
Hari demi hari telah berlalu. Pagi itu Tiara keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi untuk mengikuti seminar yang diadakan oleh perusahaan besar yang ada di kotanya.
Dengan penuh semangat Tiarapun menaiki bus yang membawanya ke perusahaan itu. Sesampainya disana, Tiara hanya berdiri tepat di depan perusahaan itu.
"Waaahh..... rasanya jantungku berdebar, padahal aku hanya akan mengikuti seminarnya dan belum menjadi bagian dari perusahaan ini, pasti rasanya sangat menyenangkan jika aku bisa menjadi bagian dari perusahaan ini," ucap Tiara dengan senyum mengembang di bibirnya.
Saat ia akan membawa langkahnya masuk, ia melihat seorang laki laki yang tampak tidak sengaja menjatuhkan map yang dibawanya, membuat beberapa lembaran berkas berhamburan di sekitarnya.
Tiarapun segera berlari mendekat untuk membantunya.
"Terima kasih, siapa namamu?" Ucap laki laki itu sekaligus bertanya setelah semua lembaran berkas kembali ke tangannya.
"Saya Tiara," jawab Tiara.
"Dari bagian apa?" Tanyanya lagi.
"Aaahh saya belum bekerja disini, saya kesini untuk mengikuti seminar," jawab Tiara.
"Ooh seminar? Kebetulan aku akan pergi ke ruangan seminar, ayo ikutlah denganku!" Ucap laki laki itu yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Tiarapun membawa langkahnya mengikuti laki laki di hadapannya. Jika diperhatikan, laki laki itu masih cukup muda, Tiara memperkirakan usianya mungkin tidak jauh dari Rafa dan Bima.
Tiara dan laki laki itupun menaiki lift yang akan membawa mereka ke lantai 7, tempat seminar akan diadakan.
"Kenapa kau mengikuti seminar disini? Ini hari Minggu, bukankah lebih baik menghabiskan waktu bersama teman teman atau pacar?" Tanya laki laki itu.
Tiara tersenyum mendengar pertanyaan laki laki itu.
"Saya...."
"Jangan tersenyum seperti itu, kau bisa membuat semuanya berantakan nanti!" Ucap laki laki itu memotong ucapan Tiara setelah melihat Tiara tersenyum.
"Maksudnya?" Tanya Tiara tak mengerti.
"Kau bisa membuat hatiku berantakan dengan senyummu itu," jawab laki laki itu yang membuat Tiara terkekeh.
"Saya sengaja mengikuti seminar ini agar saya bisa lebih mengenal perusahaan ini sebelum saya melamar pekerjaan disini," ucap Tiara.
"Waaahh kau akan melamar pekerjaan disini?" Tanya laki laki itu yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Perusahaan ini memiliki standarisasi tinggi untuk menerima karyawannya, mereka menginginkan fresh graduate yang penuh semangat untuk bekerja dan bisa cepat mempelajari hal baru, tidak semua orang pintar bisa bekerja disini jika mereka tidak benar benar bisa memberikan dirinya lebih dari 100 persen untuk perusahaan," ucap laki laki itu menjelaskan.
"Jadi jika kau memang ingin bekerja disini yang kau butuhkan bukan hanya kemampuan intelektual tapi juga kecerdasan dan mental yang kuat," lanjutnya.
Tiara mengangguk anggukan kepalanya mendengar ucapan laki laki itu. Sama seperti yang ia tau, menjadi bagian dari perusahaan itu memang tidaklah mudah.
"Tapi aku yakin kau bisa melewatinya," ucap laki laki itu.
"Kenapa begitu yakin?" Tanya Tiara.
"Entahlah, hanya yakin saja," jawabnya.
TRIIING
Pintu lift terbuka, Tiara dan laki laki itupun keluar dari lift.
"Itu ruangan seminarnya, masuklah, aku harus pergi ke ruangan lain terlebih dahulu," ucap laki laki itu lalu pergi begitu saja.
Saat Tiara baru saja melangkah, tiba tiba ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Tiara!"
Tiarapun menoleh ke arah sumber suara dan mendapati laki laki yang bersamanya tadi melambaikan tangannya pada Tiara lalu masuk ke sebuah ruangan.
Tiara hanya tersenyum tipis lalu kembali membawa langkahnya masuk ke ruangan seminar.
Disana sudah ada banyak orang yang Tiara yakin orang orang itu memiliki impian yang sama sepertinya, menjadi bagian dari perusahaan besar itu.
Tiara kemudian membawa langkahnya untuk duduk di barisan pertama, di dekat seorang perempuan yang tampak sibuk dengan ponselnya.
"Apa tempat ini kosong?" Tanya Tiara sebelum ia duduk.
"Iya kosong, duduklah," jawabnya.
Tiarapun duduk lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Perempuan yang bernama Dita itu ternyata lulusan terbaik di universitasnya. Ia sama seperti Tiara yang ingin menjadi bagian dari perusahaan itu.
"Kau hebat bisa kuliah disana, karena yang aku tau yang berkuliah disana hanya mahasiswa yang berprestasi!" Ucap Dita saat ia tau bahwa Tiara baru saja lulus dari universitas terbaik di kotanya.
"Ternyata kampusku berhasil membuat citra seperti itu ya hehehe...." Balas Tiara yang membuat Dita terkekeh.
Tiara dan Ditapun membicarakan banyak hal tentang kehidupan kuliah mereka. Dari cerita Dita, Tiara bisa mengambil kesimpulan bahwa Dita memiliki background keluarga yang harmonis dan berkecukupan, bahkan mungkin lebih dari cukup.
Setelah beberapa lama mengobrol, beberapa orang dari perusahaan itupun memasuki ruangan.
Seminar akan segera dimulai oleh MC yang sudah memegang mikrofon di tangannya.
"Selamat pagi semuanya, sebelum saya berbicara lebih jauh, ada baiknya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu, karena sepertinya kalian semua sangat ingin mengenal saya," ucap laki laki yang berada di atas panggung, membuat semua yang ada disana riuh karenanya.
__ADS_1
Tiara hanya tersenyum tipis karena laki laki itu adalah laki laki yang sempat mengobrol dengannya beberapa waktu yang lalu.
"Nama saya Putra, karena saya laki laki, kalau saya perempuan mungkin nama saya Putri," ucap putra yang kembali membuat riuh ruangan itu.
"Tapi kalian jangan memanggil saya "pak putra" karena saya belum terlalu tua untuk dipanggil "pak", jangan memanggil "kakak" juga karena kalian bukan adik saya, silakan panggil "sayang" saja," lanjutnya yang lagi lagi membuat semua peserta seminar kembali riuh, terutama para perempuan.
"Hahaha.... Dia lucu sekali, pasti seru memiliki teman kerja atau atasan seperti dia," ucap Dita pada Tiara.
"Mungkin lama lama kau akan bosan dengan kerecehannya," balas Tiara.
"Bosan? Hmmm.... Rasanya tidak, tapi mungkin aku akan jatuh cinta padanya hehehe....." Ucap Dita yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.
"Jatuh cinta? Kau bahkan baru melihatnya dari beberapa menit yang lalu!"
"Hahaha.... Aku hanya bercanda tiara, kau serius sekali!" Balas Dita.
Setelah bagian pembukaan disampaikan oleh Putra, seminarpun dilanjutkan oleh pembicara yang merupakan CEO sekaligus pemilik perusahaan itu, Adam Mahendra.
Adam Mahendra menjelaskan banyak hal dalam seminarnya. Tidak hanya tentang pekerjaan tapi juga tentang bagaimana seseorang harus bisa meraih impiannya dengan segala kemampuan dan keterbatasan yang ada.
"Ya, aku pasti bisa menjadi bagian dari perusahaan ini dengan semua yang aku miliki saat ini, entah itu kekurangan ataupun kelebihanku," ucap Tiara dalam hati.
Setelah acara seminar selesai, satu per satu yang ada di ruangan itupun keluar. Tak lupa Dita dan Tiara saling bertukar nomor ponsel sebelum mereka berpisah.
Sebelum meninggalkan lantai 7, Tiara mencari toilet terlebih dahulu hingga membuatnya tertinggal oleh peserta seminar yang lain.
Tiarapun berdiri di depan lift untuk menunggu lift terbuka.
"Bagaimana seminar hari ini?" Tanya Putra yang tiba tiba datang.
"Menyenangkan, semua yang disampaikan pak Adam Mahendra benar benar sangat mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir," jawab Tiara.
"Lalu bagaimana denganku?" Tanya putra
Belum sampai Tiara membuka mulutnya, pintu lift sudah terbuka. Tiarapun masuk ke dalam lift bersama putra.
"Sepertinya aku tau nama panjangmu!" Ucap putra.
"Benarkah?"
"Iya, namamu mutiara bukan?" Balas putra yang membuat Tiara menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kalau begitu ganti saja namamu menjadi mutiara," ucap putra.
"Kenapa?" Tanya Tiara.
"Tolong berhenti berkata seperti itu, pak putra membuat Tiara geli," ucap Tiara dengan berusaha menahan tawanya.
"Sudah ku katakan jangan memanggilku seperti itu, apa kau tidak menyimakku tadi?"
"Kak Putra?"
"Boleh, jika kau mau menjadi adikku dan tinggal bersamaku," balas Putra yang membuat Tiara segera menggelengkan kepalanya.
Pintu liftpun terbuka. Tiara dan Putra keluar dari lift.
"Tiara permisi pak," ucap Tiara lalu berjalan cepat meninggalkan Putra.
"Laki laki aneh," ucap Tiara pelan.
Tiara kemudian berjalan ke arah halte untuk menunggu bus. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan halte.
Si pemilik mobilpun segera turun, meminta Tiara untuk masuk ke mobilnya. Tanpa banyak bertanya Tiarapun mengiyakan.
"Bagaimana kau tau aku disini?" Tanya Tiara pada Kevin saat ia sudah duduk di dalam mobil Kevin.
"Aku yakin kau pasti mengikuti seminar disini," jawab Kevin.
"Kau tidak menungguku dari tadi bukan?" Tanya Tiara.
"Tentu saja tidak.... Aku.... Hanya kebetulan saja," balas Kevin tergagap.
"Hahaha kau berbohong, jadi benar kau menungguku dari tadi?"
Kevin hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun karena ia gagal berbohong pada Tiara.
"Kenapa kau menungguku? Kau bisa menghubungiku jika ingin bertemu denganku," tanya Tiara.
"Aku baru saja mengantar Bella ke bandara dan kebetulan melewati tempat seminarmu, jadi aku memutuskan menunggumu disini, ternyata kau sangat lama!" Jawab Kevin menjelaskan.
"Bella ke bandara? Kemana dia akan pergi?" Tanya Tiara.
"Dia akan mengikuti summer class di Oxford," jawab Kevin santai.
"Summer class? Waaahhh hebat sekali, itu artinya kau dan Bella LDR dong, menyedihkan sekali," ucap Tiara.
"Tidak ada yang menyediakan, kita tidak hidup di jaman batu Tiara, kita tetap bisa berkomunikasi setiap hari dengan mudah," balas Kevin.
__ADS_1
"Tapi kalian tidak akan sering bertemu, apa kau tidak merindukannya?"
"Apa kau tidak tau vitur panggilan video di hpmu?" Balas Kevin bertanya yang membuat Tiara terkekeh.
"Lagipula dia hanya beberapa bulan disana," lanjut Kevin.
"Pasti menyenangkan hidup seperti Bella, dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan dengan mudah, dunia seperti menjadi miliknya," ucap Tiara.
"Sejak kapan kau iri dengan kehidupan orang lain?"
"Aku bukan iri, hanya terkagum saja, aku juga menjalani hidupku dengan menyenangkan, banyak hal yang harus aku perjuangkan demi apa yang aku inginkan, aku bahagia menjalani proses yang terkadang membuatku terjatuh," balas Tiara.
"Hidup mungkin terasa tidak adil bagi sebagian orang, tapi percayalah Tiara kebahagiaan yang sesungguhnya hanyalah milik mereka yang mau bersyukur atas hidupnya," ucap Kevin yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Kevin melajukan mobilnya ke arah kafe setelah Tiara memberi tau arah tempatnya bekerja.
Mereka mengobrol di kafe untuk beberapa lama.
"Bagaimana seminar hari ini?" Tanya Kevin pada Tiara.
"Menyenangkan, pembicara dalam seminar hari ini adalah pal Adam Mahendra yang merupakan CEO sekaligus pemilik perusahaan itu," jawab Tiara.
"Semua yang mengikuti seminar itu pasti mempunyai niat yang sama sepertimu Tiara, apa kau siap bersaing dengan mereka semua?"
"Tentu saja aku siap, aku sudah berusaha semampuku Kevin, aku yakin akan mendapatkan hasil yang aku inginkan, tapi jika memang aku gagal, aku tidak akan kecewa, setidaknya aku mendapatkan banyak hal baru dari setiap proses yang aku lewati," Jawab Tiara.
"Pemikiran yang bagus!" Ucap Kevin sambil menempelkan ibu jarinya di kening Tiara.
"Pak Adam Mahendra yang mengatakan hal itu," ucap Tiara.
Setelah beberapa lama mengobrol, Kevinpun mengajak Tiara pulang.
"Kau pulang saja dulu, aku ingin menemui teman temanku disini," ucap Tiara
"Aku mengantarmu pulang karena ingin tau dimana tempat tinggalmu Tiara!" Ucap Kevin.
"Aku tinggal di dekat sini Kevin, lain kali kau bisa mengantarku," balas Tiara.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu!" Ucap Kevin yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Sepeninggalan kevin, Tiarapun membwa langkahnya masuk untuk menemui Chika. Kafe kedua Rafa ini memang buka setiap hari 24 jam, berbeda dengan kafe pertama yang libur setiap hari Minggu.
Meskipun begitu, setiap karyawan memiliki jatah libur yang sama meskipun berbeda hari.
"Kenapa kau belum pulang? Pulanglah, kau harus beristirahat Tiara!"
"Aku hanya mampir sebentar, apa kau tidak merindukanku?" Ucap Tiara sekaligus bertanya pada Chika.
"Hahaha.... Tentu saja tidak, cepat pulang!" Jawab jika bercanda.
"Aaahh kau menyebalkan sekali," ucap Tiara dengan memanyunkan bibirnya.
"Kau harus menjaga kesehatanmu Tiara, aku tau kau selalu begadang setiap malam!" Ucap Chika.
"Tenang saja, aku adalah wonder woman yang tidak mudah sakit," balas Tiara sambil mengangkat kedua tangannya seolah memperlihatkan otot yang dimilikinya.
"Kau terlalu membanggakan apa yang tidak kau miliki!" Ucap Rafa yang baru saja masuk ke kafe dan melihat Tiara.
"Pak Rafa saja yang tidak melihatnya," balas Tiara dengan menggerutu pelan namun tidak didengar oleh Rafa yang sudah berjalan masuk ke ruangannya.
Sedangkan Chika hanya terkekeh melihat interaksi Tiara dan Rafa.
"Kau bahkan pernah pingsan di kafe, apa kau lupa?" ucap Chika mengejek.
"Aku pingsan karena aku minum kopi sebelumnya," balas Tiara beralasan.
"Wonder woman tidak akan pingsan hanya karena minum kopi!" ucap Chika yang membuat Tiara terkekeh.
"Baiklah, aku pulang saja!" ucap Tiara lalu berjalan keluar meninggalkan kafe.
**
Waktu berlalu, Tiara yang tengah terpejam dengan keringat dingin di tubuhnya hanya bisa membungkus dirinya dengan selimut tebal miliknya.
Entah kenapa ia merasa keadaanya sedang buruk saat itu.
"Mama.... papa......" ucap Tiara pelan dengan kedua mata yang masih terpejam.
Mentari pagipun datang menyambut hari baru. Tiara mengerjapkan matanya, dengan memegang kepalanya yang terasa pusing perlahan Tiara membawa dirinya untuk duduk.
"Kepalaku pusing sekali," ucap Tiara lalu beranjak dari ranjangnya untuk mencari obat.
"Aahh, aku demam," ucapnya sambil menyentuh keningnya sendiri.
"Semangat Tiara, demam tidak akan membuatmu lemah!" ucap Tiara sambil meneguk air bersama obat yang sudah ada di dalam mulutnya.
Tiara kemudian mandi dan berganti pakaian. Ia menatap wajahnya yang ada pada pantulan cermin sebelum ia keluar dari kamar untuk berangkat bekerja.
__ADS_1
"Aaahh kenapa pucat sekali? padahal aku sudah minum obat!" ucap Tiara sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing, bahkan demamnya belum juga turun.