Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Sebuah Foto


__ADS_3

Putra masih berada di rumah orang tua Rafa, ia memberitahu papa Rafa tentang keinginannya untuk dipindahkan ke cabang perusahaan yang berada di Amerika.


Bukan tanpa alasan, Putra sengaja meminta untuk pindah agar ia bisa berada dekat dengan Tiara saat Tiara melanjutkan kuliahnya di Amerika.


Meskipun tes belum dilaksanakan tetapi Putra yakin jika Tiara akan lolos pada tes itu dan akan bisa melanjutkan kuliahnya di Amerika.


Putra sudah membulatkan tekadnya untuk mengikuti Tiara kesana dengan alasan yang sudah ia sampaikan pada papa Rafa.


Jika memang Tiara tidak lolos pada tesnya dan tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliahnya di Amerika maka Putra menganggap itu sebagai sebuah jawaban agar dia berhenti mendekati Tiara dan melanjutkan langkahnya ke arah lain.


Namun jika Tiara lolos dan Putra diperbolehkan untuk pindah ke Amerika maka ia menganggap takdir itu sebagai jawaban baginya untuk terus berada di dekat Tiara dan berusaha untuk mendapatkan hati Tiara.


"Apa kau yakin ingin pindah kesana Putra?" tanya Adam memastikan.


"Putra yakin Om, Putra hanya perlu izin dari Om agar Putra bisa pindah kesana, selebihnya Putra akan mengurus semuanya sendiri," jawab Putra berusaha meyakinkan papa Rafa.


"Hmmm.... baiklah, om akan memikirkannya terlebih dahulu, tetapi jika memang kau bisa pindah kesana mungkin tidak dalam waktu dekat ini," ucap Adam.


"Putra tidak keberatan Om, Putra akan siap kapanpun Putra dipindahkan," balas Putra.


"Baiklah om akan mengabarimu lagi nanti," ucap Adam.


"Terima kasih banyak Om," ucap Putra dengan penuh senyum.


Kini hanya perlu menunggu kabar dari papa Rafa tentang waktu yang pasti tentang keberangkatannya ke luar negeri, meskipun papa Rafa mengatakan akan memikirkannya pada akhirnya nanti papa Rafa pasti akan menyetujui permintaan Putra, karena Putra tahu bagaimana papa Rafa selama ini sangat baik padanya.


Putra sudah mempersiapkan dirinya dengan baik, ia berusaha untuk bisa menerima apapun yang akan terjadi padanya ke depan nanti, entah ia akan bisa berada di Amerika bersama Tiara atau tidak, ia akan menganggap apa yang terjadi nanti sebagai jawaban tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Setelah beberapa lama mengobrol bersama papa Rafa, Putrapun berpamitan untuk pulang, namun sebelum ia pulang Mama Rafa memanggilnya.


"Ada apa Tante?" tanya Putra pada Mama Rafa yang memanggilnya.


"Apa kau tahu dimana Tiara tinggal? tante sangat ingin bertemu dengannya, tante merindukannya," balas Mama Rafa bertanya.


"Maaf Tante, Putra tidak tahu dimana Tiara tinggal sekarang karena dia sudah pindah dari tempat tinggalnya yang sebelumnya," jawab Putra.


"Sepertinya terjadi sesuatu yang tidak baik padanya, Tante jadi mengkhawatirkannya," ucap Mama Rafa.


"Tante tidak perlu terlalu memikirkannya, Tiara baik-baik saja dan dia sedang fokus untuk melakukan tes pada program kuliah S2 di luar negeri untuk pegawai baru," ucap Putra.


"Benarkah, kalau begitu tante akan datang ke kantor untuk bertemu dengannya secara langsung!"


"Lebih baik jangan tante!" ucap Putra dengan cepat.


"Kenapa? apa dia sedang marah pada Tante?"


"Bukan seperti itu tante, Putra hanya tidak ingin jika seseorang melihat tante bersama Tiara orang-orang akan berpikir jika hasil tes Tiara nanti karena pengaruh dari tante, Putra yakin Tiara pasti bisa lolos pada tes program itu dengan kemampuannya sendiri, tetapi orang-orang mungkin akan berpikiran lain jika melihat tante bersama Tiara, tante mengerti maksud Putra bukan?" jelas Putra.


"Tante mengerti, baiklah kalau begitu sampaikan saja salam tante padanya, tante akan selalu mendoakan yang terbaik untuknya," ucap Mama Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Putra.


Putrapun berpamitan pada Mama Rafa kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan rumah orang tua Rafa.


**


Di sisi lain Rafa yang baru saja meninggalkan kantor segera mengendarai mobilnya ke salah satu kafe miliknya. Ada beberapa masalah yang harus ia selesaikan sebagai pemilik kafe itu.


Saat ia akan meninggalkan kafe, seperti biasa Rafa selalu menanyakan pada salah satu karyawannya tentang keluhan pelanggan yang datang ke kafe miliknya.


"Tidak ada keluhan apapun Pak, semua pelanggan merasa puas dengan kafe kita," jawab Chika.


"Baguslah kalau begitu," ucap Rafa dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Bagaimana kabar Tiara pak, akhir-akhir ini Tiara sangat sulit dihubungi, tidak seperti biasanya," tanya Chika yang membuat raut wajah Rafa tiba-tiba berubah.


"Dia.... dia baik-baik saja, mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya jadi jarang memperhatikan ponselnya," jawab Rafa.


"Aahhh begitu, lalu bagaimana hubungan pak Rafa dengan Tiara? apa sudah ada kabar baik hehehe....." tanya Chika.


Rafa hanya tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan Chika, ia segera membawa langkahnya meninggalkan kafe lalu mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah sudah ada Maya yang menyambut kepulangannya. Ia heran dengan sikap Maya yang beberapa hari ini berubah drastis, Maya tiba-tiba saja menjadi perhatian padanya, sering menyiapkan makanan ataupun menunggu kepulangannya.


"Aku sudah membuat makan malam untukmu cepatlah mandi dan berganti pakaian lalu kita makan malam bersama," ucap Maya pada Rafa.


"Aku sedang tidak berselera makan, lebih baik kau makan saja sendiri," balas Rafa sambil berjalan ke arah kamarnya.


"Tapi aku baru saja mencoba menu baru dari mama Rossa, aku yakin kau pasti menyukainya," ucap Maya yang berusaha menahan Rafa agar tidak menutup pintu kamarnya.


Rafa menghela nafasnya dengan membawa tatapan tajamnya pada Maya yang berdiri di hadapannya.


"Ada apa sebenarnya denganmu? kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" tanya Rafa.


"Apa maksudmu, aku tidak mengerti!" balas Maya yang berpura-pura tidak mengerti maksud dari ucapan Rafa.


Rafa menghela nafasnya kasar lalu meraih pintu kamarnya, berniat untuk menutupnya, namun Maya kembali menahannya.


"Apa salah jika aku memerhatikan suamiku? apa salah jika aku memasak untuk suamiku, menunggu kepulangan suamiku dan....."


"Salah, itu sangat salah karena dari awal pernikahan kita adalah sebuah kesalahan," ucap Rafa memotong ucapan Maya.


"Tapi aku....."


"Stop Maya, aku sangat lelah hari ini, tolong jangan menggangguku!" ucap Rafa yang tidak membiarkan Maya melanjutkan ucapannya.


"Apa menurutmu aku mengganggumu?" tanya Maya dengan suara bergetar.


Sedangkan Maya masih terdiam di depan kamar Rafa dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Tidak bisakah sedikit saja kau melihat ke arahku Rafa? tidak bisakah aku mendapatkan sedikit saja cinta darimu? kenapa Tiara? kenapa harus Tiara yang mendapatkan cintamu?" batin Maya bertanya dalam hati.


**


Hari-hari telah berlalu, setiap harinya Rafa selalu mencari cara untuk bisa menemui Tiara. Ia tidak menyerah meskipun pada akhirnya semua yang ia lakukan hanya percuma karena ia tidak pernah bisa bertemu dengan Tiara.


Berbeda dengan Rafa, Putra justru memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dan mengobrol bersama Tiara, ia benar-benar sudah tidak peduli pada stigma orang lain tentang dirinya dan Tiara.


Sedangkan Tiara sendiri masih berusaha untuk benar-benar mengabaikan rasa sakitnya, mengabaikan rasa kecewa atas takdir yang harus ia jalani tanpa seseorang yang ia cintai dalam hatinya.


Di tengah kesibukannya sebagai pegawai perusahaan besar, Tiara menghabiskan waktunya untuk belajar, mempersiapkan diri untuk tes yang akan ia ikuti.


Tiara berharap ia bisa lolos pada tes itu agar ia bisa melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Meskipun sebenarnya hal itu tidak ada dalam daftar impiannya, kini kuliah di luar negeri seolah membuka mimpi baru baginya dan saat ia mendapatkan kesempatan itu ia tidak akan menyia-nyiakannya dan akan menjalani semuanya dengan jauh lebih baik dari sebelumnya.


Hari itu setelah Tiara menyelesaikan pekerjaannya ia segera berjalan ke arah halte seperti biasa. Saat sedang menunggu bus ponselnya tiba-tiba berdering, sebuah pesan masuk dari Maya.


"Kau dimana? aku ingin bertemu denganmu!"


Tiara terdiam untuk beberapa saat setelah membaca pesan dari Maya.


"Ada apa lagi? kenapa kak Maya ingin bertemu denganku?" batin Tiara bertanya dalam hati.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Tiara kembali berdering, kini sebuah panggilan dari Maya yang membuat Tiara segera menerima panggilan itu.

__ADS_1


"Halo Tiara, apa kau sedang sibuk?" tanya Maya setelah Tiara menerima panggilannya.


"Tidak kak, Tiara sedang berada di halte untuk pulang," jawab Tiara.


"Tunggu disana, aku akan menjemputmu sekarang juga!" ucap Maya.


"Tapi...."


Tuuuuttt tuuuutttt tuuuutttt


Sambungan terputus begitu saja, Tiara hanya menghela nafasnya lalu kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas miliknya.


Setelah beberapa lama menunggu sebuah mobil berhenti di depan Tiara, pintu mobil pun terbuka dan terlihat Maya yang meminta Tiara untuk segera masuk.


Tiarapun segera membawa langkahnya masuk dan duduk di samping Maya. Tanpa menunggu lama Maya segera mengendarai mobilnya ke arah kafe yang berada tak jauh dari perusahaan tempat Tiara bekerja.


Sesampainya di kafe, merekapun segera memilih tempat duduk lalu memesan dua minuman dan beberapa makanan ringan.


"Ada apa kak Maya ingin bertemu Tiara?" tanya Tiara tanpa basa-basi.


"Sepertinya kau sudah pindah dari rumah itu," ucap Maya tanpa menjawab pertanyaan Tiara.


"Iya kak, tapi Tiara masih bekerja di sana, tapi kak Maya tidak perlu khawatir karena Tiara hanya akan bekerja sampai akhir minggu ini," jawab Tiara.


"Sebenarnya aku malu padamu Tiara, mungkin tidak seharusnya aku kemarin menemuimu," ucap Maya.


"Kenapa kak Maya berkata seperti itu, sebagai seorang istri memang sudah seharusnya kak Maya menemui Tiara untuk memperjelas semuanya agar tidak ada kesalahpahaman!" balas Tiara.


"Tapi sampai sekarang Rafa masih saja bersikap dingin padaku, sepertinya dia benar-benar jatuh cinta padamu, lalu apa yang harus aku lakukan Tiara? aku benar-benar sangat mencintainya!"


Tiara diam untuk beberapa saat, dadanya terasa sesak mendengar apa yang Maya katakan padanya, fakta bahwa cinta tidak akan bisa menyatukan dirinya dengan laki-laki yang dicintainya membuat hatinya terasa semakin teriris.


"Aku sangat mencintainya Tiara, aku selalu berusaha untuk mendapatkan hatinya, aku berusaha untuk membuatnya mencintaiku dan itu sangat sulit, itu membuatku harus bisa menahan sedih dan sakit setiap harinya," ucap Maya.


"Sebenarnya Tiara sudah bertemu dengan kak Rafa beberapa hari yang lalu, itu pertemuan terakhir Tiara sebelum Tiara pindah dari rumah itu dan Tiara sudah menjelaskan pada kak Rafa untuk tidak menemui Tiara lagi, Tiara sudah mempertegas semuanya agar kak Rafa tidak perlu berharap apapun lagi pada Tiara, setelah itu Tiara pergi dari rumah itu dan sampai sekarang Tiara tidak pernah lagi bertemu dengan kak Rafa meskipun kita bekerja di perusahaan yang sama," ucap Tiara menjelaskan.


alu kenapa dia masih saja bersikap dingin padaku Tiara? apa mungkin dia diam-diam memperhatikanmu saat di kantor?" tanya Maya.


"Sepertinya itu tidak mungkin kak, karena tempat Tiara bekerja dengan kak Rafa cukup jauh dan tidak mungkin kak Rafa mendatangi lantai tempat kerja Tiara, kak Maya tidak perlu khawatir Tiara akan benar-benar menjauh dari kak Rafa, akhir minggu ini Tiara akan benar-benar meninggalkan perusahaan itu!" jelas Tiara.


Setelah beberapa lama mengobrol bersama Maya, Tiarapun berpamitan untuk pulang. Meskipun pada awalnya Maya memaksa untuk mengantar Tiara, tetapi Tiara bersikukuh untuk pulang sendiri karena ia tidak ingin seorangpun mengetahui tempat tinggalnya yang baru.


Alhasil Mayapun membiarkan Tiara pulang sendiri, sedangkan dirinya masih duduk di kafe.


Saat Tiara baru saja keluar dari pintu kafe, ia tidak sengaja menabrak seseorang yang sedang memegang ponsel, ponsel itupun terjatuh, membuat Tiara segera mengambilnya dari lantai dan mengembalikannya pada seseorang yang tidak sengaja ditabraknya.


Namun saat Tiara mengembalikan ponsel itu, ia tidak sengaja menekan layar ponsel itu dan melihat sebuah foto yang membuatnya cukup terkejut, meskipun hanya sekilas ia yakin bahwa foto yang dilihatnya adalah foto Maya bersama seorang laki-laki.


"Maaf kak, saya tidak sengaja," ucap Tiara sambil mengembalikan ponsel milik seseorang yang ditabraknya.


Seseorang itupun hanya menganggukkan kepalanya, meraih ponselnya dari tangan Tiara lalu segera masuk ke dalam kafe.


"Wajahnya seperti tidak asing, siapa dia? apa aku pernah bertemu dengannya? lalu apa hubungannya dengan kak Maya? kenapa mereka berfoto di dalam selimut di atas ranjang?" batin Tiara bertanya sambil membawa pandangannya menatap laki-laki yang sudah berjalan jauh darinya.


Diam-diam Tiara kembali masuk ke dalam kafe untuk memastikan apa yang ada di dalam pikirannya saat itu dan ia begitu terkejut saat melihat Maya duduk bersama laki-laki yang baru saja ditabraknya.


"Ternyata benar, mereka saling mengenal, ada hubungan apa mereka berdua?" batin Tiara bertanya dalam hati.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Tiara berdering, sebuah pesan masuk dari Kevin yang membuat Tiara segera membawa langkahnya menjauh.

__ADS_1


"Siapa laki-laki itu dan apa hubungannya dengan kak Maya? kenapa mereka terlihat dekat sekali? apa kak Rafa juga mengenalnya?" batin Tiara bertanya dalam hati sambil berjalan meninggalkan kafe.


"Sebaiknya aku tidak perlu memikirkannya, aku tidak perlu ikut campur masalah kak Maya dan kak Rafa, aku benar-benar harus melupakan mereka semua untuk bisa melanjutkan mimpi dan hidup baruku dengan lebih baik," ucap Tiara dengan mengangguk-anggukkan kepalanya pelan dengan kedua tangan yang mengepal, berusaha untuk memberi semangat pada dirinya sendiri.


__ADS_2