
Tiara masih berada di restoran bersama Putra dan orang tua Rafa. Untuk beberapa saat suasana terasa canggung setelah mama Rafa menanyakan pertanyaan yang cukup membuat Tiara dan Putra terkejut.
Beruntung tak lama setelah itu waiters datang untuk menaruh makanan dan minuman yang sudah dipesan.
"Ayo kita makan dulu, ini akan lebih nikmat jika dimakan saat hangat seperti ini!" ucap Adam, papa Rafa.
Semua yang ada disanapun mulai menikmati makan malam mereka. Sesekali Adam melontarkan candaan ringan untuk mencairkan suasana yang canggung.
Setelah menyelesaikan makan malam, mereka mengobrol beberapa lama sebelum akhirnya meninggalkan restoran itu.
Sesampainya di rumah, tak lupa Tiara berterima kasih pada Rossa dan Adam.
"Terima kasih atas makan malamnya om, Tante," ucap Tiara.
"Sama sama Tiara, mungkin lain kali kita bisa makan malam bersama lagi dengan Rafa," balas Rossa.
"Benar, semakin banyak yang ikut sepertinya semakin menyenangkan," sahut Adam.
Setelah berbasa-basi sebentar, Tiara dan Putrapun berpamitan pulang. Putra mengendarai mobilnya meninggalkan rumah orang tua Rafa.
"Tante Rossa dan om Adam baik sekali ya kak," ucap Tiara pada Putra.
"Iya, mereka memang sangat baik," balas Putra.
"Beruntung sekali kak Rafa memiliki keluarga utuh yang bahagia, kak Putra juga pasti bahagia karena bisa menjadi bagian dari keluarga kak Rafa," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Rafa.
Dalam kepalanya, Putra masih memikirkan pertanyaan Tante Rossa padanya beberapa waktu yang lalu. Kini ia mulai berpikir apakah ini saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Tiara.
"Mungkin aku harus mengatakannya sekarang, dari jawabannya nanti setidaknya aku akan tau sejauh apa hubungannya dengan Rafa," ucap Putra dalam hati.
Putra kemudian menepikan mobilnya tiba tiba, membuat Tiara cukup terkejut.
"Ada apa kak?" tanya Tiara pada Putra.
"Ada yang ingin aku katakan padamu Tiara," jawab Putra dengan raut wajah yang tampak serius.
"Tentang apa yang Tante Rossa tanyakan saat di restoran tadi, apa itu sangat mengganggumu?" lanjut Putra bertanya pada Tiara.
"Tidak, bukankah Tante Rossa menanyakannya pada kak Putra? kak Putra jangan terlalu memikirkannya jika itu terlalu mengganggu untuk kak Putra, mungkin Tante Rossa hanya bercanda saja," jawab Tiara.
"Tapi aku tidak merasa terganggu, aku hanya ragu," ucap Putra.
"Ragu? tentang apa?" tanya Tiara tak mengerti.
"Ragu, apakah aku harus menjawab dengan jujur atau tidak," jawab Putra yang membuat Tiara segera mengalihkan pandangannya dari Putra.
"Bagaimana menurutmu Tiara, apakah aku harus jujur atau tidak?" lanjut Putra bertanya.
"Kenapa kak Putra menanyakannya pada Tiara, jujur atau tidak seharusnya kak Putra putuskan sendiri," balas Tiara yang mulai tidak nyaman dengan obrolannya bersama Putra.
"Aku harap kejujuranku tidak akan membuat hubungan kita semakin berjarak Tiara, karena sebenarnya aku sudah lama menyimpan perasaan padamu," ucap Putra yang membuat Tiara terdiam.
"Aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu di depan kantor, aku selalu ingin dekat denganmu dan bercanda denganmu, bisakah hubungan kita naik satu tingkat ke level yang lebih dekat Tiara?" lanjut Putra.
Tiara menarik nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan Putra. Putra memang sangat baik padanya, ia menyukai Putra, namun hanya sebatas suka sebagai teman dan rekan kerja, tidak lebih dari itu.
"Tiara minta maaf kak, hubungan kita yang seperti ini sudah membuat Tiara sangat nyaman, untuk menjadi lebih dekat rasanya itu akan membuat Tiara kurang nyaman nantinya, Tiara....."
"Apa sudah ada seseorang dalam hatimu? atau kau sudah memiliki kekasih tanpa aku tau?" tanya Putra memotong ucapan Tiara.
"Tidak, Tiara sama sekali tidak memikirkan hal itu kak, untuk sekarang Tiara hanya akan fokus pada pekerjaan Tiara, Tiara akan berteman dekat dengan siapapun tanpa ada hubungan yang seperti itu," jawab Tiara.
"Bagaimana dengan Rafa?" tanya Putra.
"Kak Rafa? Tiara memang dekat dengan kak Rafa, tapi tidak ada hubungan yang sejauh itu antara Tiara dan kak Rafa," jawab Tiara.
"Apa kau menyukainya?"
Mendengar pertanyaan Putra, Tiara segera membawa pandangannya pada Putra untuk beberapa saat lalu mengalihkannya kembali.
Tiara tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Putra.
"Sama seperti kak Putra, kak Rafa sangat menyenangkan, Tiara mengenal kak Putra sebagai dosen dan atasan tempat Tiara pertama kali bekerja sampai sekarang, banyak hal yang sudah terjadi dan bagi Tiara kak Rafa bukan sekedar dosen ataupun atasan tapi juga seperti kakak bagi Tiara, kakak yang selalu menjaga dan menyayangi adiknya, jadi tidak ada alasan bagi Tiara untuk tidak menyukai kak Rafa," jelas Tiara.
__ADS_1
Putra tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan. Setidaknya ia tau bahwa hubungan Tiara dan Rafa belum terlalu jauh.
"Semoga Tiara tidak membuat kak Putra kecewa," ucap Tiara.
"Tentu saja tidak, setidaknya kita bisa berteman bukan?"
Tiara menganggukkan kepalanya dengan penuh senyum, membuat Putra kembali tersenyum lalu melanjutkan perjalanannya untuk mengantar Tiara pulang.
"Jika kau kecewa dan sakit hati pada Rafa nantinya, aku harap kau akan melihat ke arahku Tiara, sadarlah bahwa ada aku yang selalu di sampingmu," ucap Putra dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Putrapun mulai memperlambat laju mobilnya saat ia sudah berada dekat dengan rumah Tiara.
Namun Putra tidak bisa menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Tiara karena ada sebuah mobil yang sudah terparkir disana bersama sang pemilik yang berdiri di depannya.
Ya, dia adalah Rafa yang sudah cukup lama menunggu Tiara pulang.
"Itu kak Rafa, apa kak Putra akan turun?" tanya Tiara pada Putra.
"Sebaiknya tidak," jawab Putra.
"Baiklah, terima kasih sudah mengantar Tiara pulang kak," ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Putra.
Tiara kemudian keluar dari mobil Putra dan berjalan ke arah Rafa yang berdiri di depan mobilnya dengan raut wajah kesal, tidak hanya kesal karena sudah menunggu Tiara cukup lama tapi juga kesal karena melihat Tiara pulang bersama Putra.
"Kau dari mana saja Ra? kenapa aku tidak bisa menghubungimu?" tanya Rafa dengan nada kesal.
"Ponsel Tiara lowbatt kak, apa kak Rafa sudah lama disini?" jawab Tiara sekaligus bertanya.
"Sangat lama, kenapa kau pulang bersama Putra? kalian dari mana?"
"Tiara akan menjelaskannya di dalam, ayo masuk," ucap Tiara lalu membuka gerbang rumahnya.
Tiara dan Rafapun duduk di teras rumah seperti biasa. Tiara kemudian menjelaskan bahwa dirinya baru saja makan malam bersama Putra dan orang tua Rafa.
"Kenapa mama mengajakmu makan malam bersama?" tanya Rafa.
"Tiara dan kak Putra pergi ke rumah orang tua kak Rafa sepulang dari kantor tadi, kebetulan om dan tante akan pergi makan malam, jadi mereka mengajak Tiara dan kak Putra," jelas Tiara.
"Kak Rafa jangan marah dulu, kak Rafa ingat tas bekal yang Tiara bawa bukan? itu tas bekal milik tante Rossa, Tiara sengaja mengembalikannya ke rumah Tante Rossa karena ingin berterima kasih secara langsung," ucap Tiara menjelaskan.
"Sepertinya kau dekat sekali dengan mama," ucap Rafa.
"Mmmm.... mungkin bisa dibilang begitu, apa Tante Rossa memang selalu seperti ini pada teman perempuan kakak?" tanya Tiara yang membuat Rafa cukup gelagapan.
"Tidak..... mama tidak pernah seperti itu, aku bahkan tidak pernah dibuatkan bekal makan siang oleh mama," jawab Rafa.
"Hahaha.... kak Rafa kasian sekali, sepertinya Tante Rossa lebih menyayangi Tiara daripada kakak... hahaha......"
Rafa hanya tersenyum canggung tanpa mengatakan apapun. Setelah beberapa lama mengobrol, Rafapun berpamitan pulang.
"Aku akan pulang, kau pasti lelah jadi cepatlah beristirahat!" ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala Tiara.
Rafapun mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Tiara. Sesampainya di rumah, Rafa melihat Maya yang sudah bersiap untuk keluar dari rumah.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu!" ucap Rafa pada Maya.
"Besok saja," balas Maya melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah, namun Rafa segera mencegahnya.
"Ini penting," ucap Rafa.
"Aku harus pergi Rafa, aku sudah terlambat!" balas Maya sambil menarik tangannya dari Rafa.
"Tidak bisakah kau mendengarkanku sekali saja!"
"Jangan berlebihan Rafa, kita bisa membicarakannya besok!" ucap Maya sambil berjalan pergi.
"Aku akan menceraikanmu jika kau tetap pergi sekarang!" ucap Rafa setengah berteriak.
Mayapun mengentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Rafa.
"Apa kau serius dengan ucapanmu?" tanya Maya.
"Aku serius," jawab Rafa tanpa ragu.
__ADS_1
"Lakukan saja jika kau mau melihat mamamu terbaring di rumah sakit dengan rasa bersalahnya," ucap Maya lalu berjalan keluar meninggalkan Rafa begitu saja.
Namun Rafa tidak menyerah, ia tetap mengejar Maya sampai ke depan rumahnya. Rafa bahkan menarik tangan Maya saat Maya akan membuka pintu mobil yang sudah terparkir di depan gerbang rumahnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kita berbicara Maya!" ucap Rafa dengan tegas.
Di sisi lain, Bagas yang berada di dalam mobil begitu terkejut saat melihat Rafa. Ia baru ingat jika Maya pernah mengatakan memiliki kakak laki laki yang tinggal bersamanya dan ternyata itu adalah Rafa, CEO di kantor tempatnya bekerja.
Melihat Rafa yang tampak sedang marah saat itu membuat Bagas cukup ketakutan dan memilih untuk segera mengendarai mobilnya pergi.
"Kau lihat bukan? dia bahkan pergi meninggalkanmu begitu saja!" ucap Rafa saat mobil Bagas baru saja pergi dari hadapannya.
"Itu karena kau yang mencegahku masuk!" balas Maya lalu segera berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Rafa.
"Aku benar benar harus berbicara denganmu Maya, kita harus membuat keputusan tentang hubungan kita!" ucap Rafa.
"Apa lagi yang harus dibicarakan? keputusan apa yang kau inginkan?" tanya Maya dengan kesal.
"Keputusan tentang kelanjutan pernikahan kita, sampai kapan kita akan terus berbohong pada orang tua kita Maya?"
"Kenapa kau tiba tiba membicarakan hal ini? kau tidak sedang dekat dengan perempuan lain bukan?" tanya Maya penuh selidik.
"Tidak perlu mempedulikanku, lebih baik kita cari jalan keluar dari masalah kita sekarang," ucap Rafa tanpa menjawab pertanyaan Maya.
"Masalah apa maksudmu?"
"Pernikahan ini adalah masalah besar dalam hidup kita Maya, apa kau tidak menyadarinya? kita harus bisa bercerai tanpa membuat mama kecewa, bukankah kau juga sudah mendapatkan firma hukum dari papamu?"
"Aku.... aku memang sudah menjadi pimpinan di firma hukum papa, tapi firma hukum itu belum menjadi milikku seutuhnya jadi... jadi papa bisa dengan mudah mengambilnya lagi dariku," ucap Maya memberi alasan.
"Tapi kau....."
"Sudahlah jangan membahas hal itu sekarang, aku sedang sangat kesal padamu!" ucap Maya memotong ucapan Rafa lalu masuk ke kamarnya begitu saja.
"Maya.... Maya...."
Maya berlalu pergi tanpa menghiraukan panggilan Rafa. Maya menjatuhkan dirinya di atas ranjang kamarnya setelah ia mengunci pintu kamarnya.
Ada sebuah sesak dalam dadanya yang tiba tiba membuat tetes tetes bening membasahi pipinya.
"Aku pasti sudah gila!" ucap Maya sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.
Maya segera bangkit dari ranjangnya, berjalan masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air mengalir lalu menatap pantulan wajah sembabnya yang ada pada cermin di hadapannya.
"Ini tidak benar Maya, kau tidak boleh seperti ini," ucap Maya berusaha menyadarkan dirinya sendiri atas perasaan sedih dalam hatinya.
Maya kemudian keluar dari kamar mandi, berganti pakaian lalu kembali membaringkan badannya di atas ranjang.
Maya terdiam memikirkan takdir hidupnya. Maya yang pada awalnya sama sekali tidak mencintai Rafa, tiba tiba saja merasakan sebuah getaran indah dalam hatinya.
Saat Maya menyadari jika dirinya mulai memiliki perasaan lain pada Rafa, ia berusaha untuk mengalihkan perasaan itu.
Maya mulai mengunjungi bar setiap malam, menghabiskan waktunya untuk mabuk bahkan berhubungan dengan pria lain hanya untuk melupakan perasaannya pada Rafa.
Ia berpikir dengan begitu dia akan bisa melupakan perasaan sesaat yang ia rasakan pada Rafa, namun pada kenyataannya ia menjalani hubungannya dengan Bagas hanya untuk pelampiasannya saja.
Hatinya kini telah dimiliki oleh laki laki yang menjadi suaminya namun tidak pernah mencintainya. Karena tau Rafa tidak mencintainya, ia memilih untuk mengubur dalam dalam perasaannya pada Rafa, berharap perasaan itu akan mati dengan sendirinya.
Namun, mendengar Rafa yang tiba tiba membicarakan perceraian dengannya, membuat hatinya terasa sakit.
Ada sebuah ketakutan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan, takut jika Rafa sudah mencintai perempuan lain di luar sana, takut jika Rafa akan benar benar menceraikannya.
Namun ia sadar, pernikahannya dengan Rafa hanyalah sebatas pernikahan palsu yang ia terima demi kepentingannya sendiri.
Ia tidak bisa berharap apapun dari Rafa yang memang sejak dulu tidak pernah menganggapnya ada. Ia tidak menyalahkan Rafa, karena iapun sama seperti Rafa.
Namun takdir yang tiba tiba menumbuhkan benih benih cinta dalam hatinya, membuatnya takut kehilangan Rafa. Tapi ia tidak mungkin menunjukkannya pada Rafa karena ia tau Rafa tidak memiliki perasaan yang sama sepertinya.
"Maafkan aku Rafa, sepertinya aku benar benar tidak bisa melepaskanmu, meskipun aku sudah mendapatkan apa yang inginkan dari papa, tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku," ucap Maya dalam hati.
Tanpa Rafa tau, Maya sudah berbohong pada Rafa tentang firman hukum yang sudah dijanjikan papanya.
Sebenarnya Maya sudah mendapatkannya dan Maya sudah memiliki hak sepenuhnya atas firma hukum sang papa. Namun Maya sengaja berbohong pada Rafa agar ia masih memiliki alasan untuk tetap bersama Rafa.
__ADS_1