Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Bertemu Putra (2)


__ADS_3

Tiara dan Putra berjalan keluar dari kafe setelah jam kerja Tiara selesai. Mereka memilih untuk berjalan ke arah taman yang berada di seberang kafe.


Meskipun sudah larut malam tetapi masih ada beberapa orang yang tampak tengah menghabiskan malam disana.


"Bagaimana keadaanmu Tiara?" tanya Putra pada Tiara yang kini sudah duduk bersamanya.


"Tiara baik kak, bagaimana dengan kak Putra?" jawab Tiara sekaligus bertanya.


"Aku juga baik, bagaimana dengan kuliahmu dan kenapa kau bekerja di kafe? bukankah kau sudah mendapatkan cukup uang untuk kebutuhan hidup dan biaya kuliahmu?"


Tiara tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan Putra, entah sudah berapa kali ia mendengar pertanyaan yang sama.


"Ada apa Ra? apa terjadi sesuatu?" tanya Putra khawatir.


"Kak Putra bukan orang pertama yang menanyakan hal itu pada Tiara, jadi sudah beberapa kali juga Tiara menjawabnya," balas Tiara.


"Biaya hidup dan kuliah Tiara memang sudah ditanggung oleh perusahaan tetapi bagaimanapun juga Tiara sedang hidup di negara orang sekarang, Tiara harus bisa mengatur keuangan Tiara dengan baik untuk kebutuhan mendesak yang tiba-tiba datang, jadi Tiara memilih untuk bekerja tanpa mengesampingkan kuliah Tiara," lanjut Tiara.


"Sudah berapa lama kau bekerja? apa kuliahmu tidak akan terganggu?" tanya Putra.


"Tiara sudah lebih dari satu bulan bekerja di kafe dan selama ini kuliah Tiara tidak terganggu sama sekali, Tiara bisa menjalani keduanya dengan baik, kak Putra tidak perlu mengkhawatirkannya," jawab Tiara.


"Lalu bagaimana denganmu sendiri Tiara? waktu istirahatmu pasti sangat berkurang!"


"Tiara sudah pernah seperti ini sebelumnya kak, jadi ini bukan hal yang baru bagi Tiara, lagipula Tiara menikmati kesibukan Tiara, belajar terus menerus terkadang membuat Tiara stres jadi dengan bekerja Tiara bisa sedikit melepas stres bersama teman-teman Tiara di kafe sembari sesekali menyempatkan waktu untuk belajar jika sedang senggang," jelas Tiara.


"Kau yang paling tahu tentang bagaimana dirimu sendiri Tiara, aku harap kau tidak terlalu memaksakan dirimu!" ucap Putra yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Jika kau membutuhkan sesuatu kau bisa menghubungiku, jangan ragu untuk meminta tolong padaku Tiara, bagaimanapun juga kita pernah menjadi rekan kerja dan kaupun masih berstatus sebagai pegawai perusahaan," ucap Putra.


"Tiara ingin berusaha menyelesaikan semua masalah Tiara sendiri kak, walaupun Tiara tahu akan ada beberapa hal yang tidak bisa Tiara selesaikan sendiri nantinya," balas Tiara.


"Tapi kau tidak sedang berusaha untuk menjauhiku bukan?" tanya Putra memastikan.


Untuk beberapa saat Tiara terdiam. Ingin rasanya ia benar-benar menjauh dari semua orang yang berasal dari masa lalunya. Namun setelah ia berpikir rasanya tidak adil bagi Putra jika ia juga menjauhi Putra, karena Putra sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun padanya.


Justru putra adalah salah satu seseorang yang banyak membantunya, terlepas dari Putra yang tidak memberitahu dirinya bahwa Rafa sudah beristri.


"Tiara ingin memulai mimpi baru Tiara disini tanpa orang-orang dari masa lalu Tiara kak, tapi setelah Tiara pikir Tiara tidak punya alasan apapun untuk menjauhi kak Putra," ucap Tiara.


"Aku minta maaf jika aku tidak memberitahumu tentang status Rafa yang sebenarnya, aku membiarkan Rafa sendiri yang nantinya akan memberitahumu, tapi aku tidak tahu kapan Rafa akan melakukan hal itu, jadi aku....."


"Lupakan saja kak, Tiara sudah tidak mau mengingatnya lagi, Tiara hanya menganggap semua itu mimpi bagi Tiara, sekarang Tiara sudah terbangun dari mimpi itu dan bersiap untuk menjalani kehidupan Tiara yang sesungguhnya," ucap Tiara memotong ucapan Putra.


Putra hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ada sebuah penyesalan karena ia tidak memberitahu Tiara tentang status Rafa yang sebenarnya sebelum Tiara mengetahuinya tiba-tiba.


"Sejak kapan kak Putra berada disini? apa kak Putra kesini untuk berlibur atau bagian dari pekerjaan?" tanya Tiara berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Aahh iya aku belum memberitahumu, om Adam memindahkanku ke perusahaan cabang yang berada disini, jadi sejak bulan lalu aku sudah berada disini dan menjadi bagian dari cabang perusahaan yang ada disini," jawab Putra.


"Itu artinya kak Putra tinggal disini?" tanya Tiara memastikan yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Putra.


"Berapa lama kak Putra akan bekerja dan tinggal disini?" tanya Tiara.


"Entahlah, aku juga tidak tahu tapi yang pasti untuk beberapa tahun ini aku masih tetap berada disini," jawab Putra.


Tiara mengangguk-anggukkan kepalanya pelan mendengar jawaban Putra. Saat dia berusaha menjauh dari semua orang di masa lalunya ia tidak menyangka jika Putra akan kembali mendekat dan Tiara tidak memiliki alasan untuk bisa menjauh dari Putra.

__ADS_1


"Tiara, kita masih berteman bukan?" tanya Putra dengan membawa pandangannya menatap gadis cantik yang duduk di sampingnya.


Kecantikannya bahkan masih bisa terlihat jelas meskipun berada di bawah remang lampu taman.


"Seperti yang Tiara katakan, tidak ada alasan bagi Tiara untuk menjauhi kak Putra, asalkan kita bisa menjaga batasan masing-masing tidak ada salahnya untuk berteman," jawab Tiara.


"Terima kasih Tiara, aku akan menjadi teman yang baik untukmu tanpa melewati batasanmu jadi jangan pernah ragu untuk meminta bantuanku, aku pasti akan membantumu sebisaku," ucap Putra.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum ke arah Putra tanpa mengatakan apapun. Ia sudah bisa menduga jika kemungkinan besar akan ada yang berubah dari kehidupannya disana sejak ia bertemu dengan Putra.


"Dimana kak Putra tinggal? apa dekat dari sini?" tanya Tiara.


"Lumayan, membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari tempat tinggalku untuk sampai ke kafe!" jawab Putra.


"Itu cukup jauh kak, tidak mungkin jika tidak ada kafe di sekitar tempat tinggal kak Putra bukan?"


"Aku...... aku pernah ke kafe tempatmu bekerja sebelumnya bersama teman-temanku dan aku menyukai kafe itu daripada kafe-kafe yang ada di dekat tempat tinggalku," jawab Putra beralasan.


"Kenapa?" tanya Tiara penasaran.


"Entahlah, suasananya terasa berbeda saja," jawab Putra sebenarnya.


Tiara hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Putra, terbesit dalam kepalanya jika sebenarnya Putra sudah mengetahui bahwa dirinya bekerja di kafe itu atau mungkin Putra sebenarnya sudah beberapa kali bertemu dengannya atau bahkan sengaja mencarinya tanpa ia tahu.


"Bekerja di tempat yang baru membuatku sangat sibuk, aku bahkan hanya beberapa kali hangout bersama teman-teman baruku dan salah satu tempat yang mereka rekomendasikan adalah kafe tempatmu bekerja," ucap Putra berusaha meyakinkan Tiara.


Tiara kembali menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia menertawakan dirinya sendiri yang merasa terlalu percaya diri dengan semua hal yang baru saja ia pikirkan.


"Hari Minggu nanti apa kau senggang?" tanya Putra pada Tiara.


"Tiara belum tahu kak, tapi mungkin Tiara akan pergi bersama teman-teman Tiara," jawab Tiara.


"Dimana kau tinggal? aku akan mengantarmu pulang sekarang!"


"Di dorm yang berada tidak jauh dari sini," jawab Tiara.


Putra dan Tiara kemudian berjalan kembali ke kafe karena mobil Putra masih terparkir disana. Putra kemudian mengendarai mobilnya ke arah dorm tempat Tiara tinggal sesuai dengan petunjuk yang Tiara berikan.


"Terima kasih sudah mengantar Tiara pulang kak," ucap Tiara saat ia sudah sampai di depan tempat tinggalnya.


"Aku harap kita bisa bertemu lagi lain kali!" ucap Putra yang hanya dibalas senyum oleh Tiara.


**


Di tempat lain Rafa sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Sama seperti kegiatan yang ia lakukan sebelum ia sakit, ia banyak menghabiskan waktu di kantor daripada di rumah. Ia benar-benar sudah muak dengan keberadaan Maya di rumahnya.


Saat jam makan siang Rafa masih berada di meja kerjanya untuk mengerjakan beberapa hal yang sebenarnya bisa ia kerjakan lain kali.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan Rafa, membuat Rafa segera membawa pandangannya ke arah pintu ruangannya dan begitu terkejut saat melihat Maya berada di depan ruangannya.


Rafapun segera beranjak dari duduknya lalu menutup pintu ruangannya setelah menarik Maya masuk.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rafa dengan tatapan penuh emosi.


"Aku kesini untuk membawakanmu makan siang," jawab Maya sambil memamerkan tas bekal yang berisi makanan yang baru saja dimasaknya di rumah.


"Tolong berhentilah menggangguku Maya, kau sudah membuatku tidak nyaman berada di rumah, apa kau juga akan membuatku tidak nyaman berada di kantor?"

__ADS_1


"Aku hanya melakukan tugasku sebagai istrimu Rafa, apa aku salah?"


"Tentu saja kau salah karena dari awal kita sudah sepakat untuk saling tidak memperdulikan satu sama lain, apa kau lupa itu?" balas Rafa.


"Tapi itu dulu sebelum aku mencintaimu Rafa, sekarang aku....."


"Kau tidak akan berhubungan badan dengan laki-laki lain jika kau memang mencintaiku Maya, mungkin aku bisa saja luluh dengan semua perhatianmu padaku tapi apa kau lupa apa yang sudah kau lakukan dengan Bagas?" ucap Rafa memotong ucapan Maya.


Seketika Maya terdiam tidak mampu mengucapkan apapun, karena memang itu adalah kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan.


"Jika kau berpikir kau adalah istriku seharusnya kau tidak melakukan hal itu di belakangku, apapun alasanmu itu sama sekali tidak bisa dibenarkan dan aku yakin orang tuamu akan sangat kecewa jika mereka mengetahui hal itu!" ucap Rafa.


"Tidak perlu membawa orang tuaku dalam masalah kita Rafa, kaupun sama sepertiku, diam-diam kau berhubungan dengan Tiara di belakangku, kau juga berselingkuh Rafa jadi jangan hanya menyalahkanku saja," balas Maya yang tak kalah emosi saat itu.


"Tiara bukan gadis murahan sepertimu Maya jadi jangan samakan dia denganmu, aku memang mencintainya dan aku memang mendekatinya tapi aku tidak pernah melakukan hal-hal yang di luar batas dengannya, sampai terakhir kali kita bertemu sebelum makan malam itu dia bahkan belum menerima perasaanku, pernyataan cintaku untuknya sama sekali tidak membuatnya goyah karena dia hanya gadis polos yang sedang berusaha untuk meraih mimpinya," ucap Rafa dengan penuh ketegasan di setiap kalimatnya.


"Tapi......"


"Pergilah sebelum aku meminta satpam untuk memaksamu keluar dari sini!" ucap Rafa kalau membawa langkahnya kembali duduk di belakang meja kerjanya.


"Bagaimana jika aku memberitahu semua orang bahwa aku adalah istrimu? aku yakin mereka akan sangat terkejut!"


"Jika kau melakukan hal itu maka aku tidak akan ragu untuk memberitahu orang tuamu tentang apa yang sudah kau lakukan dengan Bagas selama ini!" balas Rafa yang kembali membuat Maya terdiam.


"Sekali lagi aku memintamu keluar sebelum aku benar-benar meminta satpam datang untuk mengusirmu!" ucap Rafa dengan menatap tajam ke arah Maya yang masih berdiri di tempatnya.


Dengan kesal Mayapun menaruh tas bekal yang di bawanya di meja kerja Rafa lalu berjalan keluar dari ruangan Rafa.


Saat Maya baru saja masuk ke dalam lift, ia begitu terkejut karena melihat Bagas yang sudah berada di dalam lift.


Hanya ada Maya dan Bagas yang berada di dalam lift saat itu. Untuk beberapa saat mereka hanya saling terdiam, namun tiba-tiba Bagas meraih tangan Maya dan menggenggamnya, membuat Maya seketika berusaha untuk menarik tangannya dari Bagas sebelum orang lain melihat hal itu.


"Apa yang kau lakukan? apa kau sudah gila?" tanya Maya dengan panik


"Aku mohon jangan mengakhiri hubungan kita seperti ini, aku sudah mempertaruhkan pekerjaanku demi bisa berhubungan diam-diam denganmu!" ucap Bagas memohon.


"Lepaskan Bagas!" ucap Maya sambil berusaha menarik tangannya hingga pintu liftpun terbuka.


Melihat seseorang berdiri di depan pintu lift, Bagaspun segera melepaskan tangan Maya dari genggamannya. Mayapun segera keluar dari lift diikuti oleh Bagas yang kemudian berjalan ke arah yang berbeda dengan Maya.


Di dalam lift, teman Tiara tersenyum tipis setelah melihat kejadian yang baru saja terjadi di hadapannya.


Dengan jelas ia melihat saat Bagas menggenggam tangan Maya, hal itu semakin meyakinkan dirinya bahwa memang ada hubungan tertentu antara Bagas dan perempuan yang tidak dikenalnya itu.


"Kau akan habis di tanganku Bagas!" ucap teman Tiara dengan tersenyum tipis lalu mengambil ponsel dari saku pakaiannya


Teman Tiara kemudian mencari video yang berisi rekaman saat Bagas dan perempuan yang tidak dikenalnya itu memasuki sebuah kamar di hotel tempat papanya bekerja.


Tanpa menunggu lama teman Tiara mengunggah video itu dengan akun anonim miliknya ke grup kantor yang tidak hanya beranggotakan divisi pemasaran tapi juga beberapa divisi lainnya termasuk divisi produksi


"Semua orang akan tahu bagaimana kau sebenarnya, kau tidak akan bisa bersembunyi lagi di balik topengmu itu!" ucap teman Tiara dengan raut wajah penuh emosi.


Tanpa siapapun tahu teman Tiara sebenarnya pernah berhubungan dengan Bagas. Mereka berpacaran cukup lama hingga akhirnya Bagas berselingkuh.


Mereka bahkan sudah berniat untuk menikah dan sudah melakukan hal-hal yang diluar batas selama berpacaran, karena ia berpikir jika Bagas benar-benar serius dalam menjalani hubungan dengannya.


Namun pada akhirnya ia mendapati Bagas selingkuh dengan perempuan lain dan sejak saat itu ia sangat membenci Bagas dan menyimpan dendam dalam hatinya pada laki-laki yang sudah memberikan harapan palsu padanya

__ADS_1


Kini ia merasa menang di atas awan, ia tidak peduli bagaimana karir Bagas selanjutnya yang ia pedulikan hanyalah bagaimana Bagas menanggung malu atas apa yang sudah ia lakukan sebagai seseorang yang dikenal ramah dan baik hati.


__ADS_2