Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Candu


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan Gita dan Bima sudah selesai dilaksanakan, Gita dan Bimapun sudah kembali ke rumah bersama Mama Laras.


Namun bukannya terlihat bahagia karena baru saja menggelar acara resepsi, Gita malah memperlihatkan raut wajah yang tampak murung dan kesal.


"Ada apa denganmu Gita? kenapa kau sepertinya tampak kesal sekali?" tanya Mama Laras pada Gita.


"Kenapa Mama mengundang Tiara untuk datang? bukankah Mama tahu Gita tidak menyukainya?" balas Gita bertanya.


"Bagaimanapun juga dia masih tetap menjadi anggota keluarga kita Gita," ucap Mama Laras.


"Tapi dia yang sudah berusaha merebut suami Gita ma, Gita bahkan melarang Bima untuk mengundang Tiara, tetapi mama malah mengundangnya, apa Mama tidak bisa sedikit saja mengerti perasaan Gita?"


"Sudahlah Gita jangan membahasnya lagi, toh sebenarnya kau sudah mengetahui hubungan Tiara dan Bima sejak lama, jangan hanya kau sedang mengandung anak Bima kau menjadi kekanak-kanakan seperti ini," balas Mama Laras yang membuat Gita semakin kesal.


Gitapun hanya diam memendam kekesalannya karena ia tahu sang Mama akan tetap membela Tiara jika ia terus membela dirinya.


"Kau harus bisa lebih bersabar Gita, kita tidak akan mendapatkan apa-apa jika pengacara papa Tiara tahu bahwa Tiara sudah tidak tinggal di rumah ini!"


"Bukankah Mama bilang Mama sudah berhasil merebut harta warisan itu?" tanya Gita.


"Semua itu tidak akan ada gunanya jika mama tidak bisa menjaga Tiara tetap berada di rumah ini sampai dia lulus kuliah," jawab Mama Laras.


"Lalu apa yang akan Mama lakukan sekarang? sepertinya Tiara tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini," tanya Gita.


"Mama sudah mempersiapkan semuanya, itu kenapa Mama mengundang Tiara untuk datang," jawab Mama Laras yang membuat Gita mengernyitkan keningnya tidak mengerti maksud dari ucapan sang mama.


"Apapun yang sudah mama rencanakan pada Tiara, Bima harap itu tidak akan menyakitinya," sahut Bima yang tiba-tiba datang.


"Memangnya kenapa? jika memang kau sangat peduli padanya kenapa tidak kau nikahi saja dia," balas Gita bertanya dengan kesal.


"Tiara sudah memilih keluar dari rumah ini, dia lebih memilih untuk hidup sendiri di luar sana agar tidak ada keributan lagi disini, apa itu belum cukup?"


"Berhentilah membelanya Bima, lagi pula dia bukan adik yang baik untukku, jika dia memang perempuan baik baik dia tidak akan mau memiliki hubungan dengan suami kakaknya," ucap Gita.


"Jika Tiara bukan perempuan baik baik lalu bagaimana denganmu Gita? kau bahkan berpura pura menyayanginya hanya untuk mendapatkan warisan dari papanya!"


"Aku juga anak papa, aku juga berhak atas warisan itu!"


"Tapi kau....."


"Sudah hentikan, kalian berdua berhentilah bertengkar seperti ini, jangan pernah membahas tentang Tiara lagi, biarkan mama sendiri yang menyelesaikan masalah Tiara," ucap Mama Laras memotong ucapan Bima.


"Asal kau tau Gita, aku yang memaksa Tiara untuk memiliki hubungan denganku karena dia tau kau tidak benar benar mencintaiku," ucap Bima lalu kembali pergi dan masuk ke kamarnya.


"Kenapa Gita harus menikah dengannya ma, kenapa Gita harus memiliki suami yang tidak pernah mencintai Gita?" tanya Gita pada sang mama dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bukankah kau juga tidak mencintainya? kau tidak perlu bersedih berlebihan Gita, kau hanya menikah dengannya karena orangtuanya bisa membantu kita mendapatkan warisan!" ucap Mama Laras lalu beranjak dari duduknya.


"Apa mama tidak pernah berpikir bahwa mama sudah menghancurkan masa depan Gita?" tanya Gita yang membuat sang mama menghentikan langkahnya.


"Justru mama sedang mempersiapkan masa depanmu Gita, tidak ada yang mudah kau dapatkan di dunia ini, perempuan seperti kau dan mama harus berusaha untuk bisa bertahan dan mendapatkan apa yang kita inginkan di dunia yang kejam ini," balas Mama Laras.


"Jadi mama harap kau bisa bertahan dan bersabar, kuatlah demi kehidupan masa depan kita yang lebih baik Gita," lanjut mama Laras lalu melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Gita yang hanya terdiam di tempatnya duduk.


**


Esok paginya seseorang datang bertamu untuk mencari Tiara. Seseorang itu adalah pengacara yang sudah ditunjuk oleh almarhum papa Tiara untuk mengurus semua warisan yang ditinggalkannya.


"Selamat pagi Bu Laras, saya Maya, pengacara dari almarhum papa Tiara," ucap seorang perempuan yang bernama Maya sambil memberikan kartu namanya.


"Aaahh iya, Anda yang menghubungi saya kemarin," balas Mama Laras.


"Benar sekali Bu, kalau boleh tau dimana Tiara sekarang? apa bu Laras sudah memberi tahunya bahwa saya akan datang?"


"Dia sedang berada di kampus sekarang, dia harus bimbingan skripsi pagi pagi sekali tadi," balas Mama Laras beralasan.


"Ooh baiklah, kalau begitu saya pamit dulu, saya akan kembali saat Tiara sudah pulang," ucap Maya yang hendak beranjak dari duduknya namun ditahan oleh Mama Laras.


"Tunggu dulu, kenapa tidak membicarakannya dengan saya saja? Tiara juga sudah menyetujui hal ini," tanya mama Laras.

__ADS_1


"Mohon maaf Bu, tapi sesuai prosedur harus ada Tiara disini untuk memastikan tentang bagaimana kehidupannya disini bersama mama tiri dan saudara tirinya, karena ini akan mempengaruhi pembagian harta warisannya nanti," ucap Maya menjelaskan.


"Aaahhh seperti itu rupanya, padahal meskipun Tiara adalah anak tiri saya, saya dan anak kandung saya sangat menyayangi Tiara, kita bahkan baru saja merayakan resepsi pernikahan bersama," ucap mama Laras lalu mengambil ponselnya dan menunjukkannya pada Maya.


"Lihatlah, ini foto Tiara bersama saya dan anak tiri saya serta suaminya yang baru saja melangsungkan resepsi pernikahan kemarin," ucap mama Laras.


"Keluarga yang hangat," balas Maya dengan tersenyum tipis.


"Sekarang saya harus menjadi kepala keluarga bagi 2 anak perempuan saya, Gita dan Tiara, jadi bukankah sudah sepantasnya Anda bisa menjelaskan semuanya pada saya walaupun tidak ada Tiara disini!"


"Mohon maaf Bu, saya harus benar benar memastikannya terlebih dahulu jadi saya harus bertemu dengan Tiara," balas Maya.


"Baiklah, kita atur lagi pertemuan kita bersama Tiara," ucap mama Laras menyerah.


"Baik Bu, saya permisi," ucap Maya lalu membawa langkahnya keluar.


Mayapun mengendarai mobilnya ke arah tempat kerjanya dengan berbagai macam pikiran dalam kepalanya.


Sesampainya di tempat kerjanya, ia segera masuk ke ruangannya dan baru saja terpikirkan sesuatu.


"Aaahh iya, aku lupa menanyakan nomor hp Tiara pada mamanya, nomor hp yang mamanya berikan padaku sudah tidak aktif lagi, jadi pasti Tiara mengganti nomornya tanpa sepengetahuan mamanya, tapi kenapa? jika memang mereka keluarga yang hangat bukankah seharusnya Tiara......."


"Aaahhh sudahlah, aku masih harus memikirkan masalah lain yang lebih penting, untuk sementara lupakan masalah warisan dan keluarga Tiara," ucap Maya lalu mulai fokus pada pekerjaannya yang lain.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam saat Rafa sedang duduk di ruang tamu rumahnya.


Rafa sengaja menunggu kedatangan Maya yang sudah berusaha ia hubungi beberapa kali namun tidak pernah ada jawaban.


Hingga akhirnya tepat pukul 11.00 malam sebuah mobil terdengar memasuki halaman rumahnya.


Maya yang saat itu baru saja sampai di rumah segera membawa langkahnya masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.


Setelah membuka pintu, ia sedikit terkejut saat melihat Rafa yang duduk di ruang tamu. Meski begitu ia memilih untuk tidak mempedulikan Rafa dan terus membawa langkahnya melewati Rafa begitu saja.


"Tunggu!" ucap Rafa yang segera beranjak dari duduknya, membuat Maya menghentikan langkahnya.


"Apa maksudmu? kenapa kau menanyakan hal itu padaku?" tanya Maya tak mengerti.


"Apa kau tidak ingat tentang kesepakatan kita untuk tidak melibatkan orangtua kita dalam pernikahan kita?" tanya Rafa dengan emosi.


"Tentu saja aku ingat, aku....."


"Lalu kenapa orangtuamu masih saja mengadukan hal yang tidak tidak pada mama? apa kau mau mereka curiga?" tanya Rafa memotong ucapan Maya.


"Apa ini tentang acara keluargaku kemarin?" tanya Maya menerka.


"Bersikaplah dengan dewasa Maya, pernikahan kita hanyalah formalitas untukmu dan juga untukku, jangan membuat masalah baru dengan membawa orangtua dalam hubungan yang tidak benar ini!" ucap Rafa tanpa menjawab pertanyaan Maya.


"Aku tidak mengatakan apapun pada mama dan papa, aku hanya memberi alasan pada mereka bahwa kau sibuk dengan kafemu, bukankah kau sendiri yang tidak ingin ikut ke acara itu? mungkin mereka sudah terlalu muak dengan alasanku yang selalu sama dan itu semua itu karena kau yang selalu bersikap egois!" ucap Maya kesal.


"Egois? bagaimana denganmu yang selalu mementingkan pekerjaanmu itu? kau bahkan sangat jarang berada di rumah, kau juga selalu menolak setiap aku mengajakmu pulang ke rumah orangtuaku, apa kau juga tidak egois?"


Maya diam beberapa saat dan menghela nafasnya kasar seolah mengeluarkan kekesalan dalam dadanya.


"Rafa, aku sangat lelah hari ini, jadi tolong jangan menambah bebanku lagi!" ucap Maya dengan suara pelan.


"Aku juga sangat lelah dengan pernikahan ini!" balas Rafa lalu berjalan pergi meninggalkan Maya.


Maya kembali menghela nafasnya lalu berjalan masuk ke kamarnya. Melemparkan tas dan jasnya ke sembarang arah lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang.


Ia tampak memijit keningnya yang terasa pusing sebelum akhirnya ia tertidur tanpa mandi dan berganti pakaian.


Sedangkan Rafa, ia mengendarai mobilnya keluar dari rumah menuju ke arah kafe.


Sesampainya di kafe, ia segera masuk ke ruangannya lalu duduk di kursi kerjanya.


Rafa kemudian memeriksa rekaman CCTV seperti yang biasa ia lakukan setelah beberapa hari ia tidak mendatangi kafenya.

__ADS_1


Tiba tiba seutas senyum tergaris di bibir Rafa saat ia melihat Tiara yang masuk ke ruangannya sambil melambaikan tangannya dengan tersenyum ke arah CCTV.


"Apa yang akan dia lakukan?" tanya Rafa pada dirinya sendiri.


"Ooh, dia mengambil ponselku," ucap Rafa menjawab pertanyaannya sendiri.


Entah kenapa Rafa memutar rekaman CCTV itu berkali kali tepat saat Tiara baru saja masuk dan melambaikan tangan ke arah CCTV.


Senyum Tiara seolah memberikan candu untuk Rafa, membuatnya tanpa bosan menatap layar komputernya hanya untuk melihat hal yang sama berkali kali.


**


Hari telah berganti, Tiara baru saja sampai di kafe bersama Chika. Setelah mengenakan seragam, merekapun mulai berkutat dengan pekerjaan masing masing.


Chika yang mulai membuat minuman pesanan, sedangkan Tiara membersihkan meja pelanggan yang baru saja ditinggalkan.


Namun tiba tiba seseorang datang dan bertanya dengan nada tinggi pada Tiara


"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya seseorang itu.


"Saya sedang membersihkan meja, apa ada yang....."


"Kau ini bodoh atau dungu huh! ini meja tempatku dan minuman yang baru saja kau ambil adalah minumanku, aku belum menghabiskannya dan kau sudah mengambilnya!"


"Maaf, saya pikir kakak sudah pergi, jadi saya....."


"Waiters bodoh, apa kau mengusirku sekarang?"


"Tidak, bukan seperti itu, saya minta maaf, saya akan menggantinya dengan yang baru," ucap Tiara lalu segera pergi dan meminta Chika agar segera membuat minuman yang baru.


Tiarapun segera kembali setelah Chika selesai membuat minuman yang baru.


"Ini minuman yang kakak pesan tadi, sebagai permintaan maaf saya, ini free untuk kakak," ucap Tiara dengan sopan.


"Apa kau pikir aku tidak mampu membayarnya huh? apa kau merendahkanku sekarang? waiters rendahan sepertimu bahkan bisa aku beli dengan mudah!" ucap seseorang itu dengan arogan yang membuat Tiara kehilangan kesabarannya.


"Saya memang salah karena saya sudah mengambil minuman kakak, tapi saya punya alasan kenapa saya melakukannya, saya sudah meminta maaf dan mengganti minuman kakak dengan minuman yang baru, tapi ucapan kakak yang merendahkan waiters seperti saya tidak membuat derajat kakak lebih tinggi dari saya!" balas Tiara tanpa takut.


"Waaahhh kau berani sekali ya, buruk sekali pelayanan di kafe ini!" ucap seseorang itu lalu mengambil minumannya di meja dan hendak menumpahkannya di kepala Tiara.


Namun dengan sigap Tiara menghalau tangan seseorang itu, membuat minuman itu jatuh ke arah seseorang itu.


"AAAAAAAA.... pakaianku..... kau..... kau benar benar keterlaluan, waiters rendahan sepertimu tidak akan mampu mengganti pakaianku ini, dasar waiters bodoh!" teriak seseorang itu dengan penuh amarah.


Sedangkan Tiara hanya diam dengan tersenyum tipis.


"Kau benar benar sudah gila, aku akan melaporkanmu pada pemilik kafe ini!"


"Laporkan saja, pelanggan sepertimu tidak akan diterima lagi di kafe ini," balas Tiara yang membuat seseorang itu semakin kesal.


Di tengah keributan itu, Rafa yang baru saja datang begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya saat itu.


"Tiara, ada apa ini?" tanya Rafa pada Tiara.


"Pak Rafa, Tiara....."


"Siapa kau? apa kau pemilik kafe ini?" tanya seseorang itu sebelum Tiara sempat menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Rafa.


"Iya, saya pemilik kafe ini, apa yang sudah terjadi?" jawab Rafa sekaligus bertanya.


"Dia, waiters bodoh dan rendahan ini yang sudah membuatku seperti ini, dia mengotori pakaian mahalku dan berbuat tidak sopan padaku, kau harus memecatnya atau aku akan menuntut kafe ini ke jalur hukum!" ucap seseorang itu menjelaskan.


"Apa benar yang dia katakan Tiara?" tanya Rafa pada Tiara.


"Tiara hanya....."


"Dia tidak akan mengaku, dia benar benar waiters yang sangat buruk yang pernah aku temui, dia...."


"Tidak pak Rafa, Tiara hanya melakukan apa yang harus Tiara lakukan, Tiara....."

__ADS_1


"Diamlah Tiara, masuklah dan tunggu di ruangan saya!" ucap Rafa memotong ucapan Tiara, membuat Tiara seketika terdiam dan berjalan pergi meninggalkan Rafa.


Entah kenapa hatinya terasa sakit saat Rafa memintanya untuk pergi.


__ADS_2