
Meskipun pada awalnya ragu untuk mengiyakan ajakan Gita berlibur, namun pada akhirnya Tiara tidak dapat menolak paksaan Gita karena ia sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk menolaknya.
Hari berliburpun tiba, setelah menyiapkan apa yang harus ia bawa, Tiarapun keluar dari kamarnya menuju ke meja makan yang sudah ada Gita, Bima dan mama tirinya disana.
"Kau jangan terlalu lelah Gita, perhatikan kesehatanmu, sekarang sudah ada calon bayi kalian di dalam perutmu, kau harus bisa menjaganya dengan baik!" ucap Mama Laras mengingatkan Gita.
"Iya ma, Gita mengerti," balas Gita.
"Dan kau Tiara, jaga sikapmu jangan membuat Gita stres karena kelakuanmu!" ucap Mama Laras yang hanya dibalas anggukan kepala dengan malas oleh Tiara.
Setelah selesai sarapan Bima, Gita dan Tiara masuk ke dalam mobil. Bimapun segera mengendarai mobilnya menuju ke arah villa milik keluarganya.
Selama dalam perjalanan, Tiara tidak banyak bicara. Ia memasang handsfree di telinganya dan mendengarkan lagu-lagu kesukaannya, sedangkan Gita dan Bima tampak mengobrol dengan seru.
Tiara yang mengantuk sesekali tertidur namun segera terbangun hingga akhirnya merekapun sampai di tempat tujuan.
Tiara, Bima dan Gitapun keluar dari mobil. Tiara membawa tas ranselnya, sedangkan Bima membawa tas besar yang berisi barang-barang miliknya dan Gita.
"Udara disini rasanya sangat segar," ucap Gita yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Bima.
"Masuk dan beristirahatlah, perjalanan panjang pasti membuatmu lelah," ucap Bima sambil membuka pintu kamar yang akan ia tempati bersama Gita.
"Kamarmu ada di lantai 2 Ra, kau bebas memilih kamar yang mana," ucap Bima yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Tiara kemudian naik ke lantai 2 lalu segera masuk ke salah satu kamar yang ada disana. Tiara membuka jendela kamarnya dan menghirup udara segar yang memenuhi paru-parunya.
"Disini memang sangat nyaman, sepertinya aku akan mengerjakan skripsiku dengan cepat kali ini," ucap Tiara lalu segera mengeluarkan buku dan laptopnya untuk mengerjakan skripsinya.
Waktupun berlalu, malam telah tiba membawa hawa dingin yang semakin menusuk tulang. Tiara keluar dari kamarnya dengan mengenakan jaket tebal yang sudah ia bawa.
Tiara berjalan keluar dari villa, menghampiri Gita yang sedang mengupas jagung di halaman villa.
"Bagaimana Ra? apa kau sudah mengerjakan skripsimu?" tanya Gita.
__ADS_1
"Sudah kak, sepertinya tempat ini sangat mendukung untuk Tiara mengerjakan skripsi," jawab Tiara.
"Tentu saja, kakak sudah memikirkan hal ini, itu kenapa kakak memaksamu untuk ikut datang kesini," ucap Gita.
Tak lama kemudian Bima datang dengan membawa dua tusuk sosis besar dan memberikannya pada Gita dan Tiara.
"Sosis sapi kesukaanmu Ra," ucap Bima sambil memberikan sosis itu pada Tiara lalu memberikan yang lainnya pada Gita.
"Apa kau tidak tahu bahwa aku alergi daging merah?" tanya Gita yang menolak menerima sosis pemberian Bima.
"Aahh iya, maaf aku lupa, aku akan membakar sosis yang lain untukmu," ucap Bima.
"Tidak perlu, aku ingin jagung ini saja," balas Gita lalu berjalan ke arah alat pembakaran untuk membakar jagung yang baru saja dikupasnya.
Bima yang masih berdiri di samping Tiara tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mengusap ujung bibir Tiara yang terkena saus dari sosis yang dimakannya.
Tiara terdiam dan terkejut saat Bima melakukan hal itu padanya, sedangkan Bima hanya tersenyum lalu melangkah pergi menghampiri Gita.
"jangan bodoh Tiara, jangan luluh hanya karena apa yang baru saja kak Bima lakukan padamu," ucap Tiara dalam hati berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
"Maaf kak, sepertinya Tiara sedikit tidak enak badan, apa Tiara boleh masuk ke kamar dulu?"
"Ada apa denganmu Ra? apa kau merasa pusing? demam?" tanya Gita khawatir.
"Tidak kak, sepertinya hanya kelelahan, Tiara hanya perlu beristirahat," jawab Tiara.
"Masuklah ke kamarmu, aku akan meminta bibi untuk membawakan obat untukmu," ucap Bima yang hanya dibalas anggukan kepala Tiara.
Tiarapun segera meninggalkan Gita dan Bima lalu berjalan memasuki villa dan segera membaringkan dirinya di ranjang kamarnya.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu kamarnya. Ia berpikir bahwa yang mengetuk pintu kamarnya adalah bibi yang akan membawakannya obat, namun saat Tiara membuka pintu kamarnya ia begitu terkejut karena ada Bima disana.
Tiarapun segera menahan pintu kamar itu namun sia-sia karena dorongan dari Bima lebih kuat.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memberikanmu obat ini Ra," ucap Bima setelah ia berhasil masuk ke kamar Tiara.
"Terima kasih, sekarang kak Bima cepatlah keluar!" ucap Tiara sambil mendorong Bima, namun Bima malah memegang kedua tangan Tiara dengan erat.
"Aku sudah menyelesaikan kesalahpahamanku dengan Gita, apa kau tidak ingin berterima kasih padaku?" tanya Bima dengan menatap tajam kedua mata Tiara.
"Terima kasih, terima kasih, terima kasih, puas?" balas Tiara sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Bima.
"Tidak, aku sama sekali belum puas karena kau belum memuaskanku sama sekali," ucap Bima yang membuat Tiara begitu terkejut.
Tiara bukan anak kecil lagi, ia bisa mengerti dengan pasti maksud dari ucapan Bima.
"Lepaskan Tiara kak, jangan membuat kak Gita mencurigai hubungan kita lagi," ucap Tiara yang masih berusaha menarik tangannya, namun membuat Bima semakin erat mencengkeram kedua tangan Tiara.
"Gita sedang pergi bersama bibi, jadi hanya ada kau dan aku disini," balas Bima dengan senyum yang membuat Tiara takut.
"Diamlah Tiara, semakin kau berusaha terlepas dariku semakin aku akan mencengkeram tanganmu dengan sangat kuat," ucap Bima sambil mencengkeram tangan Tiara dengan kekuatan penuh, membuat Tiara sedikit meringis kesakitan karena cengkeraman tangan Bima di kedua pergelangan tangannya.
"Tolong jangan seperti ini kak, hubungan kita sudah berakhir, kak Bima juga akan memiliki anak dari kak Gita, jadi......"
"Apa perlu aku memiliki anak darimu agar aku juga bisa menikahimu?" tanya Bima memotong ucapan Tiara, yang membuat Tiara semakin ketakutan.
Tiara kemudian menginjak salah satu kaki Bima dengan kencang membuat Bima seketika melepaskan kedua tangan Tiara, memberikan kesempatan bagi Tiara untuk kabur, namun dengan cepat Bima berhasil menarik tangan Tiara lalu menjatuhkan Tiara di atas ranjang.
"Rupanya kau lebih suka cara seperti ini, baiklah jika kau ingin memaksaku untuk kasar padamu," ucap Bima yang langsung mengunci pergerakan Tiara di atas ranjang.
"Lepaskan Tiara kak, Tiara mohon lepaskan Tiara!" ucap Tiara memohon sambil memalingkan wajahnya dari Bima yang semakin mendekatkan wajahnya pada Tiara.
"Kita nikmati kebersamaan singkat kita ini Tiara," ucap Bima dengan tersenyum penuh kemenangan.
BRAAAAAKKKKKKK
Tiba-tiba pintu kamar Tiara terbuka dengan kencang, membuat Bima seketika melepaskan Tiara lalu segera berdiri.
__ADS_1
Sedangkan Tiara masih terbaring di ranjang dengan membawa pandangannya ke arah pintu kamarnya.
Bima dan Tiarapun hanya bisa terdiam terkejut melihat Gita yang sudah ada di pintu kamar Tiara.