Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Menunggu Kevin


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang ke tempat tinggalnya, Tiara hanya terdiam memikirkan Gita. Ia bisa melihat dengan jelas memar dan bekas kemerahan di pipi Gita.


Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, antara Mama Laras dan Bima yang melakukan hal itu pada Gita. Namun Tiara tahu bagaimana mama Laras sangat menyayangi Gita, jadi tidak mungkin jika Mama Laras yang melakukan hal itu pada Gita.


"Apa benar kak Bima yang melakukan hal itu pada kak Gita?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Apa yang sedang kau pikirkan Tiara?" tanya Rafa membuyarkan lamunan Tiara.


"Tiara sedang memikirkan kayak Gita kak, sepertinya kak Gita sedang tidak baik-baik saja," jawab Tiara.


"Kenapa kau masih memikirkannya? apa kau lupa apa yang sudah dia lakukan padamu?" tanya Rafa.


"Tiara ingat, Tiara juga sangat mengingat bagaimana Tiara merasakan kasih sayang seorang kakak dari kak Gita, walaupun pada akhirnya Tiara tau jika semua itu hanyalah kebohongan, tapi itu tidak bisa membuat Tiara melupakan bagaimana hangatnya kasih sayang seorang kakak," balas Tiara.


"Kau tidak membencinya?" tanya Rafa.


"Tidak, Tiara sama sekali tidak membenci kak Gita, Tiara hanya kecewa dan kekecewaan Tiara pada kak Gita sekaligus membuat Tiara kecewa pada diri Tiara sendiri," jawab Tiara.


"Kenapa?" tanya Rafa.


"Jika saja Tiara tidak menjalin hubungan dengan kak Bima, mungkin kak Gita tidak akan semakin membenci Tiara, keputusan Tiara untuk menjalin hubungan dengan kak Bima adalah keputusan yang paling Tiara sesali seumur hidup Tiara," jawab Tiara panjang.


"Tapi bukankah kau mencintainya?" tanya Rafa penuh selidik.


Tiara terdiam dengan menundukkan kepalanya, ia tidak segera menjawab pertanyaan Rafa karena sejujurnya ada pergulatan batin dalam dirinya tentang perasaannya pada Bima yang sebenarnya.


Bertahun-tahun Tiara menyimpan perasaan cintanya pada Bima, bertahun-tahun juga Bima memberikan kasih sayang dan perhatian padanya yang membuatnya semakin berharap pada Bima.


Hingga pada suatu hari takdir memberikan sebuah kesempatan untuk Tiara memilih, apakah melanjutkan hubungannya yang salah atau merelakan cinta yang sudah ada dalam dekapannya pergi.


Dengan bodohnya ia mengambil keputusan yang pada akhirnya menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.


Namun tak dapat dipungkiri semua hal yang sudah terjadi antara dirinya dan Bima tidak bisa ia lupakan dengan mudah.


Kebenciannya pada Bima setelah apa yang Bima lakukan padanya nyatanya tidak mampu menghapus semua kenangan indah yang pernah mereka lalui berdua.


"melihat sikapmu yang seperti ini, membuatku yakin jika kau masih mencintainya," ucap Rafa dalam hati saat melihat Tiara yang hanya terdiam dengan menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jarinya.


"Kau sudah berjalan jauh melewati banyak hal yang sudah menjatuhkanmu Tiara, aku harap tidak akan ada lagi sesuatu yang membuatmu terjatuh, jika memang ada aku harap kau bisa bangkit kembali dengan lebih kuat," ucap Rafa yang membuat Tiara membawa pandangannya ke arah Rafa.


"Kau sudah membuat keputusan yang baik dengan meninggalkan mereka, aku tidak bermaksud untuk membuatmu menjauhi mereka semua hanya saja aku tidak ingin mereka membuat senyummu pudar seperti dulu," lanjut Rafa.


Tiara hanya terdiam mendengarkan ucapan Rafa, ia tidak tahu harus berkata seperti apa.


"Aku ingin kau menjalani kehidupanmu dengan lebih bahagia Tiara, aku tidak ingin ada seorangpun yang menyakitimu terlebih merenggut senyum ceria milikmu," ucap Rafa dengan menatap ke dalam mata Tiara saat ia menghentikan mobilnya tepat saat lampu merah.


Tiarapun hanya terdiam, mereka saling menatap untuk beberapa saat hingga akhirnya lampu lalu lintas menyala hijau dan Rafa segera mengendarai mobilnya sebelum bunyi klakson mobil lain mengganggunya.


Tiarapun segera mengalihkan pandangannya dari Rafa, berusaha untuk tidak berpikir jauh tentang ucapan Rafa padanya.


Merekapun kembali terdiam hingga akhirnya Rafa sampai di depan rumah tempat tinggal Tiara.


"Terima kasih sudah mengantar Tiara kak," ucap Tiara sambil memegang pintu mobil Rafa, namun sebelum ia mendorongnya, Rafa menahan pintu mobilnya yang dipegang oleh Tiara.


"Ada yang ingin aku katakan padamu!" ucap Rafa pada Tiara.


"Aa.... apa?" tanya Tiara yang tiba tiba gugup.


Posisi Rafa yang masih memegang pintu di samping Tiara membuat Rafa begitu dekat dengan Tiara.


"Aku memang suka melihatmu tersenyum ceria, aku suka melihat kekonyolanmu tetapi bukan berarti kau harus menyembunyikan kesedihanmu dariku, jadi tolong jangan berusaha menyembunyikan apapun dariku," ucap Rafa dengan raut wajah serius menatap Tiara dengan jarak yang sangat dekat.


Tiarapun hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun karena entah mengapa lidahnya seolah kelu karena degupan jantungnya yang berdetak sangat kencang saat itu.


"Berjanjilah Tiara!" ucap Rafa yang seolah menuntut janji pada Tiara.


"Tiara.... janji.....," balas Tiara yang berusaha untuk bisa mengendalikan kegugupannya saat itu.


Rafa tersenyum lalu mengacak-acak rambut Tiara kemudian membuka pintu mobilnya. Tiarapun segera keluar dari mobil lalu berlari masuk ke dalam rumah tanpa berbalik ke arah Rafa sedikitpun.


"Ada apa dengannya?" tanya Rafa pada dirinya sendiri melihat sikap Tiara yang tidak seperti biasanya.


Rafa kemudian mengendarai mobilnya ke arah kafe keduanya, sedangkan Tiara yang berlari masuk ke rumah segera membuka pintu kamarnya dan menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya.

__ADS_1


Ia memegang dadanya yang masih berdegup kencang bahkan setelah ia menjauh dari Rafa.


"Aaahhh rasanya aku hampir saja kehabisan nafas," ucap Tiara sambil mengibaskan kedua tangannya di depan wajahnya dengan berusaha menarik nafasnya pelan-pelan dan menghembuskannya perlahan.


"Aku seperti baru saja meminum kopi, rasanya aku seperti akan pingsan sekarang," ucap Tiara yang masih berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Apa yang terjadi padamu? apa kepalamu pusing? lagi apa kau...."


"Chika, sejak kapan kau disana?" tanya Tiara memotong ucapan Chika yang tiba-tiba sudah ada di dalam kamarnya.


"Baru saja, apa kau merasa pusing? apa kau lupa minum obatmu?" jawab Chika sekaligus bertanya.


"Tidak, aku baik-baik saja, kenapa kau bertanya seperti itu?" balas Tiara yang segera beranjak dari ranjangnya.


"Baru saja kau bilang jika kau akan pingsan," jawab Chika.


"Aaahh itu.... aku.... aku hanya bergurau hehehe....." ucap Tiara sekenanya.


"Kau pasti terlalu banyak membaca buku sampai pusing, berhentilah memaksakan dirimu sendiri Tiara, kesehatanmu jauh lebih penting!" ucap Chika lalu menaruh satu cup minuman di atas meja Tiara.


"Apa ini?" tanya Tiara mengambil cup minuman yang ada di mejanya.


"Menu baru yang ada di kafe, aku sengaja membawanya untukmu, tenang saja itu sama sekali tidak mengandung kafein," jawab Chika lalu berjalan keluar dari kamar Tiara.


"Aahh ya aku masuk ke kamarmu karena kau tidak menutup pintu kamarmu," lanjut Chika lalu berjalan meninggalkan kamar Tiara begitu saja.


"Terima kasih minumannya," ucap Tiara setengah berteriak lalu menutup pintu kamarnya.


**


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan dari Kevin membuatnya segera menerima panggilan itu.


"Halo Ra, apa kau sedang bekerja?" tanya Kevin.


"Tidak, aku sedang di rumah sekarang, apa kau mau kesini?" jawab Tiara sekaligus bertanya.


"Iya, bisakah kau menungguku di kafe?"


Karena Tiara tau perjalanan dari rumah Kevin sampai ke kafe sekitar 2 jam, Tiarapun melanjutkan untuk membaca buku.


Setelah lebih dari satu jam berkutat dengan buku di tangannya, Tiarapun beranjak dari ranjangnya lalu meletakkan buku yang tadi dibacanya, kemudian bersiap-siap untuk pergi ke kafe.


Di bawah cerahnya sinar bulan malam itu, Tiara membawa langkahnya ke arah kafe. Sesampainya disana ia menyapa teman-temannya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia berjalan naik ke lantai 2 untuk menunggu Kevin.


Satu jam berlalu namun tidak ada tanda-tanda kedatangan Kevin. Tiarapun mulai bosan dan hanya diam dengan memainkan ponselnya.


"Kau benar-benar membuatku kesal!" ucap Tiara lalu mencari nama Kevin di penyimpanan kotaknya, berniat untuk menghubunginya namun sayangnya tiba-tiba ponsel Tiara berkedip dan padam.


"Aaarrghhh bodohnya, aku lupa mengisi daya ponselku!" ucap Tiara kesal pada dirinya sendiri.


Alhasil Tiarapun hanya bisa terdiam menunggu Kevin datang. Setidaknya ia bisa menatap cahaya bulan dari tempatnya duduk untuk mengurangi kekesalannya pada Kevin.


Waktupun berlalu, kini Tiara benar-benar sudah sangat kesal karena hampir 2 jam ia menunggu Kevin tidak juga datang.


Di sisi lain Rafa yang baru saja meninggalkan kafe dan akan masuk ke dalam mobilnya tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melihat Tiara yang ada di lantai 2.


"Apa yang dia lakukan disana?" tanya Rafa sambil melihat jam yang ada di tangan kirinya.


Rafa kemudian membawa langkahnya untuk kembali masuk ke kafe dan berjalan cepat ke arah lantai 2 untuk menghampiri Tiara.


"Apa yang kau lakukan disini? apa kau tidak tahu ini sudah jam berapa?" tanya Rafa pada Tiara yang saat itu terkejut melihat kedatangan Rafa yang tiba tiba.


"Kenapa kak Rafa ada disini?" balas Tiara bertanya yang membuat Rafa semakin kesal.


"Apa kau serius dengan pertanyaanmu itu?" tanya Rafa yang membuat Tiara terkekeh karena menyadari kebodohan dari pertanyaannya pada Rafa.


"Tiara sedang menunggu Kevin kak, mungkin sebentar lagi dia akan datang," ucap Tiara.


"Sejak kapan kau ada disini? ini sudah sangat malam Tiara!"


"Mmmmm.... Tiara disini sejak 2 jam yang lalu hehehe....." balas Tiara yang membuat Rafa hanya bisa berdecak kesal.

__ADS_1


"Ayo pulang, aku akan mengantarmu!" ucap Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Apa kau sudah menghubunginya?" tanya Rafa yang kembali dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


Rafa hanya bisa menghela nafasnya kasar lalu duduk di depan Tiara dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Kevin.


"Halo Kevin, kau dimana?" tanya Rafa tanpa basa-basi setelah Kevin menerima panggilannya.


"Sedang di jalan Pak, ada apa Pak Rafa menghubungi saya?" jawab Kevin sekaligus bertanya.


"Tiara sudah menunggumu di kafe hampir 2 jam, kapan kau akan sampai ini? sudah sangat malam!"


"Saya sudah mengirim pesan pada Tiara jika saya tidak bisa menemuinya sekarang, saya sudah berusaha menghubunginya tapi tidak bisa!" ucap Kevin menjelaskan.


"Kenapa tiba tiba tidak bisa? kau sudah membuat Tiara menunggumu lama Kevin!"


"Saya tidak punya pilihan pak karena sepertinya kak Bima mengikuti saya," balas Kevin.


"Baiklah kalau begitu, memang lebih baik jika kau tidak datang kesini sekarang," ucap Rafa lalu mengakhiri panggilannya pada Kevin.


"Kevin tidak akan kesini," ucap Rafa pada Tiara.


"Kenapa?" tanya Tiara.


"Apa kau tidak membawa ponselmu? dia sudah mengirim pesan padamu!"


"Ponsel Tiara mati hehehe....." balas Tiara sambil menunjukkan ponselnya yang sudah mati.


"Sampai kapan kau akan selalu ceroboh Tiara...." ucap Rafa sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Jangan membahas Tiara, kak Rafa bilang Kevin tidak akan datang, kenapa?"


"Dia bilang Bima mengikutinya, jadi dia tidak bisa menemuimu sekarang agar Bima tidak tau keberadaanmu saat ini," jawab Rafa menjelaskan.


"Kak Bima?" tanya Tiara mengulangi ucapan Rafa tentang Bima.


"Iya, jadi sekarang lebih baik kau pulang, aku akan mengantarmu!" ucap Rafa.


"Kak Rafa duluan saja, Tiara akan pulang sendiri!"


"Tidak, aku akan mengantarmu!" ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya dan menarik tangan Tiara.


Tiarapun terpaksa membawa langkahnya mengikuti Rafa meninggalkan kafe.


"Kau ingat janjiku padamu bukan?" tanya Rafa setelah ia dan Tiara berada di dalam mobil.


"Janji apa kak?" balas Tiara bertanya.


"Janjiku tentang konser boy grup kesukaanmu, jika kau berhasil masuk ke perusahaan yang kau inginkan," jawab Rafa yang membuat Tiara menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Tentu saja Tiara ingat, kak Rafa tidak berubah pikiran bukan?" ucap Tiara


"Tentu saja tidak, aku bahkan sudah mencari tahu di mana mereka akan konser tahun ini," balas Rafa


"Mereka akan konser ke Jepang, apa mungkin Tiara akan pergi ke Jepang untuk menonton konser mereka?" ucap Tiara sekaligus bertanya.


"Kenapa tidak? itu adalah janjiku padamu, aku bahkan sudah mencari tahu lokasi pasti di mana mereka akan konser dan mencari hotel terdekat dari tempat konser mereka," ucap Rafa yang membuat Tiara terdiam dengan mulut menganga.


"Hati-hati gajah akan masuk ke dalam mulutmu!" ucap Rafa sambil menutup mulut Tiara dengan tangannya.


Tiara hanya terkekeh sambil mengalihkan tangan Rafa dari mulutnya.


"Tiara hanya tidak percaya jika kak Rafa sudah menyiapkan semua itu, padahal belum tentu Tiara bisa menjadi bagian dari perusahaan itu tahun ini!" ucap Tiara.


"Kenapa kau tiba-tiba pesimis?" tanya Rafa.


"Tiara bukannya pesimis kak, Tiara hanya takut jika Tiara akan mengecewakan kak Rafa," jawab Tiara.


"Jangan terlalu memikirkannya Ra, aku tahu kau sudah berusaha sangat keras, jadi apapun hasilnya aku tidak akan pernah kecewa padamu," ucap Rafa.


"Yang membuatku kecewa adalah jika kau berusaha terlalu keras dan mengabaikan kesehatanmu," lanjut Rafa.


Tanpa Tiara tau, Rafa sengaja membahas hal itu agar Tiara tidak memikirkan Bima, mengingat mereka yang baru saja membicarakan Bima saat di kafe.

__ADS_1


Rafa tau pasti jika Tiara akan kembali bersedih jika ia memikirkan Bima. Entah karena ia masih mencintai Bima atau karena rasa kecewanya pada Bima atas apa yang sudah Bima lakukan padanya.


Rafa hanya berusaha agar senyum ceria Tiara tidak pupus, bagaimanapun caranya ia ingin selalu menjaga senyum yang membuat candu dalam dirinya.


__ADS_2