
Tiara yang begitu terkejut dengan hadiah yang ada di hadapannya hanya bisa terdiam menatap begitu banyak hadiah mahal yang ia dapatkan.
pada awalnya ia berpikir bahwa paket itu adalah hadiah dari Kevin ataupun teman-teman barunya, namun saat melihat tulisan yang ada di bagian bawah paket itu ia pun tahu siapa yang memberi paket itu padanya.
"Kak Rafa, jadi kak Rafa yang memberi semua hadiah ini untukku? tapi kenapa? hadiah ini bahkan sangat mahal, aku bahkan harus bekerja bertahun tahun untuk bisa membeli barang-barang ini!"
Tiara kemudian segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Rafa dan tanpa menunggu lama Rafapun menerima panggilan Tiara.
"Halo kak, kak Rafa dimana? Tiara ingin bertemu kak Rafa!"
"Aku sedang bertemu seseorang Ra, mungkin 30 menit selesai, aku akan menemuimu setelah ini," jawab Rafa.
"Tiara tunggu di toko buku ya kak!"
"Baiklah," balas Rafa.
Sambungan berakhir. Tiara kembali menatap banyak hadiah di hadapannya. Entah berapa banyak uang yang sudah Rafa habiskan hanya untuk memberi hadiah Tiara, tapi yang pasti Tiara merasa apa yang Rafa berikan terlalu berlebihan untuknya.
Meskipun ia senang mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan, tetapi mendapatkan semua itu dengan tiba tiba membuatnya ragu untuk menerima begitu saja pemberian Rafa yang bahkan belum lama dikenalnya.
"Rasanya sayang sekali jika aku harus mengembalikan semua ini pada kak Rafa, tapi aku juga tidak mungkin menerima semua ini, ini terlalu berlebihan untukku," ucap Tiara bimbang.
Tiara kemudian menyambar tasnya dan keluar dari kamarnya untuk pergi ke toko buku, tempat ia beberapa kali bertemu Rafa disana.
Sesampainya di toko buku, Tiara mengambil beberapa buku untuk ia baca sembari menunggu Rafa datang.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Rafapun datang.
"Apa kau sudah lama disini?" tanya Rafa yang sudah duduk di depan Tiara.
"Lumayan, apa urusan kak Rafa sudah selesai?" jawab Tiara sekaligus bertanya.
"Sudah, kenapa kau ingin bertemu denganku? apa kau ingin mengerjakan skripsi lagi?"
"Tidak, ini tentang hadiah yang kak Rafa berikan," jawab Tiara.
"Aaahh hadiah itu, sudah sampai rupanya," balas Rafa.
"Sebelumnya Tiara sangat berterima kasih karena kak Rafa sudah memberikan semua itu untuk Tiara, tapi Tiara merasa semua hadiah itu sangat berlebihan kak," ucap Tiara.
"Kenapa? apa kau tidak suka?" tanya Rafa.
"Bukan begitu, Tiara suka, bahkan sangat suka, tapi Tiara tau barang barang itu sangat mahal dan itu membuat Tiara ragu untuk menerimanya," jawab Tiara menjelaskan.
"Kenapa kau ragu Ra? aku memberinya sebagai hadiah untuk ulang tahunmu karena aku tau kau menyukainya!"
"Pasti kak Rafa sudah menghabiskan sangat banyak uang untuk membeli semua itu bukan? Tiara....."
"Tidak, aku bahkan lupa berapa uang yang sudah aku keluarkan untuk membeli semua itu," ucap Rafa memotong ucapan Tiara.
"Huh, sombong sekali, intinya Tiara minta maaf karena Tiara tidak bisa menerima hadiah itu!"
"Aku sengaja memberimu hadiah itu juga sebagai bukti tentang janjiku padamu Ra, kau ingat tentang janjiku tentang konser itu bukan?"
"Kak Rafa akan mengajak Tiara menonton konser EXO dimanapun kalau Tiara berhasil masuk ke perusahaan X?" tanya Tiara menerka.
"Iya, kau tidak mempercayainya bukan? jadi aku memberimu barang barang itu agar kau percaya padaku!"
"Tapi itu sangat berlebihan kak, Tiara tidak bisa menerimanya," ucap Tiara menolak.
Rafa hanya menghela nafasnya mendengar ucapan Tiara. Ia berpikir Tiara akan senang mendapatkan hadiah yang sangat sulit untuk ia cari itu. Tapi pada kenyataannya Tiara bahkan menolaknya.
"Lalu apa yang mau kau lakukan sekarang?" tanya Rafa pada Tiara.
"Tiara akan mengembalikannya pada kak Rafa," jawab Tiara.
"Lalu untuk apa aku memiliki barang barang itu Ra? aku bahkan tidak tau siapa mereka!"
"Kak Rafa hanya perlu menyimpannya saja, kak Rafa bisa memberikannya satu per satu pada Tiara di ulang tahun Tiara yang selanjutnya hehehe....."
"Kalau begitu kau ambil satu atau beberapa yang kau inginkan, selebihnya akan aku simpan di rumahku," ucap Rafa.
"Baiklah, Tiara hanya akan mengambil lightstick versi 3, lainnya akan Tiara masukkan ke dalam paketnya lagi dan akan Tiara kirim ke rumah kak Rafa," balas Tiara.
"Tidak perlu, aku akan mengambilnya sendiri setelah kau selesai mengambil yang kau inginkan," ucap Rafa.
"Oke, Tiara setuju," balas Tiara.
__ADS_1
"Apa kau yakin Ra? apa kau tidak ingin memiliki semua itu?" tanya Rafa memastikan.
"Tentu saja Tiara ingin memilikinya kak, Tiara bahkan sangat senang bisa mendapatkannya sebagai hadiah ulang tahun untuk Tiara, tapi rasanya sangat berlebihan jika Tiara mendapatkan semua itu sekaligus, terlebih Tiara dan kak Rafa adalah karyawan dan bos, kita juga baru bertemu sebagai mahasiswi dan dosen, bukankah hadiah itu cukup berlebihan dengan status kita yang seperti ini?" balas Tiara menjelaskan.
"Apa kau ingin status kita berubah? apa kau ingin aku......"
"Tidak, bukan begitu.... intinya hadiah itu sangat berlebihan dan Tiara minta maaf karena tidak bisa menerimanya sekaligus, jadi Tiara hanya akan mengambil satu yang sangat Tiara inginkan," ucap Tiara memotong ucapan Rafa.
Rafa hanya tersenyum tipis mendengar penjelasan Tiara yang bisa saja membuatnya salah paham.
"gadis yang unik," ucap Rafa dalam hati.
"Kak Rafa tidak marah bukan?" tanya Tiara pada Rafa.
Rafa menghela nafasnya panjang sebelum menjawab pertanyaan Tiara, membuat Tiara merasa bersalah karena sudah menolak hadiah pemberian Rafa.
"Tiara minta maaf kak, Tiara tidak bermaksud mengecewakan kak Rafa," ucap Tiara.
"Tidak, aku tidak kecewa, mungkin kau benar, hadiah yang aku berikan terlalu berlebihan, untuk sementara kau bisa menyimpannya sampai aku mendapatkan tempat untuk menyimpan barang barang itu di rumahku," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Jadi...... tentang janji kak Rafa itu..... kak Rafa serius?" tanya Tiara ragu.
"Apa kau masih meragukanku?" balas Rafa bertanya yang membuat Tiara segera menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu Tiara akan lebih bersemangat untuk mengerjakan skripsi sekarang, Tiara akan mendapatkan hasil yang terbaik agar bisa masuk ke perusahaan itu," ucap Tiara penuh semangat.
"Kau juga harus mempersiapkan dirimu untuk kemungkinan terburuknya agar kau tidak kecewa Ra," ucap Rafa mengingatkan.
"Iya kak, Tiara mengerti," balas Tiara.
Setelah beberapa lama mengobrol, merekapun keluar dari toko buku.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Rafa saat mereka berdua sudah berada di depan toko buku.
"Tidak perlu kak, Tiara bisa pulang sendiri, bye kak Rafa!" balas Tiara sambil berlari kecil dan melambaikan tangannya pada Rafa.
Rafa hanya tersenyum tipis melihat sikap Tiara yang menggemaskan di matanya. Setelah Tiara semakin jauh, Rafapun masuk ke mobilnya lalu pergi dari toko buku itu.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam saat Rafa baru saja keluar dari kamarnya. Bersamaan dengan itu Maya yang baru saja sampai di rumah segera membuka pintu dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing sejak beberapa saat yang lalu.
Maya hanya diam dan beberapa saat kemudian ia merasa pandangannya menjadi gelap, tubuhnyapun melemah, membuatnya hampir saja terjatuh jika Rafa tidak segera menahannya.
"Maya, bangunlah!" ucap Rafa sambil menepuk pipi Maya yang saat itu ada dalam dekapannya.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, Rafa menyentuh Maya dan membopongnya masuk ke dalam kamar.
Karena pernikahan mereka yang dilandasi paksaan tanpa ada sedikitpun cinta, mereka tidak pernah saling peduli bahkan mereka juga tidak pernah sekedar bersentuhan fisik.
Mereka sangat menjaga jarak satu sama lain bak dua orang asing yang tinggal satu atap.
Setelah membaringkan Maya di ranjangnya, Rafa melepas sepatu dan blazer yang dipakai Maya lalu berusaha membangunkan Maya dari pingsannya.
Rafa sengaja membawa Maya ke kamarnya karena ia tau pintu kamar Maya selalu dikunci dan akan sangat repot jika ia harus mencari kunci kamar itu di dalam tas Maya.
"Maya, bangunlah..... aku tidak bisa pergi jika kau seperti ini!" ucap Rafa pada Maya.
Setelah beberapa lama kemudian, Maya mulai mengerjapkan matanya dan melihat Rafa yang tertidur di sofa yang ada di dekat ranjang.
Maya mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan menyadari bahwa ia berada di kamar Rafa saat itu.
Dengan kepala yang masih pusing, Mayapun beranjak dari ranjang dengan membawa tas dan sepatunya.
Namun karena masih terlalu lemah, ia tidak sengaja menjatuhkan sepatunya, membuat Rafa terbangun dari tidurnya.
"Kau sudah sadar? apa kau baik baik saja? apa aku harus mengantarmu ke rumah sakit sekarang?" tanya Rafa pada Maya.
"Tidak perlu," jawab Maya singkat lalu membuka pintu kamar Rafa.
"Jangan terlalu memaksakan dirimu Maya, perhatikan juga kesehatanmu!" ucap Rafa saat Maya sudah berjalan keluar dari kamarnya.
Maya hanya diam tidak menghiraukan ucapan Rafa. Ia segera masuk ke kamarnya lalu merebahkan badannya di atas ranjangnya.
Sedangkan Rafa memutuskan untuk kembali tidur tanpa ia tau blazer Maya masih ada di atas ranjangnya.
**
__ADS_1
Waktupun berlalu, hari sudah pagi. Maya yang baru bangun dari tidurnya baru menyadari bahwa ia sudah tidak mengenakan blazernya lagi.
"Apa semalam Rafa yang melepasnya? apa sekarang masih ada di kamarnya?" tanya Maya pada dirinya sendiri.
Maya kemudian beranjak dari ranjangnya lalu berjalan ke arah kamar Rafa. Saat akan mengetuknya, pintu Rafa tiba tiba terbuka karena Rafa membukanya dari dalam.
"Ada apa?" tanya Rafa yang terkejut melihat Maya berdiri di depan kamarnya.
"Aku.... apa blazerku ada disini?" balas Maya bertanya dengan sedikit gugup.
"Entahlah, aku lupa menaruhnya, cari saja di dalam," jawab Rafa lalu berjalan keluar dari kamar untuk menuju ke dapur.
Sedangkan Maya masuk ke kamar Rafa dan mendapati blazernya yang ada di ranjang Rafa.
Saat akan keluar dari kamar Rafa, Maya berdiri menatap rak yang terpajang di salah satu sudut kamar Rafa.
Rak itu berisikan album, lighstick dan barang barang lain yang berhubungan dengan EXO. Mayapun mengernyitkan keningnya melihat koleksi Rafa yang sangat banyak itu.
"Ada apa?" tanya Rafa saat ia sudah masuk ke kamarnya dan melihat Maya menatap rak barunya.
"Aku baru tau kau menyukainya," jawab Maya dengan pandangan yang masih menatap rak baru Rafa.
"Apa kau sudah menemukan blazermu?" tanya Rafa mengalihkan pembicaraan.
"Sudah," jawab Maya singkat lalu berjalan keluar dari kamar Rafa.
"Jangan masuk ke kamarku jika aku tidak mengizinkanmu," ucap Rafa pada Maya yang sudah keluar dari kamarnya.
"Aku juga tidak akan masuk kesana jika bukan karena barangku yang tertinggal disana," balas Maya.
Rafa kemudian menutup pintu kamarnya lalu mandi dan bersiap untuk memulai aktivitasnya.
Saat sedang mengenakan kemejanya, matanya menatap rak barunya dan tersenyum tipis mengingat bagaimana sikap Tiara yang menggemaskan di matanya.
Rafa kemudian keluar dari rumahnya, mengendarai mobilnya ke arah toko buku untuk bertemu Tiara disana.
Sesampainya ia disana, sudah ada Tiara yang tampak sibuk dengan laptop dan buku buku di mejanya.
Hari itu Rafa memiliki janji untuk membantu Tiara mengerjakan skripsinya di toko buku yang sering mereka kunjungi.
"Bagaimana dengan Bima? apa dia masih sering mengganggumu?" tanya Rafa pada Tiara.
"Tetap seperti biasa, tapi Tiara hanya meresponnya jika yang kak Bima bicarakan menyangkut materi skripsi," jawab Tiara.
"Bagus, setidaknya kau harus menghormatinya sebagai dosenmu, karena dia juga akan memberikan nilai saat kau sidang skripsi nanti," ucap Rafa.
"Aaaahhhh rasanya sudah tidak sabar ingin segera sidang dan wisuda, apa menurut kakak sidang nanti akan berjalan dengan lancar? apa menurut kakak Tiara bisa menjawab semua pertanyaan dari dosen penguji?"
Rafa tersenyum tipis saat Tiara memanggilnya "kakak", satu kata yang Tiara ucapakan itu terdengar begitu manis di telinganya.
"Kenapa kak Rafa hanya tersenyum? apa kakak tidak mempercayai Tiara?" tanya Tiara yang melihat Rafa hanya tersenyum tipis.
"Tentu saja aku percaya padamu, kau sudah mempelajari banyak hal selama ini, kau juga sudah banyak membaca, jadi aku yakin kau pasti bisa menjawab dengan baik semua pertanyaan dari dosen penguji," jawab Rafa.
"Kak Rafa benar, Tiara bahkan tidak sempat bermain di luar hanya demi skripsi ini," ucap Tiara dengan memanyunkan bibirnya.
"Setelah kau selesai wisuda, kau akan memiliki banyak waktu luang untuk bermain, sekarang kau hanya perlu fokus dengan skripsi dan sidangmu nanti," balas Rafa.
"Dan setelah Tiara bisa masuk ke perusahaan impian Tiara, Tiara biasa melihat konser EXO?"
"Tentu saja, itu adalah janjiku padamu!"
"Bagaimana jika konsernya diadakan di luar negri?" tanya Tiara.
"Tidak masalah, kita bisa pergi kesana!" jawab Rafa santai.
"Berdua?" tanya Tiara.
"Apa ada orang lain yang ingin kau ajak?" balas Rafa bertanya yang hanya dibalas gelengan kepala dan senyum oleh Tiara.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Rafa berdering, sebuah panggilan dari sang mama yang membuat Rafa segera menerima panggilan mamanya.
"Rafa, dimana kau sekarang? kenapa kau tidak segera menghubungi mama?" tanya mama Rafa sebelum Rafa sempat mengatakan apapun.
"Ada apa ma? apa terjadi sesuatu?" balas Rafa bertanya.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak segera memberi tahu mama bahwa Gita hamil? ini benar benar menjadi kabar bahagia untuk mama sayang!"
Deg. Rafa terdiam setelah mendengar ucapan sang mama tentang kehamilan Gita.