
Rafa masih berada di kafenya bersama seseorang yang baru saja memaki Tiara di hadapannya. Karena hari itu masih pagi jadi hanya ada beberapa pelanggan yang datang dan duduk di bangku outdoor dan tidak menyadari keributan yang terjadi di dalam kafe.
Mendengar ucapan seseorang itu yang memaki dan merendahkan Tiara membuat Rafa begitu marah, namun ia harus bisa bersabar dan menghadapi seseorang itu dengan profesional agar nama baik kafenya tidak tercemar.
"Kau melakukan hal yang benar, sekarang kau harus memecatnya agar dia tidak merusak nama baik kafemu!" ucap seseorang itu setelah Rafa meminta Tiara untuk masuk ke ruangannya.
"Saya tidak akan mengambil keputusan apapun sebelum saya tau kejadian yang sebenarnya, sekarang ikutlah masuk bersama saya untuk melihat kejadian yang sebenarnya melalui CCTV," ucap Rafa dengan tegas.
"Untuk apa memeriksa CCTV? CCTV tidak sepenuhnya benar, lagipula CCTV tidak merekam suara bukan? jadi waiters itu pasti akan berkilah dan membela dirinya padahal dia sudah berkata sangat tidak sopan padaku!"
"Ada beberapa waiters yang lain disini, mereka yang akan menjadi saksi tentang apa yang sebenarnya terjadi, jika memang waiters saya bersalah saya pasti akan memecatnya sekarang juga, tapi jika dia tidak bersalah, Anda yang harus meminta maaf padanya," balas Rafa.
"Meminta maaf? apa kau gila? kau....."
"Silahkan ikut saya masuk, saya tidak ingin pelanggan lain terganggu dengan keributan ini, jika Anda ingin membawa masalah ini ke jalur hukum, silahkan, mari kita bertemu di pengadilan secepatnya!" ucap Rafa memotong ucapan seseorang itu, membuatnya terdiam tak mampu berkata kata lagi.
"Mari, silahkan masuk!" ucap Rafa mempersilakan seseorang itu untuk masuk.
"Tidak perlu, lebih baik aku pergi dan tidak akan kembali lagi kesini, kafe ini benar benar buruk!" balasnya yang hendak melangkah pergi namun Rafa menahan tangannya.
"Kita selesaikan dulu masalah ini, siapa yang bersalah harus mendapat konsekuensi dari kesalahannya, baik itu waiters, ataupun Anda sebagai customer disini!" ucap Rafa.
Seseorang itupun sudah tidak bisa menghindar lagi dan hanya pasrah mengikuti langkah Rafa masuk ke dalam ruangan Rafa, dimana Tiara sudah duduk menunggu disana.
Tak lupa Rafa memanggil Chika dan satu orang lainnya untuk menjadi saksi tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Meskipun Rafa belum tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Tiara dan pelanggan itu, tapi Rafa yakin bahwa Tiara tidak bersalah.
Entah kenapa ia percaya jika Tiara pasti memiliki alasan kenapa ia melakukan hal itu pada pelanggan kafe.
Tanpa ragu Rafa memutar CCTV dan melihatnya bersama semua orang yang ada di ruangan itu.
Dari CCTV itu terlihat bahwa si pelanggan sudah tampak emosi sejak Tiara mengambil minumannya dan dari rekaman CCTV itu juga terlihat bahwa seseorang itu yang berniat menumpahkan minuman ke kepala Tiara.
Chika dan temannyapun bersaksi bahwa Tiara mengahadapi emosi pelanggannya itu dengan sopan, namun pelanggan itu terus saja marah dan merendahkan Tiara.
"Apa yang Tiara lakukan hanya tindakan untuk membela diri saja pak Rafa karena kita semua mendengar bagaimana dia direndahkan dan dimaki sebelumnya," ucap Chika.
"Saya sudah mendengar penjelasan dari pelanggan dan saksi, bagaimana denganmu Tiara? apa yang akan jelaskan pada saya tentang situasi tadi?" tanya Rafa pada Tiara.
Tiarapun menjelaskan tentang situasi yang sebenarnya pada Rafa, berharap Rafa bisa mempercayainya.
"Tapi dia sudah membuang minuman yang bahkan belum aku habiskan!" ucap si pelanggan.
"Bukankah dia sudah minta maaf dan menggantinya dengan yang baru?" tanya Rafa.
"Iya.... tapi..... tapi....."
"Sekarang semuanya sudah jelas, tidak ada kesalahan apapun yang dilakukan waiters saya, jika Anda tidak meminta maaf padanya maka saya sendiri yang akan membawa masalah ini ke meja hijau karena perilaku Anda yang sudah memaki, mengancam dan merendahkannya!" ucap Rafa dengan penuh ketegasan di setiap kalimatnya.
Seseorang itu hanya diam beberapa saat dengan raut wajah yang tampak kesal.
"Baiklah, aku minta maaf," ucap seseorang itu dengan malas.
"Apa Anda akan menerima permintaan maaf seseorang yang meminta maaf dengan cara seperti itu?" tanya Rafa.
Seseorang itu menghela nafasnya panjang lalu menatap Tiara yang berdiri di sampingnya.
"Aku minta maaf padamu atas sikapku pagi ini, aku hanya sedang pusing dengan semua masalahku dan tidak sengaja meluapkannya padamu, maafkan aku," ucapnya pada Tiara.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Baiklah, apa masalah ini sudah bisa dikatakan selesai sekarang?" tanya Rafa.
"Sudah dan aku tidak akan pernah datang lagi kesini," jawab seseorang itu.
"Tidak masalah, pergilah dan jangan pernah kembali lagi," balas Rafa santai.
Seseorang itupun keluar dari ruangan Rafa dengan kesal diikuti oleh Tiara, Chika dan temannya yang lain.
Rafa menghela nafasnya panjang lalu mengerjakan beberapa hal di meja kerjanya.
Beberapa jam berlalu, Rafa kemudian meminta Tiara untuk membawakan coklat dingin ke ruangannya.
Ia sengaja meminta coklat dingin karena ia tidak ingin Tiara terkena tumpahan air panas seperti yang sebelumnya pernah terjadi.
Tak lama kemudian Tiara mengetuk pintu ruangan Rafa lalu masuk dan menaruh minuman Rafa di atas meja kemudian segera berbalik tanpa mengatakan apapun.
"Tiara tunggu!" ucap Rafa yang membuat Tiara menghentikan langkahnya.
"Apa kau marah padaku?" tanya Rafa pada Tiara yang hanya diam membelakangi Rafa.
"Tidak, Tiara permisi," jawab Tiara yang hendak membuka pintu namun dengan cepat Rafa beranjak dari duduknya dan memegang handle pintu yang saat itu juga tengah dipegang oleh Tiara.
__ADS_1
Tiara seketika membawa pandangannya ke arah Rafa yang berdiri sangat dekat dengannya.
Mereka saling menatap untuk beberapa saat hingga akhirnya Rafa melepaskan tangannya dari handle pintu.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Rafa pada Tiara.
"Tii... dak," jawab Tiara gugup sambil menggelengkan kepalanya.
Entah kenapa jantungnya tiba tiba berdetak sangat cepat saat itu.
"Lalu kenapa kau seperti mengacuhkanku?" tanya Rafa yang merasa diacuhkan oleh Tiara.
"Tiara tidak seperti itu," jawab Tiara dengan kembali menggelengkan kepalanya.
"Apa karena kejadian tadi pagi?" tanya Rafa menerka.
"Tidak," jawab Tiara singkat.
"Jawablah dengan jujur Tiara, kau membuatku tidak nyaman jika sikapmu seperti ini padaku," ucap Rafa.
"Tiara hanya merasa sedih karena pak Rafa tidak mempercayai Tiara," balas Tiara dengan menundukkan kepalanya.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? justru aku mempercayaimu Tiara, aku memintamu untuk masuk ke ruanganku terlebih dahulu agar pelanggan lain tidak melihatmu dan membicarakanmu diam diam, aku bahkan mempercayaimu sebelum aku melihat cctv, itu kenapa aku meminta orang itu untuk melihat rekaman CCTV!" ucap Rafa menjelaskan.
"Benarkah seperti itu?" tanya Tiara dengan mendongakkan kepalanya menatap Rafa.
Rafa menganggukkan kepalanya dengan memegang kedua bahu Tiara.
"Aku mempercayaimu bahkan sebelum aku mengetahui kejadian yang sebenarnya Tiara, aku hanya tidak ingin seseorang itu mempermalukanmu di depan umum," ucap Rafa dengan menatap kedua mata Tiara.
Merekapun saling menatap untuk beberapa saat hingga tiba tiba....
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Rafa berdering, membuat Rafa segera melepaskan kedua tangannya dari bahu Tiara dengan canggung. Begitu juga dengan Tiara yang segera membawa pandangannya ke segala arah untuk menghilangkan kecanggungannya.
"bodoh, apa yang baru saja aku lakukan!" ucap Rafa dalam hati sambil menggaruk garuk tengkuknya.
Mereka berdua masih berdiri di belakang pintu dengan kegugupan mereka masing masing.
"Kau tau aku sangat peduli pada semua karyawanku bukan? kenyamanan kalian disini adalah hal terpenting bagi kafe ini agar kalian bisa melayani pelanggan dengan baik, jadi aku akan sangat marah jika ada pelanggan yang berbuat buruk pada kalian semua!" ucap Rafa berusaha meredakan kecanggungan yang ada.
"Iya pak, Tiara mengerti," balas Tiara.
Tiarapun segera membuka pintu dan keluar dari ruangan Rafa dengan memegang dadanya yang bergejolak kencang.
Sedangkan Rafa segera membawa langkahnya duduk di kursinya dengan degup jantung yang berdetak tak beraturan.
"aaahhh bodohnya, apa yang baru saja aku lakukan, pasti dia sedang menertawakan kebodohanku sekarang, memalukan sekali!" batin Rafa memaki dirinya sendiri.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore saat Tiara dan Chika baru saja melepas seragam mereka.
Merekapun segera keluar dari kafe dan berjalan pulang. Namun tiba tiba, Tiara melihat seseorang yang sudah tidak asing lagi di matanya.
Tiarapun segera menarik tangan Chika untuk mengajaknya berjalan cepat ke arah yang berlawanan dengan arah mereka pulang.
"Kenapa kita kesini? kau mau kemana?" tanya Chika pada Tiara.
Tiara hanya diam tidak menjawab pertanyaan Chika dengan sesekali membawa pandangannya ke arah belakangnya dimana Bima sedang berdiri di samping mobilnya di tepi jalan raya.
"apa yang dilakukan kak Bima disini? apa kak Bima tau aku tinggal di daerah sini?" tanya Tiara dalam hati.
"Tiara, ada apa? apa ada yang mengejarmu?" tanya Chika yang ikut melihat ke belakangnya mengikuti arah pandang Tiara.
Tiara kemudian mengajak Chika masuk ke dalam toko buku untuk bersembunyi dari Bima.
"Katakanlah Ra, ada apa? apa kau sedang menghindar dari seseorang?" tanya Chika dengan kesal karena Tiara tidak juga menjawab pertanyaannya.
"Iya, kau melihat laki laki yang berdiri di samping mobil hitam tadi bukan? aku menghindar darinya," balas Tiara.
"Kenapa kau menghindarinya? memangnya dia siapa?" tanya Chika penasaran.
"Dia suami kakakku, dia..... bukan siapa siapa, aku hanya harus menjauh darinya, dia tidak boleh tau kalau aku bekerja dan tinggal di daerah ini," jawab Tiara yang enggan menjelaskan lebih jauh tentang siapa Bima.
"Sepertinya masalah keluargamu cukup berat Tiara, apa kau tidak ingin bercerita padaku?" tanya Chika.
Tiara hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya pelan.
"Baiklah, tapi kapanpun kau membutuhkanku aku akan selalu siap untuk mendengar semua ceritamu," ucap Chika.
"Terima kasih Chika, kau memang teman yang baik!" balas Tiara sambil mencium pipi Chika.
__ADS_1
"Tapi sampai kapan kita harus disini? aku sudah sangat lapar sekarang!"
"Tunggu sebentar, dia pasti akan segera pergi," balas Tiara.
"Bagaimana jika dia tidak juga pergi?" tanya Chika.
"Makan saja buku buku yang ada disini hehehe......" balas Tiara yang membuat Chika mencubit pipi Tiara dengan gemas.
**
Di tempat lain, Rafa yang baru saja mengendarai mobilnya keluar dari kafe melihat Bima yang berada tak jauh dari kafenya.
Seketika Rafa mengingat Tiara dan segera menghubungi Tiara.
"Halo Ra, kau dimana? apa kau sudah berada di rumah?" tanya Rafa setelah Tiara menerima panggilannya.
"Tiara di toko buku kak, kenapa?" balas Tiara.
"Aku melihat Bima di dekat kafe, apa kau di toko buku karena menghindar dari Bima?" jawab Rafa sekaligus bertanya.
"Iya, Tiara mengajak Chika ke toko buku karena melihat kak Bima tadi," jawab Tiara.
"Aku akan menjemputmu dan mengantarmu pulang, tunggu saja disana!" ucap Rafa.
"Tidak perlu kak......."
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuuttt
Rafa mengakhiri panggilannya begitu saja kemudian memutar balik mobilnya untuk menuju ke toko buku yang ada di dekat kafe.
Sesampainya disana Rafa segera mengirim pesan pada Tiara agar Tiara keluar dari toko buku dan masuk ke mobilnya.
Tak lama kemudian Tiara dan Chikapun keluar dari toko buku lalu segera masuk ke dalam mobil Rafa yang sudah berhenti di depan toko buku.
"Kalian sudah lama disini?" tanya Rafa pada Tiara dan Chika.
"Be....."
"Sangat lama, saya bahkan sudah sangat lapar dari tadi!" sahut Chika menjawab pertanyaan Rafa sebelum Tiara menjawabnya.
"Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang?" tanya Rafa.
"Ti....."
"Setuju," ucap Chika yang lagi lagi menjawab pertanyaan Rafa dengan cepat sebelum Tiara menolak.
"Kau....."
"Aku sangat lapar Ra, bukankah perutmu juga sudah keroncongan dari tadi!" ucap Chika memotong ucapan Tiara.
Tiara hanya diam dengan menggelengkan kepalanya pelan, sedangkan Rafa hanya tersenyum tipis di balik kemudinya.
"Bersabarlah Chika, kita harus mencari tempat makan yang cukup jauh dari sini!" ucap Rafa lalu mengendarai mobilnya ke arah restoran yang berada cukup jauh dari kafenya agar Bima tidak menyadari keberadaan Tiara saat itu.
Sesampainya di tempat tujuan merekapun segera memesan makanan dan minuman.
"Apa pak Rafa yang akan membayarnya? jujur saja, saya hanya akan memesan air putih jika harus membayar sendiri di restoran ini hehehe...." tanya Chika pada Rafa.
"Pesan saja apa yang kalian mau," balas Rafa yang membuat Chika kegirangan.
Setelah selesai makan, merekapun meninggalkan restoran itu. Rafa mengendarai mobilnya ke arah rumah tempat tinggal Tiara dan Chika.
"Terima kasih sudah mengantar Tiara dan Chika kak," ucap Tiara pada Rafa.
"Terima kasih sudah mengajak kita makan juga pak," lanjut Chika.
Rafa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu mengendarai mobilnya pergi setelah Tiara dan Chika turun dari mobilnya.
"Aaahhh pak Rafa baik sekali, tapi kenapa pak Rafa tiba tiba menjemput kita? apa pak Rafa tau tentang masalahmu dengan suami kakakmu itu?" tanya Chika penasaran.
"Kenapa tidak kau tanyakan langsung pada kak Rafa?"
"Itu baru terpikirkan olehku Tiara, apa benar seperti itu?"
"Mmmmm..... hanya beberapa hal yang kak Rafa tau, tapi yang pasti kak Rafa tau kalau aku menghindari suami kakakku," jawab Tiara.
"Itu kenapa pak Rafa menjemput kita? waaahhh pak Rafa sangat perhatian sekali padamu Ra!"
"Bukan hanya padaku, tapi juga padamu dan karyawan lainnya," balas Tiara.
"Tapi sepertinya perhatian pak Rafa lebih banyak padamu," ucap Chika menggoda Tiara.
Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu berlari mendahului Chika.
__ADS_1