
Dengan keadaan yang tidak memungkinkan untuk bekerja, Tiara tetap membawa langkahnya berangkat bekerja bersama Chika.
Berkali kali Chika meminta Tiara untuk kembali pulang, namun Tiara menolak. Meskipun Chika sangat mengkhawatirkan keadaan Tiara, tidak ada yang bisa ia lakukan karena ia tau bagaimana keras kepalanya Tiara.
"Wonder woman tidak akan pingsan bukan?" Tanya Chika bercanda sekaligus memastikan keadaan Tiara.
"Tidak akan, tenang saja, wonder woman sudah minum obat tadi hehehe...." Balas Tiara
"Hahaha.... Sejak kapan wonder woman minum obat!"
Mereka berduapun tertawa sepanjang jalan sebelum akhirnya mereka sampai di kafe. Tiarapun segera memakai seragam dan celemek miliknya lalu memulai pekerjaannya dengan membersihkan meja meja yang ada disana.
Beberapa lama menunduk untuk membersihkan meja membuat Tiara merasa begitu pusing.
"Padahal aku sudah minum obat, tapi kenapa masih pusing juga?" Tanya Tiara pada dirinya sendiri.
Menit menitpun berlalu, Tiara masih bisa tersenyum dan tertawa bersama Chika dan teman temannya yang lain. Ia juga masih bisa menyapa para pelanggan yang datang dengan senyum manisnya.
Di sisi lain, seorang laki laki berdiri membatu di depan kafe kedua Rafa. Ia tampak ragu dengan apa yang akan ia lakukan.
"akhirnya aku benar benar menemuimu Rafa, setelah semua yang terjadi, apa kita masih bisa seperti dulu lagi?" Tanyanya dalam hati.
Laki laki itu menghela nafasnya panjang sebelum ia membawa langkahnya memasuki kafe. Ia menepis semua keraguan dalam dirinya untuk bisa menemui Rafa.
"aku harus bisa profesional, ini tentang pekerjaanku, bukan tentang masalah pribadiku," ucapnya dalam hati.
Laki laki itupun berjalan ke dalam kafe, menemui seorang perempuan yang bernama Chika untuk menanyakan keberadaan Rafa.
"Apa benar kafe ini milik Rafa Mahendra?" Tanyanya memastikan.
"Iya benar, apa ada yang bisa saya bantu?" Jawab Chika sekaligus bertanya.
"Saya dari perusahaan X ingin menyampaikan sesuatu pada Rafa, bisakah saya bertemu dengan Rafa?" Balas laki laki itu.
"Mohon maaf, pak Rafa hari ini tidak akan datang ke kafe karena akan pergi ke luar kota," ucap Chika.
"Ke luar kota? Apa dia sudah berangkat atau....." Laki laki itu menggantung kalimatnya.
"Sepertinya sudah, pak Rafa bilang akan berangkat ke luar kota pagi pagi sekali," jawab Chika memahami pertanyaan laki laki itu.
"Aahhh baiklah, saya akan datang lain kali, tolong sampaikan pada Rafa jika utusan dari perusahaan X datang mencarinya," ucap laki laki itu yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Chika.
Laki laki itupun berjalan meninggalkan kafe, saat ia akan melewati pintu, perempuan dengan seragam kafe yang tengah membersihkan meja tiba tiba menggelosor pingsan di sampingnya.
Dengan sigap laki laki itu segera menopang tubuh perempuan itu agar tidak terbentur lantai.
Saat melihat wajah perempuan itu, ia pun tersadar siapa pemilik wajah cantik yang pucat itu.
"Tiara!" Ucap laki laki itu yang ternyata adalah Putra, manajer pemasaran di perusahaan X.
Chika yang melihat hal itu segera berlari menghampiri Tiara dan Putra.
"Kemana aku harus membawanya? Apa kalian memiliki ruangan khusus? Atau aku harus membawanya ke rumah sakit?" Tanya Putra pada Chika.
"Kita punya ruangan khusus, di sebelah sini!" Jawab Chika lalu berjalan lebih dulu diikuti oleh Putra yang membopong Tiara.
Putra kemudian membaringkan Tiara di ranjang yang ada di ruangan karyawan, sedangkan Chika segera mengambil kotak P3K untuk memberikan minyak aromaterapi agar Tiara segera sadar.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Chika berdering, sebuah panggilan dari Rafa yang sebelumnya tidak menjawab panggilannya.
"Halo Chika, ada apa?" Tanya Rafa setelah Chika menerima panggilannya
"Ada seseorang dari perusahaan X mencari pak Rafa, tapi saya sudah memberi tahunya bahwa pak Rafa sedang pergi ke luar kota," jawab Chika.
"Dari perusahaan X? Untuk apa dia mencari saya?" Tanya Rafa.
"Maaf, Chika tidak menanyakan hal itu pak, sekarang dia sedang bersama Tiara di ruangan karyawan karena dia membantu Tiara yang pingsan," jawab Chika.
"Tiara pingsan?" Tanya Rafa memastikan dengan suara yang terdengar panik.
"Iya pak, dia terlihat pucat dari pagi, saya sudah memintanya untuk pulang tapi.....
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Sambungan terputus begitu saja. Chika melihat layar ponselnya untuk memastikan dan benar saja, Rafa mengakhiri sambungannya begitu saja.
"Kau lanjutkan saja pekerjaanmu, aku akan menjaganya disini!" Ucap Putra pada Chika
"Tapi....."
"Aku mengenalnya, namanya Tiara bukan? Aku bertemu dengannya saat dia mengikuti seminar di perusahaan tempatku bekerja," ucap Putra berusaha meyakinkan Chika.
__ADS_1
"Aahhh iya, dia kemarin ikut seminar disana," balas Chika dengan mengangguk anggukan kepalanya
"Baiklah, saya permisi," lanjut Chika lalu berjalan keluar dari ruangan itu, membiarkan Tiara berdua bersama Putra karena masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan.
Putra tersenyum menatap wajah pucat Tiara yang masih terlihat cantik. Sambil mendekatkan minyak aromaterapi di hidung Tiara, Putra tidak melepaskan kedua matanya dari raut wajah Tiara yang sudah menarik perhatiannya sejak mereka pertama kali bertemu.
"Bangunlah Tiara, putri cantik sepertimu tidak diizinkan pingsan seperti ini!" Ucap Putra pelan.
Di tempat lain, Rafa yang mendengar Tiara pingsan segera memutar balik mobilnya dan mengurungkan niatnya untuk pergi ke luar kota.
Ia segera menancap gas ke arah kafe kedua karena mengkhawatirkan keadaan Tiara. Sesampainya di kafe ia segera membawa langkahnya dengan berlari ke arah ruangan karyawan tanpa mempedulikan pelanggan ataupun karyawannya yang lain yang saat itu memperhatikannya.
Tepat saat Rafa memasuki ruangan itu, Putra yang berada disana sedang melepaskan celemek yang Tiara pakai. Putra mengalungkan tangannya di leher Tiara untuk melepaskan tali celemek yang ada di leher Tiara.
Rafa yang salah paham dengan hal itu segera mendorong Putra dengan kekuatan penuh.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Rafa dengan penuh emosi, emosinya semakin meningkat saat ia menyadari siapa laki laki di hadapannya.
Rafa kemudian berjongkok, memegang kerah kemeja Putra dengan tatapan penuh emosi
"Apa yang akan kau lakukan padanya?"
"Kau salah paham Rafa, aku hanya....."
"Apa kau pikir aku akan mempercayaimu setelah apa yang kau lakukan padaku?"
"Aku hanya membantunya Rafa,sungguh!"
"Kau....." Rafa menggantung ucapannya.
"Pergilah dan jangan pernah kembali lagi!" Lanjutnya sambil beranjak dan mengalihkan pandangannya dari Putra.
"Aku kesini karena aku...."
"Aku tidak mau tau, cepat pergi sebelum aku benar benar tidak bisa mengendalikan diriku lagi!" Ucap Rafa memotong ucapan Putra.
Putra menghela nafasnya lalu menaruh sebuah map di meja kemudian keluar dari ruangan itu sambil merapikan pakaiannya.
Sedangkan Rafa segera mengambil map yang ada di meja lalu membuangnya ke tempat sampah begitu saja.
Saat Rafa baru saja duduk di samping ranjang Tiara, perlahan Tiara mengerjap dan mulai membuka matanya.
"Pak Rafa.. .."
"Bagaimana keadaanmu sekarang Tiara?" Tanya Rafa pada Tiara.
"Wajahmu sangat pucat dan kau bilang baik baik saja?" Tanya Rafa dengan nada suara meninggi, kekesalannya pada Putra seolah masih menguasai dirinya saat itu
"Hanya sedikit pusing," ucap Tiara.
"Kau bahkan demam Tiara!" Ucap Rafa masih dengan suara yang meninggi.
Tiara menarik nafasnya dalam dalam lalu perlahan beranjak dari posisinya yang masih berbaring.
"Apa pak rafa memarahi Tiara karena Tiara pingsan?" Tanya Tiara sambil menatap Rafa dengan wajah pucatnya.
Mendengar pertanyaan Tiara membuat Rafa sadar akan kekesalan yang masih menguasai dirinya.
"Aku tidak memarahimu Tiara, aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu," ucap Rafa yang mulai melunak.
"Tiara baik baik saja," balas Tiara lalu turun dari ranjang, namun karena masih pusing ia hampir saja terjatuh jika Rafa tidak menopang tubuhnya.
"Lepaskan seragammu, aku akan mengantarmu pulang!" Ucap Rafa dengan tegas karena ia tau bagaimana keras kepalanya Tiara.
"Tidak, Tiara...."
"Ini perintah, saya tidak akan mempekerjakan karyawan yang sakit di kafe ini!" Ucap Rafa memotong ucapan Rafa.
Mendengar ucapan Rafa yang tiba tiba berbicara formal padanya, Tiarapun tidak bisa membantah lagi. Dengan kesal Tiara melepas seragamnya lalu menyambar tas selempang miliknya kemudian berjalan keluar dari ruangan karyawan.
"Chika, maafkan aku, aku harus pulang," ucap Tiara pada Chika.
"Seharusnya kau melakukan hal itu dari tadi pagi," balas Chika.
Tiara hanya terkekeh lalu berjalan keluar dari kafe. Sedangkan Rafa segera berjalan mengikuti Tiara dari belakang. Rafa hanya diam tanpa mengatakan apapun, ia hanya ingin memastikan Tiara sampai di rumah dengan selamat.
Setelah Tiara masuk ke dalam rumah, Rafapun pergi ke apotek terdekat untuk membeli obat yang bisa menurunkan demam dan mengatasi pusing.
Rafa kemudian kembali ke rumah tempat Tiara tinggal lalu menitipkan obat itu pada salah satu karyawannya yang ada disana dan segera kembali ke kafe.
Di kamarnya, Tiara yang baru saja merebahkan badannya segera beranjak saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Pak Rafa memberikan ini untukmu!" Ucap teman Tiara.
__ADS_1
"Aaahh iya, terima kasih!" Ucap Tiara lalu kembali menutup pintu kamarnya setelah temannya pergi.
Tiara duduk di tepi ranjangnya dengan memegangi obat di tangannya.
"Kenapa tiba tiba kak Rafa marah padaku? Tidak mungkin dia marah karena aku pingsan bukan? Dia bahkan membelikan obat untukku, tapi kenapa.... Aaahhh entahlah, aku tidak mau memikirkannya lagi," ucap Tiara lalu segera meminum obat pemberian Rafa.
"Aku harus segera sembuh, aku tidak boleh bermalas-malasan!" Ucap Tiara pada dirinya sendiri.
Tiara kemudian mengambil buku yang ada di mejanya. Baru saja Tiara membaca satu halaman, rasa kantuk mulai menguasainya akibat dari obat yang ia minum.
Tiarapun menaruh bukunya kembali ke meja lalu membaringkan dirinya dan tak butuh waktu lama, iapun terlelap.
**
Waktupun berlalu, Rafa mengendarai mobilnya meninggalkan kafe untuk pergi ke rumah orangtuanya.
Sesampainya disana ia segera mencari keberadaan sang papa.
"Papamu masih di kantor, tumben sekali kau mencari papa!" Ucap Mama Rafa.
Rafa hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Setelah beberapa lama menunggu, sang papapun pulang.
Papa Rafa hanya tersenyum tipis saat melihat Rafa yang duduk di teras rumah seolah tau apa maksud dari kedatangan Rafa.
"Papa pasti sengaja!" Ucap Rafa pada sang papa.
"Kalian berdua sudah sama sama dewasa, tidak bisakah kalian melupakan masa lalu kalian?" Balas papa Rafa bertanya.
"Rafa tidak akan pernah melupakannya pa dan tolong jangan memaksa Rafa untuk terlibat apapun dengan perusahaan!" Ucap Rafa.
"Papa tidak memaksamu Rafa, papa hanya ingin memberimu kesempatan," balas papa Rafa.
"Lagipula papa sudah sangat bosan bekerja di kantor, siapa lagi yang akan menggantikan posisi papa jika bukan kau?"
"Kenapa bukan Putra saja? Bukankah papa sangat percaya padanya?"
"Hahaha.... Kau jangan seperti itu, tentu papa lebih mempercayaimu!" Ucap papa Rafa terkekeh melihat sikap Rafa.
"Rafa kesini hanya untuk mengatakan pada papa kalau Rafa tidak akan berubah pikiran, jadi lebih baik papa meminta seseorang saja untuk menggantikan posisi papa di perusahaan!" Ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya.
"Bagaimana mungkin papa bisa mempercayakan perusahaan pada orang lain Rafa?" Balas papa Rafa yang diabaikan oleh Rafa.
"Hmmm.... Anak nakal!" Gerutu papa Rafa saat Rafa sudah berjalan jauh
"Ada apa pa? Sepertinya dia sedang kesal," tanya mama Rafa pada sang suami.
"Dia memang selalu seperti itu jika menyangkut masalah perusahaan!"
"Apa papa memintanya untuk datang lagi? Bukankah selama ini papa sudah berhenti meminta Rafa bergabung dengan perusahaan? Kenapa tiba tiba...."
"Papa merasa sudah sangat bosan berada di kantor ma, papa ingin Rafa saja yang menjadi CEO!" Ucap papa Rafa memotong ucapan sang istri.
"Mama setuju, biarkan Rafa mengurus perusahaan, kita habiskan masa tua kita dengan berlibur berdua hehehe...." Ucap Mama Rafa
**
Tiara menyambar satu buku miliknya lalu berjalan keluar dari kamarnya. Wajahnya masih tampak pucat namun ia merasa sudah lebih baik setelah minum obat dan beristirahat.
Tiara membawa langkahnya ke arah kafe, menyapa teman temannya yang ada disana lalu berjalan ke lantai dua setelah memesan minuman.
Tiara duduk di salah satu bangku semi outdoor yang ada di lantai dua lalu mulai membaca buku yang dibawanya.
Tak lama kemudian minuman yang dipesannya pun datang. Tiara menyeruput minumannya sambil menatap hamparan gelap yang dihiasi kerlip bintang malam itu.
"Beri Tiara kekuatan ma, pa," ucap Tiara dalam hati.
Saat ia menyeruput minumannya untuk yang kedua kali ia baru menyadari jika temannya salah memberikan minuman pesanannya.
"Oh tidak, ini kopi!" Ucap Tiara terkejut.
"Aku harus pulang sekarang daripada aku pingsan lagi disini!" Ucap Tiara lalu segera beranjak dari duduknya dan membuang minumannya.
Tiarapun berlari cepat meninggalkan kafe. Namun saat ia baru saja melewati pintu, ia merasa kepalanya semakin pusing
"Aku tidak boleh pingsan disini, tidak ......" Ucap Tiara sambil menggelengkan kepalanya berusaha untuk tetap menjaga kesadarannya.
Rafa yang saat itu akan mengambil barangnya yang tertinggal, segera berlari ke arah Tiara saat ia melihat Tiara yang tampak sedang tidak baik baik saja di depan kafe.
Benar saja, saat Rafa baru saja tiba, Tiara seketika menjatuhkan dirinya pada Rafa. Teman Tiara yang melihat hal itu segera menghampiri Tiara dan Rafa.
"Saya akan membawanya ke rumah sakit, tolong bawakan bukunya!" Ucap Rafa pada salah satu karyawannya.
"Baik pak!"
__ADS_1
Teman Tiara kemudian membawa buku Tiara ke arah mobil Rafa lalu membantu Rafa membuka mobilnya dan memberikan buku Tiara pada Rafa.
Rafapun segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit terdekat karena dia mengkhawatirkan Tiara yang sudah dua kali pingsan hari itu.