Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Pindah


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan malam yang semakin larut, Rafa dan Tiarapun berjalan meninggalkan kafe. Rafa mengendarai mobilnya ke arah tempat kost Tiara yang berada tidak jauh dari kafe.


"Dimana tempat tinggalmu?" tanya Rafa saat ia menghentikan mobilnya di depan sebuah gang kecil.


"Di dalam gang itu kak, mobil kakak tidak akan bisa masuk jadi Tiara turun disini saja," jawab Tiara lalu turun dari mobil Rafa.


Rafapun ikut turun dari mobilnya, berniat untuk mengantarkan Tiara pulang sampai ke depan pintu kosnya.


"Kenapa kak Rafa turun?" tanya Tiara saat melihat Rafa turun dari mobilnya dan berjalan ke arahnya.


"Aku akan mengantarmu," jawab Rafa lalu berjalan mendahului Tiara.


Tiara hanya tersenyum lalu mengikuti langkah Rafa.


"Memangnya kak Rafa tahu dimana kamar kost Tiara?" tanya Tiara.


"Aku akan tahu jika aku membuka pintu kos disini satu persatu," jawab Rafa yang membuat Tiara terkekeh.


"Stop, ini tempat tinggal Tiara!" ucap Tiara saat ia sudah sampai di depan kamar kosnya.


Rafa mengangguk-anggukkan kepalanya memperhatikan setiap detail tempat kost Tiara.


"Apa kau nyaman tinggal disini?" tanya Rafa.


"Tiara harus membiasakan diri kak, setelah Tiara memiliki cukup banyak tabungan Tiara akan pindah ke tempat yang lebih nyaman," jawab Tiara.


"Tempat ini sangat kecil sekali, dia pasti tidak nyaman tinggal disini," ucap Rafa dalam hati.


"Kak Rafa pulanglah, ini sudah sangat malam!" ucap Tiara pada Rafa.


"Baiklah, aku pulang dulu!" ucap Rafa lalu berjalan kembali ke arah ia memarkirkan mobilnya di depan gang kecil.


Setelah Rafa menghilang dari pandangannya, Tiarapun membawa langkahnya masuk ke dalam kamar kosnya.


Sedangkan Rafa segera mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Rafa memikirkan tentang bagaimana caranya agar Tiara bisa pindah ke tempat yang lebih nyaman.


"Aku tidak mungkin membeli rumah untuknya bukan? sepertinya itu terlalu berlebihan, lagi pula Tiara pasti juga tidak akan menerimanya begitu saja!"


Jari-jari Rafa mengetuk setir mobilnya sembari memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk membantu Tiara.


Beberapa meter sebelum Rafa sampai di rumahnya, ia melihat Maya yang keluar dari rumah lalu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di depan rumah dan tak lama kemudian mobil itupun pergi.


"Dia sering sekali keluar malam akhir-akhir ini, sepertinya dia juga tidak pulang sampai pagi," ucap Rafa memperhatikan sikap Maya beberapa hari terakhir.


Rafa memang tidak peduli pada semua aktivitas yang Maya lakukan, namun sikap Maya yang tiba-tiba berubah sedikit memberikan tanda tanya di kepalanya.


Sudah lebih dari satu minggu Rafa memperhatikan Maya yang sering keluar malam dan belum pulang saat Rafa berangkat ke kafe di pagi hari.


Ia bahkan tidak tahu apakah Maya bekerja atau tidak setiap harinya. Namun Rafa tidak ingin terlalu memikirkannya karena memang sejatinya ia tidak mempedulikan apapun yang Maya lakukan di luar sana.


Setelah Rafa membaringkan dirinya di ranjang kamarnya, Rafa menghubungi temannya yang bekerja sebagai agen properti. Rafa berencana membeli sebuah rumah sederhana yang berada tidak jauh dari perusahaan X.


Ia berencana untuk meminta Tiara pindah ke rumah itu dengan biaya sewa yang cukup ringan karena ia tahu jika Tiara tidak akan mungkin menerima permintaan Rafa dengan mudah.


"Aiapkan saja berkasnya besok, aku akan menemuimu!" ucap Rafa pada temannya setelah ia memilih rumah yang sesuai dengan keinginannya.


**


Hari telah berganti, seperti biasa Rafa mempersiapkan dirinya untuk pergi ke kafe. Baru saja Rafa membuka pintu rumahnya, ia melihat Maya yang berjalan ke arah rumah dengan sempoyongan.


Rafa yang masih berdiri memperhatikan Maya tiba-tiba melihat Maya terjatuh dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


Rafapun segera berlari mendekati Maya dan membantu Maya masuk ke dalam rumah.


"Siapa kau?" tanya Maya sambil mendorong Rafa yang baru saja membuka pintu kamarnya.


"Kau benar-benar sangat mabuk, berapa banyak alkohol yang sudah kau minum?" gerutu Rafa melihat Maya yang tampak sangat kacau saat itu.


"Apa kau suamiku? apa kau mencintaiku suamiku? tapi sayangnya aku tidak mencintaimu hehehe....."


"Aku juga tidak mencintaimu," ucap Rafa membalas ucapan Maya yang sudah melantur karena mabuk.


Saat Rafa akan melepaskan sepatu Maya, Maya tiba-tiba mendorong Rafa, membuat Rafa jatuh terduduk di lantai.

__ADS_1


"Pergilah, mau bukan suamiku, lagi pula aku tidak mencintaimu dan kau juga tidak mencintaiku lalu untuk apa kau mempedulikanku seperti ini!" ucap Maya.


"Baiklah, aku tidak akan mempedulikanmu lagi," balas Rafa lalu beranjak dan keluar dari kamar Maya.


Rafa kemudian berjalan ke arah dapur untuk menemui bibi yang bekerja di rumahnya.


"Bi, tolong lepaskan sepatu Maya dan ganti pakaiannya sebelum dia tidur, saya harus segera pergi ke kafe," ucap Rafa pada bibi.


"Baik Tuan," balas bibi lalu berjalan masuk ke kamar Maya sedangkan Rafa segera membawa langkahnya keluar dari rumah.


Namun sebelum ia mengendarai mobilnya meninggalkan rumah ia menghampiri satpam yang bekerja di rumahnya terlebih dahulu.


"Pak, apa Maya tadi pulang bersama laki-laki yang semalam menjemputnya?" tanya Rafa memastikan karena ia tidak melihat mobil laki-laki itu saat Maya baru saja pulang.


"Tidak Tuan, non Maya pulang dengan menggunakan taksi," jawab satpam.


"Baik Pak, terima kasih," ucap Rafa lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumahnya.


"Laki-laki yang tidak bertanggung jawab," ucap Rafa dengan tersenyum tipis.


Sesampainya Rafa di kafe, iapun segera berkutat dengan pekerjaannya sebelum seseorang datang menemuinya.


Rafa kemudian keluar dari ruangannya untuk menemui seseorang yang sudah menunggunya di lantai 2.


"Ini berkas-berkasnya, kau bisa memeriksanya," ucap teman Rafa sambil menyerahkan sebuah map pada Rafa.


Rafa kemudian memeriksa berkas itu satu persatu lalu menandatanganinya tanpa ragu.


"Apa aku bisa melihat rumah itu sekarang?" tanya Rafa.


"Tentu saja bisa," jawab teman Rafa.


Rafa dan temannya kemudian meninggalkan kafe, menuju ke arah rumah baru yang akan Tiara tempati.


Sesampainya di rumah itu, Rafapun berkeliling ke setiap sudut rumah memperhatikan setiap detail rumah yang akan Tiara tempati agar Tiara merasa nyaman tinggal disana.


Rumah satu lantai yang sederhana itu hanya memiliki satu kamar tidur dengan kamar mandi di dalamnya, kamar mandi di luar, dapur, ruang tamu dan halaman kecil di depannya.


"Apa kau bisa lebih cepat mengurusnya? karena rumah itu akan segera ditempati," tanya Rafa.


"Aku akan mengusahakannya, kemungkinan awal bulan depan rumah itu sudah bisa ditempati," jawab teman Rafa.


"Baiklah segera hubungi aku jika rumah itu sudah siap untuk ditempati," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh temannya.


**


Hari yang ditunggu Rafa telah tiba, rumah yang baru dibelinya kini sudah sah menjadi miliknya. Rafa kemudian menghubungi Tiara berniat untuk mengajak Tiara bertemu di kafe tempat mereka sering bertemu.


Setelah beberapa lama menunggu Rafapun melambaikan tangannya pada gadis cantik yang berjalan anggun ke arahnya.


"Apa kak Rafa sudah memesan makanan? Tiara sangat lapar karena tidak sempat makan siang saat di kantor hehehe...."


Rafa kemudian memanggil waiters dan membiarkan Tiara untuk memilih menu yang diinginkannya.


"Jaga kesehatanmu Tiara, jangan terlalu bekerja keras sampai mengabaikan kesehatanmu," ucap Rafa mengingatkan.


"Banyak pekerjaan yang harus segera Tiara selesaikan kak, karena ada dua teman kerja Tiara yang cuti jadi Tiara dan yang lainnya harus mengerjakan pekerjaan mereka," balas Tiara.


"Itu bukan alasan untukmu tidak makan siang, jika kau sampai sakit maka kau akan merepotkan teman kerjamu yang lain seperti yang terjadi saat ini," ucap Rafa.


"Iya kak Tiara mengerti," balas Tiara yang seolah sudah tidak memiliki energi untuk berdebat dengan Rafa.


Setelah makanan dan minuman pesanan Tiara datang, Tiara dan Rafapun menikmati makan malam mereka.


"Sebenarnya aku ingin bertemu denganmu disini karena ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Rafa pada Tiara.


"Tentang apa?" tanya Tiara.


"Tentang tempat tinggalmu, bisakah kau pindah dari tempat tinggalmu yang sekarang?" jawab Rafa sekaligus bertanya.


"Kenapa kak Rafa tiba-tiba meminta Tiara untuk pindah?" balas Tiara bertanya.


"Aku memiliki teman yang rumahnya ada di dekat sini, dia sekarang tinggal di luar negeri jadi tidak ada yang mengurus rumahnya, kau bisa menempati rumahnya jika kau mau," jawab Rafa yang sengaja berbohong agar Tiara tidak menolaknya.

__ADS_1


"Pasti biaya sewanya sangat mahal," balas Tiara.


"Tidak terlalu mahal karena itu hanya rumah kecil yang sederhana, lagi pula temanku tidak benar-benar membutuhkan uang dari hasil dia menyewakan rumahnya, dia hanya ingin rumah miliknya ditempati dan dirawat oleh seseorang," ucap Rafa.


"Mmmm.... Tiara akan memikirkannya dulu kak," balas Tiara.


"Memangnya apa yang membuatmu ragu? bukankah lebih nyaman jika tinggal di rumah daripada di kos satu petak seperti saat ini?" tanya Rafa.


"Kak Rafa benar, tetapi tinggal di kos satu petak itu jauh lebih murah dibanding dengan menyewa rumah, walaupun kak Rafa bilang tidak terlalu mahal tapi tetap saja lebih mahal daripada biaya kos Tiara saat ini, jadi Tiara harus memikirkannya terlebih dahulu," ucap Tiara menjelaskan.


Rafa kemudian menjelaskan jika biaya sewa rumah itu sama dengan biaya kos Tiara setiap bulannya, karena tanpa Tiara tahu Rafa sudah mencari tahu tentang biaya kos Tiara setiap bulan.


"Kak Rafa serius? kenapa murah sekali? apa jangan-jangan itu rumah berhantu?" tanya Tiara tak percaya.


"Sudah kubilang dia sebenarnya tidak menginginkan uang sewa rumahnya, jadi dia memberikan harga yang sangat murah pada siapapun yang mau tinggal dan merawat rumahnya," jawab Rafa berusaha meyakinkan Tiara.


"Jika memang begitu bukankah banyak orang yang berebut untuk tinggal di rumah itu?" tanya Tiara.


Rafa menghela nafasnya karena merasa Tiara terlalu banyak bertanya padanya, namun Rafa harus bisa menjawab semua pertanyaan Tiara dengan jelas agar Tiara mau pindah ke rumah itu.


"Dia adalah temanku Tiara, jadi dia memberitahuku lebih dulu tentang rencananya untuk menyewakan rumahnya, jadi belum ada yang tahu tentang hal ini selain kau dan aku," ucap Rafa menjelaskan.


"Aaahhh begitu...." balas Tiara dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jadi bagaimana? apa kau mau pindah?" tanya Rafa.


"Tiara harus melihat tempatnya dulu kak, siapa tahu benar-benar ada hantu di rumah itu hehehe...." jawab Tiara.


"Tidak ada hal seperti itu disini Tiara, jika kau mau kita bisa pergi kesana sekarang juga!" ucap Rafa.


"Benarkah? kalau begitu ayo kita kesana sekarang!" ucap Tiara bersemangat.


Rafa dan Tiarapun meninggalkan kafe menuju ke rumah yang baru saja dibeli oleh Rafa.


Sesampainya disana Rafa turun dari mobilnya, menggeser gerbang rumah yang tidak terlalu tinggi lalu memasukkan mobilnya di halaman rumah dan memasuki rumah itu bersama Tiara.


"Hanya ada satu kamar dan dua kamar mandi disini, satu kamar mandi di dalam kamar dan 1 kamar mandi di dekat dapur," ucap Rafa menjelaskan sembari mengelilingi rumah itu bersama Tiara.


Setelah menyusuri setiap sudut rumah itu Rafa dan Tiarapun duduk di teras rumah.


"Bagaimana menurutmu? apa ini cukup nyaman untukmu?" tanya Rafa pada Tiara.


"Ini lebih dari cukup untuk Tiara kak, dengan harga yang sangat miring Tiara bisa mendapatkan rumah yang senyaman ini," jawab Tiara yang tertarik untuk pindah ke rumah itu.


"Dan lagi rumahnya tidak terlalu besar, jadi Tiara tidak akan terlalu lelah untuk membersihkannya hehehe...." lanjut Tiara.


"Jika begitu kapan kau akan siap untuk pindah?" tanya Rafa.


"Mmmmm..... mungkin minggu depan setelah masa sewa Tiara di kos yang lama selesai," jawab Tiara.


"Baiklah, hubungi aku jika kau sudah siap untuk pindah, aku akan membantumu!" ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


**


Satu minggupun berlalu, dengan dibantu Rafa Tiara memindahkan barang-barangnya ke tempat tinggalnya yang baru. Tak lupa Tiara memberitahu Kevin jika dia sudah berpindah tempat tinggal.


Setelah membereskan barang-barangnya dibantu dengan Rafa, Tiara dan Rafapun duduk di teras rumah yang kini menjadi tempat tinggal Tiara.


"Anggap ini sebagai rumahmu sendiri Tiara, aku harap kau bisa nyaman tinggal disini!" ucap Rafa pada Tiara.


"Iya kak, terima kasih sudah membantu Tiara untuk tinggal di tempat yang lebih nyaman," balas Tiara.


"Jika kau membutuhkan satpam dan asisten rumah tangga kau bisa memberitahuku, karena kesibukanmu di kantor pasti sudah banyak menyita waktumu," ucap Rafa.


"Tidak perlu kak, Tiara lebih senang tinggal sendirian, Tiara akan membagi waktu Tiara untuk bekerja dan membereskan rumah, lagi pula wilayah ini cukup aman jadi Tiara tidak membutuhkan asisten rumah tangga apalagi satpam," balas Tiara.


"Baiklah kalau begitu, aku harap kau bisa tinggal disini dengan nyaman," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.


Tiara dan Rafa masih menghabiskan waktu mereka di teras rumah sembari mengobrol, membicarakan banyak hal, tidak hanya tentang pekerjaan tapi juga tentang masa depan yang mereka impikan.


Sesekali canda tawa terdengar saat salah satu dari mereka menceritakan kekonyolan mereka yang pernah terjadi di masa lalu.


"Aku harap aku selalu bisa melihat senyum itu dari wajahmu Tiara," ucap Rafa dalam hati sambil memperhatikan Tiara dari samping.

__ADS_1


__ADS_2