jika kita harus menyelesaikan masalah kita?" tanya Rafa.
"Tiara rasa kita tidak memiliki masalah apapun, Tiara sudah menyelesaikan pekerjaan Tiara sesuai dengan deadline yang pak Rafa berikan dan Tiara juga sudah mengerjakannya dengan baik," balas Tiara.
"Berhenti membicarakan tentang pekerjaan Tiara, berhenti berpura pura tidak peduli padaku, aku tau kaupun merasakan hal yang sama sepertiku!"
"Hal yang sama seperti apa yang pak Rafa maksud? pak Rafa sama sekali tidak mengerti apapun tentang Tiara, jadi jangan berpikir jika apa yang pak Rafa pikirkan tentang Tiara itu benar," balas Tiara dengan tegas.
"Aku hanya ingin meminta maaf padamu Tiara, tentang semua hal buruk yang sudah terjadi, aku benar benar tidak bermaksud untuk mengecewakan apa lagi menyakitimu, aku ingin memulai semuanya dari awal dengan lebih baik, aku mohon beri aku kesempatan!" ucap Rafa.
Tiara hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia membawa pandangannya menatap jalan raya berharap bus yang ditunggunya akan segera tiba.
Ia benar benar tidak ingin mendengar apapun yang Rafa katakan, ia tidak ingin hatinya kembali perih mengingat semua rasa sakit dan kecewa yang dulu pernah Rafa berikan padanya.
Tak dapat dipungkiri dadanya yang berdebar kini semakin bergejolak. Bagaimanapun juga laki laki yang tengah memohon di dekatnya adalah laki laki yang sampai detik itu masih tersimpan di hatinya.
Bahkan setelah semua rasa sakit dan kecewaan yang ia rasakan, ia masih belum mampu menghilangkan nama Rafa dalam hatinya.
"Kau boleh memakiku, kau boleh memarahiku dan melampiaskan semua emosimu padaku Tiara, tapi beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya," ucap Rafa bersungguh-sungguh.
"Sebaiknya jalani hidup kita masing masing seperti sebelumnya kak, Tiara sudah melupakan kak Rafa, Tiara menganggap semua yang terjadi itu hanyalah mimpi buruk bagi Tiara," balas Tiara dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Tidak Tiara, aku tidak bisa melakukan hal itu dan aku yakin kaupun tidak bisa melakukannya, kita pasti bisa memperbaiki masa lalu kita asalkan kau memberiku kesempatan," ucap Rafa.
"Tiara sudah melakukannya, kedatangan Tiara kesini hanya demi karir Tiara, Tiara sama sekali tidak peduli dengan sesuatu yang kak Rafa sebut masa lalu itu, jadi tolong jangan pernah membicarakan hal itu lagi dengan Tiara," balas Tiara.
"Aku tau kau berbohong, mungkin kau memang kembali demi karirmu, tapi kau berbohong jika kau tidak peduli dengan masa lalu kita," ucap Rafa
"Tiara sudah melupakan semuanya, itu kenapa Tiara bisa berdiri di depan kak Rafa setiap hari, jika tidak pasti Tiara akan berusaha untuk menjauh," ucap Tiara.
"Jadi sekarang bagi Tiara kak Rafa adalah atasan tempat Tiara bekerja, tidak lebih dari itu, Tiara permisi," ucap Tiara lalu berjalan cepat menaiki bus yang berhenti di depannya.
Rafapun hanya bisa terdiam, menatap kepergian Tiara bersama bus yang mulai melaju menjauh darinya.
"Baiklah jika kau memang sudah melupakanku, aku akan memulainya dari start yang lain jika memang itu maumu," ucap Rafa lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya pergi.
**
Di sisi lain, Tiara yang sudah duduk di bus hanya terdiam dengan memegang dadanya yang terus saja berdebar.
Ia lega karena ia bisa menjauh dari Rafa, karena rasanya sangat tidak nyaman jika terlalu lama berbohong di hadapan Rafa.
Setelah beberapa lama bus melaju, buspun berhenti. Tiara membawa langkahnya turun lalu berjalan memasuki sebuah gang menuju ke arah tempat tinggal Gita.
Beberapa kali Tiara terdiam ketika ia berada di persimpangan. Ia berusaha mengingat dimana tempat Gita tinggal.
Hingga akhirnya iapun sampai di depan tempat tinggal Gita. Dari luar terdengar suara tangisan anak kecil yang Tiara yakin jika itu adalah suara tangisan Bintang.
Namun saat Tiara akan membawa langkahnya mendekat, tiba tiba seorang wanita berjalan mendahuluinya dengan penuh emosi.
Wanita itu menggedor pintu kos Gita dengan keras, tak peduli pada tangisan anak kecil di dalamnya.
"Laras, Gita, cepat bayar uang kos kalian, aku sudah memberi kalian waktu tapi kalian belum juga membayarnya!" teriak wanita itu.
Tak lama kemudian terlihat Laras keluar dari dalam kos itu dengan keadaan yang tampak jauh berbeda dengan saat terakhir kali Tiara bertemu Laras.
Tiara melihat mama tirinya itu kini tampak lebih kurus dan terlihat kerutan di beberapa bagian wajahnya.
__ADS_1
"Maaf Bu, saya janji setelah saya mendapatkan gaji bulan depan saya akan membayarnya, cucu saya sedang sakit, jadi...."
"Aku tidak peduli, jika kau tidak segera membayarnya kau dan Gita harus pergi dari tempat ini" ucap wanita itu memotong ucapan Laras.
"Saya akan membayarnya," sahut Tiara sambil membawa langkahnya ke arah wanita itu.
Laraspun begitu terkejut saat ia melihat Tiara di hadapannya. Namun tidak ada yang bisa katakan karena ia terlalu malu pada anak tiri yang pernah ia sia siakan itu.
"Berapa nomor rekening Anda? saya akan mentransfer uangnya," tanya Tiara pada wanita itu.
Wanita itupun memberikan nomor rekeningnya pada Tiara setelah ia memberi tahu berapa jumlah yang yang harus Tiara transfer.
Setelah mendapatkan yang yang diingkan, wanita itupun pergi.
"Terima kasih," ucap Laras ragu.
"Tiara dengar Bintang sedang sakit, apa tidak sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit?" tanya Tiara pada Laras.
"Tidak perlu, dia pasti akan sembuh setelah Gita mengompresnya," jawab Laras.
"Apa Tiara boleh melihat keadaanya?" tanya Tiara.
"Boleh, masuklah," balas Laras.
Tiarapun membawa langkanya masuk untuk melihat keadaan Bintang dan ia begitu terkejut saat tangannya menyentuh kening Bintang.
"Kak, demamnya sangat tinggi, sebaiknya kita bawa Bintang ke rumah sakit!" ucap Tiara pada Gita.
"Tidak tiara, mungkin sebentar lagi demamnya akan turun jika aku terus mengompresnya," balas Gita menolak.
"Tapi kasian bintang kak, dia pasti merasa tidak nyaman," ucap Tiara.
"Aku sudah tidak memiliki uang tabungan Tiara, gaji mama juga hanya cukup untuk kita membeli makan," ucap Gita.
"Kakak jangan memikirkan itu, kita bawa Bintang ke rumah sakit sekarang juga!" ucap Tiara lalu tanpa ragu menggendong bintang dan membawanya ke luar dengan diikuti oleh Gita dan Laras.
Sesampainya Bianca di rumah sakit dokterpun segera memeriksa keadaan bintang.
Setelah diperiksa oleh dokter di UGD, Bintang kemudian dipindahkan ke ruang rawat.
"Terima kasih Tiara, entah apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu," ucap Gita pada Tiara.
"Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Bintang kak, semoga keadaannya cepat membaik," balas Tiara.
"Tiara, mama ingin berbicara berdua denganmu," ucap Laras pada Tiara .
Tiarapun menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar dari ruang rawat bintang bersama Laras
"Tiara, mungkin apa yang mama katakan ini tidak akan ada artinya untukmu, tapi yang pasti mama dengan tulus meminta maaf padamu atas semua kesalahan mama di masa lalu, mama menyesalinya Tiara, mama benar benar menyesalinya," ucap Laras dengan kedua mata berkaca-kaca.
Tiara terdiam untuk beberapa saat. Kenyataan bahwa mama tirinya tidak pernah menyayanginya sejak dulu membuatnya cukup kecewa.
Kenyataan jika sebenarnya mama tirinya hanya mengincar harta sang papa, membuat Tiara benar benar kehilangan kepercayaannya pada mama tirinya.
"Kau boleh membenci mama, kau boleh memaki mama, mama juga tidak akan memaksamu untuk memaafkan Mama karena mama sadar kesalahan mama memang sudah sangat fatal," ucap Laras.
"Tapi mama mohon maafkan Gita, dia adalah korban dari keegoisan mamanya sendiri, dia menjadi jahat padamu karena pengaruh mama, jadi mama mohon maafkan Gita," lanjut Laras.
"Tiara sudah memaafkan semuanya ma, tidak ada alasan bagi Tiara untuk menyimpan dendam pada mama dan kak Gita," ucap Tiara.
"Apa kau juga memaafkan Mama, Tiara? tanya Laras yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara
"Terima kasih Tiara, terima kasih," ucap Laras lalu memeluk Tiara dengan erat.
Tiara memang belum benar benar melupakan hal buruk yang Mama tirinya lakukan, namun ia berusaha untuk membiarkan hal buruk itu menjadi bagian dari jalan hidup berbatu yang memang harus dilalui olehnya.
Ia ingin benar benar berdamai dengan masa lalunya, tidak hanya dengan Rafa tapi juga dengan keluarga tirinya, terlebih setelah ia melihat bagaimana keadaan keluarga tirinya saat itu.
Saat malam tiba, Tiarapun berpamitan untuk pulang karena ada hal lain yang harus ia lakukan.
Sesampainya Tiara di rumah, ia segera mandi dan berganti pakaian. Namun bukannya berisitirahat, Tiara justru keluar dari rumah untuk menemui seseorang yang beberapa saat lalu dihubunginya.
__ADS_1
Seseorang itu adalah orang kepercayaan sang papa yang dipercaya untuk mengelola bisnis sang papa.
Dengan menggunakan taksi, Tiara pergi ke salah satu rumah makan yang berada cukup jauh dari tempat tinggalnya hanya untuk menemui seseorang itu.
Ada hal penting yang akan Tiara bicarakan dengannya disana.
Sesampainya disana, Tiarapun dipersilahkan untuk masuk ke dalam, ke salah satu ruangan yang ada di rumah makan itu.
"Tiara, apa kabarmu Tiara?" tanya laki laki yang saat itu duduk di hadapan Tiara.
"Baik om, bagaimana dengan om?"
"Baik, rumah makan juga baik, semuanya berjalan lancar tanpa ada masalah."
"Tiara kesini karena ada sesuatu yang ingin Tiara bicarakan om, tentang rumah makan dan bisnis papa lainnya," ucap Tiara.
"Ada apa Tiara? katakan saja!"
Selama ini, Tiara meminta orang kepercayaan sang papa untuk membagi hasil dari bisnis yang ditinggalkan oleh sang papa.
50 persen dari hasil bersih seluruh bisnis papa Tiara akan diberikan pada beberapa panti asuhan dan 50 persen sisanya akan disimpan sebagai tabungan masa depan Tiara.
Tiara sama sekali tidak pernah menggunakan uang hasil bisnis sang papa karena ia lebih memilih untuk bekerja dan berjalan pada jalannya sendiri.
Namun saat ia mengetahui bagaimana keadaan keluarga tirinya, Tiara mulai memikirkan hal lain.
Ia menyampaikan pada orang kepercayaan sang papa jika dirinya ingin membagi 50 persen miliknya untuk Laras dan Gita.
"Apa kau yakin Tiara?"
"Tiara yakin om, sepertinya 20 persen untuk kak Gita dan Mama Laras sudah cukup bukan? Tiara masih memiliki 30 persen untuk tabungan masa depan Tiara," balas Tiara.
"Tapi mereka sudah sangat jahat padamu Tiara, apa pantas mereka mendapatkan ini?"
"Mereka sudah menyesalinya om dan Tiara yakin, jika papa masih ada papa juga pasti akan memaafkan mereka," jawab Tiara.
"Tiara juga ingin mengambil tabungan Tiara untuk membeli rumah," lanjut Tiara.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, tidak ada yang bisa om lakukan selain mengikuti apa yang kau mau!"
"Terima kasih banyak Om, tapi ada satu lagi yang Tiara inginkan," ucap Tiara
"Apa Tiara?"
"Tolong izinkan mama Laras untuk memegang satu bisnis papa," ucap Tiara yang membuat orang kepercayaan papanya hanya bisa menghela nafas.
"Apapun akan aku lakukan untukmu Tiara, selagi kau yakin dengan keputusan yang kau buat!"
"Terima kasih banyak Om, terima kasih," ucap Tiara senang.
Setelah Tiara mendapatkan uang tabungan dari hasil bisnis sang papa, esok harinya Tiarapun mendatangi rumah milik orang tuanya yang kini sudah ditempati oleh orang lain.
Tanpa basa basi Tiara mengatakan pada sang pemilik rumah jika ia ingin membelinya, berapapun harga yang diinginkan oleh sang pemilik rumah.
Alhasil rumah itupun dijual dengan harga yang jauh dari harga wajar dan tanpa ragu Tiara menerimanya.
Tiara dan si pemilik rumahpun mulai mengurus beberapa hal yang diperlukan untuk menjadikan rumah itu menjadi milik Tiara.
"Sebentar lagi Tiara akan kembali ke rumah kita ma, pa," ucap Tiara dalam hati sambil menatap rumah yang penuh kenangan bersama mama dan papanya.
"Tiara akan menulis kenangan baru di rumah ini bersama mama Laras, kak Gita dan Bintang, semoga mama dan papa bisa menerima keputusan Tiara," ucap Tiara dalam hati lalu membawa langkahnya pergi.
Tiara menaiki bus yang membawanya ke makam kedua orangtuanya. Seperti biasa, Tiara bercerita banyak hal di atas makam mama dan papanya.
Setelah beberapa lama, Tiarapun beranjak dan membawa langkahnya keluar dari area pemakaman.
Namun belum sempat ia melewati gapura makam, ia melihat Rafa berjalan masuk ke dalam makam.
Tiarapun berusaha mengabaikan Rafa dengan berjalan cepat melewati Rafa. Tak seperti dugaannya, Rafa ternyata mengabaikan Tiara juga.
Tiara menoleh ke belakang untuk beberapa saat dan mendapati Rafa yang berjalan ke arah malam kakeknya seolah tidak melihat Tiara disana.
__ADS_1
"Lebih baik seperti ini," ucap Tiara lalu membawa langkahnya ke arah halte.