Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Tangis di Bawah Hujan


__ADS_3

Tiara kembali menaruh buku-bukunya di atas meja dan membiarkan Rafa memeriksa dua paragraf yang baru saja dikerjakan oleh Tiara.


Tapi entah kenapa Tiara merasa sedikit gugup dan canggung, detak jantungnya tiba-tiba berdetak begitu cepat membuatnya berkali-kali harus meneguk minuman di hadapannya sampai habis tak bersisa.


"Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Bima, tapi yang pasti aku harap masalah itu tidak mengganggumu dalam menyelesaikan skripsimu," ucap Rafa sambil memeriksa skripsi Tiara dan menandai beberapa bagian yang harus direvisi.


"Iya kak, Tiara mengerti," balas Tiara yang sudah mulai bisa mengendalikan dirinya saat itu.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan dari Bima namun sengaja Tiara abaikan, hingga beberapa kali Bima menghubungi Tiara namun beberapa kali juga Tiara mengabaikannya. Aakhirnya Bima mengirimkan pesan pada Tiara.


"Tidak sabar bertemu denganmu besok pagi!"


Melihat pesan dari Bima, Tiara segera menghapusnya tanpa membukanya terlebih dahulu


"Sepertinya kau dan Bima cukup dekat, aku beberapa kali melihatmu bersama Bima di kampus," ucap Rafa.


"Tiara dan kak Bima sudah lama bertetangga," balas Tiara.


Rafa hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa berani mengatakan hal yang lebih jauh, apalagi menanyakan tentang hubungan Tiara dengan Bima yang sebenarnya.


Rafa merasa ia tidak berhak untuk ikut campur terlalu jauh pada hubungan Tiara dan Bima, asalkan Bima tidak menyakiti Tiara maka Rafa tidak akan ikut campur.


"Ini beberapa bagian yang harus kau revisi Tiara, kau harus menjelaskan dengan detail konklusi dari contoh permasalahan yang kau buat," ucap Rafa menjelaskan.


"Baik kak," balas Tiara lalu segera merevisi dua paragraf terakhir bab barunya.


Meskipun sebenarnya ia sudah sangat lelah saat itu tapi ia berusaha untuk segera menyelesaikan bab barunya dengan baik.


Melihat Tiara yang sudah tampak mengantuk, Rafapun berusaha untuk mengembalikan semangat Tiara.


"Kau menyukai EXO bukan? atau kau hanya menyukai salah satu membernya saja?" tanya Rafa yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Rafa.


"Kenapa kak Rafa tiba-tiba menanyakan hal itu?" balas Tiara bertanya.


"Hanya bertanya saja, aku tidak sengaja melihat jadwal konser mereka di Cina bulan depan," jawab Rafa.


"Iya mereka memang akan konser disana bulan depan, Tiara juga mengetahuinya karena Tiara memang menyukai EXO bukan hanya Do Kyungsoo," balas Tiara.


"Apa kau sudah pernah melihat konser mereka secara langsung?" tanya Rafa yang segera dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Tiara hanya menyukai mereka bermodalkan kuota, Tiara hanya bisa mensuport mereka melalui foto dan melihat semua movie klip mereka setiap hari, Tiara bahkan tidak memiliki lighstik dan banyak photo card seperti fans yang lain," jawab Tiara.


Rafa mengangguk anggukkan kepalanya mendengar jawaban Tiara.


"Lalu apa tujuanmu setelah lulus kuliah Tiara?" tanya Rafa.


"Tentu saja Tiara ingin bekerja sesuai bidang Tiara, Tiara ingin bekerja di perusahaan X," jawab Tiara.


"Kenapa perusahaan X?" tanya Rafa.


"Karena itu adalah perusahaan terbesar di kota ini dan kredibilitas perusahaan itu sangat tinggi, Tiara akan sangat bangga pada diri Tiara sendiri kalau Tiara bisa bekerja disana," jawab Tiara.


"Tapi kau tahu bukan seleksi masuk perusahaan itu sangat ketat?"


"Iya Tiara tahu, Tiara sudah memikirkan beberapa perusahaan lain yang akan menjadi tujuan Tiara setelah lulus jika memang Tiara tidak bisa bekerja disana," balas Tiara.


"Baiklah kalau begitu, aku akan memberikan challenge padamu agar kau bisa semakin bersemangat mengerjakan skripsimu," ucap Rafa yang membuat Tiara menghentikan jarinya yang dari tadi sibuk mengetik.


"Challenge? challenge apa maksud kak Rafa?"


"Jika kau bisa masuk ke perusahaan yang kau inginkan aku akan mengajakmu melihat secara langsung konser EXO," jawab Rafa yang membuat Tiara membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Kak Rafa pasti bercanda bukan?" tanya Tiara.


"Tidak, aku serius, dimanapun konser EXO nanti aku akan mengajakmu kesana, tapi itu jika kau bisa masuk ke perusahaan impianmu itu!"


"Tidak. itu tidak mungkin....." ucap Tiara dengan menggelengkan kepalanya.


"Apa kau tidak mempercayaiku?" tanya Rafa.


Tiara hanya terdiam dengan menatap raut wajah Rafa yang tampak serius saat itu, meskipun dalam hatinya ia mempercayai Rafa tetapi otak dan logikanya menolak untuk mempercayai apa yang Rafa ucapkan.


"Kak Rafa pasti berbohong agar Tiara segera menyelesaikan skripsi bukan?"


"Apa yang harus aku lakukan agar kau mempercayaiku?" tanya Rafa dengan serius yang membuat Tiara kembali terdiam melihat keseriusan Rafa.


"Kak Rafa benar-benar tidak berbohong? kak Rafa benar-benar tidak sedang bercanda? tolonglah kak.... ini sama sekali tidak lucu!"

__ADS_1


"Seleksi masuk ke perusahaan yang kau impikan itu sangatlah sulit Tiara, bahkan jika kau memiliki nilai yang cukup baguspun kau tidak akan bisa dengan mudah menjadi bagian dari perusahaan itu, jadi jika kau bisa masuk ke perusahaan itu maka kau juga akan mendapatkan hadiah yang besar dariku dan aku rasa melihat konser boyband kesayanganmu itu sudah menjadi hadiah yang cukup besar untukmu," ucap Rafa berusaha meyakinkan Tiara.


"Bagaimana jika kak Rafa tidak menepati janji?" tanya Tiara.


"Kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan," jawab Rafa tanpa ragu.


"Waaahhh kak Rafa benar-benar membuatku gila!" ucap Tiara sambil mengacak-acak rambutnya pelan.


Rafa hanya terkekeh melihat sikap Tiara saat itu.


"Kembali fokus pada skripsimu Tiara, bulan depan aku yakin kau akan mempercayai ucapanku!" ucap Tiara.


"Kenapa bulan depan?" tanya Tiara tak mengerti.


"Tunggu saja," jawab Rafa yang membuat Tiara semakin penasaran.


"Apa yang sebenarnya kak Rafa rencanakan, kenapa bulan depan? sekarang saja aku sudah mempercayainya," batin Tiara bertanya dalam hati.


"Fokuslah Tiara!" ucap Rafa sambil memukul kepala Tiara dengan buku, membuat Tiara seketika membuyarkan lamunannya dan mengaduh sambil menggosok gosok kepalanya.


"Padahal dia yang membuatku tidak fokus," gerutu Tiara pelan.


"Aku hanya berusaha menghilangkan kantukmu Tiara, aku tau kau sudah mengantuk tadi," balas Rafa membela diri.


"Jadi apa yang kak Rafa katakan tadi tidak serius? kak Rafa mengatakan hal itu hanya agar Tiara tidak mengantuk?" tanya Tiara.


"Aku serius Tiara, sungguh, tunggu saja bulan depan, aku yakin kau akan mempercayaiku!" jawab Rafa.


Dalam hatinya Tiara bernafas lega karena apa yang Rafa ucapkan bukan hanya bualan belaka. Entah kenapa ia bisa dengan mudah mempercayai ucapan Rafa saat itu.


Tiarapun kembali fokus mengerjakan bab barunya lalu menunjukkannya pada rafa untuk diperiksa


"Bagus, Bima pasti akan sangat bangga padamu," ucap Rafa setelah ia memeriksa hasil revisi Tiara.


"Tiara meminta tolong kak Rafa bukan untuk membuat bangga kak Bima," balas Tiara dengan menghela nafasnya.


Rafa hanya terkekeh lalu membantu merapikan buku buku Tiara yang ada di meja.


"Terima kasih sudah membantu Tiara kak, Tiara permisi," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Rafa.


Tiara kemudian keluar dari kafe dan kembali pulang ke rumah.


**


Sebelum jam 08.00 Tiara sudah sampai di kampus dan segera memasuki ruangan tempat ia akan melakukan bimbingan skripsi bersama Bima.


Setelah beberapa lama menunggu, Bimapun datang dan duduk di hadapan Tiara.


"Kenapa kau tidak pernah menerima panggilanku? kau bahkan tidak pernah membalas pesanku," tanya Bima pada Tiara.


"Maaf Pak, apa bisa kita mulai bimbingan skripsi hari ini?" balas Tiara bertanya dengan formal.


"Baiklah, lain kali kau harus membalas pesan dari dosenmu Tiara!" ucap Bima namun diabaikan oleh Tiara.


Tiara segera membuka file skripsinya dan menunjukkannya pada Bima. Bimapun memeriksa bab baru yang diketik Tiara.


Bima mengernyitkan keningnya karena bab baru Tiara sudah sangat sempurna bahkan lebih detail dari yang ia pikirkan.


"Kau tidak meminta seseorang untuk mengerjakan skripsimu bukan?" tanya Bima pada Tiara.


"Tentu saja tidak, Tiara bahkan mengerjakan bab baru ini sampai tengah malam, sepertinya tidak etis jika pak Bima menuduh Tiara seperti itu," balas Tiara.


"Baiklah, sudah tidak ada yang perlu di revisi lagi dari bab ini, mari kita bahas materi untuk bab selanjutnya," ucap Bima.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya dan memperhatikan setiap penjelasan Bima dengan fokus.


Namun tiba tiba Tiara teringat kebersamaanya bersama Bima sejak mereka masih masih kecil.


Ia tidak bisa melupakan begitu saja kedekatannya dengan Bima selama ini. Bima yang sudah sangat dekat dengannya memberikan begitu banyak memori yang tidak akan mudah untuk Tiara lupakan.


Tiara belajar banyak hal dari Bima, Bima juga yang selalu membantu dan menjaganya sejak ia masih kecil.


Namun semua bayang bayang masa lalu itu seolah memudar bersama fakta yang begitu menyakitkan untuk Tiara ingat.


"Bagaimana? apa ada yang kau tanyakan?" tanya Bima membuyarkan lamunan Tiara.


"Tidak, tidak ada," jawab Tiara yang berusaha untuk kembali fokus.


Setelah beberapa lama kemudian, bimbingan skripsipun selesai. Tiara merapikan buku buku dan laptopnya lalu memasukkannya ke dalam tas.

__ADS_1


"Tiara permisi," ucap Tiara yang hendak melangkah pergi namun ditahan oleh Bima.


Bima segera beranjak dari duduknya lalu berdiri di hadapan Tiara.


"Kenapa kita jadi seperti ini Tiara? kenapa kita seperti orang asing sekarang?" tanya Bima.


"Maafkan Tiara kak," balas Tiara sambil melepaskan tangan Bima darinya.


"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Tiara, jika memang berteman denganmu itu lebih baik maka aku tidak akan berharap apapun lagi darimu asalkan jangan menjauh dariku seperti ini," ucap Bima.


"Semua yang sudah terjadi tidak bisa diperbaiki lagi kak, Tiara sudah melupakan kak Bima jadi Tiara harap kak Bima juga melupakan Tiara, kita hanya sebatas dosen dan mahasiswi sekarang," ucap Tiara lalu melangkah pergi.


"Apa semudah itu kau melupakan semua tentang kita Tiara? lebih dri 20 tahun kita bersama dan sekarang kau memintaku untuk melupakannya? aku bahkan tidak yakin bahwa kau benar benar sudah melupakanku!" ucap Bima yang membuat Tiara terdiam beberapa saat.


Namun saat Bima akan menghampirinya, Tiara segera berlari pergi. Ia segera berlari pergi ke sembarang arah hanya agar tidak mendengar ucapan Bima lagi.


Jauh dalam hatinya ia merasa sedih karena hubungan baik dan kedekatannya bersama Bima harus berakhir menyakitkan seperti itu.


BRUUUUUKKKKK


Tiara terjatuh saat ia tidak sengaja menabrak perempuan di hadapannya.


"Tiara, apa kau tidak punya mata?" teriak Bella kesal.


"Aku tidak sengaja, maafkan aku," balas Tiara.


"Kau memang ceroboh sekali!"


Tiara hanya diam dan melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan ucapan Bella.


Tiara menunggu bus di halte, bukan untuk kembali ke kafe melainkan menemui kedua orangtuanya.


Tak lupa ia meminta izin pada Rafa terlebih dahulu.


"Maaf kak, Tiara izin terlambat datang, hanya hari ini saja, Tiara ingin menemui orangtua Tiara sebelum berangkat ke kafe!"


Tak butuh waktu lama, Rafapun membalas pesan Tiara.


"Berhati hatilah dan segeralah kembali ke kafe setelah menemui orang tuamu!"


"Baik pak," balas Tiara lalu segera menaiki bus yang berhenti di depannya.


Beberapa lama kemudian buspun berhenti. Tiara membawa langkahnya turun dari bus. Ia berjalan menyusuri jalanan sepi sampai ia tiba di depan sebuah pemakaman.


Tiara tersenyum lalu membawa langkahnya ke arah dua gundukan tanah tempat mama dan papanya berisitirahat untuk selamanya.


"Mama papa, maaf Tiara baru sempat datang," ucap Tiara sambil menaburkan bunga yang baru saja dibelinya.


Tiara kemudian menceritakan tentang pekerjaan barunya dan kesibukannya setelah ia keluar dari rumah.


Tiara juga menceritakan tentang semua kejadian antara dirinya, Gita dan Bima.


Tak terasa air matanya menetes begitu saja saat ia bercerita, namun Tiara segera menghapusnya dan kembali menyunggingkan senyumnya.


Setelah puas bercerita, Tiarapun beranjak dan berjalan keluar dari area pemakaman. Tepat saat itu hujan tiba tiba turun, membuat Tiara segera mengambil pelindung tasnya agar buku dan laptopnya tidak basah oleh hujan.


Tiara membiarkan dirinya basah kuyup oleh hujan, ia memanfaatkan hujan untuk menyamarkan air mata yang kembali menetes membasahi pipinya.


Di depan gapura pemakaman, sebuah mobil berhenti dan si pemilik mobil hanya diam memperhatikan Tiara dari dalam mobilnya.


"Jadi disini kau menemui orangtuamu," ucap Rafa dengan menatap Tiara yang hanya berdiri di bawah guyuran hujan.


Dengan langkah yang lemah, Tiara berjalan menyusuri jalanan sepi untuk menunggu bus di halte.


Badannya yang sudah basah kuyup tidak membuatnya berniat untuk berteduh terlebih dahulu. Ia membiarkan hujan membasahi dirinya, memberikan waktu bagi air matanya untuk luruh sepuasnya bersama air hujan yang turut membasahi dirinya.


Saat Tiara baru saja duduk di halte, Rafa menghentikan mobilnya di depan Tiara lalu membuka kaca mobilnya.


"Tiara, masuklah!" ucap Rafa yang membuat Tiara segera menghapus air mata yang bercampur hujan di pipinya.


"Tapi Tiara sangat basah kak," balas Tiara.


"Tidak masalah, masuklah!" ucap Rafa.


Tiarapun segera mendekat ke mobil Rafa lalu segera masuk dan duduk di samping Rafa.


"Kenapa kak Rafa bisa ada disini?" tanya Tiara.


"Aku baru saja menemui seseorang dan tidak sengaja melihatmu," jawab Rafa.

__ADS_1


"Maaf kak, mobil kak Rafa jadi basah dan kotor sekarang," ucap Tiara yang merasa sungkan.


"Tidak masalah, aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu, kau harus segera mandi dan berganti pakaian!" ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


__ADS_2