Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Rintik Hujan Malam


__ADS_3

Tiara masih berada di basement bersama Rafa. Meskipun ia tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi antara Rafa dan Putra, tetapi Tiara cukup menyayangkan sikap Putra yang dilihatnya kasar pada Rafa.


"Apa kakak baik-baik saja?" tanya Tiara mengkhawatirkan Rafa.


"Aku baik-baik saja, apa yang kau lakukan di basement Tiara?" jawab Rafa sekaligus bertanya.


"Tiara akan mengambil flashdisk teman Tiara yang tertinggal di mobil," jawab Tiara.


"Apa kau sudah mengambilnya? jika sudah ayo kembali bersama!"


"Tiara belum mengambilnya, kak Rafa duluan saja," balas Tiara.


"Aku akan menunggumu," ucap Rafa.


"Tidak perlu kak, kak Rafa duluan saja," balas Tiara sambil mendorong Rafa agar Rafa pergi dari basement terlebih dahulu.


Rafapun meninggalkan basement meninggalkan Tiara yang berjalan ke arah mobil temannya untuk mengambil flash disk.


Setelah mendapatkan flashdisk yang dicarinya, Tiarapun berjalan meninggalkan basement untuk kembali ke meja kerjanya.


"Kenapa lama sekali? aku baru saja akan menyusulmu, kau baik baik saja bukan?" tanya teman Tiara khawatir.


"Tiara baik-baik saja kak," jawab Tiara.


"Lebih baik kau bekerja di mejamu saja, jangan terlalu banyak berjalan kemana-mana!" ucap teman Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Tiara kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya, namun ia masih tidak bisa mengendalikan kepalanya untuk bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya.


Selain tentang posisi Rafa di perusahaannya, Tiara juga memikirkan tentang hubungan Putra dan Rafa.


Melihat raut wajah Putra yang tampak menahan emosi saat di basement, membuat Tiara berpikir tentang masalah serius yang terjadi di antara Putra dan Rafa, karena selama ia mengenal Putra ia tidak pernah melihat Putra tampak semarah itu.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka berdua, aku tidak bisa membenarkan apa yang dilakukan kak Putra pada kak Rafa, tapi aku juga tidak bisa membela kak Rafa begitu saja, karena aku sama sekali tidak tahu permasalahan mereka yang sebenarnya," ucap Tiara dalam hati.


Tiara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, ia berusaha untuk mengembalikan konsentrasinya agar bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik.


Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore saat Tiara baru saja menyelesaikan pekerjaannya, ia pun segera merapikan barang-barang miliknya dan bersiap untuk meninggalkan meja kerjanya.


Saat Tiara tengah berjalan ke arah lift, seseorang tiba-tiba menghampiri Tiara.


"Sepertinya keberuntunganmu sudah berakhir!" ucap Dita yang berjalan di samping Tiara.


Tiara hanya menoleh sekilas ke arah Dita tanpa mengatakan apapun.


"Mungkin kau pikir kau beruntung karena terpilih untuk menjadi model iklan produk baru, tapi ternyata kau tidak seberuntung itu," ucap Dita sambil membawa pandangannya memperhatikan kaki Tiara lalu dengan sengaja menendang kruk yang Tiara pegang.


Kruk itupun terjatuh bersama Tiara yang tiba tiba kehilangan keseimbangannya.


"Uuuppsss sorry hehe...." ucap Dita lalu berjalan membiarkan Tiara yang masih bersimpuh di lantai.


Tiara hanya tersenyum tipis lalu mengambil kruknya untuk menghalangi langkah Dita dan seketika Ditapun tersandung kruk milik Tiara lalu terjatuh bersimpuh di hadapan Tiara.


"Sorry!" ucap Tiara lalu berdiri dan masuk ke dalam lift.


Tiara melambaikan tangannya pada Dita yang masih bersimpuh di lantai, sampai pintu lift tertutup dan membawa Tiara turun ke lobi, meninggalkan Dita yang masih terdiam di lantai dengan kesal.


Tiara membawa langkahnya meninggalkan kantor dengan masih menggunakan kruk yang membantunya berjalan.


"Aku tidak jahat bukan? aku hanya tidak ingin dia merasa bebas menindasku sesuka hatinya jika aku mendiamkannya," ucap Tiara dalam hati memikirkan apa yang baru saja dia lakukan pada Dita.


Sesampainya Tiara di rumahnya, ia melihat Putra yang sudah berdiri di depan mobilnya.


"Tiara pikir kak Putra tidak akan datang," ucap Tiara.


"Apa kau masih ingin bertemu denganku?" tanya Putra.


"Tentu saja, silakan masuk," jawab Tiara lalu membuka pintu gerbang rumahnya, membiarkan Putra masuk bersamanya.


Mereka berduapun duduk di teras rumah Tiara.


"Aku pikir kau sudah tidak mau bertemu denganku," ucap Putra.


"Kenapa kak Putra berpikir seperti itu?" tanya Tiara.


"Kau terlihat marah padaku saat di basement tadi," jawab Putra.

__ADS_1


"Tidak, Tiara tidak marah, hanya sedikit terkejut saja melihat apa yang kak Putra lakukan pada kak Rafa, tetapi Tiara tidak akan ikut campur pada masalah kalian berdua," ucap Tiara.


"Apa yang kau lihat dan apa yang kau pikirkan tentang aku dan Rafa itu tidak sama dengan apa yang sebenarnya terjadi Tiara, aku harap kau tidak salah paham," ucap Putra.


"Tiara mengerti kak, Tiara tidak akan terlalu memikirkan itu, tapi Tiara harap kak Putra dan kak Rafa bisa menyelesaikan masalah kalian berdua dengan baik," balas Tiara.


"Aku juga berharap seperti itu Tiara," ucap Putra.


"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Tiara tanyakan pada kak Putra tentang kak Rafa, itu kenapa Tiara ingin bertemu dengan kak Putra sekarang," ucap Tiara.


"Apa yang ingin kau tanyakan tentang Rafa?" tanya Putra.


"Apa benar kak Rafa sekarang menjadi CEO perusahaan X? jika benar, itu artinya kak Rafa adalah anak dari Pak Adam dan tante Rossa, apa benar seperti itu kak?" tanya Tiara.


"Iya itu benar, sudah sejak lama Om adam menginginkan Rafa untuk menggantikan posisinya, tapi Rafa selalu menolaknya dan baru sekarang dia tiba-tiba saja mau bergabung di perusahaan menggantikan om Adam," jawab Putra menjelaskan.


"Apa kak Rafa memiliki adik atau kakak perempuan?" tanya Tiara.


"Tidak, Rafa anak satu-satunya Om Adam dan tante Rossa," jawab Putra.


"Anak satu-satunya..... tapi kenapa Tante Rossa berkata bahwa tante Rossa tidak memiliki anak laki-laki? apa maksudnya?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Ada apa Tiara? kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Putra membuyarkan lamunan Tiara.


"Ada beberapa hal yang janggal yang tidak aku ketahui, tapi bolehkah aku menanyakannya pada kak Putra?" batin Tiara bertanya.


"Tiara.... apa yang kau pikirkan Tiara?" tanya Putra yang melihat Tiara hanya terdiam dalam lamunannya.


"Aahhh tidak..... Tiara hanya ingin tau saja, Tiara sudah cukup lama mengenal kak Rafa tapi Tiara baru tahu jika kak Rafa adalah anak dari pemilik perusahaan besar," jawab Tiara beralasan.


"Dari dulu Rafa memang ingin terlepas dari bayang-bayang orang tuanya, keinginannya sejak lama adalah memiliki bisnisnya sendiri tanpa bantuan orang tuanya dan akhirnya dia berhasil mewujudkan keinginannya itu, walaupun sekarang dia harus menjadi bagian dari perusahaan untuk menggantikan posisi papanya," ucap Putra.


"Sepertinya kak Putra sangat dekat dengan keluarga kak Rafa," ucap Tiara.


"Kau benar, mereka sudah seperti keluarga bagiku, mereka sangat baik padaku dan menganggapku seperti anak mereka sendiri," balas Putra.


"Lalu bagaimana dengan orang tua kak Putra? apa mungkin karena orang tua kak Putra dan orang tua kak Rafa berteman?" tanya Tiara yang tiba tiba penasaran tentang Putra.


"Orang tuaku sudah meninggal sejak aku masih kecil dan kau benar, orang tuaku memang berteman dengan orang tua Rafa," jawab Putra yang membuat Tiara terkejut.


"Maaf kak, Tiara tidak bermaksud...."


"Tiara sama seperti kak Putra, orang tua Tiara juga sudah meninggal," jawab Tiara dengan tersenyum tipis.


"Mereka pasti sangat bangga padamu Tiara," ucap Putra.


"Semoga saja," balas Tiara.


"Aahh iya, bagaimana keadaan kakimu? kenapa kau bisa terluka seperti ini?" tanya Putra.


Tiarapun menjelaskan apa yang terjadi padanya yang membuat kakinya terluka.


"Maafkan aku Tiara, seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian di bukit," ucap Putra.


"Itu bukan salah kak Putra, Tiara saja yang tidak berhati-hati saat menuruni bukit," balas Tiara.


Setelah beberapa lama mengobrol, Putrapun meninggalkan rumah Tiara.


**


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Tiara tengah membaca buku di teras rumah.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumah Tiara dan tak lama kemudian seseorang keluar dari mobil itu.


Tiara tersenyum senang lalu segera meraih kruknya untuk berjalan ke arah gerbang rumahnya.


Tiara kemudian mempersilahkan Rafa untuk masuk, mereka berduapun duduk di teras rumah bersama minuman dan makanan ringan yang Rafa bawa.


"Kenapa kak Rafa tiba-tiba datang tanpa menghubungi Tiara?" tanya Tiara.


"Apa harus ada alasan untuk bisa menemuimu di rumah?" balas Rafa bertanya.


"Tidak, kak Rafa bisa kesini kapanpun kak Rafa mau," jawab Tiara.


"Baguslah kalau begitu, cobalah ini menu baru di kafe," ucap Rafa sambil memberikan minuman pada Tiara.

__ADS_1


Tiarapun menerimanya lalu meminumnya.


"Hmmm... enak sekali kak," ucap Tiara menikmati minuman pemberian Rafa.


"Aaahh iya, ada yang ingin Tiara katakan pada kak Rafa," lanjut Tiara.


"Tentang apa?" balas Rafa bertanya.


"Tentang posisi kakak di perusahaan, Tiara baru tahu jika kak Rafa adalah CEO baru pengganti Pak Adam, Tiara minta maaf karena baru mengetahuinya dan maaf jika Tiara bersikap kurang sopan saat di kantor," jawab Tiara.


"Tidak perlu meminta maaf, aku memang sengaja tidak memberitahumu agar kau tahu dengan sendirinya," ucap Rafa.


"Tapi ada yang sedikit mengganjal di kepala Tiara kak," ucap Tiara.


"Apa itu?" tanya Rafa.


"Jika kak Rafa adalah anak satu-satunya pak Adam dan tante Rossa, lalu kenapa Tante Rossa pernah mengatakan pada Tiara bahwa Tante Rossa tidak memiliki anak laki-laki?" tanya Tiara yang membuat Rafa begitu terkejut.


"Apa maksudmu? apa kau mengenal mama?" tanya Rafa.


"Sepertinya Tiara sudah pernah bercerita pada kak Rafa tentang tante Rossa, Tiara pernah ikut makan malam untuk merayakan ulang tahun Tante Rossa bersama kak Putra," jawab Tiara yang membuat Rafa semakin terkejut.


"Jadi tante Rosa yang Tiara ceritakan itu adalah mama, itu artinya mama menyukai Tiara dan berniat untuk menjodohkan Tiara denganku? aaargghh sial, kenapa situasi ini sangat tidak tepat, kenapa Tiara harus datang saat aku sudah menikah dengan Maya!" batin Rafa kesal sambil mengusap wajahnya kasar.


"Ada apa kak? kenapa kak Rafa terlihat sangat kesal?" tanya Tiara.


"Aku hanya kesal karena kita baru bertemu sekarang, kenapa tidak sejak lama saja kita bertemu dan saling mengenal seperti ini," jawab apa yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya tak mengerti.


"Apa Mama mengatakan sesuatu yang lain padamu?" lanjut Rafa bertanya pada Tiara.


"Tidak ada, Tiara sudah menceritakan semuanya pada kak Rafa," jawab Tiara.


"Itu artinya Tiara belum tahu tentang hubunganku dengan Maya," ucap Rafa hati.


"Tiara hanya tidak mengerti kenapa Tante Rossa berkata jika Tante Rossa tidak memiliki anak laki-laki, padahal kakak adalah anak satu-satunya dan Tante Rossa dan Pak Adam," ucap Tiara.


"Jangan terlalu memikirkan ucapan mama, mungkin mama sedang marah padaku karena aku terlalu sibuk dengan kafe," balas Rafa beralasan.


"Jika memang begitu seharusnya kak Rafa bisa membagi waktu dengan baik, habiskan waktu kakak dengan orang tua selagi mereka masih ada di samping kakak karena jika mereka sudah pergi tidak ada yang bisa kakak lakukan selain hanya berbicara sendiri tanpa ada jawaban dari mereka," ucap Tiara sambil menundukkan kepalanya mengingat kepergian kedua orang tuanya.


"Kau benar, aku akan berusaha untuk membagi waktuku dengan baik," balas Rafa.


Tiba tiba langit bergemuruh dan hujan turun dengan lebat tanpa aba aba. Tiarapun segera meraih kruknya dan berusaha untuk berdiri, sedangkan Rafa segera membopong Tiara masuk ke dalam rumah, membuat Tiara begitu terkejut dengan apa yang Rafa lakukan padanya.


Rafa kemudian mendudukkan Tiara di sofa yang ada di ruang tamu lalu kembali keluar untuk mengambil kruk milik Tiara dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Kenapa tiba-tiba hujan, mengganggu saja!" gerutu Rafa sambil mengibaskan rambutnya yang sedikit basah lalu duduk di samping Tiara.


Sedangkan Tiara hanya terdiam berusaha mengatur degup jantungnya yang berdetak begitu kencang.


Sama seperti langit yang tengah bergemuruh menjatuhkan rintik hujan, hati Tiara pun tengah bergemuruh menjatuhkan titik-titik embun yang menyejukkan hatinya.


Ia semakin tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat itu. Rasa bahagia yang selalu menelusup ke dalam hatinya saat ia sedang bersama Rafa membuatnya seolah enggan untuk berada jauh dari Rafa.


"Apa yang sedang kau pikirkan Tiara? kenapa kau hanya diam?" tanya Rafa membuyarkan lamunan Tiara.


Tiara hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.


Rafapun ikut tersenyum lalu menggeser posisi duduknya mendekat ke arah Tiara.


"Rambutmu basah!" ucap Rafa sambil menyisir rambut Tiara dengan tangannya.


"Kakak juga," balas Tiara yang ikut menyisir rambut Rafa dengan tangannya.


Tanpa sadar, mereka duduk berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Tiara berusaha untuk bisa menahan gejolak dalam dadanya yang membuat jantungnya berdetak begitu cepat.


Sama halnya dengan Tiara, Rafa pun merasakan hal yang sama. Dalam hatinya ia menginginkan Tiara menjadi miliknya tak peduli bagaimana statusnya saat itu.


Ia hanya tidak ingin Tiara menjadi milik orang lain terlebih ia tahu jika Putra juga menginginkan Tiara.


"Aku tahu ini salah, tetapi aku tidak bisa membiarkanmu menjadi milik orang lain Tiara, setidaknya kau tahu bahwa aku mencintaimu," ucap Rafa dalam hati.


"Bolehkah aku mencintaimu Tiara?" tanya Rafa dengan menatap kedalam mata Tiara yang saat itu duduk di hadapannya.


Tiara yang mendengar pertanyaan Rafa begitu terkejut, membuatnya terdiam tanpa bisa mengatakan apapun.

__ADS_1


Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja telinganya dengar.


"Aku tidak tahu sejak kapan aku memiliki perasaan ini, tapi yang pasti aku baru menyadari jika aku mencintaimu dan tidak ingin kau dimiliki oleh laki-laki lain selain aku," ucap Rafa mempertegas ucapannya.


__ADS_2