Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Alasan Kemarahan Orang Tua Bima


__ADS_3

Tiara dan Kevin masih berada di restoran tempat mereka makan siang bersama keluarga Bima dan Gita. Meskipun suasana cukup canggung, Tiara masih tersenyum dengan cantik.


Tanpa Tiara sadar ucapan Tiara tentang kepergiannya dari rumah membuat suasana semakin canggung karena tatapan tajam orang tua Bima pada Bima.


"Kalau Tante boleh tahu apa yang membuatmu tidak tinggal lagi di rumah itu Tiara?" tanya Mama Bima pada Tiara.


"Tiara hanya ingin lebih mandiri tante jadi Tiara memutuskan untuk keluar dari rumah itu, lagi pula sudah tidak ada Mama dan papa disana yang menahan Tiara untuk keluar dari rumah," jawab Tiara.


"Tapi bukankah lebih baik kau tinggal di rumah sampai kau selesai mengerjakan skripsimu Tiara?" tanya Mama Bima.


"Mengerjakan skripsi di luar rumah lebih tenang tante, karena sudah tidak ada mama dan papa rasanya rumah itu sudah tidak senyaman dulu," jawab Tiara yang semakin membuat Gita tidak bisa berkata-kata lagi.


"Lalu bagaimana kehidupanmu sekarang Tiara? dimana kau tinggal?" tanya Mama Bima penasaran.


"Tiara tinggal di mess tempat kerja Tiara tante," jawab Tiara tanpa memberitahu lokasinya dengan jelas karena ia tidak ingin Bima dan yang lainnya tahu dimana ia tinggal.


"Mess tempat kerja? apa kau juga bekerja Tiara?" sahut papa Bima bertanya.


"Iya om, Tiara juga bekerja untuk membayar biaya kuliah dan biaya hidup Tiara sehari-hari," jawab Tiara.


Papa dan mama Bimapun saling pandang mendengar jawaban Tiara. Mereka tidak mengerti kenapa Tiara bekerja padahal dia mempunyai banyak warisan yang ditinggalkan oleh papanya yang sudah meninggal.


"Kau memang gadis yang baik Tiara, kau bahkan sangat mandiri dengan memilih untuk bekerja dan membayar biaya kuliah dengan uangmu sendiri," ucap Mama Bima memuji.


Tiara hanya tersenyum menanggapi ucapan Mama Bima, meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi ia bisa menilai jika ada sesuatu yang tidak dimengerti olehnya tentang Bima dan keluarganya.


Tapi Tiara tidak terlalu ambil pusing, Tiara tidak peduli apa yang Bima dan keluarganya rencanakan, ia juga sudah tidak peduli pada Gita dan mama tirinya.


Yang terpenting baginya hanyalah ia harus bekerja dan belajar dengan rajin agar ia segera lulus dan mendapatkan pekerjaan yang ia impikan.


Setelah selesai makan siang bersama keluarga Bima dan Gita, Tiara dan Kevinpun berpamitan pergi.


"Sepertinya mereka sangat terkejut setelah mengetahui bahwa kau sudah keluar dari rumah," ucap Kevin pada Tiara.


"Sepertinya begitu, entah apa yang sebenarnya mereka rencanakan aku sama sekali tidak peduli," balas Tiara.


"Sebenarnya tante Laras beberapa kali menghubungiku dan memintaku untuk membujukmu kembali ke rumah, tapi aku sengaja tidak memberitahumu karena aku pikir lebih baik kau tidak kembali ke rumah itu," ucap Kevin.


"Aku memang tidak ingin dan tidak akan pernah kembali ke rumah itu Kevin, apapun yang terjadi aku akan melanjutkan hidupku di luar rumah yang penuh dengan kebohongan itu," balas Tiara.


"Aku akan selalu mendukung apapun yang kau lakukan sekarang Ra, kau harus ingat bahwa kau memiliki aku," ucap Kevin yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.


Kevin kemudian mengendarai motornya ke arah tempat tinggal Tiara. Sesampainya disana Kevinpun segera berpamitan pulang agar Tiara bisa segera beristirahat.


"Aku akan sering datang ke kafemu jika ada waktu," ucap Kevin lalu mengendarai motornya meninggalkan Tiara.


Tiarapun segera membuka gerbang di belakangnya dan begitu terkejut saat melihat mobil Rafa yang terparkir di halaman.


Tiarapun segera membawa langkahnya mendekati Rafa yang saat itu sedang duduk di teras rumah sambil berkutat dengan ponsel di tangannya.


"Kak Rafa!" panggil Tiara yang membuat Rafa segera membawa pandangannya pada Tiara.


"Aku kesini untuk memberikanmu buku ini!" ucap Rafa sambil menunjukkan buku yang ada di atas meja.


Tiara kemudian duduk di hadapan Rafa dan mengambil buku yang ada di atas meja.


"Ini buku apalagi kak? Tiara bahkan belum membaca dua buku yang baru saja kak Rafa berikan!" protes Tiara.


"Kau tidak perlu memahami semua yang ada di buku ini, kau hanya perlu membacanya dan mencari bab yang sesuai dengan skripsi yang kau kerjakan," balas Rafa.


Tiara hanya menghela nafasnya malas lalu menaruh buku itu di meja.


"Kau membaca buku untuk skripsimu saja malas tetapi kau tidak malas seharian menghabiskan waktu dengan pacarmu," ucap Rafa.


"Pacar? pacar siapa maksud kak Rafa?" tanya Tiara dengan mengernyitkan keningnya.


"Tentu saja Kevin, bukankah kau baru saja diantar pulang oleh Kevin?" jawab Rafa.

__ADS_1


"Dia bukan pacar Tiara, Tiara dan Kevin hanya berteman," ucap Tiara.


"Tapi...."


"Jangan hanya karena sering melihat Tiara dengan Kevin kak Rafa jadi berpikir bahwa Tiara dan Kevin berpacaran, apa kak Rafa tidak pernah dekat dengan perempuan sebelumnya?"


"Aku memang tidak pernah dekat dengan perempuan manapun," balas Rafa yang membuat Tiara membelalakkan matanya tak percaya.


"Tidak mungkin, kak Rafa pasti berbohong!" ucap Tiara tidak mempercayai Rafa.


"Aku serius Tiara, kenapa kau menganggapku berbohong?"


"Laki-laki tampan seperti kak Rafa tidak mungkin tidak pernah dekat dengan perempuan, bahkan pasti kak Rafa sudah mengoleksi banyak mantan selama sekolah dan kuliah bukan?"


"Apa kau baru saja mengatakan bahwa aku tampan?" tanya Rafa dengan tersenyum tipis.


"Kak Rafa jangan terlalu percaya diri, ketampanan kak Rafa masih berada sedikit di atas rata-rata bukan berarti kak Rafa sangat tampan, kak Rafa bahkan jauh berada di bawah Do Kyungsoo," balas Tiara mencibir.


"Do Kyungsoo, siapa itu?" tanya Rafa tak mengerti.


"Dia yang membuat Tiara semakin bersemangat setiap hari," jawab Tiara dengan tersenyum dan menutup kedua matanya, membayangkan sosok laki-laki tampan yang merupakan salah satu dari member boy group EXO.


"Hentikan khayalanmu itu, berpikirlah yang realistis!" ucap Rafa sambil memukul kepala Tiara dengan buku yang ada di meja, membuat Tiara menggosok-gosok kepalanya yang baru saja dipukul oleh Rafa.


Tiara hanya terkekeh dengan raut wajah ceria yang semakin menunjukkan kecantikannya.


"Kau pasti salah satu dari para mahasiswi pemuja K-pop," ucap Rafa.


"Tiara menyukainya, bukan hanya karena dia tampan tapi juga karena prestasi dan kebaikannya, apa Tiara tidak boleh sekedar menyukainya saja?"


"Tentu saja boleh, asalkan kau masih bisa berpikir logis dan hal itu tidak mengganggu kehidupanmu sehari-hari!"


"Tentu saja tidak, Tiara bukan bocah kecil yang mendewakan para laki-laki tampan itu!" balas Tiara.


Rafa hanya tersenyum tipis melihat sikap Tiara. Selama ini Rafa memang tidak pernah dekat dengan perempuan manapun.


"Masuk dan beristirahatlah, jangan lupa membaca buku-bukumu sebelum kau asal menulis bab baru skripsimu," ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya.


"Tiara tidak pernah asal menulis kak, Tiara sudah banyak berpikir sebelum menulis kata demi kata," protes Tiara.


"Kau hanya menulis tentang apa yang kau tahu, tanpa kau banyak membaca tentang banyak hal yang sebenarnya tidak kau ketahui, jadi kau harus lebih banyak membaca Tiara dan jangan hanya menulis tentang sesuatu yang bahkan kau tidak benar-benar tahu faktanya," ucap Rafa.


"Baiklah, Tiara memang tidak akan menang berdebat dengan kak Rafa," balas Tiara dengan mengangguk anggukkan kepalanya pelan.


Rafa hanya terkekeh lalu mengacak acak rambut Tiara pelan kemudian berjalan pergi meninggalkan Tiara.


Tiara hanya tersenyum dengan merapikan rambutnya lalu berjalan masuk ke dalam rumah dan segera membaringkan badannya di ranjang kamarnya.


**


Hari telah berganti, Tiara sudah berganti pakaian bersiap untuk berangkat ke kafe bersama Chika.


"Anak-anak bilang kemarin Pak Rafa mencarimu kesini, apa benar Tiara?" tanya Chika pada Tiara.


"Iya benar, apa mereka membicarakan sesuatu padamu?" jawab Tiara sekaligus bertanya.


"Tidak, mereka hanya memberitahuku bahwa pak Rafa datang untuk mencarimu!"


"Mereka tidak membicarakan sesuatu yang buruk bukan?" tanya Tiara yang segera dibalas gelengan kepala oleh Chika.


"Tenang saja Tiara, semua yang bekerja di kafe sudah seperti saudara, jadi tidak akan ada yang berbicara buruk di belakang kita," ucap Chika.


"Syukurlah kalau begitu, kemarin Pak Rafa mencariku hanya untuk memberikan buku untuk membantuku mengerjakan skripsi," balas Tiara.


"Sepertinya Pak Rafa perhatian sekali padamu Ra," ucap Chika.


"Pak Rafa hanya bersikap sebagai dosen padaku karena Pak Rafa pernah menjadi dosen pembimbingku, jadi sampai sekarangpun Pak Rafa masih suka membantuku mengerjakan skripsi," balas Tiara memberi alasan.

__ADS_1


"Alasan yang cukup masuk akal," ucap Chika dengan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


Sesampainya di kafe, Tiara dan Chika mulai sibuk dengan pekerjaan mereka. Tepat jam 03.00 sore Tiara meminta izin pada Rafa untuk pergi ke kampus karena ia harus melakukan bimbingan skripsi.


Tanpa banyak bertanya Rafapun mengizinkan Tiara kemudian berganti pakaian lalu segera berangkat ke kampus.


Sesampainya di kampus Tiara segera menemui dosen pembimbingnya dan setelah beberapa lama melakukan bimbingan skripsi Tiarapun meninggalkan kampus dengan penuh senyum karena tidak banyak tulisannya yang harus direvisi, membuatnya bisa segera melanjutkan bab selanjutnya.


"Akhirnya aku bisa melanjutkan bab selanjutnya, tidak sia-sia aku membaca banyak buku dari kak Rafa," ucap Tiara senang.


Setelah meninggalkan kampus Tiara tidak segera pulang melainkan kembali ke kafe. Saat Tiara masuk ke dalam kafe, bersamaan dengan itu Rafa keluar dari kafe.


"Kau sudah pulang? bagaimana skripsimu?" tanya Rafa pada Tiara.


"Hari ini semuanya berjalan lancar kak, tidak banyak yang harus Tiara revisi bahkan hampir 100% bab baru Tiara sudah diterima, sekarang Tiara harus menyiapkan bab selanjutnya," jawab Tiara senang.


"Baguslah kalau begitu," balas Rafa.


"Apa Pak Rafa sudah mau pulang?" tanya Tiara.


"Tidak, aku akan mensurvei tempat untuk kafe baru, apa kau mau ikut denganku?" balas Rafa.


"Memangnya boleh?" tanya Tiara.


"Tentu saja boleh jika kau mau," jawab Rafa lalu membawa langkahnya ke tempat parkir diikuti oleh Tiara yang berlari kecil di belakangnya.


"Tiara ikut kak," ucap Tiara bersemangat.


Tiara kemudian masuk ke dalam mobil Rafa. Rafapun mengendarai mobilnya meninggalkan kafe menuju ke lokasi yang akan menjadi kafe keduanya.


Sesampainya disana Rafa disambut oleh beberapa orang yang bertanggung jawab dalam pembangunan kafe.


"Bagaimana progresnya?" tanya Rafa.


"Tanah sudah mulai rata pak, kemungkinan satu atau dua hari kita sudah bisa memulai peletakan batu pertama."


Setelah menanyakan beberapa hal, Rafa kemudian mengajak Tiara untuk pergi ke kafe yang berada dekat dengan tempat Rafa akan membangun kafenya.


"Kenapa kak Rafa harus membangun kafe di sekitar sini? bukankah disini sudah ada dua kafe yang lebih dulu berdiri?" tanya Tiara.


"Disini dekat dengan kampus, perusahaan besar dan rumah sakit, jadi tempat ini memang potensial untuk mendapatkan pelanggan, tentang dua kafe yang sudah ada sebelumnya itu memberikan tantangan pada kita agar kita bisa lebih inovatif untuk bisa memberikan pelayanan yang lebih baik pada pelanggan," jawab Rafa.


Tiara hanya terdiam, mendengarkan dengan serius penjelasan Rafa.


"Tempat disini sangat strategis Tiara, tinggal bagaimana kita mengelola kafe kita agar bisa lebih unggul dari kafe lain yang ada disini, lagi pula dua kafe yang lebih dulu berdiri hanya buka sampai jam 12.00 malam sedangkan kafe kita buka selama 24 jam yang artinya kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk mendapatkan pelanggan baru, karena aktivitas orang-orang di sekitar sini berjalan selama 24 jam," lanjut Rafa menjelaskan.


**


Di tempat lain Bima sedang berada di rumah kedua orang tuanya. Papa dan Mama Bima begitu murka saat mereka tahu bahwa Tiara sudah meninggalkan rumahnya.


"Apa kau tahu apa yang terjadi jika Tiara meninggalkan rumahnya?" tanya sang papa pada Bima.


"Jika yang papa bicarakan menyangkut warisan dari orang tua Tiara, Bima sama sekali tidak peduli pa," jawab Bima.


"Sayang, bukankah kau berteman baik dengan Tiara, kenapa kau tidak mengajaknya untuk kembali tinggal di rumahnya?" tanya sang mama pada Bima.


"Sebenarnya apa yang Mama dan papa inginkan? jika memang tujuan mama dan papa adalah Tiara kenapa Bima harus menikahi Gita bukan Tiara?" tanya Bima tak mengerti.


"Terlalu lama menunggu Tiara untuk bisa mendapatkan hak warisan itu, jadi akan lebih baik jika Laras berhasil merebutnya, dengan begitu kau akan bisa memiliki sebagian hartanya dengan cara menikahi Gita," jawab papa Bima.


"Jadi sebenarnya itu alasan mama dan papa memaksa Bima untuk menikahi Gita?" tanya Bima terkejut mendengar ucapan sang papa.


"Jangan berpura-pura bodoh Bima, kau pasti mengetahui hal itu tanpa mama dan papa menjelaskannya, lagi pula apa yang kau lakukan itu akan memberikan dampak yang sangat besar bagi perusahaan kita!"


"Lalu bagaimana dengan cabang perusahaan yang papa janjikan?" tanya Bima.


"Tentu saja itu tidak akan kau dapatkan jika Tiara pergi dari rumah seperti ini, jadi kau harus bisa membuatnya kembali ke rumah secepatnya," jawab papa Bima yang membuat Bima hanya terdiam tanpa mampu berkata-kata lagi.

__ADS_1


Bima merasa ia sudah begitu jahat pada Tiara. Selama ini ia tidak pernah mengerti apa yang sebenarnya Mama dan papanya rencanakan, yang ia tahu ia akan mendapatkan apa yang dia inginkan jika ia menikahi Gita, tanpa ia tahu maksud sebenarnya dari kedua orang tuanya.


__ADS_2